Tiga Film Indonesia Berlaga di Hong Kong

Berita :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Total ada 300 lebih judul film dari 68 negara yang akan diputar sepanjang Hong Kong International Film Festival 2013, 17 Maret-2 April. Tiga di antaranya film Indonesia.

Dalam segmen Young Cinema Competition, ada Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (disingkat Tidak Bicara Cinta). Film panjang kedua Mouly Surya ini akan bersaing dengan tujuh film produksi Asia lainnya. Dalam segmen Indie Power, ada Something in the Way karya Teddy Soeriaatmadja. Seperti yang tersirat dari namanya, segmen ini berfokus pada film-film independen dan avant-garde dari seluruh dunia. Ada pula hasil restorasi Lewat Djam Malam, karya klasik Usmar Ismail, yang akan diputar di segmen Restored Classics bersama tujuh film klasik hasil restorasi lainnya. Di antaranya ada Lawrence of Arabia karya David Lean dan Shoah karya Claude Lanzmann.

Sebelum singgah di Hong Kong, ketiga film ini sejatinya sudah melintas dunia. Bulan Januari kemarin, Tidak Bicara Cinta mencatat sejarah dengan menjadi film Indonesia pertama yang lolos kompetisi Sundance Film Festival dan menang NETPAC Award di International Film Festival Rotterdam. "Kami merasa terhormat bisa mewakili Indonesia di Hong Kong Film Festival bersama Mas Teddy [Soeriaatmadja]. Festival ini menjadi penting karena menjadi pemutaran perdana untuk wilayah Asia bagi film ini," ujar Mouly Surya.

Hong Kong sendiri menyimpan kenangan manis bagi Teddy Soeriaatmadja. Tahun lalu, sutradara yang lahir di Jepang ini menjadi salah satu unggulan sutradara terbaik di Asian Film Awards, bersama dengan sutradara-sutradara Asia ternama macam Zhang Yimou dan Asghar Farhadi, atas hasil kerjanya di Lovely Man. Di ajang yang sama, Donny Damara meraih penghargaan aktor terbaik, mengalahkan Andy Lau, Chen Kun, Park Hae Il, dan Yakusho Koji. Perjalanan Teddy ke Hong Kong kali ini meneruskan perjalanan Something in the Way setelah diputar di Berlin International Film Festival bulan Februari ini.

Perjalanan Lewat Djam Malam sendiri bisa dilacak dari Mei tahun lalu. Film yang direstorasi atas kerjasama National Museum of Singapore, World Cinema Foundation, L’Immagine Ritrovata, dan Sinematek Indonesia ini diputar di Cannes Film Festival dalam segmen Cannes Classics. Lima bulan kemudian, Lewat Djam Malam diputar di London Film Festival, 10-21 Oktober 2012. Hasil restorasi karya klasik Usmar Ismail ini juga sempat dinikmati publik Indonesia di jaringan bioskop nasional, dari akhir Juni sampai pertengahan Agustus tahun lalu.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.