Bioskop Belum Memihak Film Nasional

  • 29 Tanggapan
  • Setuju: 24.14%
  • Tidak setuju: 75.86%
Status: Terbuka, Total: 29 Tanggapan
Periode pemberian tanggapan: Sunday, 27 December 2015 - Saturday, 30 April 2016

Pengantar:

Jumlah layar bioskop di Indonesia terus bertambah. Hingga penghujung 2015 jumlahnya sudah 1088 layar, meskipun persebarannya relatif belum meluas dibanding tahun lalu, yaitu baru menjangkau 48 kabupaten/kota di 23 provinsi. Akan tetapi bertambahnya pasokan layar tidak serta merta memperbesar pasar film Indonesia.

Total jumlah penonton hingga minggu ketiga Desember lalu baru mencapai sekitar 12,9 juta dari 114 judul film (masih ada tiga judul lagi yang akan beredar tahun ini), sehingga totalnya diprediksi akan relatif sama dengan tahun lalu dengan capaian sekitar 15,5 juta dari 111 judul film.

Apabila tahun 2104 terdapat dua film ditonton lebih dari satu juta penonton dan enam film lain di atas 500 ribu penonton, tahun ini baru dua film meraup penonton di atas 1 juta dan tiga film lainnya di atas 500 ribu. Namun lima film Indonesia penutup 2015 (Single, Bulan Terbelah di Langit Amerika, Negeri van Oranje, Sunshine Becomes You, dan Ngenest) berpotensi menghimpun penonton leboh dari 500 ribu bahkan 1 juta.

Dalam kondisi seperti ini praktis isu yang berkembang di kalangan industri pefilman nasional tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pertama, perihal pertambahan jumlah layar dan perluasan persebarannya. Kehadiran jaringan bioksop baru (Cinemaxx), rencana ekspansi dua jaringan lama (Cinema 21/XXI dan GVC Blitz, serta maraknya kemunculan bioskop-bioskop independen sepanjang 2015 dianggap belum memadai. Tiga asosiasi produser, yakni PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia), Aprofi (Asosiasi Produser Film Indonesia), dan APFI (Asosiasi Produser Film Indonesia), semakin keras mendesak pemerintah untuk mencabut bidang usaha distribusi film (ekspor, impor, dan pengedaran) dari daftar investasi negatif (DNI). Artinya, mereka sangat menginginkan investor asing diperbolehkan membuka jaringan bioskop di seluruh Indonesia.

Dalam hal ini nampaknya Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) sudah satu suara. Masalahnya tinggal pada besaran persentase kepemilikan. BKPM mengusulkan minimal 51 persen kepemilikan asing, seperti dikatakan Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik kepada Tempo, edisi 27 Desember 2015. Dikatakannya juga, batas maksimalnya 80 persen.

Kedua, soal pemihakan bioskop kepada film Indonesia. Boleh dibilang hampir dalam setiap pertemuan kalangan perfilman nasional isu tersebut selalu muncul dalam bentuk mulai dari keluhan, gunjingan, sampai tudingan.

A. Rahim Latif, pengedar dan importir film sejak lebih dari 40 tahun lalu, sampai membuka artikelnya di Harian Kompas, Minggu, 2 Agustus 2015, dengan mengutip pernyataan aktor senior Slamet Rahadjo kepada Presiden Joko Widodo, Mas Jokowi, iki tenan loh, Pak. Film Indonesia ora duwe bioskop.

Cahterine Keng, Corporate Scretary Cinema 21, secara khusus menanggapi artikel yang ditulis A. Rahim Latif dengan menjelaskan bahwa selama ini pihaknya selalu terbuka terhadap produser film nasional. Ia menyatakan, “Posisi Cinema 21 tegas memihak kepada masyarakat penonton karena kami ada untuk melayani penonton.”

