Vino Bastian: Aspirasi Anak Muda Lewat Film

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

28 Maret 2013 menjadi tanggal bersejarah bagi Vino Giovani Bastian. Dua film yang ia bintangi, Madre dan Tampan Tailor, beredar di hari yang sama. Sebelum kedua film itu, ada Mika yang turut mencantumkan nama Vino sebagai bintang utamanya. Tiga film ini seolah-olah menjadi silaturahmi Vino setelah hampir dua tahun absen dari film bioskop.

Adalah 30 Hari Mencari Cinta (2003) yang memperkenalkan Vino ke penonton Indonesia. Kariernya kemudian identik dengan sosok-sosok anak muda pemberontak yang ia perankan dalam Catatan Akhir Sekolah (2004); Realita, Cinta, dan Rock n’ Roll (2005); Badai Pasti Berlalu (2007); Radit dan Jani (2008); Serigala Terakhir (2009), dan Punk in Love (2009). Dalam Madre dan Mika, laki-laki kelahiran 24 Maret 1982 ini kembali memainkan tokoh anak muda. Tapi bukan artinya Vino terjebak dalam peran itu-itu saja. Terlihat, dalam Tampan Tailor, Vino tampil beda dengan menjajal peran tukang jahit yang berusaha menghidupi anaknya di belantara kehidupan ibukota. 

Kepada redaksi Film Indonesia, Vino bercerita tentang pengalamannya di Tampan Tailor dan Madre, kariernya, proses kreatifnya, rekan-rekan satu profesinya, krisis keaktoran di perfilman nasional, serta keinginannya untuk menyuarakan aspirasi anak muda lewat film.

 

Film Indonesia (FI): Untuk memerankan Tansen di film Madre, penampilan fisik Anda benar-benar dipermak: rambut jadi gimbal, kulit dibuat gelap, dan sebagainya. Untuk sosok Tansen sendiri, tokoh macam apa yang Anda ingin tunjukkan ke publik?

Vino Bastian (VB): Sebenarnya, Mas Benni [Setiawan] ingin Tansen lebih dikenal dari permukaannya saja. Di permukaan, Tansen terlihat mandiri dan bebas, kesannya dia bisa hidup di mana saja. Tansen sebenarnya bersembunyi di balik itu, untuk menutupi kalau dia kangen banget sama keluarga. Dia kehilangan, tidak punya keluarga, selalu gagal dalam percintaan. Setelah film berjalan menjelang akhir, baru dia menunjukkan kalau dia kangen, dan itu terlihat ketika ia melihat foto ibunya, padahal sebelumnya dia tak pernah mengaku punya keluarga. Mas Benni maunya layer yang satu ini jangan kelihatan sampai di belakang.

Sederhananya begini. Saat Tansen mau membuat roti, dia sebenarnya berpikir, “Ini bukan pekerjaan cowok banget, nih.” Namun, ketika pulang ke Bali, dia merasa ada yang hilang. Lalu dia merasa, bahwa kalau dia mengambil pekerjaan itu, hidupnya bisa lebih baik, tapi dia gengsi untuk bilang. Apalagi bilang sama orang yang belum dia kenal. Nah, ini yang harus saya tutupi dulu, bermain di permukaan dulu. Sampai ketika di belakang, orang tahu bahwa ternyata sosok yang kelihatan kuat tadi, cuma di permukaan saja. Padahal sebenarnya, dalamnya dia tuh hancur.

FI: Tansen sudah populer terlebih dahulu sebagai tokoh dalam buku Madre. Cerita ini pun pembacanya cukup banyak. Seberapa banyak sosok Tansen dalam buku yang Anda ikuti? Apakah Anda terbebani untuk memenuhi harapan pembaca terhadap sosok Tansen?

VB: Kebetulan, saya juga pembaca Madre. Setiap pembaca buku punya imajinasinya sendiri; mereka berhak menilai Tansen seperti yang mereka inginkan. Saya pun berhak dong menilai Tansen dengan tafsir saya sendiri. Sewaktu latihan naskah, Mas Benni minta saya untuk memerankan Tansen dalam berbagai versi. Jadinya, selama seminggu pertama, kami coba ‘cari’ Tansen seperti apa yang kami mau.

