Masa bodoh soal pajak dan monopoli, yang penting nonton film impor.

  • 16 Tanggapan
  • Setuju: 75%
  • Tidak setuju: 25%
Status: Tertutup, Total: 16 Tanggapan
Pemberian tanggapan untuk topik ini sudah ditutup pada Thursday, 09 June 2011

Pengantar:

Sejak Maret 2011 lalu pelan-pelan film produksi studio besar anggota MPA (Motion Picture Association) menghilang dari bioskop kita. Penonton kecewa karena kehilangan kesempatan menikmati film-film Amerika kegemaran mereka.

Sampai awal Mei 2011, aturan tentang pajak film impor masih diperdebatkan dan persoalan hutang pajak tiga importir film terbesar yang selama ini memegang hak eksklusif pasokan film impor MPA masih dalam proses di Pengadilan Pajak. MPA menghentikan pasokannya sampai ada titik terang dalam persoalan ini.

Di satu sisi, negara merugi akibat hutang pajak berjumlah total 30 milyar rupiah, ditambah denda maksimal 1.000 persen. Di sisi yang lain, penonton kehilangan kesempatan menikmati film-film populer yang menjadi topik pembicaraan hangat pecinta film seluruh dunia. Penonton Indonesia, pelan-pelan merasa tergiring jadi katak dalam tempurung.

Ada satu sisi lagi. Bisnis bioskop selama ini hidup dari pendapatan film lokal dan impor yang saling menunjang. Kehilangan pasokan film-film impor populer, tentu menyurutkan aliran pendapatan bioskop. Sementara ini bioskop coba menyambung hidup dengan memutar film-film Amerika non-MPA, film Hong Kong, India dan Thailand. Walhasil, bukan cuma bioskop yang mulai payah, tapi juga bisnis-bisnis penunjang seperti mall dan restoran.

Apakah kita akan tutup mata terhadap praktik monopoli dan menghindari bayar pajak demi nonton film-film MPA?

Bagaimana pendapat Anda?

Acuan:

Tanggapan16

user avatar

private_nick Setuju
Friday, 13 May 2011

saya pribadi sebagai org awam penikmat film hollywood di bioskop tanah air cm bisa berpikir simpel, saya hanya butuh hiburan dgn menonton film2 hollywood dibioskop, that’s it!!
Mengenai mslh pajak royalti, dll, terus terang tdk menjadi kepedulian buat saya.  Mungkin kelihatannya spt egois, tapi memang mslh pajak royalti dll, bkn bagian saya sebagai konsumen bioskop tanah air. Bagian saya adalah jika saya ingin menonton film di bioskop, maka saya harus membayar tiket masuknya. 
Analogi nya mungkin spt ini, jika saya mau mkn enak di restoran, maka saya tinggal dtg ke resto tsb dan memesan menu yg diinginkan. Tapi mengenai cara memasaknya, dimana resto tsb membeli bahan2 makanannya, siapa koki nya, saya tidak perlu dan tidak mau tahu jg utk hal2 tsb. Yang saya tahu hanya, saya memesan makanan dan makanan tsb hrs tersaji dgn enak dan saya tinggal membayarnya.
Saya berharap film2 hollywood secepatnya bisa tampil lagi di bioskop tanah air karena sebagai penikmat film, film2 yg beredar sekarang tidak bisa memenuhi ekspektasi saya dan mungkin teman2 penikmat film lainnya jg.
Kalau ada kata2 dgn tidak beredarnya film hollywood di bioskop maka bisa memajukan film2 nasional rasanya kok terlalu naif ya. Karena rasanya sebagian besar penikmat film di indonesia tidak menganut faham “tidak ada rotan, akar pun jadi”, jadi jika tidak ada film hollywood, maka mrk pun tidak akan mensubtitusi dgn menonton film nasional, mereka cenderung lebih memilih tidak nonton sama sekali. Apalagi dgn kualitas film nasional skrg yg rasanya menurun jauh dibanding pada zaman dimulainya kebangkitan film nasional pd saat film Jelangkung & Ada Apa Dengan Cinta muncul
Demikian sedikit komentar saya sebagai penikmat film di tanah air.
Terima kasih.