Dua minggu berselang Garin Nugroho menulis di surat kabar yang sama untuk menegaskan kritiknya kepada jaringan bioskop yang ada agar berhenti menganakemaskan Hollywood dan menganaktirikan film nasional. Menurutnya, karakter bangsa yang menjadi jargon pemerintahan Joko Widodo tidak mungkin tumbuh di tengah peradaban pasar bebas seperti yang berlangsung dewasa ini. (Perdebatan ini bisa dibaca selengkapnya di artikel-artikel acuan)

DI luar perdebatan itu, Undang-undang (UU) Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman sebetulnya sudah mengatur bahwa “Pelaku usaha pertunjukan film sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) wajib mempertunjukkan film Indonesia sekurang-kurangnya 60% (enam puluh persen) dari seluruh jam pertunjukan film yang dimilikinya selama 6 (enam) bulan berturut-turut.” (Pasal 32). Tapi ketentuan itu tampaknya juga tidak mendapat dukungan bulat dari seluruh kalangan perfilman nasional. Lagi pula, karena pemerintah tidak kunjung menerbitkan peraturan perlaksanaannya, pasal tersebut sampai hari ini masih seperti “macan kertas”.

Acuan:

Tanggapan29

user avatar

ichtusdesign Tidak setuju
Saturday, 26 December 2015

saya tentu tidak terlalu setuju, kalau judgement bahwa “Bioskop Belum Memihak Film Nasional” diproklamirkan secara tegas. yang saya setujui adalah “bioskop belum memihak film nasional pendatang baru” atau “bioskop belum memihak film nasional yang dijustifikasi berpotensi tidak laku”. berangkat dari dengar2an komentar, curhatan, pendapat dan kritikan baik dari para film maker indie, sangat terasa bahwa proses sebuah film dari sebuah ph baru tidak mudah mendapatkan porsi yang memadai, sedangkan film dari berbagai ph2 ternama dengan mudah mendapatkan tanggal tayang (walaupun kepastian tanggal tayang pun belum bisa menjadi sebuah pegangan/jaminan film tersebut akan laku). yg mana biasanya ph baru (terutama indie) mempertaruhkan dan mengorbankan banyak hal untuk sebuah harapan tayang di bioskop sehingga potensi keuntungan secara materi dapat memberikannya kesempatan untuk memproduksi lagi.

disisi lain, saya pun harus akui bahwa pihak bioskop pun sering menurunkan film asing secara cepat ketika tidak laku secara komersil. sehingga bagi saya, bioskop adalah murni sebuah institusi komersil yang tidak perlu dikambinghitamkan soal keberpihakan. menurut saya, yang perlu dipikirkan oleh para film maker, adalah bagaimana membuat film yang laku. sesederhana itu.

sayangnya, konsep yg sederhana tadi itu malah disalahartikan sebagai pemikiran untuk memproduksi konten yang sekedarnya, sehingga baik sisi sinematografi maupun tutur cerita kemudian diabaikan dan tidak lagi dipercayai sebagai unsur yang harus terus disempurnakan. ditambah lagi dengan kampretnya eksperimen dari berbagai ph yang hanya menyuguhkan tayangan horor porno dan kemudian mendulang profit. dinamika seperti itulah yang kemudian memecah landscape dari pasar film masyarakat Indonesia berdasarkan selera tayangan.

saya juga mau mengajak kita semua untuk belajar dari China, Jepang, Korea, Thailand dan India. sudah terbukti bahwa tanpa perlu ada unsur keberpihakan dari pihak exhibitor, film lokal bisa menang di negaranya sendiri. dengan catatan penting : kualitas tayangan yang relevan dengan masyarakatnya sendiri.

bagi saya pribadi, tidak perlu ada keberpihakan apapun dari pihak bioskop soal film, karena akan memanjakan para film maker lokal kita sehingga ‘malas’ berpikir lebih keras, belajar lebih dalam untuk bisa memiliki kekuatan yang sama dengan negara2 lain. kita sudah terlena dengan berbagai subsidi sehingga ketika ekonomi terbuka dilakukan, kita tidak siap dan hanya bisa mengeluh dan meminta pemerintah bertindak melindungi kita. itu sudah sangat salah. apakah kita rela membiarkan kekeliruan seperti itu berdampak jangka panjang sehingga kita hanya ‘jago kandang’?

ada sebuah perumpaan tentang bola pingpong, bahwa untuk mendapatkan lonjakan yang lebih tinggi, bola tersebut harus dihempas ke bawah lebih keras.