Awalnya, sosok Tansen ini cool, kalem, sedikit bicara. Ketika coba dikolaborasikan dengan tokoh lain, bentukan tokoh Tansen macam ini malah mati jadinya. Mas Benni pun minta saya untuk mencari Tansen yang berbeda. Kalau tidak salah, ada sampai tiga kali Tansen berubah karakternya. Ada yang Tansen jadi komedi banget, gila banget, tapi jadi mental sendiri dengan tokoh-tokoh di sekelilingnya. Akhirnya, yang kita sepakati adalah Tansen yang saya jelaskan tadi, yang awalnya di permukaan terus pelan-pelan terbuka itu tadi. Tentu terbukanya karena ada sosok Mei dan Pak Hadi. Jadi, mereka yang menyerang Tansen sehingga dia menjadi dirinya yang sebenarnya.

Dalam bukunya sendiri, ketika Tansen berceloteh, tiba-tiba meledak. Nah, di sini, Mas Benni juga maunya seperti itu, tapi Mas Benni punya karakter sendiri dalam menyutradarai. Dia seneng banget sama komedi yang agak slapstick. Itu karakter sutradaranya. Kalau Madre ini disutradarai oleh sutradara lain, mungkin nggak akan seperti ini. Tapi inilah Madre ala Benni Setiawan.

Saya ikut casting untuk main di Madre. Banyak aktor lain yang pasti punya tafsir mereka sendiri tentang Tansen. Mungkin yang paling dekat dengan bayangannya Mas Benni adalah apa yang saya tawarkan. Semua ada diskusinya. Misalnya, Tansen harus berbicara seperti apa? Saya pun diskusi sama Mbak Dewi Lestari. Apakah bahasanya Sunda? apakah dengan logat Bali karena lama di Bali, atau apakah dia orang kota? Dia jawab, Tansen bisa semuanya, bisa masuk ke mana saja. Maksudnya, kalau dia ketemu orang Sunda, dia bisa akrab. Ketika dia di Bali dan ketemu orang lain, dia juga bisa akrab.Vino Bastian sebagai Tansen dalam Madre

FI: Melihat film-film yang Anda perankan, sebagian besar peran Anda menjadi sosok bad boy, tetapi di sisi lain juga sosok yang melankolis. Apakah ini ikon yang coba Anda ciptakan?

 VB: Saya sebenarnya tidak tahu kalau jadinya malah begitu. Kalau di kehidupan nyata, saya tidak seurakan itu, tidak semelodramatis itu juga. Mungkin setiap aktor punya karakternya masing-masing ya. Al Pacino, Robert de Niro, Daniel Day Lewis. Kalau mereka main, kita bisa bilang “Ini nih Al Pacino” atau “Ini De Niro banget”. Perannya bisa apa saja, tapi karakter mereka tetap terlihat. Tanpa saya sadari, saya mungkin melakukan hal serupa. Tapi saya tidak bilang kalau selama ini saya sudah berhasil menjalani peran-peran yang saya terima. Ada yang menghujat, ada pula yang mengkritik. Semuanya jadi masukan yang berarti buat saya. Selalu ada perbaikan. Setiap film menjadi pelajaran tersendiri buat saya.

Saya pun ingin berproses, ingin keluar dari karakter tertentu, ingin mencoba karakter lain. Saya harus terus menggali. Namun, ketika saya menawarkan apa yang telah saya pelajari, ada yang harus disesuaikan dengan imajinasi sutradara. Sutradara juga punya batasan: tidak boleh keluar dari sini, sini, dan sini. Aktor harus masuk ke lingkup yang sutradara sudah buat. Kalau mau improvisasi, terserah saja, tapi tidak boleh keluar dari lingkup yang sudah dibangun sutradara. Selama bisa diterima dan sesuai dengan keinginan sutradara, saya lakukan dan kembangkan. Kalau tidak, ya saya ubah lagi.

