Dominasi distribusi film menghambat pertumbuhan bioskop di Indonesia

  • 6 Tanggapan
  • Setuju: 100%
  • Tidak setuju: 0%
Status: Tertutup, Total: 6 Tanggapan
Pemberian tanggapan untuk topik ini sudah ditutup pada Senin, 29 Agustus 2011

Pengantar:

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik bercita-cita Indonesia punya seribu layar bioskop pada tahun 2014. Ia berjanji memudahkan pengusaha mendapat pinjaman bank untuk membangun bioskop dan membuat perangkat aturan baru.

Barangkali akan ada para pengusaha baru yang berani masuk ke wilayah usaha ini karena dimudahkan mencari bantuan investasi dan dibuatkan aturan-aturan yang menunjang. Tapi sepertinya solusi tawaran Pak Menteri akan salah sasaran. Para pengusaha mungkin saja mau membuat bioskop, tapi mereka yang teliti akan segera bertanya: bagaimana bikin asap dapur mengepul kalau jalur mendapatkan film yang bisa diputar sangat terbatas?

Selama 20 tahun terakhir hanya kelompok usaha bioskop 21 Cineplex yang bisa melebarkan sayapnya. Bioskop-bioskop lain mati silih berganti. Tentu ada kelompok baru yang bertunas seperti MPX Grande dan Blitz Megaplex. Tapi pertumbuhan mereka terhambat seperti anak kekurangan gizi.

Saat ini kelompok bioskop 21 Cineplex juga adalah pelaku dominan distribusi film di Indonesia, terutama film impor. Faktanya, pengusaha bioskop di Indonesia harus menjaga keseimbangan komposisi film lokal dan impor yang diputar untuk mendapat penghasilan yang layak. Para produser film lokal pun hanya sedikit yang memutarkan filmnya di luar jaringan bioskop 21 Cineplex karena pertimbangan bioskop lain terlalu sempit jangkauannya.

Kalau dominasi distribusi film di Indonesia tidak dibenahi, apakah laju kejatuhan bioskop di luar kelompok dominan bisa dihentikan? Dengan masa depan yang begitu suram, apakah ada pengusaha yang mau mengadu untung membuat bioskop? Apakah aturan-aturan baru tentang investasi bioskop dan kemudahan mendapat pinjaman bank saja akan cukup untuk menciptakan pertumbuhan usaha bioskop yang sehat di Indonesia?

Bagaimana pendapat Anda?

Acuan:

Tanggapan6

user avatar

arielh Setuju
Minggu, 31 Juli 2011

user avatar

johntir Setuju
Kamis, 04 Agustus 2011

21 Cineplex telah melakukan Monopoli untuk distribusi film asing. Masih segar di ingatan kita ketika 21 cineplex membunuh bioskop menengah pada era sebelum reformasi ... banyak bioskop gulung tikar, dan akhirnya 21 cineplex jadi penguasa tunggal.

Jangan pernah lupakan tunggakan hutang 300 milyar !!! itu uang RAKYAT !!!!

user avatar

Dabigi Setuju
Jumat, 26 Agustus 2011

50 % setuju—- 50% tdk setuju
    Tentang dominasi distribusi film menghambat pertumbuhan bioskop di Indonesia, saya 50 % setuju, 50 % tdk setuju, Dominasi distribusi film sebut saja 21 cineplax dikatakan wajar karena 21 memberikan kenyamanan ke pada Penonoton, bukannya membandingkan 21 cineplax dgn bioskop lokal tetapi memang seperti itu yg terlihat dan dirasakan masyarakat, hal buruknya adl 21 cineplax dapat menghancurkan bioskop lokal, selain kenyamanan yg diberikan & jg film yg ditawarkan, hal baiknya adl 21 dpt dijadikan sbgai contoh u/ memperbaiki yg merupakan kekurangan dr bioskop lokal agar dpt bersaing, jikalau hal yg ditawarkan bioskop lokal masih seperti yg dulu jgn harap penonton akan datang, saya tekankan penonton skg tidak mempermasalahkan biaya, asal nyaman dan memuaskan penonton berani bayar, harga tiket yg di naikan sedikit saya rasa wajar demi melancarkan perputaran roda film kehidupan bioskop lokal, dari pada menunggu uluran bantuan dari pemerintah yg entah kapan dilakukan, bioskop lokal ingin bersaing bioskop lokal yg harus berusah, memang berbicara mudah tetapi ini curahan saya demi kemajuan bioskop lokal yg saya rindukan.

user avatar

maya Setuju
Selasa, 30 Agustus 2011

user avatar

DedenSuherman Setuju
Rabu, 21 September 2011

Jelas jelas 21 cineplex melakukan monopoli, namun di website nya dia membantah dengan me-line up berita tentang isu tsb. Tak aneh…

user avatar

asolaiman Setuju
Kamis, 06 Oktober 2011

Sudah saatnya pemerintah turun tangan. Analoginya yang terjadi sekarang adalah seperti ini.. Anda memiliki sebidang tanah, tetapi aliran irigasi air dan supply benih anda di kuasai oleh petani saingan anda dan anda harus beli air dan benih dari dia. Lebih baik anda jual saja tanah anda ke petani saingan anda tersebut dan mulai macul di tanah dia; karena sudah pasti harga panen dia yang kontrol.

Yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah pemisahan bisnis produksi film, bisnis distribusi dan bisnis bioskop sehingga praktik monopoly seperti yang sekarang terjadi mulai menghilang. Ketika aliran supply film lancar, otomatis bioskop bioskop lokal akan bertumbuh.

@dabigi, masalahnya sebenarnya terbalik, bukan karena 21 memberikan kenyamanan terbaik oleh karena itu penonton berbondong bondong menonton di 21. Akan tetapi karena 21 memiliki ‘hak’ dan ‘jaminan’ atas supply film import dia berani berinvestasi di gedung bioskop yang lebih layak. sedangkan bioskop diluar jaringan 21, harus membeli film dari perusahaan importir film milik grup 21. Bagaimana bisa disebut persaingan sehat?

Topik ini telah tertutup untuk pemberian tanggapan.