user avatar

astri Setuju
Tuesday, 17 May 2011

saya setuju dengan pendapat komentar private_nick tentang analogi “tidak ada rotan, akar pun jadi”. sebagai penikmat film lokal maupun non lokal, saya lebih memilih membayar mahal untuk film yang berkualitas dibandingkan harus menonton film yang sudah bisa dilihat dari cover maupun thrillernya saja cuma mementingkan keuntungan semata. tanpa memperdulikan kreatifitas maupun nilai yang ingin disampaikan di film tersebut.

jika dilihat beberapa tahun yang lalu, sebenarnya nonton di bioskop pun tidak murah sebenarnya. baru setelah maraknya film2 hollywood dan lokal yang mulai marak di perbincangkan serta didukung pula banyaknya mall di ibukota maka tarif nonton di bioskop pun menjadi murah. saya rasa, para pecinta film hollywood tidak akan perduli apabila tarif menontonnya balik lagi ke masa lampau. tetap, kepuasan menikmati sebuah karya itulah yang mereka nantikan.

user avatar

ruydtjandra Tidak setuju
Monday, 23 May 2011

Saya kira keadaan sekarang seperti mundur dua langkah untuk maju tujuh langkah. Jadi saya sendiri tidak setuju untuk masa bodoh soal pajak dan monopoli.
Jika kita tau satu rumah makan berdapur kotor san penuh kecoa berkeliaran, walau ruang makannya tampak bersih dan bergengsi, apa kita akan memilih rumah makan itu?
Jika kita berpiutang 30 Milyar, apa kita akan mengabaikannya?

Mengenai perbandingan sinema Indonesia dengan Hollywood, biasanya sih lahan tetangga terlihat lebih hijau. Namun, kita tidak dapat menjeneralkan bahwa seluruh sinema Indonesia adalah buruk. Ada saja sinema yang baik bahkan bagus. Selain Laskar Pelangi, 2 sinema terakhir arahan Joko Anwar adalah bagus, menurut saya, beberapa majalah Amerika, dan festival2 yang diikutinya, namun tidak banyak yang menonton. kemanakah kita saat ada film bagus?

Saya tidak menutup keinginan agar sinema Hollywood segera hadir. karena sinema Hollywood juga punya andil dalam perputaran ekonomi sinema di Indonesia. Saya hanya bisa menyarankan untuk kita celik melihat sinema Indonesia yang berprestasi.

user avatar

danieldokter Setuju
Monday, 23 May 2011

:) lets put it this way, kalo jauh2 mau membenahi semuaaaa yang ada di negara ini, tentunya perlu waktu lama, bahkan mgkn blm tentu sampai dua generasi ke depan bisa bener2 merasakan hasilnya. pertama; seperti makanan, ini memang analogi yang paling enak, ada banyak jenis film. film indonesia? mari realistis. dari satu tahun, ada 5 yang baik, itu sudah bagus. film india? dari yg diimpor kesini, katakanlah plus blitz 15-20 judul setahun ada 5 yang baik, itu juga sudah bagus. film thailand? sama saja korea? mungkin lebih 2-3 judul yang berkategori baik.nah sisanya, yang non MPA? lepas dari film2 video yg di-blow up,yg masih tergolong jawara box office, mgkn kalau nanti sudah lancar, ada satu dalam sebulan yang kategorinya baik film perancis dan eropa lainnya? oh, itu keberuntungan, dan biasanya cuma jakarta-bandung-surabaya yg rata2 bisa menontonnya. nah sekarang, mari bicara produknya MPA. major studios. ini rata2 adalah tontonan yang dibuat dalam bujet besar oke, belum tentu baik dari segala sisi filmis, tapi rasanya, tentu lebih luarbiasa. katakan, dari seluruh film MPA yg diimpor kemari, kita hanya bisa menilai yg berkategori ‘jelek’, karena yg baik serta layak atau enak tadi sudah memakan jumlah jauh lebih dari separuhnya. mari tak usah munafik, dan ambil rata2 pola kebanyakan, bukan di negara sendiri saja, tp di banyak belahan dunia lain. mana yg bakal lebih Anda pilih? pergi ke restoran yang hanya sesekali menyediakan makanan enak, atau ke restoran yang hampir setiap kali menyediakan makanan enak? kalau ada yang melarang anda ke restoran itu lagi, bagaimana sikap anda?
Kembali ke soal pajak. Saya akan bertanya jujur.Untuk filmmaker sekalipun, apakah kemakmuran hidup kita semua bersumber dari kelengkapan pembayaran pajak negara? lihat ke belakang.apakah anak2 dan keluarga anda jadi makmur karena negara mengumpulkan denda dari orang-orang dengan pajak terhutang? that simple. jangan jauh2 amat ke masalah monopoli ah. dimanapun, yang lebih kuat tendensinya memonopoli. di hutan jg begitu. kalo mau jadi kuat, ya berusaha.
And please be aware. pemerintah kita sudah membuat rancangan untuk menurunkan nilai pajak menjadi single tax. itu berarti besar kemungkinan MPA akan membuka pintu kembali. tapi, sekarang, justru pemerintah yang memboikot film2 tersebut sebelum dua importir sisanya membayar. Curiga MPA ada dibalik keputusan importirnya? ya memang begitulah bisnis.kalau saya pemasok, saya akan lindungi distributor atau importir saya, dan belum tentu saya mau membuka pintu kerjasama secepat itu dgn importir pengganti. jelas sekali itu. so yes, SAYA SETUJU.