FI: Apakah peran menjadi bapak di Tampan Tailor jadi salah satu upaya untuk melepaskan dari sosok bad boy tadi?

VB: Kalau yang di Tampan Tailor, itu karakter yang memang harus saya ciptakan sendiri ya. Kalau di Madre, kalau kita baca bukunya, Tansen memang seperti itu. Dia sudah ada benang merah ceritanya. Jadi, saya tak bisa terlalu banyak berimprovisasi terhadap Tansen.

Tampan Tailor jadi makin menarik, karena Jefan [Nathanio] belum pernah main film sebelumnya. Saya juga belum punya anak, sedangkan di film ini si anak sudah berusia enam tahun. Otomatis, kami harus menceritakan dan menjelaskan hubungan bapak-anak kami seperti apa sebelum-sebelumnya. Yang orang-orang lihat kan yang sekarang, setelah ia berusia 6-7 tahun. Kami pun reading cukup lama, karena waktu awal-awal Jefan masih agak canggung. Setelah saya belajar menjahit, baru dia reading sama saya.

Jefan adalah anak yang cerdas. Jadinya kami lebih mudah untuk latihan tanpa naskah. Saya kasih tahu dialognya seperti apa; kalau saya bilang begini, dia balesnya bagaimana. Biar tidak terpaku sama naskah, bisa jadi teknis banget soalnya. Chemistry sama Jefan pun perlahan-lahan terbangun. Selain itu, kalau bisa, kami ketemu setiap hari, terus ketemu. Biar dia tidak ragu dan ‘terbiasa’ menganggap saya bapaknya. Dia kan juga punya bapak sendiri.

FI: Apa yang Anda gunakan untuk jadi referensi peran Anda sebagai seorang Bapak?

VB: Saya menonton film-film tentang bapak-anak ya. Cuma, kalau di sini, sosok bapak single-parent cenderung menjadi pengganti ibu. Saya tidak mau seperti itu. Buat saya, bapak adalah bapak; hubungan bapak-anak di sini jadinya antara laki-laki dengan laki-laki. Bapak bertanggung jawab pada anaknya sebagai seorang laki-laki. Saya mau menjaga agar Topan sama Bintang dekatnya itu seperti laki-laki dengan laki-laki. Saya dengan sadar membatasi itu.

Kalau di luar, banyak referensi film bapak-anak, tapi mungkin lebih gampang ketika saya melihat Bapak saya sendiri, bagaimana dia mencoba dekat dengan anak-anaknya. Seperti misalnya cara dia menunjukkan sesuatu itu lewat apa yang dia kerjakan, bukan lewat kata-kata.

 

Kolaborasi Vino Bastian dan Marsha Timothy dalam Tampan TailorRekan Seprofesi

FI: Di film Madre, Anda bermain dengan Laura Basuki dan aktor-aktris senior seperti Didi Petet dan Titi Qadarsih. Sedangkan di Tampan Tailor, Anda bermain dengan anak kecil. Apakah ada kebiasaan atau cara tertentu untuk membangun chemistry dengan para lawan main?

VB: Dengan banyak ngobrol. Kalau sama Mas Didi, misalnya, karena ceritanya cenderung komedi, maka selalu cerita yang lucu-lucu. Kalau sama Laura, relasi tokohnya dengan tokoh yang saya perankan bukan sebagai pacar. Namun, justru menunjukkan kalau Tansen yang punya ketertarikan sama Mei, dan sebenarnya Mei malah datar-datar saja. Jadi, hubungan Mei dan Tansen memang agak berjarak, cuma memberi pancingan-pancingan.

Reading untuk Madre sekitar sebulan. Kami bertemu, membahas naskah, diskusi bagaimana caranya menyiasati perbedaan apa yang ada di novelet dan di naskah. Ada pergeseran cerita, karakter, semua mengikuti imajinasi sutradara. Ya sudah, ngobrol-ngobrol, memang banyak waktu reading. Kebetulan sama Laura sudah sempat kenal sebelumnya. Kalau sama Jefan di Tampan Tailor, memang saya yang harus menurunkan porsinya, harus lebih banyak mengalah sama dia. Tidak mungkin kan Jefan yang mengikuti saya?