akhir kata, saya bukannya tidak mencintai film lokal. account ini saya buat dengan nama fiktif, karena saya adalah seorang indie film maker yang sedang struggling untuk mendapatkan tempat di industri film nasional dan selalu berdoa dan berharap agar kesempatan tayang bagi film saya yang berbudget rendah lebih terbuka dari pihak bioskop. siapalah saya untuk menyampaikan statement yang berlebihan. tapi apakah kemudian waktu yang saya miliki saya gunakan untuk berpikir bagaimana cara bioskop mengasihani dan berpihak pada film saya? saya memilih lain. saya memilih untuk terus belajar lebih baik lagi membuat konten yang bisa laku di pasaran. sesederhana itu. maju jayalah film Indonesia, karena saya percaya, kita bisa.

user avatar

Yenihendrawati Tidak setuju
Saturday, 26 December 2015

Hal ini tidak bisa semata-mata “menyalahkan bioskop” yang notabene hanya sebagai tempat menayangkan film. Bioskop dapat “hidup” dari penghasilan yang dibayarkan oleh penonton. Penonton yang “memilih dan menentukan” film apa yang akan ditonton.

Tidak semua film Indonesia itu sepi penonton. Hanya saja, film Indonesia yang dibilang “bagus” selama ini lebih sering bermunculan di musim liburan saja, momen lebaran dan akhir tahun. Pada bulan lainnya, film Indonesia yang muncul kebanyakan film yang kurang promosi dan tidak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Setelah ditayangkan ternyata sepi penonton. Hal ini apakah harus menyalahkan bioskopnya?

Di sisi lain, Jika bioskop dicabut dari Daftar Negative Investasi dan muncul bioskop asing sudah tentu akan banyak film asing yang masuk (dari negara asalnya) dan menambah parah kondisi perfilman Indonesia.

user avatar

hamzwakeup Tidak setuju
Saturday, 09 January 2016

ya kita gak bisa menutup mata.balik lagi bioskop juga cari keuntungan.sineas,producer dan smua yg terlibat jg harus introspeksi dri.bioskop dituntut untuk support film Indonesia,tp sudahkah karya kita 60% atau lebih itu berkualitas dan layak tonton?klo memang bagus,penonton bakal dtg sendiri kok.dan scra otomatis jumlah layar akn bertambah.bnyak kq film luar yg tayang hanya di sebagian kecil studio yg ada.dan bnyak jg film lokal yg smp harus nambah studio karena banyak peminat.janganlah penonton dipaksa untuk menonton film lokal klo gak jauh2 dari horror komedi fast food alias paha pantat dada.selama orientasi film kita masih budget kecil untung besar,ya jangan harap dapat film berkualitas

user avatar

Hornady Tidak setuju
Friday, 29 January 2016

Hrsnya Jokowi instruksikan tiap kabupaten hrs punya / bangun bioskop.

Masalah industri film Indo cuma krn kurang outlet. Bandingkan india yg punya 3000 bioskop, Indo cuma punya ~200 bioskop.

Pemda kabupaten hrs bikin bioskop, dana sendiri atau bisa gandeng pengusaha lokal. Daripada dana desa 1M tdk terarah, mending Bupati anggarkan 10M bikin bioskop + pusat hiburan rakyat. Hiburan rakyat kabupaten jangan cuma pasar malam. Mau gerakkan ekonomi kabupaten? Bangun pusat hiburan rakyat yg modern.

Purwakarta & Garut saja blm punya bioskop. Puluhan ribu rakyat per kabupaten mau nonton bioskop setiap weekend, tapi bioskopnya tidak ada?!?! Terpaksa spend money ke kota besar terdekat hanya utk hiburan weekend!! Uang kabupaten mengalir k kota besar.