user avatar

iwanyulianto Setuju
Tuesday, 24 May 2011

user avatar

3dman Setuju
Wednesday, 25 May 2011

Simply Setuju sekali.

Saya sudah menonton Thor di singapore,kenapa? karena urusan pajak yang begitu rumit dan bertele-tele sudah tidak bisa diandalkan lagi. Siapa yang salah juga semua orang punya pendapat.

Setiap hari ada penerbangan ke singapore,penumpangnya ratusan dan biaya nonton $14 sekitar Rp.98rb tetapi ternyata banyak orang indonesia disana. Artinya setiap hari ada beberapa ratus orang yang pergi selain untuk bisnis dan wisata ikut menyumbangkan ke negara lain dengan nonton bioskop hanya karena tau bahwa tdk ada film impor baru di indonesia,meskipun jauh lebih mahal dgn sgala biaya yg harus dikeluarkan.

Sebenarnya tindakan pemerintah memboikot film impor dgn urusan pajak dll jelas mempersulit keadaan, apakah dengan tindakan tsb film lokal jadi maju? jawabannya tentu tidak. Buktinya bioskop sepi, restoran sepi, mall juga sepi. Secara total merugikan.

Termasuk forum ini diadakan karena sudah banyaknya keluhan, yang pasti massa tidak akan berhenti tidak ada film impor mereka akan cari film bajakan, tdk ada bajakanpun mereka milih pergi keluar negeri, atau tidak nonton sama sekali daripada nonton film lokal yang mutunya tidak mendidik, low budget, low quality etc.

Negara lain akan semakin maju dengan teknologi, bahkan hongkong dan malaysia sudah mengeluarkan film memakai 3D, meskipun itu adalah film lokal mereka karena masih bermutu. Sedangkan film Indonesia jaman sekarang, silahkan dibandingkan sendiri dan dinilai sendiri, bagi saya pribadi sama sekali tidak hebat dan tidak membanggakan. 

Justru saya kasihan dengan pengelola cinema yang sudah mengrekrut ratusan orang yang artinya ratusan kepala kelg.yg harus menghidupi kelg.nya; semakin ditekan pasti suatu saat akan ada saatnya mereka akan menyerah dan tutup. bayangkan kehidupan ratusan org itu mau kemana? 

user avatar

Yunike Setuju
Wednesday, 25 May 2011

Saya penggemar film sejak 2003 dan merupakan tipe ‘film hanya untuk hiburan’. Jadi saya tidak ambil pusing tentang yang dibilang pengamat ‘film bermutu’. Saya sangat perlu film Hollywood blockbusters. Dan saya sangat perlu nonton di bioskop.
1. Karena film blockbusters sering action / superhero / trend—- saya menikmati keseruan yg tersaji dalam film seperti Mission Impossible 3, Casino Royale, Mr & Mrs. Smith
2. Alasan simple: saya bisa check-in ke GetGlue dan dapat stickers di situ. Juga bisa ke forum-forum Movies baik lokal ataupun luar. Saya sering menulis resensi tentang film-film yg saya tonton di forum-forum atau web resmi film nya. (dan sudah 4 bulan ini tidak saya lakukan)

