Tiga Film Indonesia di INAFFF

Berita :: Penulis: Amalia Sekarjati

Ketiga film Indonesia yang diputar di INAFFFDari 36 film yang diputar di Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) 2011, tiga film Indonesia ikut mengisi festival yang tahun ini memasuki tahun kelimanya. Tiga film itu, The Perfect House, The Raid, dan FISFiC Volume 1. Tahun lalu tidak ada film Indonesia yang masuk dalam daftar INAFFF. "Adanya FISFiC menambah wajah baru, ide-ide segar dibandingkan film-film horor yang sekarang ada. Orang jadi salah kesan bahwa horor itu hanya pocong padahal sebenarnya lebih luas. Sayangnya film fantastik yang berkualitas, memang nggak banyak." jelas Trisiska Putri, Manajer INAFFF.

Menurut Trisiska, perbedaan kualitas film festival dilihat dari keseriusan produksinya. "Kita melihatnya yang dari segi produksinya bagus, serius, jalan ceritanya juga nggak sembarangan, dipikirkan detailnya, bajunya, latarnya, efeknya, dari situ juga bisa tersaring sendiri." Hal ini juga ditegaskan oleh Direktur INAFFF, Rusli Eddy, mengenai pertimbangan film-film Indonesia yang masuk dalam daftar film INAFFF. "Tahun lalu tidak ada film Indonesia karena tidak ada film yang kita anggap berkualitas. Tujuan utama membuat festival ini kan untuk memperbaiki citra dan reputasi industri film horor di Indonesia."

The Perfect House telah diputar lebih dahulu di beberapa festival internasional seperti Puchon Film Festival. The Raid mendapat penghargaan Midnight Madness di Toronto International Film Festival, sekarang sedang berkeliling diputar di luar negeri, dan menjadi film penutup di INAFFF sekaligus tayang perdana di Indonesia. Sedangkan FISFiC Volume 1 merupakan proyek omnibus yang digagas Ekky Imanjaya, Rusly Eddy, Joko AnwarTimo Tjahjanto, Kimo StamboelGareth Evans, dan Sheila Timothy yang telah melahirkan enam film pendek hasil seleksi dan workshop pertama yang masing-masing didanai sepuluh juta rupiah. Enam film itu adalah Mealtime (Ian Salim & Elvira Kusno), The Reckoning (Zavero G. Idris), Rengasdengklok (Dion Widhi Putra), Effect (Adriano Rudiman), Rumah Babi (Alim Sudio), Taksi (Arianjie AZ & Nadia Yuliani).

Tiga film Indonesia yang diputar pada festival film ini, mengesankan semacam semangat dan optimisme yang hendak dibangun mengenai industri film di Indonesia. "Sekarang penonton film horor makin menurun karena mungkin orang sudah mulai bosan. Namun, FISFiC menunjukkan bahwa sebenarnya talenta itu ada, tapi tidak pernah dikasih kesempatan. Dengan adanya FISFiC, harapannya ya bisa menginspirasi untuk membuat film-film bergenre horor, thriller, sains-fiksi, fantasi, untuk kembali mengharumkan industri film horor di Indonesia dengan menghasilkan film-film berkualitas. Sebenarnya film horor itu kan film yang komersial. Nah, ya coba dibikin yang bagus, pasti banyak yang nonton, kok." ujar Sly, panggilan akrab Rusli. Kerja sama antara FISFiC dengan INAFFF juga direncanakan akan berlanjut untuk tahun-tahun berikutnya. FISFiC akan menjadi agenda tahunan, menjadi segmen tersendiri di INAFFF, sebagai kompetisi sekaligus pemutaran film pendek pemenangnya.

Antusiasme penonton Indonesia terhadap festival ini selalu meningkat setiap tahunnya sejak 2007, ketika festival film ini masih bernama ScreamFest, sampai pada tahun ini. Tiket The Raid terjual habis pada hari pertama penjualan tiket dibuka, disusul tiket FISFiC, dan dua ratus tiket untuk pemutaran kedua juga sudah habis terjual. "Antusismenya naik banget dan naik terus. Tahun pertama sampai tahun kedua, kita memang agak sulit untuk meyakinkan masyarakat bahwa film horor yang kita tampilkan itu bukan cuma sekedar hantu. Fantasi itu bisa anime sampai sains-fiksi. Kami butuh waktu tiga tahun untuk edukasi dan melihat bahwa setiap tahun ada perkembangannya. Kami melihat bahwa pecinta genre ini sebenarnya banyak, tapi selama ini lebih banyak bergerak sendiri-sendiri. Kalau dari perolehan film, Indonesia paling banyak memproduksi apa, sih? Film horor, kan? Berarti memang segmennya ada." tambah Trisiska.

Selain tiga film Indonesia tadi, akan diputar juga film-film pendek finalis LA Lights Indie Movie 2010 bersamaan dengan film INAFFF lainnya. Film-filmnya adalah 7 Cara Bercinta (Astrid Tiar), Aku Ingin Kamu (Asmirandah), (Dulu) Banci (Gading Marten), Sebelah (Reza Rahadian), Promise (Dulu Tentang Aldo) (Bandung), Cenayang Cinta (Surabaya), Rahasia (Yogyakarta), Toko Hati Kalbu (Jakarta). Dilanjutkan dengan pemutaran film-film pendek finalis LA Lights Indie Movie 2011. Panitia juga mengadakan Filmmaking Session bersama Sheila Timothy tentang bagaimana mencari dana untuk memproduksi film secara gratis, pada Sabtu, 19 November 2011, pukul 9.30 di Blitz Megaplex, Grand Indonesia.

INAFFF berlangsung dari 11-20 November 2011 di Blitz Megaplex Grand Indonesia, dan 25-27 November 2011 di Blitz Megaplex Paris Van Java.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.