Banyak adegan yang sebenarnya krusial, atau porsinya lebih besar dari yang terlihat di film, tapi ternyata nggak bisa karena terlihat bermain sendiri. Jefan juga masih baru, kalau dipaksakan untuk adegan-adegan yang lebih dramatis atau lebih besar, takutnya malah jadi main sendiri-sendiri dan tidak nyambung. Kasihan si Jefan, dan nantinya bisa nggak bagus juga buat dua-duanya. Jadi, banyak adegan-adegan yang akhirnya masuk film itu sebenarnya cuma titik tengahnya saja. Intinya, bagaimana Topan dan Bintang juga bisa main bareng-bareng. Banyak improvisasi tentunya. Seperti kalau berdasarkah naskah, banyak adegan yang tidak mungkin dimainkan kami berdua, tidak dalam konteks hubungan bapak-anak. Namun, dengan sutradara dan tim yang solid dan kemampuan kami semua, paling tidak apa yang dilihat penonton di layar itu bisa mendekati.

FI: Kalau bermain dengan Marsha Timothy, istri Anda sendiri, di Tampan Tailor?

VB: Banyak yang bilang bahwa main sama Marsha justru tidak perlu ditakutkan. Tidak seperti itu juga sebenarnya, malah kebalikannya, justru itu tantangan paling besar. Bermain dengan Marsha di film sama hubungan kami di luar itu kan beda sekali, ya. Justru malah lebih canggung dan tantangannya lebih berat. Kami jadi semacam punya harapannya yang lebih tinggi terhadap satu sama lain, apalagi perannya di Tampan Tailor juga bukan sebagai suami-istri.

Dalam seni peran, lebih susah diminta berperan jadi diri sendiri daripada disuruh jadi orang gila. Dalam Tampan Tailor juga begitu. Dengan Marsha berperan sebagai Prita, romantismenya juga berbeda kan. Memang pada akhirnya Topan dan Prita bersatu, tapi kan tidak dijelaskan dengan adegan pernikahan atau sejenisnya. Itupun tetap ada batasan tersendiri karena Topan masih punya janji sama istrinya yang dulu. Kalau adegannya terlalu romantis, tokohnya akan hancur sendiri.

Salah satu momen Vino Bastian di Catatan Akhir SekolahFI: Belakangan ini, beberapa orang berpendapat kalau perfilman kita mengalami krisis keaktoran. Aktor atau aktris yang muncul dalam film Indonesia itu-itu saja. Sebagai seorang aktor, apa tanggapan Anda mengenai hal ini?

VB: Setuju, saya setuju banget. Saya merasakannya sendiri sebagai aktor. Film Indonesia belakangan ini mulai bangkit. Namun, walaupun pernah jadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi sempat drop lagi. Akhirnya, produser-produser akan membuat film yang mereka sudah tahu pasarannya atau keuntungannya saja. Itu pun belum tentu semua berhasil. Misalnya, ambil dari novel, biografi orang lain, secara tidak langsung kan produser membuat film itu karena ada jaminan penonton. Namun, dalam setahun, ada berapa banyak yang membuat film seperti itu? Berapa banyak dalam satu tahun, film yang membutuhkan aktor dengan karakterisasi tokoh yang berbeda-beda? Pasti cuma sedikit.

Rata-rata, ketika produser melihat seorang aktor sukses di satu jenis film, dia akan dilihat di situ terus. Otomatis buat si aktor, termasuk saya, ketika mendapat tawaran naskah yang banyak, misalnya lima naskah, yang karakternya beda paling cuma satu-dua. Itupun belum tentu pas buat kami. Dari peran itu, bisa saja di-casting lagi dari beberapa aktor. Hal itu yang membuat seorang aktor tidak memiliki banyak kesempatan untuk memainkan film dengan peran-peran berbeda.

