Perlu ada layar khusus film Indonesia di bioskop

  • 15 Tanggapan
  • Setuju: 73.33%
  • Tidak setuju: 26.67%
Status: Tertutup, Total: 15 Tanggapan
Pemberian tanggapan untuk topik ini sudah ditutup pada Sunday, 04 November 2012

Pengantar:

Kantong penonton film di Indonesia tidaklah besar. Akibat pola pembangunan bioskop yang berprinsip “satu mall, satu bioskop”, tercipta persebaran layar yang tak merata. Saat ini tercatat ada 152 sinepleks dengan total 672 layar untuk 237 juta penduduk Indonesia. Berarti masing-masing layar harus bertanggungjawab untuk 352 ribuan penonton, kalau hendak dibagi rata. Sebuah beban yang mustahil, bukan saja karena kapasitas studio bioskop berkisar dari 100an sampai 300an orang, tapi juga karena ketidakmerataan persebaran.

Baru-baru ini, data dari Direktorat Pengembangan Industri Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Pusat Statistik mengungkapkan ada 10 dari 33 provinsi yang tidak memiliki bioskop. Sepuluh provinsi tersebut adalah Aceh, Kepulauan Bangka-Belitung, NTB, NTT, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Dari 498 kota atau kabupaten di Indonesia, 443 atau 89 persen di antaranya tidak punya bioskop. Betapa timpang atau kalau mau bersikap optimis: betapa masih luasnya potensi pasar yang belum tergarap bila tata niaga dan tata edar film tidak dipertahankan seperti sekarang.

Di lingkungan bioskop sendiri sedang terjadi revolusi teknologi besar-besaran. Sejak tahun lalu bioskop-bioskop di Indonesia mulai menggunakan teknologi pemutaran digital paling mutakhir yang segera menjadi standar global, yaitu DCP (digital cinema package). Di satu sisi, penggunaan DCP memangkas banyak biaya, terutama bagi para pembuat film. Produksi dengan kamera digital bisa langsung diproses, tanpa perlu di-blow up ke format seluloid 35mm. Penggunaan DCP pun lebih murah dibanding ongkos cetak kopi seluloid, karena satu materi DCP bisa digunakan untuk beberapa layar sekaligus.

Di sisi lain, DCP semakin melanggengkan dominasi film impor, karena dengan biaya murah importir dan bioskop bisa menayangkan satu film di sebanyak-banyaknya layar. Bioskop-bioskop kecil yang masih memakai proyektor analog juga menjadi korban. Mereka praktis tidak bisa lagi menayangkan film-film impor baru. Harga proyektor digital yang sangat mahal pun bakal menyulitkan para pengusaha lain untuk membuka bioskop baru, yang berarti juga memperkecil kemungkinan perluasan kantong penonton di Indonesia.

Saat ini belum ada regulasi yang menjamin masa tayang film Indonesia di bioskop. Yang berlaku adalah hukum pasar, di mana suatu film harus mencapai jumlah penonton minimum di minggu pertamanya, untuk kemudian diperpanjang peredarannya di bioskop. Masalahnya, pihak bioskop tak pernah mengumumkan berapa jumlah penonton minimum yang dimaksud. Film Indonesia pun harus bersaing dengan film impor, tanpa ada data dan aturan yang bisa dipantau publik.

Perlu ada layar khusus film Indonesia di bioskop. Malaysia punya Skema Wajib Tayang yang mengharuskan bioskop memutar satu film Malaysia, selama empat belas hari berturut-turut di studio yang berkapasitas kursi paling besar di masing-masing bioskop. Indonesia seharusnya punya regulasi serupa. Bagaimana pendapat Anda?

