Teguh Karya: Mau Jadi Orang Film yang Lain

Sosok :: Penulis: JB Kristanto

Banyak masalah menarik dalam perfilman yang terlontar akhir-akhir ini, seperti tampak dalam tulisan dan pembicaraan resmi maupun tidak resmi. Bersamaan dengan itu telah selesai pula film Ranjang Pengantin (1974) yang disutradarai oleh Teguh Karya. Berikut ini adalah cuplikan-cuplikan wawancara dengan tokoh ini.

Menjajaki

Selama ini saya mau menjajaki film untuk konsumen. Saya memang membagi film dalam dua jenis: film konsumen dan film prestise. Dan yang saya kerjakan adalah untuk mengenal siapa konsumen itu. Ini boleh dibilang penjajakan ke luar. Kita harus menyadari kondisi sosial penonton kita.

Ke dalam saya menjajaki bentuk dan tema film, menjajaki produser, pemain, dan teknisi film. Penjajakan tema sudah saya mulai dengan Cinta Pertama (1973), suatu film melodrama. Ranjang Pengantin ini juga melodrama, tapi lebih dramatik lagi. Tahun ini saya akan membuat dua film yang agak lain, satu komedi kecil berjudul Kawin Lari (1974) dan satu lagi dokumentasi Siti Nurbaya. Bagaimanapun penilaian kita sekarang terhadap novel ini, Siti Nurbaya toh merupakan tonggak dalam sejarah sastra kita.

Kepada produser saya selalu berusaha meyakinkan apa yang saya coba itu. Sewaktu membuat Cinta Pertama saya berusaha meyakinkan produser bahwa yang glamour belum tentu memiliki sex appeal besar. Ternyata bisa. Buktinya: Christine Hakim.

Dalam Ranjang Pengantin, saya berusaha meyakinkan produser bahwa film tidak selalu harus dengan latar belakang yang indah, dengan gambar-gambar yang indah melulu.

Masalahnya adalah how to present. Kita memang tak punya tradisi yang satu ini: cara menyajikan. Umpamanya, cara menyajikan segelas Coca-cola secara menarik sehingga melihatnya saja kita sudah tergiur. Pada akhirnya film itu kan the art of expression buat si pembuat dan the art of having impression dari pihak si penonton. Yang kedua ini yang sering dilupakan.

Dengan begini memang saya menjadi mediator segala pihak. Karena itu marilah kita lunakkan hati masing-masing. Mari kita bekerja sama. Jangan buka front. Seniman kan berada di tengah masyarakat. Ia tidak superior. Dan karena kau tanya sampai kapan aku berhenti jadi mediator, jawabannya kalau 25 persen produksi seluruh film nasional sudah baik. Yang penting sekarang ini dengan penjajakan-penjajakan itu, aku sendiri ingin tahu aku ini mau apa.

Dialog

Marilah kita tinggalkan film prestise. Bagi mereka yang mau membuat ya silakan. Tapi marilah kita benahi dulu film konsumen yang belum punya bentuk ini. Yang ada sekarang ini kan cuma cerita-ceritaan, film- filman. Tapi belum film as film. Belum menggunakan bahasa yang betul.

Saya memang mau mencari bentuk film konsumen. Untuk ini kita perlu bekerja sama dengan idealis-idealis kecil yang ada. Perlu dialog antar-sutradara untuk membenahi dapur kita sendiri. Marilah kita mengenal dulu siapa kita ini dan siapa penonton itu. Masalah film kan cuma ada empat: logika (motivasi), teknik, estetik, dan artistik. Keempat faktor inilah yang selalu berkelahi dalam setiap pembuatan film.

Saya memang menggunakan pendekatan realis dalam film Ranjang Pengantin ini. Tapi realisme yang utuh tidak ada dalam film. Karena itu haruslah ditambah dengan motivasi yang kuat. Tentang warna (ia menunjukkan peta konsep warna untuk 66 sekuens filmnya), memang saya harus menurunkan harapan saya sebanyak 20 persen bila diproses di Tokyo dan 30 persen bila di Hongkong.

Kelemahan

Kelemahan film-film kita adalah karena dibuat tanpa konsep. Kelemahan ini timbul karena ada dua kutub dalam dunia film kita: dunia orang-orang yang berpengetahuan dan orang-orang praktik. Dua dunia ini memiliki bahasa yang gampang.

Kerja film adalah kerja kelompok. Kita butuh ahli kamera, ahli kabel dan listrik, dan lain-lain. Sementara itu orang-orang praktik ini membutuhkan pengetahuan estetika dan artistik. Maka marilah kita menjadi benar-benar profesional dalam bidang kita ini bukan profesional-profesionalan. Jangan sampai terjadi lagi kita harus menjemput pemain yang sedang main golf, atau minta dibukakan pintu mobilnya, atau mengeluh karena makanan yang jelek. Saya memang ingin jadi orang film yang lain.

Ditulis bersama dengan Arswendo Atmowiloto

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)
Terbit pertama kali di Kompas, 8 Februari 1975.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.