Dunia film Indonesia tak kenal lagi bintang

  • 6 Tanggapan
  • Setuju: 83.33%
  • Tidak setuju: 16.67%
Status: Tertutup, Total: 6 Tanggapan
Pemberian tanggapan untuk topik ini sudah ditutup pada Sunday, 24 June 2012

Pengantar:

Apakah itu bintang film? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan cara beragam. Buktinya bisa dilihat dari kemunculan nama-nama bintang sepanjang sejarah sinema Indonesia.

Dekade 1970an silam ada the big five, yang terdiri dari Roy Marten, Doris Callebaute, Yati Octavia, Yenny Rachman, dan Robby Sugara. Disebut demikian karena kelimanya menentukan honor terbesar saat itu: lima juta rupiah per film. Film-film yang mereka bintangi tak selalu film-film yang dicap berkualitas baik oleh para pengamat film, namun keberadaan mereka tak bisa disangkal memiliki nilai jual yang besar. Mereka punya kualitas glamor tersendiri dan basis penggemar yang cukup besar, ditambah dengan pemberitaan kehidupan pribadi mereka oleh media, yang menjadikan nama mereka menjadi semacam jaminan laris. Tak peduli bagaimana kualitasnya, film-film mereka pastilah ditonton orang. Nilai jual inilah yang menjadikan karier kelimanya terhitung panjang. Nama mereka terus beredar di perfilman Indonesia hingga tahun 1990an. Roy Marten dan Yenny Rachman bahkan masih main film di era 2000an.

Daya tarik serupa dapat kita temukan juga dari nama-nama macam Benyamin Sueb, Warkop DKI, dan Suzanna. Nama mereka boleh jadi kurang pas disandingkan dengan kata “glamor”, namun konsistensi karier mereka menjadikan nama mereka begitu erat dengan genre film tertentu. Benyamin Sueb dan Warkop DKI dengan film-film komedi, sementara Suzanna horor. Mereka populer berdasarkan asosiasi. Publik biasa melihat nama mereka dalam genre-genre film tertentu, sehingga lahir basis penggemar tersendiri bagi nama-nama tersebut. Hal ini terbukti punya dampak positif bagi kelarisan film. Film-film Warkop DKI, misalnya, hampir pasti menempati lima film terlaris di Jakarta sepanjang tahun 1980an. Sampai sekarang nama mereka masih menjadi wajah bagi komedi dan horor Indonesia, terlebih lagi Suzanna sempat main film di era 2000an sementara Warkop DKI beredar di acara televisi.

Daya tarik yang berbeda muncul dari nama-nama semacam Alex Komang, Slamet Rahardjo dan Christine Hakim. Popularitas ketiganya lebih dekat dengan aspirasi artisik yang mereka pancarkan. Buktinya, dibanding nama-nama yang sudah disebutkan sebelumnya, karier mereka lebih sering dikenang berdasarkan penghargaan-penghargaan yang mereka raih, ketimbang glamor selebritis maupun asosiasi terhadap genre tertentu. Karier ketiganya pun terhitung panjang, masih bermain film di tahun 2000an, dan melewati tiga fase: teater, film, dan televisi.

Terjelaskan ada pola yang beragam dalam pembentukan bintang film. Apabila kita rangkum, ada dua benang merah yang dapat kita tarik. Pertama, mereka punya basis penggemarnya sendiri. Semua nama di atas mampu menarik perhatian mata publik dan bertahan lama di ingatan kolektif masyarakat. Kedua, karier mereka panjang. Karier mereka bisa tetap berlanjut walau terjadi perubahan dalam tubuh industri sendiri, mulai dari perubahan selera penonton dari tahun ke tahun, naiknya industri televisi di dekade 90an, dan kolapsnya industri perfilman nasional di periode yang sama. Sederhananya, selalu ada demand untuk mereka.

Menjadi menarik melihat perfilman Indonesia sekarang pasca kolaps tahun 90an. Industri sudah terhitung stabil, setidaknya dari segi produksi kita sudah bisa mematok ada 70 sampai 80an film lokal per tahun. Kekuatan media juga jauh lebih besar dibanding di dekade-dekade sebelumnya. Dalam hitungan detik internet mampu memperbaharui informasi publik. Perhitungkan juga luas jaringan televisi dan kerutinannya mempublikasikan informasi dari yang paling esensial hingga yang paling trivial ke khalayak luas. Infrastrukturnya sudah tersedia bagi industri perfilman nasional untuk melahirkan generasi baru bintang film. Anehnya, generasi penerus itu tak kunjung datang.