Saya tidak ambil pusing tentang memajukan perfilman Indonesia atau dalih-dalih yg dikemukakan oleh ‘insan perfilman Indonesia’ (yg Anda semua sendiri sudah tahu nama-namanya - oknum-oknum yg menyebabkan permasalahan film ini). Film Indonesia terbukti kualitasnya sangat jauh di bawah Hollywood. Masyarakat menengah cari uang sekarang semakin susah, hidup juga susah. Kami perlu hiburan. Dan uang yang kami dapat dari bekerja itu tentu kami gunakan untuk nonton film yg bagus & kami suka. Jadi bukan kami tidak nasionalis. Bukan saya tidak nasionalis. Tapi daripada uang yang didapat dengan susah hasil keringat itu dihabiskan untuk nonton film-film lokal tidak jelas, saya tentu memilih film blockbusters - di bioskop (untuk perasaan saja - nggak enak juga kalau nonton bajakan kan). Jadi saya tidak ambil pusing mau pajak lah monopoli lah. Asal itu film bisa kembali tayang ke bioskop. Saya harap pemerintah mau intervensi.

user avatar

Putra-script Setuju
Thursday, 26 May 2011

saya malah bertanya, kenapa masalah pajak film import itu baru diangkat sekarang? kenapa tidak ditindak sejak dulu? saya sangat senang jika produksi film nasional semakin maju dan berkualitas. tapi saya pikir, bukan sebuah keputusan yang bijak jika mematahkan hak penonton untuk menyaksikan film import hanya karena masalah pajak (yang notabenenya adalah tugas dan wewenang pihak terkait). terlebih jika film nasional hanya mengangkat tema horor, telanjang, cinta, cinta dan cinta…. bosen bos !!!

user avatar

Om_tampan Tidak setuju
Saturday, 28 May 2011

Teman - teman tercinta disini kita harus luruskan kita semua tahu bahwa film - film import tersebut tdk bersaalah…tp juga Harus tahu bahwa pengimport tu bersalah..bersalah karena mereka tidak melaksanakan kewajiban nya..yaitu membayarkan pajak beserta hutangnya..kn g logic masa pajak film nasional JAUH LEBIH BESAR dibanding film Import..
Bayangkan itulah kenapa banyak rakyat indonesia ga pernah maju dan akhirnya mati…kalo bkn kita yg menjga negeri ini siapa?

user avatar

baziska Tidak setuju
Monday, 30 May 2011

untuk masalah ini saya berpendapat kedua belah pihak mempunyai kesalahannya masing-masing. sang importir tidak mau membayar pajak sementara pemerintah tidak memberikan (atau belum) ruang negosiasi untuk permasalahan ini. namun kalau hanya karena untuk memuaskan dahaga kita akan film-film impor lantas membiarkan sang importir tidak membayar pajak kan lucu juga. itu sama aja seperti saya membiarkan teman saya mencuri karena saya juga mendapatkan bagian.

cuman kan tidak hanya sampai disitu saja permasalahannya, hal-hal seperti para pegawai sinema yg terancam kehilangan pekerjaannya, pembajakan yang semakin menguntungkan, itu juga menjadi alasan yg baik kenapa pemerintah seharusnya lebih cepat menyelesaikan masalah ini. tentu saja tidak lupa nota merah pemerintah seperti yg kita tau banyak terkena kasus korupsi. jadi siapa yg bisa menjamin kalau pajak yg nantinya akan dibayarkan tidak akan sepenuhnya dialokasikan untuk kemajuan industri film nasional. untuk itulah, pemerintah dan insan industri film juga perlu menunjukkan itikad baiknya dengan nantinya memberikan bukti yg lengkap kemana saja itu pajak yg sudah dibayarkan akan disalurkan.

untungnya sekarang satu importir sudah diberikan kebebasan untuk memutar film-filmnya lagi, seperti Limitless, Source Code dan Scream 4. jadi sementara tontonlah itu dulu, karena ketiga film tersebut tidak kalah bagusnya dengan film-film blockbuster yg seharusnya diputar disini. lagi pula, mengacu pada berita di The Jakarta Globe hari ini, seharusnya film-film impor lainnya akan kembali dalam waktu dekat. kalaupun ternyata tidak, saya sendiri sebagai solusinya akan mencoba menonton film-film Indonesia yg mendapatkan resensi menarik dan film-film hollywood non-blockbuster sebagai penggantinya selain mengunduh berbagai film-film lama. hehehe