Aktor Indonesia itu banyak dan bagus-bagus, tapi kesempatan mereka tidak banyak. Mereka jarang mendapat kesempatan untuk mencoba hal-hal baru. Produser juga cenderung mempercayakan film-filmnya kepada aktor-aktor yang sudah berpengalaman. Jadi, tidak bisa dipungkiri kenapa aktor kita yang main cuma itu-itu saja. Semua kan lewat seleksi. Walaupun aktor-aktor baru bermain bagus, tapi kalau pas seleksi harus diambil yang terbaik, mau tidak mau ya orangnya itu-itu lagi yang main. Jadi, memang selain pilihan peran sebagai aktor yang itu-itu saja dengan cerita yang itu-itu saja, seleksinya jadi sangat ketat. Terbaik pun belum tentu cocok sama perannya. Maksudnya, walaupun dia aktor terbaik di Indonesia, tapi belum tentu cocok memainkan satu peran yang ditawarkan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Sekarang, seorang aktor mau main film dengan peran yang berbeda-beda. Siapa yang mau membuatkan filmnya kalau tidak ada? Semua tergantung produser juga. Sekarang tinggal bagaimana, aktor seperti saya, menyiasati untuk mendapatkan peran-peran itu? Nah, saya dari dulu memang ikut membangun cerita di film saya mulai dari Realita, Cinta, dan Rock n Roll; Radit dan Jani; sampai Tampan Tailor. Kesempatan itu yang saya gunakan untuk membantu sedikit mengurangi krisis keaktoran tadi. Selain karena aktornya yang itu-itu saja, orang juga lama-lama akan bosan karena aktor yang sama main cerita yang sama pula.

FI: Belakangan, banyak juga aktor atau aktris yang terlibat di balik layar. Mendengar cerita dan pendapat Anda, apakah Anda tidak tertarik untuk memproduksi film sendiri dan terlibat di balik layar?

VB: Kalau sampai sekarang, saya masih ingin memperbaiki akting saya di depan layar dulu. Banyak yang masih harus saya perbaiki, dan banyak sutradara yang saya belum kerja bareng, dan banyak juga peran-peran yang belum saya mainkan.

Untuk menyutradarai, ada keinginan. Namun, untuk sekarang, saya lebih senang membangun karakter tokoh dan ceritanya. Jadi, ada beberapa film yang saya bantu pengembangan naskahnya dan saya senang di situ. Sekarang juga lagi coba-coba menulis. Mungkin suatu saat bisa mulai menyutradarai. Namun untuk saat ini, maunya fokus dulu. Kecuali kalau sudah mentok, maksudnya, kalau semua peran sudah pernah dimainkan. Tapi sampai kapan? Saya juga tidak tahu. Selalu ada keinginan untuk mencapai lebih dan lebih lagi. Jadi, mau lebih total di depan layar dulu, tapi tidak menutup kemungkinan bakal main di belakang layar juga.

 

Adegan ikonik dalam Radit dan JaniKarier

FI: Karier Anda sekarang sudah berumur sepuluh tahun. Dalam periode waktu itu, Anda terlibat dalam sekian film dan sekitar 45 FTV (film televisi). Setiap tahunnya, ada dua film Anda yang dirilis. Namun, antara 2010 dan 2012, tak ada satu pun film Anda yang beredar. Bagaimana sebenarnya Anda membagi waktu antara film dan televisi? Apakah Anda menjadikan FTV sebagai tempat latihan berakting untuk ke film atau bagaimana?

VB: Sepanjang dua tahun pas film saya tidak ada yang edar itu, saya sebenarnya sedang syuting. Tapi, filmnya tidak ada yang keluar. Memang, di jeda dua tahun itu, saya juga ambil banyak FTV. Buat saya, mau main di mana pun, usahanya harus tetap maksimal. Banyak orang juga yang tanya saya ambil FTV. Namun, buat saya pribadi, saya bisa berlatih akting, bisa berganti peran dengan macam-macam karakter. Lalu, waktu syutingnya lebih sebentar, dibanding mengambil satu sinetron panjang. Ini jadi tantangan tersendiri buat saya, karena saya orangnya lambat panas. Maksudnya, kalau dapat satu peran, saya tidak bisa langsung ‘panas’ untuk masuk ke tokohnya.