Pasca Ada Apa Dengan Cinta? tahun 2001, publik Indonesia mendapati dua calon bintang dalam diri Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Sayangnya, setelah itu nama keduanya tenggelam dan hanya sesekali menarik perhatian publik: Dian dalam Ungu Violet, sementara Nicholas dalam Gie dan Janji Joni. Ketiganya populer di kalangan tertentu saja. Ada juga Shandy Aulia yang naik daun pasca kesuksesan Eiffel I’m in Love. Setelah itu, ia hanya bermain lagi dalam satu film, Apa Artinya Cinta, sebelum akhirnya lebih populer menjadi bintang sinetron dan film televisi. Tora Sudiro pasca Arisan! (2003) juga tidak lebih baik. Ia bermain dalam sejumlah film komedi, namun belum bisa dibilang kalau dirinya adalah ikon komedi Indonesia, mengingat film-film yang ia bintangi dalamnya tak begitu sukses di pasaran. Dari film horor, ada nama Julia Perez yang baru-baru ini digadang sebagai penerus Suzanna. Namun, menilik filmografinya, baru Arwah Goyang Karawang yang terhitung baik penjualannya, yang itu juga lebih disebabkan oleh kontroversi pertengkaran Julia Perez dengan Dewi Perssik.

Dalam skala kecil, kita mendapati pembuat film lebih populer ketimbang pemain filmnya sendiri. Nama-nama seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Nia Dinata, Hanung Bramantyo, dan Joko Anwar bisa dibilang lebih lekang zaman (dalam konteks naik turun industri sepanjang tahun 2000an) dan lebih memungkinkan mendatangkan penonton ketimbang nama pemain filmnya sendiri. Dalam skala besar, kita mendapati industri film Indonesia sekarang seperti tak punya wajah publik. Di industri musik, kita bisa dengan mudah memetakan pergantian trend dari tahun ke tahun, mulai dari pop picisan, pop melayu, hingga imitasi pop Korea seperti yang terjadi sekarang. Masing-masing punya masa edar, ikon, dan basis penggemarnya tersendiri. Begitu juga dengan industri televisi. Masing-masing stasiun televisi punya beberapa nama, yang kemudian dipopulerkan lewat serangkaian sinetron dan acara televisi. Ada nama-nama yang publik bisa asosiasikan dengan televisi.

Beda halnya dengan industri film. Perfilman Indonesia sekarang seperti tidak lagi mengenal konsep “bintang film”, figur-figur di layar yang publik gandrungi dan cukup menjadi alasan bagi mereka untuk memenuhi gedung bioskop. Bagaimana pendapat Anda? Apakah ada figur yang kita bisa sebut sebagai “bintang film” di industri perfilman sekarang?

Tanggapan6

user avatar

RaisDjamal Setuju
Wednesday, 25 April 2012

Kalau istilah “bintang film” di sini didasarkan penjelasan di atas, saya setuju.

Selain karena beberapa faktor yang sudah dijelaskan di atas, faktor lain yang mungkin mendukung tajuk diskusi ini adalah karena pamor “bintang serial tv (alias sinetron)” saat ini lebih bisa menjangkau masyarakat luas—dan kebetulan sangat digemari masyarakat rural—sehingga pamor “bintang film” tidak lagi seikonis dulu.

Walaupun keadaan umumnya tampak begitu, menurut saya dunia film Indonesia masih kenal dengan “bintang beken”—dalam pengertian sosok bintang yang lebih terkenal masih memiliki andil besar untuk membuat penonton lebih memilih film yang dibintanginya ketimbang menonton film yang dibintangi “bintang kurang beken” ;)

Digjaya Film Indonesia!

user avatar

syahru92 Setuju
Thursday, 26 April 2012

user avatar

fufu Setuju
Tuesday, 01 May 2012

Benar, saat ini saya lebih suka melihat film berdasarkan film maker ketimbang melihat bintang, jauh berbeda kalau saya melihat film Hollywood, kadang bintang menjadi lasan saya menontonnya.

user avatar

AdDinaMuflikh Setuju
Sunday, 13 May 2012

user avatar

KrisFirdaus Setuju
Saturday, 30 June 2012

user avatar

adid_moo Tidak setuju
Thursday, 23 August 2012

Topik ini telah tertutup untuk pemberian tanggapan.