Tantangan Memvisualisasikan Konflik Batin Hamid dan Zainab

Wawancara :: Penulis: Arie Kartikasari

Armantono ketika diwawancara FI (Foto: FI)Mulai 25 Agustus 2011 MD Pictures mengedarkan film adaptasi dari novel karya Hamka, berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Tidak tanggung-tanggung, MD mencetak 141 copy film untuk peredaran yang direncanakan untuk memenuhi jumlah layar bioskop yang sama. Mungkin ini sebuah rekor tersendiri. Film yang dimaksudkan untuk menyambut hari raya Idul Fitri ini seperti meneruskan tradisi tontonan musim Lebaran yang sudah berlangsung cukup lama. Tercatat dua nama penulis Armantono dan Titien Wattimena, yang menjadikan novel karya angkatan pujangga baru ini menjadi skenario film. Ditemui terpisah, Armantono dan Titien menceritakan proses pengerjaan skenario serta berbicara mengenai adaptasi novel menjadi skenario. 

FI: Bagaimana proses awal kolaborasi dua penulis skenario Di Bawah Lindungan Ka’bah (DBLK)?

Titien Wattimena (TW): Sebenarnya baru kali ini benar-benar menulis berdua. Walau sebenarnya kita tidak pernah ketemuan juga. Proses pengerjaan skenario, untuk saya sendiri, menghabiskan waktu dua tahun, sekitar 24 draft.

Armantono (Ar): Saya masuk ketika draft awal skenario sudah ditulis oleh Titien. Waktu itu Guntur (Soeharjanto), selaku sutradara, meminta saya bergabung dengan Titien. Berjalan sampai sekitar lima draft. Belakangan, akhirnya Guntur tidak jadi menyutradarai. Otomatis saya tidak terlibat lagi.

FI: Apa saja riset yang dilakukan untuk film ini?

TW: Kami memiliki tim riset konvensional sendiri. Mereka melakukan riset pustaka ke Padang. Lalu mencari tahu apa yang terjadi di Padang dan Indonesia secara keseluruhan di tahun 1930-an. Kita juga banyak konsultasi dengan penerus Buya Hamka, sebetulnya apa yang ingin Hamka angkat. Dari anaknya kita memahami kalau dari novel-novelnya, Buya lebih mempertanyakan adat Minangkabau.

Hasil riset tersebut sangat membantu. Terutama di satu titik, di mana draft skenarionya tebal sekali. Hal itu terjadi karena kita mencoba menggambarkan situasi sekitar di waktu itu. Walaupun pada draft selanjutnya banyak yang diangkat dari skenario, karena toh kita fokus ke Hamid dan Zaenab saja.

FI: Apa saja yang menjadi kendala dalam mengubah novel DBLK menjadi skenario?

TW: Pertama novelnya sendiri tipis sekali, 66 halaman, jadi ketika membaca, kita sadar ada banyak hal yang harus ditambahkan, untuk memenuhi standar skenario setidaknya dalam durasi. Karena novel tidak memiliki rumusan durasi seperti skenario.

Ar: Waktu itu saya kembali ke novelnya, saya baca dulu. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa dimasukkan ke skenarionya. Karakter di dalam novel ini bisa dibilang minim konflik, kecuali konflik dengan batinnya sendiri. Konflik batin itu dengan mudah bisa dituliskan di dalam novel, tetapi di dalam film sulit untuk divisualkan. Untuk itu saya harus menambahkan beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana karakter Hamid dan Zainab merasakan suka cita, berjuang untuk bersatu dan juga kesedihan-kesedihan mereka.

TW: Contoh penambahan adegan adalah ketika Hamid dibuang ke luar kampung, itu tidak ada di novel. Kita tambahkan untuk menguatkan karakter.

 

Prinsip adaptasi

FI: Apakah yang berharga dari sebuah novel, sehingga produser ingin mengangkatnya menjadi sebuah film?

TW: Biasanya karena novel tersebut sudah banyak dibaca masyarakat, menjadi best seller. Novel-novel seperti itu sudah memiliki massa pembaca sendiri, yang diharapkan akan menonton filmnya.

Ar: Selain persoalan komersial, juga ada yang karena keinginan tertentu, seperti berpusat lebih kepada kesenian. Seperti waktu dulu saya sempat mengerjakan skenario Bumi Manusia, misalnya. Pada saat itu, saya menulis tidak hanya untuk memenuhi aspek komersial saja.

FI: Dengan banyaknya pembaca yang memiliki bayangan masing-masing tentang cerita/novel tersebut, apakah ini menjadi ganjalan bagi seorang penulis skenario?

TW: Pada akhirnya hanya apa yang ada di kepala kita saja, penulis skenario, sutradara, dan produser. Ketika kita membaca, apa yang ada di kepala kita. Kita tidak memikirkan terlalu ke arah situ (bayangan pembaca novel). Waktu itu ada juga yang bilang, "kalau kamu suka dengan sebuah buku dan ada filmnya, lebih baik tidak usah menonton filmnya." Daripada kecewa. Jujur, saya juga memilih untuk tidak menonton Asterix, contohnya. Takut berbeda dan kecewa.

FI: Bilamana skenario mengalami perubahan dari novelnya?

TW: Sebenarnya ketika hendak menulis skenario adaptasi, pertama kita harus melihat seperti apa perjanjian dengan penulis novelnya. Ada penulis novel yang tidak ingin judulnya atau karakternya diganti. Ada juga yang memberi kebebasan penuh, "Silakan, yang penting niatnya baik saja". Ada yang tidak masuk akal, tidak mau diubah satu kalimat pun, saya pernah ditawari menulis skenario dari novel semacam itu, tentu saja saya tolak (tertawa). Setelah itu baru melihat novelnya, bagian yang mana saja yang mesti diubah.

Sebagai ilustrasi, pada novel kita bisa menceritakan tokoh yang pendiam, tetapi punya gejolak batin, nah gejolak batin itu dengan mudah bisa dituliskan, tetapi di film itu sulit untuk divisualkan. Film yang visual harus bisa memperlihatkan isi pikiran, rencana, perasaan, sikap hidup, dsb. Makanya ada novel-novel yang mudah diadaptasi, misalnya Ronggeng Dukuh Paruk oleh Ahmad Tohari. Novel tersebut sudah ditulis dengan bahasa yang visual. Kita sudah bisa membayangkan filmnya seperti apa ketika membaca. Tetapi contoh lainnya, seperti novelnya Budi Darma, kita harus bekerja keras mengadaptasi novel itu menjadi film.

FI: Sejauh mana sebuah film dikatakan sebagai adaptasi?

Ar: Prinsip dasar dari adaptasi adalah sepersis mungkin, kalau perlu sama dengan novelnya. Karena pada dasarnya, proses adaptasi ini adalah memindahkan dari satu media satu ke media lain. Perubahan medium ini, mau tidak mau berdampak kepada skenario. 

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.