user avatar

dhimasvalas Setuju
Thursday, 02 June 2011

bukannya tidak nasionali tapi sebagai penikmat film saya lebih baik menonton film luar dibandingan film indonesia sendiri,karena lebih banyak nilai” yang saya dapatkan jika saya menonton film luar dibandingkan film indonesia yang sebagian besar nya hanya berisi film horor yang membawa bagian porno di dalam adegan film nya dan ada yang hingga mendatangkan artis hot dari luar!!!
dan coba saja anda bayangkan apa jadinya apabila film luar benar’ tidak ditayangkan lagi, akan adakah orang yang akan nonton di premier atau di XXI bila semua judul yang mereka putar adalah film horor yang ga jelas,buat apa bayar mahal tapi kita hanya menonton film yang tidak bermutu,hanya membuang uang saja…
memang ga semua film indonesia tidak berbobot,tapi mayoritas film indonesia yang keluar saat adalah film horor yang barbau sex…

user avatar

hitorijanai Setuju
Tuesday, 07 June 2011

saya pribadi lebih memilih film impor dikarenakan effect dan alur cerita.
tapi saya juga sering menonton film indonesia di bioskop, selama itu bukan film yg berbau hantu dan komedi yang seringkali terdapat adegan ‘hot’, apalagi mayoritas judul film indonesia sekarang seperti itu semua.

kalau saja film2 indonesia sudah mampu membuat effect seperti film impor dan berani mengangkat tema baru (jangan gitu2 aja tema nya) saya akan lebih memilih nonton film indonesia, kenapa? karena gak ‘capek’ baca subtitle dan bisa lebih konsentrasi ke film nya. :)

user avatar

ardnas Setuju
Wednesday, 08 June 2011

saya tidak tahu menahu secara detail apa sih sebenarnya masalah ini, siapa yang salah, siapa yang disalahkan, siapa yang dirugikan, dan bahkan siapa yang diuntungkan.
namun sebagai pecinta film, or at least sebagai penonton hal ini sangat mengganggu kenikmatan menonton film saya. banyak orang bilang cukup nonto di DVD, either original atau pirated, tapi menurut saya sensasi menonton di bioskop jauh berbeda dengan menonton di DVD. itulah yang membuat saya sangat kesal akhir2 ini, yah karena kasus yang semakin lama semakin gak selesai ini.
di sisi lain, saya juga ada pertanyaan mengenai masalah ini, kaitannya dengan pemerintah dan pihak importir.
kepada pihak importir: kenapa gak bayar aja sih itu pajak dan denda? bukannya dengan membayar pajak, semua masalah selesai, bisa impor film lagi, dan malah keuntungan yg akan didapat akan jauh lebih besar dari pajak yg mereka bayar kan?
kepada pemerintah: kenapa gak dipermudah aja sih ini kasus? bukannya pajak juga pada akhirnya mengalir ke negara?
kepada keduanya: hey, it’s summer!!! don’t you both wanna get more profit?yah daripada pada lari ke negara sebelah hanya untuk nonton film2 impor, kan itu berarti bahwa kita akan menambah penghasilan negara sebelah?

user avatar

ishere Setuju
Sunday, 12 June 2011

AKU TIDAK SUKA FILM INDONESIA….!!!!
KARENA TIDAK BERMUTU…!!!!
pajaknya kurang tinggi??
bullshittt…
paling2 cuma gara2 jatah remannya kurangggg…
ciehhhhhhh….
kalo emang pajak ditinggiin emang “FILM Indo” bisa menjamin kalo film indo bisa bakalan BAGUSSS…!!!
@____@

user avatar

Adam Setuju
Friday, 01 July 2011

buat para industri film di indonesia ataupun nekara indonesia hendaklah kita melihat film yang di buat oleh negara diluar indonesia memiliki karakter yang penonton tak kan bisa lupa karakter yang pas dengan negara mereka, maka dari itulah rintihan hati kecilku ini mengatakan para indusri film di dindonesia kurangilah tentang film bergendre horor sex serta sejenisnya perbanyaklah membuat film yang berunsurkan karakter negara kita indonesia supaya film kita memiliki karakter dan bisa dibanggakan di luar negrikita tercinta. ituji yang bisa kubilang, salam hormat buat para cineas.

user avatar

Haji_Junus Tidak setuju
Tuesday, 19 July 2011

Disini bukan masalah setuju atau tidak setuju.. Mari kita lihat perkembangan film dunia (Hollywood) dan film Indonesia sendiri. Perlu kita sadari bahwa penonton film di Indonesia belum cukup pandai dalam partisipasi mengembangkan perfilman Indonesia.

Topik ini telah tertutup untuk pemberian tanggapan.