Bila setiap kabupaten punya bioskop, industri film nasional aman, pernyataan “keberpihakan” di atas tidak akan relevan lagi. Dirjen perfilman bikin badan distribusi film nasional utk distribusi ke seluruh kabupaten di RI. Produsen film nasional bisa berkembang, industri film makin ramai n maju.

user avatar

Nikkolassaputra Tidak setuju
Monday, 08 February 2016

Sebenarnya jika melihat pertanyaan diatas jawabannya adalah tidak. Saya melihat Bioskop Nasional saat ini sudah memberikan ruang yang cukup kepada film-film nasional untuk tayang dan mendapatkan perhatian publik. Kini yang menjadi masalah adalah mau tidaknya penonton menonton film nasional. Secara sadar sebenarnya penonton menaruh perhatian yang cukup terhadap film-film nasional yang sedang tayang namun timbul keengganan mereka untuk menonton dikarenakan mereka merasa harga tiket yang cukup mahal dan dianggap tidak sepadan bila dibandingkan film-film luar negeri yang mempunyai gimmick yang jauh lebih baik dibandingkan film nasional. Namun hal ini juga menjadi sesuatu hal yang dilematis, disatu sisi hal itu menjadi bentuk apresiasi pada semua pihak akan produsen film itu sendiri. Saya sempat mewawancarai beberapa penonton di bioskop saat penayangan film Kapan Kawin demi keperluan blog saya, dan respon mereka terhadap film nasional adalah negatif, mereka merasa harga yang ditawarkan oleh pihak perusahaan bioskop terlalu mahal. Saya melihat banyak penonton film nasional yang rajin menonton film nasional di bioskop Cinemaxx. Cinemaxx menawarkan harga lebih ringan beberapa ribu rupiah untuk film nasional dibandingkan film hollywood, dan ini dimanfaatkan benar bagi para penonton. Sementara itu 21 yang dianggap lebih banyak menghadirkan film nasional bagi para penonton dengan harga yang sedikit berbeda kini mulai di ganti dengan XXI yang segmennya menyasar kalangan menengah keatas. lalu bagaimana dengan yang lain.

kembali kepada pertanyaan di atas, jika faktor pencapaian menjadi latar belakang pertanyaan tersebut, alasan-alasan diatas bisa jadi faktornya. Saya menilai perusahaan bioskop juga bisa mempertimbangkan perbedaan harga untuk film nasional yang sedang beredar, agar timbul pula kecintaan dari para penonton untuk mencintai film nasional tanpa takut harus terbebani masalah seperti itu. perlu diingat juga bahwa bioskop juga harus memperbaiki proses pemasaran film nasional juga dengan menghadirkan gimmick-gimmick yang menarik dengan bekerjasama dengan pihak produsen atau distributor film nasional sehingga makin menarik minat para penonton, contoh misalnya pihak 21cineplex mungkin meluncurkan bioskop keliling demi menjangkau daerah-daerah lain yang tidak mempunyai bioskop di kota mereka sehingga tidak ada lagi anggapan film nasional tidak mendapatkan tempat tayang. Jadi bagi saya pribadi bioskop sudah cukup adil dalam menayangkan film-film nasional namun sepertinya dibutuhkan sedikit perubahan-perubahan kearah yang lebih baik lagi.

user avatar

Adi_ARIES14 Setuju
Saturday, 05 March 2016

user avatar

fanfilmindonesia Tidak setuju
Tuesday, 15 March 2016

kalau menurut saya… komentar disini aja banyak yang ‘cara downloadnya gimana???’

bioskop kan bagian dari bisnis ya… harusnya kita penontonya yang mau nonton film indonesia di bioskop jadi bioskop ‘harus’ menayangkan film indonesia.

user avatar

Fajriyansa Setuju
Wednesday, 23 March 2016

user avatar

anta Setuju
Wednesday, 06 April 2016

seharusnya film indonesia harus dianak emaskan namun film indonesia harus lebih gigih dan memeperbaiki kualiatas filmnya

user avatar

Pejeswe Tidak setuju
Wednesday, 04 May 2016

Buktinya 4 bulan terakhir ini sudah membukukan 3 film (aadc, comic, lls) masing-masing peroleh 1 juta penonton. Kalau dihitung januari, film ngenest dan single yang meramaikan, sehingga setiap bulannya saya kita film indonesia ramai hingga 4 bulant terakhir ini.
Lalu masalahnya bukan terletak pada bioskop, tapi pada bagaimana film itu bisa menarik perhatian banyak penonton ketimbang film-film hollywood. RUmah produksi film kita harus ekstra kerja keras gimana caranya membuat produksi dan promosi film yang bagus. Tentu didukung dengan segala lapisan yang berhubungan dengan film. kalau ada penambahan bioskop itu lebih bagus, karena banyak juga orang-orang yang daerahnya gak ada bioskop, tapi rela jauh-jauh ke daerah lain cuman nonton film julia perez.