Acuan:

Tanggapan15

user avatar

Setuju
Saturday, 15 September 2012

Mestinya harus ada. Paling tidak ini akan membuat segmen pasar tersendiri, dan lebih banyak film nasional yang akan turut berkiprah di dalamnya. Relatif kurang bijak kalau seluruh film nasional ‘diadu’ secara ‘frontal’ dengan film-film impor. Bahwa nantinya ada film nasional dalam ‘kategori’ siap ‘diadu’ itu persoalan lain.

user avatar

peter Setuju
Thursday, 04 October 2012

1 bioskop minimal harus ada 1 film indonesiaa

user avatar

EStehmanis Tidak setuju
Friday, 05 October 2012

buat apa?

user avatar

Danni1103 Setuju
Saturday, 20 October 2012

Sangat diperlukan untuk meng-apresiasi para sineas/film maker made in dalam negeri, terutama bagi para sineas pendatang baru. Sangat sulit bagi rumah produksi kecil dengan sineas pendatang baru untuk bisa masuk ke bioskop-bioskop yang ada. Apalagi di Indonesia terdapat 2 raksasa bioskop yang tentunya didominasi oleh mereka.
Bioskop dengan peruntukkan khusus film Indonesia diharapkan dapat menampung kreativitas para sineas muda kita dalam mengembangkan film Indonesia di mata Internasional. Semoga ....

Danni-sutradara

user avatar

RaisDjamal Setuju
Sunday, 28 October 2012

user avatar

HLMN Setuju
Tuesday, 06 November 2012

Dengan syarat; film Indonesia yang berhak untuk ditayangkan di layar khusus itu harus yang benar-benar layak.

Menayangkan kembali film-film Indonesia lama (baik pendek ataupun panjang) dan atau film-film baru independen pun tidak masalah, selama punya kualitas dan atau punya value yang layak untuk disajikan kepada para penikmat film di tanah air.

Tapi kalau ujung-ujungnya yang ditayangkan film-film Indonesia yang cuma ngejual sensasi, cerita yang dangkal dan dipenuhi pemeran-pemeran yang ga bisa ekting bagus sih mending ga usah.

user avatar

heningwangi Setuju
Monday, 12 November 2012

walaupun banyak film-film indonesia yang tayang dan sangat dikagumi orang-orang di luar negeri tapi betapa sangatt disayangkan jika rakyat kita sendiri tidak dapat berpartisipasi mengapresiasikan karya-karya ini? yang rakyat indonesia kini dapatkan hanya film-film horror plus plus yang kadang membuat saya miris. sungguh saya berharap film-film berkualitas film festival internasional juga dapat memenuhi layar-layar lebar di bioskop-bioskop ternama di tanah air, atau bahkan film-film pendek yang diproduksi oleh sineas-sineas baru, untuk bisa mendapatkan apresiasi seperti yang telah disampaikan pada tanggapan-tanggapan sebelum saya. jika saya pun sebagai hanya penikmat fim harus turun tangan membuat sebuah bioskop yang menyediakan tempat untuk itu semua, saya siap.

hening-mahasisiwi :)

user avatar

amyunus Tidak setuju
Wednesday, 16 January 2013

Tidak setuju. Tak ada pasar, tak ada layar. Film Indonesia harus mampu merebut pasar di negeri sendiri. Jika dipaksakan harus ada film Indonesia di bioskop, yang ada ya pihak bioskop yang rugi dan seniman film di Indonesia terasa dimanjakan. Kualitas film pun belum tentu bagus.

Saya yakin seiring meningkatnya kualitas perfilman di Indonesia, masyarakat Indonesia akan semakin optimis dengan film Indonesia. Film Indonesia bisa menjadi tuan rumah tanpa ada keharusan memiliki kayar khusus film Indonesia. Seperti film naik gunung itu.

update: 16/1/2013
Tidak semua film Indonesia itu layak tonton kok, menurut saya. Jadi kalaupun ada layar khusus film Indonesia, tapi yang ada film yang tidak layak tonton, film Indonesia tidak akan berkembang karena sudah ada zona nyaman bernama layar khusus film Indonesia.

