Tiga Penghargaan JAFF untuk Negeri di Bawah Kabut

Berita :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Presiden JAFF, Garin Nugroho pada malam penghargaan JAFF (Foto: FI)Negeri di Bawah Kabut sukses meraih tiga penghargaan: Geber Award, NETPAC Award, dan special mention dari tim juri JAFF. Bunohan karya Dain Said (Malaysia) keluar sebagai pemenang Golden Hanoman, penghargaan tertinggi di JAFF, yang diikuti oleh Postcard from the Zoo karya Edwin sebagai pemenang Silver Hanoman.

Di kategori film pendek, The Three Sisters karya Leon Cheo (Singapura) memperoleh Blencong Award dan Blames and Flames karya Mohammadreza Farzad (Iran) memperoleh penghargaan khusus. Ada juga Cartas de la Soledad karya Teng Manganaskan II (Filipina) yang memperoleh NETPAC Award bersama Negeri di Bawah Kabut.

Pengumuman penghargaan-pengharagaan itu merupakan pertanda bahwa Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2012 resmi berakhir. “JAFF identik dengan peta sinema Asia. Setiap penyelenggaraan selalu menghasilkan peta agar kita semua bisa mengetahui perkembangan mutakhir di sinema Asia,” tutur Garin Nugroho, presiden festival, sewaktu malam penghargaan JAFF di Taman Budaya Yogyakarta, 5 Desember 2012.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JAFF melibatkan empat tim juri. Ada tim juri JAFF yang menentukan pemenang Golden Hanoman dan Silver Hanoman. “Penghargaan dari juri JAFF merupakan pernyataan kami sebagai festival,” tutur Ajish Dibyo, direktur festival. Tim juri JAFF tahun ini terdiri dari Paul Agusta, Mouly Surya, dan Adisti Sukma Sawitri (wakil redaktur The Jakarta Post). Menurut Paul, Bunohan merupakan “film yang mampu memanfaatkan lokalitas dengan sangat baik, sehingga menghasilkan potensi artstik dan komersil yang sama tingginya.” Untuk Postcard from the Zoo dan Negeri di Bawah Kabut, catatan juri menyebutkan keduanya “memiliki cara bertutur yang unik, membuat penonton seperti dibawa ke dunia lain.”

Tim juri NETPAC berfokus pada pengakuan bakat dan suara baru dalam sinema Asia. Setiap juri dalam tim ini merupakan pilihan Network for the Promotion of Asian Cinema, jaringan kerja yang bertujuan dalam pengembangan sinema Asia. Tim juri NETPAC tahun ini terdiri dari Zhang Wenjie, Farah Wardhani (Indonesian Visual Art Archive), dan Daniel Rudi Haryanto. Perihal Negeri di Bawah Kabut, Zhang Wenjie berkomentar, “Bahasa visual yang dipakai Shalahudin Siregar puitis dan efektif dalam menceritakan kehidupan petani dan perubahan iklim. Semakin ke sini, isu perubahan iklim bisa dibilang semakin mendesak.”

Juri NETPAC, Zhang Wenjie memberikan penghargaan kepada perwakilan pembuat film Negeri Di Bawah Kabut (Foto: FI)Tim juri komunitas terdiri dari pegiat-pegiat film di level akar rumpun. Tujuannya adalah menemukan karya yang dapat menginsipirasi dan menjadi bahan pembelajaran komunitas-komunitas film di Indonesia. Tim juri komunitas tahun ini terdiri dari Dedy Susanto (INFIS Surabaya), Arfan (Malang), Jeihan Angga (Yogyakarta). Awalnya, tim juri komunitas memilih Bunohan sebagai pemenang Geber Award. Diskusi menjelang malam penghargaan menghasilkan perubahan keputusan. “Dengan memenangkan Negeri di Bawah Kabut, kami ingin mengajak teman-teman komunitas untuk mengenal lingkungannya lebih lagi, untuk menggambarkan wajah-wajah Asia dalam karya-karya mereka,” jelas Dedy.

Tim juri Lights of Asia berfokus pada film pendek. Tim juri tahun ini terdiri dari Tito Imanda, BW Purbanegara, dan Gutierrez Manganaskan  II (Filipina). Dari 48 film pendek yang diputar sepanjang JAFF, tujuh masuk kompetisi: Blames and Flames (Mohammadreza Farzad, Iran); Bunglon (Angkasa Ramadhan, Indonesia); Overseas (Anocha Suwichakornpong & Wichanon Somumjarn, Thailand); Hunger Pangs (Richard Legaspi, Filipina); Please Me Love (Sidi Saleh, Indonesia); Ritual (Ismail Basbeth, Indonesia); dan The Three Sisters (Leon Cheo, Singapura). Menurut Tito Imanda, The Three Sisters unggul karena “mengingatkan kita untuk berkarya dengan elemen-elemen Asia yang ada di sekitar kita.”

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.