user avatar

mmegalaksana Setuju
Friday, 13 May 2016

user avatar

torikin Setuju
Wednesday, 08 June 2016

Di bulan Mei ada banyak film indo yg bagus
Bertemakan pendidikan
Tp aku liat di salah satu bioskop di Jakpus dia cuma muter film aadc2 n my stupid boss

user avatar

hanzotofaro Tidak setuju
Friday, 10 June 2016

user avatar

Almersop Setuju
Sunday, 03 July 2016

Hanya karena film Indonesia sepi penonton, Bioskop seenaknya menghilangkan film itu

contoh:
Film Dubmash, Tayang 9 Juni 2016, seminggu kemudian karena yang menonton film itu sepi, film itu hilang

Conjuring 2, tayang 10 Juni 2016, sampai sekarang (3 Juli 2016), karena masih rame, masih tayang di bioskop

user avatar

Fathur Tidak setuju
Wednesday, 03 August 2016

Saya kurang setuju, menurut saya bioskop hanya sebagai media penghubung anatara film dan penonton, yang menentukan film itu laris atau tidak di bioskop adalah Kualiatasnya dan Penontonnya. tentu pihak bioskop tidak akan membuka sampai 2-3 Studio untuk1 judul film indonesia yang penontonnya sedikit. film-film yang berkualitas mampu bersaing dengan film impor di jumalh layar bioskop.

user avatar

adijayakk Tidak setuju
Sunday, 07 August 2016

Tidak setuju. menurut saya pihak bioskop sudah memberi ruang untuk film nasional. Contohnya 2 bulan terakhir bnyak film luar yg diundur tgl rilisnya diindonesia karna film nasional yg masih bertahan tayang.

user avatar

LuQman Tidak setuju
Tuesday, 20 September 2016

Bioskop kan cm media pemutaran utk suatu karya produksi film,,semua kembali kepada para penonton itu sendiri..mau menonton film nasional atau film produksi luar negeri

user avatar

dianapputri Tidak setuju
Monday, 26 September 2016

yang terpenting kwalitas film indonya dulu. buktinya saat warkop DKI reboon. hampir semua galaxi memutar warkop dki reboon

user avatar

vvizzarrd Tidak setuju
Saturday, 01 October 2016

user avatar

fathurrahmanid Tidak setuju
Thursday, 10 November 2016

walaupun bioskop sudah memberikan ruang kepada film nasional, kembali lagi kepada selera dan ketertarikan penonton diindonesia ya kalau dalam jangka waktu yg ditentukan tidak tercapai target jumlah tiket terjual / penonton cepat lambat diturunkan karena bioskop kembali pada dasarnya yaitu sebagai bioskop komersil, mungkin film indonesia harus lebih berjuang bagaimana cara agar menarik banyak penonton baik dari segi promosi ataupun hah lainnya

user avatar

Nautian Tidak setuju
Thursday, 05 January 2017

Melihat pernyataan diatas sih sebenernya saya tidak setuju. ini tergantung bagaimana film itu sendiri membuat bagaimana penonton menyukainya, baik secara kualitas ataupun promosi yang baik.

karena sekarang penontonpun bisa memilih mana film yang menurut mereka baik, dan mereka bisa merasa terhibur dengan itu.

