Wikana: Dayan si Pisau Sunyi

Sosok :: Penulis: Arie Kartikasari

T Rifnu Wikana sebagai Dayan di film Hati Merdeka. Foto: Margate HouseSalah satu dari lima karakter utama yang ada di trilogi Merah Putih adalah Dayan, yang diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana (Wika). Wika menggambarkan Dayan sebagai karakter ‘pisau sunyi', diam namun mampu membasmi lawan dengan cepat. Wika menceritakan beberapa persiapan yang ia jalani, dan hasil yang ia petik selama berakting di dalam set.

filmindonesia.or.id (FI): Bagaimana sebenarnya sosok Dayan? Mengapa ia diperlihatkan sebagai sosok yang tidak banyak bicara dan cenderung menjadi penengah dari kawan-kawannya?

Teuku Rifnu Wikana (Wika): Dayan sosok yang lebih dewasa dibanding anggota lainnya, karena dia sudah mengalami hampir semua hal buruk yang belum pernah dialami oleh yang lain. Dayan pada awalnya adalah seorang bandit di daerahnya. Ia memiliki kekasih sekaligus rekan sesama bandit yang tewas digantung. Itu membuatnya jadi sangat terpukul. Merasa sudah tidak memiliki kekuatan, Dayan memilih untuk memulai hidup baru. Ia meninggalkan daerahnya dan mendaftar di ketentaraan. Untuk mendukung pengetahuan budaya asal Dayan, saya sebelumnya belajar tentang budaya Bali. Dari situ saya mengetahui tata cara berdoa dan falsafah di balik ibadah yang dilakukan oleh orang Bali.

FI:  Pada Darah Garuda, karakter Dayan dipotong lidahnya oleh pihak musuh. Bagaimana caranya menghadapi tantangan ini?

Wika: Memang tidak mudah. Kebetulan saya dibantu oleh dokter untuk memahami apa yang terjadi ketika seseorang dibisukan. Hal ini seperti ketika kamu ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi suara yang dikeluarkan menjadi samar. Kamu juga merasa sakit pada beberapa bagian di mulut, apabila mengeluarkan suara. Pada akhirnya kamu akan berusaha berkomunikasi dengan orang sekitar dengan simbol-simbol. Tetapi karena kebisuan ini baru terjadi, maka kamu akan kebingungan, karena tidak tahu simbol atau cara komunikasi baru yang harus dipakai.

FI: Apa saja riset sejarah yang dilakukan, dan bagaimana hasilnya?

Wika: Lewat membaca, menonton dan berdiskusi baik dengan sejarawan maupun dengan saksi sejarah, saya akhirnya lebih memahami situasi pada tahun 1946 – 1949. Pada awalnya, saya hanya mengetahui pada tahun tersebut terjadi agresi militer Belanda pertama dan kedua. Setelah riset, saya melihat Indonesia mengalami revolusi sosial yang amat kompleks pada saat itu. Salah satunya tentang pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh kerajaan-kerajaan yang tersebar di Nusantara. Ada banyak kekisruhan terjadi di daerah-daerah. Kita seperti melawan saudara kita sendiri. Apakah revolusi sosial itu sesuatu yang sudah diatur dan oleh siapa? Saya tidak tahu itu (tertawa). Lewat riset, saya mengerti pentingnya film ini, karena memang menggambarkan Indonesia yang terbentuk karena rakyatnya.

FI: Karena Dayan merupakan bagian dari kelompok, bagaimana caranya memahami karakter yang lain?

Wika: Kita pernah melakukan latihan kemiliteran bersama. Di dalam kamp kita berlatih menembak, bongkar-pasang senjata, dan latihan fisik. Mental kita juga ditempa di sana. Secara khusus saya juga berlatih memainkan pisau, karena itu memang keahlian Dayan. Kita bahkan tidur dan mandi bersama-sama di barak. Saya masih ingat sampai sekarang rutinitas pagi hari yang biasa kita lakukan (tertawa). Kedekatan ini penting untuk semuanya, bahkan untuk karakter musuh sekalipun. Kadang saya lihat, pemain yang memerankan karakter yang bermusuhan, justru memilih menjauhi pemeran musuh mereka, ketika di luar set. Di dalam set mereka berakhir dengan saling tabrak dialog dan tidak ada keselarasan dalam bermain. Mereka hanya ingin mengungkapkan kebencian mereka. Padahal kalau kita mengenal pemeran musuh, kita akan paham betul, apa yang akan mudah memancing amarahnya. Dan hal itu dapat digunakan untuk memaksimalkan akting kita.

FI: Bagaimana bekal yang didapatkan tersebut dapat membantu pemain pada saat berakting?

Wika: Ketika di dalam set, tidak ada lagi hal teknis seperti blocking dan dialog. Untuk saya, kondisinya harus benar-benar nol. Karena ketika kosong, persiapan yang sudah dilakukan akan mudah masuk, sehingga dapat saya proses menjadi akting yang maksimal. Pada salah satu adegan di Hati Merdeka tertulis di skenario: “Dayan mencoba menahan Amir”, sementara saya tidak dapat berbicara. Sebelumnya, saya bicara dengan Lukman, (Lukman Sardi, pemeran Amir) "Di sini gua ga bisa ngomong, gua cuma punya elo dan perasaan gua. Gua berharap elo mengerti setiap gerakan yang gua sampaikan ke elo." Lukman menjawab, "Ini milik kita, man. Kita harus berikan yang terbaik." Kita lalu pandang-pandangan dan berpelukan. Seperti itu saja kita bisa nangis lho. Selain itu director of photography pun sangat mengerti apa yang kita rasakan, setiap gesture yang kita gerakkan. Saya sangat berterimakasih sekali kepada Ucok Padri (Padri Nadeak). Dia juga paham dengan emosi para pemainnya. Mungkin karena dia adalah saksi yang melihat kejadian. Mata dia adalah kamera. Adegan yang baik bisa tercapai apabila dalam proses pemeranan memiliki ansamble pemain yang baik juga. Riset, pemahaman akan karakter kita dan juga karakter yang lain, serta kedekatan emosi sesama pemain jadi bekal yang penting untuk hal tersebut.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.