Saya setuju dengan beberapa pendapat Pak Jokow Anwar dalan kultwitnya. Beliau memaparkan pentingnya distributor film Indonesia. Distributor film Indonesia inilah yang akan menyaring film-film Indonesia. Dengan adanya penyaringan tersebut, maka film-film Indonesia yang muncul di bioskop merupakan film-film berkualitas yang bisa menjadi kebanggan Bangsa Indonesia.

user avatar

Ihya Tidak setuju
Thursday, 03 January 2013

Tidak setuju.
Saya rasa tak perlu dibuat sebuah layar perak khusus untuk film Indonesia. Karena kalau memang kualitas film Indonesia itu bagus dan layak tonton, maka film itu akan menemukan sendiri konsumennya.
Bersaing dengan film impor?
Ada beberapa film Indonesia yang berkualitas bagus dan mampu bersaing dengan film impor koq. Dan bagi para penonton yang cerdas, pasti bisa mengetahui film mana yang menarik baginya, tak peduli apakah itu produk Indonesia atau luar negeri.
Jika dibuat layar perak khusus untuk film Indonesia, nantinya malah dapat menurunkan kualitas produknya. Makin banyak produser yang membuat film Indonesia secara sembarangan. Mereka berpikir “Toh laku ga laku tetep bisa tayang di bioskop. Kan kita punya layar perak khusus untuk produk dalam negeri.”
Akhirnya terjadi degradasi kualitas. Kuantitas film Indonesia semakin banyak, tetapi kualitasnya menurun.
Dengan dibiarkannya film Indonesia bersaing dengan film impor, membuat para filmmaker tidak akan main-main dalam menciptakan karya. Mereka akan sungguh-sungguh menciptakan karya yang bagus untuk menjaga peta persaingan agar tak tergusur oleh film Impor.
Ibarat, jika kita mau benar-benar jago maen sepak bola, apakah kita akan memilih partner latihan yang sepantaran atau lebih rendah dari kita?
Tentu kita akan mencari partner yang kemampuannya lebih baik dari kita, sehingga kita bisa belajar banyak dan berkembang.

user avatar

amaliasekarjati Setuju
Thursday, 03 January 2013

user avatar

fathya Setuju
Wednesday, 09 January 2013

Bermimpi agar indonesia suatu hari nanti ada industri perfilmannya. jadi bukan home industri lagi tapi benar-benar industri. jadi saya setuju, karena dengan layar khusus mudah-mudahan menjadi titik awal perjalanan menuju industri perfilman indonesia yang besar.

user avatar

Neninick Setuju
Thursday, 10 January 2013

user avatar

Vannisa Setuju
Monday, 14 January 2013

perlu
pertama, untuk menambah kepercayaan penonton Indonesia sendiri bukan? memacu daya saing sineas indonesia agar tak melulu menonton film luar negeri. ini juga memberikan ruang yang terbuka lebar untuk para sineas baru di negeri ini. perlu perubahan!

user avatar

justwibi Setuju
Wednesday, 06 February 2013

film Indonesia memang kalah saing dengan film-film negara lain. nah, yg jadi problem adalah, banyak masyarakat film indonesia yang ingin menonton film indonesia tapi ntar-ntaran (ngerti kan maksudnya) pengen nonton tapi nanti-nanti aja. sedangkan film Indonesia biasanya jarang bertahan lama di bioskop karna sudah tergeser film-film luar. hal itu lah yang disayangkan. karna saya banyak sekali mendengar komen “udah abis ya filmnya?” “kok di bioskop ini ngga ada sih?” “yaah belom sempet nonton” ... menurut saya bisokop lokal sangat sendiri. 6 studio juga sudah cukup dan saya yakin hal ini akan menambah jumlah penonton yang mencintai film Indonesia.

user avatar

vaguedrama Tidak setuju
Wednesday, 06 February 2013

Topik ini telah tertutup untuk pemberian tanggapan.