Saya pernah ambil sinetron panjang. Saya penasaran, saya mau coba dan ternyata agak sedikit membosankan buat saya sendiri. Ternyata untuk mempertahankan tokoh di satu sinetron panjang itu tidak mudah. Di tengah-tengah, di sekitar puluhan episode, saya mulai merasa bosan. Tantangannya tinggal bagaimana iar saya bisa konsisten di situ kan? Terakhir, di Calon Bini, untuk mengembangkan karakter orang bodoh seperti itu, di episode ke sekian itu sudah sangat membosankan. Saya harus bertahan, membuat improvisasi-improvisasi lain. Sementara, untuk naskah di sinetron itu, kita sama-sama tahu bagaimana parahnya. Namun, orang kan tidak mau tahu itu. Yang penting adalah apa yang mereka lihat di layar.

Idealisme saya adalah saya mau coba sesuatu yang belum pernah saya coba. Misalnya, terlibat di teater, tapi sampai sekarang belum dapat kesempatan main di teater yang besar. Tapi, kalau anak-anak Institut Kesenian Jakarta lagi ujian teater atau buat film pendek, saya sering ikutan. Itu kesempatan yang bagus buat saya untuk coba-coba. Di FTV pun juga demikian. Seperti yang saya bilang tadi, di Indonesia, ketika satu aktor sudah sukses main satu jenis peran, produser akan ingatnya sosok itu terus. Dulu cuma di sinetron seperti itu, sekarang di film pun begitu.

Nah, itu juga salah satu faktor kenapa saya menghilang selama dua tahun itu, karena rata-rata peran yang ditawarkan ya itu-itu saja. Akhirnya, saya mengambil film yang menawarkan peran yang berbeda . Contohnya film Mas Ifa [Isfansyah], Rumah dan Musim Hujan, tapi ternyata filmnya belum beredar di sini. Lalu, ada Tampan Tailor dengan peran penjahit, atau film lain lagi, Air Mata Terakhir Bunda. Buat saya, itu peran-peran yang menantang. Selama dua tahun itu, saya mau kasih yang berbeda, tapi ternyata filmnya belum keluar. Mungkin, itulah kenapa orang berpikir saya menghilang dan sibuk di FTV. Orang tidak tahu kalau sebenernya saya juga main film. Tahu-tahu saja film-film itu banyak yang dirilis tahun ini. Itu di luar kuasa saya.

FI: Termasuk Madre dan Tampan Tailor yang akhirnya beredar di hari yang sama?

VB: Iya. Buat saya pribadi, dengan perkembangan film Indonesia sekarang, idealnya keluarin film satu-satu. Biar penonton juga fokus memilih film yang ingin ditonton. Saya sendiri, paling mentok, seminggu nonton film bioskop dua kali. Pertama, soal waktu. Kedua, kadang-kadang kita butuh jeda untuk refresh setelah nonton satu film. Saya termasuk orang yang suka ‘terbawa’ lama setelah nonton suatu film.

Sekarang tiket bioskop juga sudah naik. Misalkan, penggemar saya nonton antara Madre atau Tampan Tailor duluan, lalu dia tidak suka dan tidak nonton film satunya, ya wajar-wajar saja tapi kasihan kan film yang satu. Saya juga tidak bisa memaksa dia untuk nonton yang satunya lagi. Itulah yang saya sayangkan, kenapa harus rilis dua film sekaligus. Tapi saya ambil positifnya saja. Di bulan film nasional, saya bisa menyumbang dua film untuk masyarakat Indonesia. Jadi kebanggaan tersendiri. Di luar itu, sudah masalah bisnis ya, di luar kuasa saya.

FI: Anda tadi bilang Anda lambat panas untuk berganti peran. Idealnya, berapa waktu yang Anda butuhkan untuk persiapan atau reading?