Dan promosi disini sangat berpengaruh sekali baik dengan trailer yang bisa membuat penonton penasaran ataupun promosi-promosi lain.

jadi, semoga banyak film-film Indonesia yang makin bagus lagi.

user avatar

rif03 Tidak setuju
Friday, 13 January 2017

user avatar

jakaaria Tidak setuju
Saturday, 11 March 2017

Para produser juga harus sadar bagaimana kualitas film Indonesia kebanyakan, coba liat film Jagoan Instan Kemal Palevi, film seperti itu bisa tayang di bioskop saja seharusnya sudah syukur. Masih ingat tahun 2010-2011 saat Film Hollywood dibatasi, sampai yang mau nonton Harry Potter harus ke Malaysia. Gagasan di atas jelas tidak berpihak pada bioskop dan masyarakat itu sendiri, tapi cuma memihak produser lokal. Bioskop sendiri adalah bisnis, jika penonton tidak mau menonton film Indonesia, apa guna nya pihak bioskop memaksakan menayangkan film Indonesia. Masih ingat Film AADC2? VS Captain America Civil War yang tayang di bulan yang sama, ternyata film Indonesia kalo memang bagus, atau minimal bisa disukai penonton, maka akan bisa bersaing dengan film Box Office tingkat dunia. Ingat, gagasan diatas cuma berpihak pada produser lokal, tidak pada masyarkat dan industri bioskop.

user avatar

zuhrizhu Tidak setuju
Sunday, 09 April 2017

user avatar

dwianto Tidak setuju
Sunday, 23 April 2017

user avatar

aldianwijaya Tidak setuju
Sunday, 11 June 2017

Dari Aspirasi teman2 saya yg dikampung.  Sebenarnya yg menjadi masalah besarnya adalah belum adanya Bioskop2 di pelosok daerah. “Bagaimana kami mau menonton ke bioskop, bioskop disini ajah belum ada” ujar teman saya. Belum meratanya Bioskop-bioskop di Indonesia bukti kalo bioskop belum memihak. Contohnya seperti daerah-daerah yang belum padat penduduknya, misal : kalimantan, sulawesi, papua, mereka sebenarnya menginginkan dibukanya bioskop. Karena belum ada bioskop, mereka rela untuk menunggu kaset dari sebuah film yg justru berbulan-bulan lamanya. Sampai-sampai kasus yang paling fenomenal di masyarakat yang ketagihan gara2 menonton film bajakan dari sebuah website film bajakan.  Kenapa itu terjadi?  Ya,  mereka tidak mau ketinggalan nonton film terbaru.

Beda lagi kalau untuk film Indonesia. Kebanyakan menurut survei saya, Saya menanyakan kepada teman-teman saya film2 Indonesia tidak lah banyak diminati karena berbagai alasan,  ada yang bilang pemerannya yang alay, gambar visualnya yang jelek, dan ada juga yang bjlang kalo film indonesia itu tidak berbobot.

Lebih baik nonton film barat garapan hollywood atau film India yang bikin penontonnya memukau.

Saya ambil kesimpulan :
-Film indonesia masih sangat jauh dibawah standar film2 dunia (Film hollywood) Namun tidak menutup kemungkinan film Indonesia akan terus berkembang dan berkarya.

-Belum meratanya bioskop d indonesia membuat film2 indonwsia sulit untuk di tonton.

-Untuk pemerintah kita mohon utk perhatikan dunia perfilman Indonesia Jangan sampai banyak masyarakat yang terus mengeluhkan terutama di daetah pelosok negeri mereka juga mau nonton film bioskop masa anaka kota saja yang nonton?

-Indonesia itu keren apalagi keindahan alamnya,  banyak yang bisa dibuat dalam film, tinggal budget dan skill film maker yang masih belum ada.

user avatar

RickyTaw Tidak setuju
Friday, 30 June 2017

Kalau menurut saya pribadi itu balik lagi ke pihak pembuat film, Dan jangan menyudutkan pihak XXI juga. Kalau mereka (film maker) bisa buat yang bagus Dan ceritanya jelas, otomatis gak perlu disuruh pun promosi mouth​ to mouth akan automatically ko. Dan sekarang tahun 2017 udah banyak film Indonesia yang tembus 1jt bahkan 6jt penonton. Karena apa? Karena Kita yang buat duit tertarik Dan berfaedah kalau di tonton. Contohnya film Hantu Danur? Tau Tau tembus 2,7jt Kan? Lah ko bisa? Ya bisa karena jalan ceritanya bagus + gak ada begituannya jadi jelas!!! Hatur nuhun lah.

user avatar

Rendy Ramadhan Tidak setuju
Tuesday, 04 July 2017

user avatar

Adi Bayu Pamungkas Setuju
Monday, 24 July 2017