VB: Dulu, reading itu bisa 1 sampai 1.5 bulan. Cuma, makin lama makin ke sini, waktu reading makin singkat, waktu syuting juga makin singkat. Pas produksi In the Name of Love, waktu reading lama banget, tapi waktu syutingnya singkat. Ternyata tidak efektif juga. Kami sudah reading mati-matian, penggarapannya malah singkat. Ada lagi yang mendingan: waktu reading singkat, waktu syutingnya lama. Jadi, kita masih bisa belajar lagi di lapangan. Nah, kalau sekarang, waktu reading dan syuting sama-sama singkat. Itu bagaimana caranya masing-masing aktor untuk bisa masuk ke dalam tokoh yang ia perankan dengan cepat. Nah, itu jadi tantangan bagi saya yang lambat panas ini.

Kalau ada yang bilang “aktor ini bagus karena fokus di film” atau “yang ini main FTV melulu”, ya kan setiap orang punya kepentingan beda-beda. Mungkin dia sudah cukup hebat dengan main satu film tahun ini, lalu main lagi tahun depan, tapi kualitasnya terjaga terus. Mungkin dia sudah sehebat itu dan saya belum sehebat itu. Saya masih butuh latihan terus dan nonton film yang banyak.

FI: Anda memilih untuk berada di bawah naungan satu agensi. Apakah agensi ini bertugas mencari tawaran bermain film tadi atau pemilihan peran langsung di tangan Anda?

VB: Tetap tergantung saya, agensi ini hanya manajerial saja. Manajemen saya itu bukan ke pemilihan peran. Beda kalau misalnya di luar, mungkin lebih seperti itu. Kalau di sini, manajer ini adalah orang yang mengurus keuangan, administrasi, tapi semuanya balik ke saya. Manajer yang bagus bisa jadi tempat diskusi juga kan?

Seperti sekarang, saya sama Sulung. Dia kebetulan juga mulai memproduksi film. Jadi, ketika ada tawaran film, dia juga membantu memberikan masukan. Filmnya seperti ini, ini, ini. Kalau dia jadi penonton, dia akan lebih memilih yang ini. Nah, pertimbangan-pertimbangan seperti itu sih yang bagus buat saya.

Salah satu adegan Realita, Cinta, dan Rock n RollFI: Apa pertimbangan Anda dalam memilih peran?

VB: Saya main film juga baru sedikit, masih banyak peran yang belum dimainkan. Kalau di Madre, saya senang karena saya juga senang kuliner. Meskipun soal pembuatan rotinya hanya jadi background, buat saya itu juga sesuatu yang baru buat akting saya. Sebagai surfer juga. Dulu, waktu di Badai Pasti Berlalu pernah jadi surfer tapi tidak ada adegan surfing. Kalau di sini, seru karena ada adegan surfing yang diambil, walaupun yang diambil juga pas saya lagi jatuh. (Tertawa) Lumayan, menambah pengalaman. Kalau nanti ada adegan surfing lagi, ya jadi punya pengalaman. Atau jadi punya teman-teman nongkrong anak-anak surfer di sana.

Pertama kali mendapat tawaran jadi tukang jahit, saya diceritakan terlebih dahulu tentang biografi Harry Palmer, inspirasi film Tampan Tailor. Dia memang seorang pejuang. Dulu punya toko jahit, sama seperti Topan, tapi kalau toko beliau hancurnya karena kerusuhan. Akhirnya bertemu dengan Pak Harry, ngobrol, beliau cerita tentang perjuangannya, cerita yang sampai bikin saya berkaca-kaca. Juga cerita dia tentang hubungannya dengan anaknya. Anak dia perempuan. Toko jasnya tidak terlalu besar, tapi dia bisa menyekolahkan anaknya. Itu yang membuat saya tertarik ambil bagian di Tampan Tailor.

Kalau secara keseluruhan, sebenarnya awal-awal main film kan seperti hobi, sesuatu yang disenangi. Jadi, kalau saya mengambil film, ya pertama-tama, saya suka dulu sama filmnya, sama ceritanya, sama karakter tokohnya. Setelah dari situ, saya baru melihat kalau tidak bisa cuma karena suka saja, tapi perlu tantangan lain. Seperti, mencari karakter yang berbeda, yang benar-benar beda, bahkan ekstrim. Ekstrim bedanya, bukan ekstrim karakternya. Beda dengan kehidupan saya, maksudnya.

Memang, pas awal-awal main film, saya tertarik sekali dengan cerita anak muda. Kenapa? Karena, sebagai anak muda, saya bisa membantu menyuarakan suara-suara mereka lewat film. Kalau orang lain lewat musik atau olahraga, saya lewat film. Tema-tema anak muda inilah yang kebanyakan saya pilih. Misi awal saya ya dari situ: ingin menyuarakan aspirasi anak muda. Ternyata, apa yang saya lakukan bisa dibilang berhasil. Anak muda sekarang kan tidak hanya pergi-pulang sekolah. Mereka juga kreatif, pintar, tahu apa yang mereka lakukan, dan tidak bisa dikekang. Jadi, jangan pernah membatasi ekspresi dan imajinasi mereka. Itu sebenarnya misi kecil yang saya mau sampaikan lewat film-film saya.

Mungkin nanti juga ada tawaran film yang perannya sudah pernah saya mainkan sebelumnya, termasuk peran sebagai anak muda. Buat saya, itu bukan pengulangan atau saya terjebak di peran itu-itu saja. Memang saya masih mau main lagi dan kasih film dengan tema-tema seperti itu lagi. Setelah beberapa film yang saya mainkan, saya sadar kalau film Indonesia makin banyak, baik jenis maupun peran-perannya. Tapi, kok yang membuat film tentang anak muda malah tidak ada lagi, ya? Seperti berhenti. Jenis film yang lain makin banyak, yang ini malah tidak ada. Termasuk ketika saya talkshow atau off-air, banyak juga anak muda yang mempertanyakan hal yang sama. Padahal menurut saya, bisa kok membuat film seperti itu lagi, jadi motivasi-motivasinya tidak hilang. Jadi, ya itu sih semangat dan misi yang saya pegang.

Film yang mengangkat perjuangan dan aspirasi anak muda tidak akan berhenti dibutuhkan. Sama seperti setiap pembuat film yang punya misinya masing-masing: ada yang mau membuat film horor bagus, drama bagus. Nah, mumpung saya masih muda, ya kenapa tidak? Ketika masanya masih ada dan secara fisik masih bisa, saya manfaatkan. Apalagi sebelumnya saya main band. Waktu itu pun, lagu-lagu yang kami buat itu untuk menyampaikan aspirasi anak muda. Biasanya untuk menunjukkan bahwa orang yang lebih tua bukan berarti lebih tahu atau pintar dari anak muda sekarang, tapi bukan berarti yang lebih tua juga salah.

FI: Bapak Anda, Bastian Tito, merupakan penulis kisah Wiro Sableng yang tersohor itu. Apakah kepengarangan beliau termasuk yang mempengaruhi Anda untuk terjun ke dunia seni, khususnya film?

VB: Sebenarnya tidak ada. Beliau kan yang menulis bukunya, bukan yang membut film atau sinetron Wiro Sableng. Dia penulis novel saja. Kalau misalnya berhubungan dengan novel itu, saya tidak terpengaruh dari situ. Selama beliau masih hidup, saya sendiri tidak baca bukunya tuntas. Mungkin karena saya lebih senang baca buku-buku bergambar. Makanya, saya lebih suka film daripada novel, karena lebih senang melihat gambar. Saya malah tahu ceritanya karena beliau cerita langsung ke saya.

Belakangan ini, seperti yang tadi saya ceritakan, saya mulai senang ikut membangun cerita atau script development. Mungkin, secara tidak langsung, itu yang saya dapat dari beliau. Jadi, kenapa sekarang mulai senang membangun cerita film dan sebagainya, mungkin secara tidak langsung ada darahnya mengalir dari situ. (Tertawa) Itu jadi satu keuntungan ya, tapi bukan karena menebeng nama besar Ayah. Doakan saja ada filmnya lagi, karena yang kemarin-kemarin itu kan dibuat tanpa berurusan dengan Almarhum Ayah. Kalau dibuat filmnya lagi, ini jadi film pertama beliau.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.