• lf-6007-19-257280-thumb

    Cerita dari Grobogan

    Tuesday, 24 September 2019, Oleh Bre Redana
    Penilaian penulis: 
     (8/10)

    Oleh kritik perfilman Indonesia, peta perkembangan perfilman Indonesia umumnya disederhanakan menjadi dua bagian saja, yakni masa awal perkembangan dimana film-film Indonesia dikategorikan sebagai dalam masa perjuangan, dan masa sesudahnya dimana film lebih diperlakukan sebagai barang dagangan.

  • lf-b011-19-693626-thumb

    Bumi Manusia, Bumi Masyarakat Kontemporer dengan Persoalannya

    Wednesday, 21 August 2019, Oleh Bre Redana
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Ramainya perhatian orang terhadap Bumi Manusia bahkan sejak penentuan siapa sutradaranya ketika novel karya Pramoedya Ananta Toer itu hendak dibikin film, terus terang lumayan menarik perhatian saya. Ketika film beredar, saya menonton pada hari kedua film tersebut diputar di bioskop di Bogor. Dari situ saya terdorong untuk membikin catatan ini.

    Catatan yang saya buat mencoba menyorot dua aspek. Pertama, aspek alih medium, dari buku ke film. Kedua, bagaimana konsekuensi dari pengalihan medium, dalam hal ini dari buku ke film, terutama pada segi estetik. Film, selain sebagai produk industri dan barang dagangan, adalah juga produk estetik. Pada konsekuensi pengalihan medium saya sedapat-dapatnya membatasi pada hal terakhir itu saja.

  • lf-a013-15-301450-thumb

    Realisme Komersil A Copy of My Mind

    Wednesday, 24 February 2016, Oleh Mikael Johani
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Film ini tidak sepenuhnya gagal menceritakan kisah manusia-manusia gagal, tapi ada diskrepansi yang signifikan di antara temanya yang personal dan bahasanya yang komersil—yang sering memaksakan yang personal menjadi politikal, dan yang politikal menjadi personal.

  • lf-n003-15-343540-thumb

    A Fistful of Locke: Delusi Orisinalitas dalam Nay

    Friday, 27 November 2015, Oleh Mikael Johani
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Selama hampir keseluruhan 80 menit film ini, penonton hanya disuguhi sosok Nay ngobrol di telepon di dalam mobil dengan berbagai karakter lain yang tidak pernah kelihatan sosoknya. Di akhir film, kita jadi mengerti banyak tentang dilema-dilema kehidupan yang dihadapi Nay sekarang.

  • lf-f020-15-538176-thumb

    Ringan, tetapi Nikmat Diminum

    Thursday, 16 April 2015, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Filosofi Kopi bukan film yang penuh filosofi. Cerita-cerita tentang obsesi, persahabatan, penemuan jati diri, serta rekonsiliasi hubungan anak dan orang tua juga tidak menawarkan hal yang baru. Maka, jika diibaratkan kopi, ia bukan kopi tubruk, apalagi kopi tubruk yang dibuat dari biji Kopi Tiwus. Film ini adalah secangkir cappuccino: ringan, tetapi nikmat diminum.

  • lf-g023-15-271420-thumb

    Hijrah Tjokro dari Masa Lalu ke Masa Sekarang

    Sunday, 12 April 2015, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Menuturkan secara lengkap kehidupan seorang tokoh pahlawan tentu sebuah usaha yang mulia, apalagi untuk mendidik generasi sekarang yang sering abai terhadap sejarah. Namun, Tjokro membuktikan bahwa durasi 2,5 jam saja tidak cukup.

  • lf-d009-15-794901-thumb

    Terseraknya Keluarga di Balik Peristiwa 1998

    Sunday, 18 January 2015, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Sebagai sutradara, Lukman juga berani mengambil sikap: bahwa reformasi gagal dan kita harus melanjutkan kehidupan dengan realistis. Realistis bukan berarti tidak peduli sama sekali dengan cita-cita reformasi. Melalui Diana, ia menyampaikan bahwa reformasi masih bisa dihidupi dengan melakukan hal-hal kecil yang membawa perbaikan.

  • lf-3011-14-334389-thumb

    Kisah-kisah Kecil Sejarah

    Tuesday, 04 November 2014, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Tak perlu nama besar untuk bisa menyumbangkan khazanah bagi pengetahuan kita tentang masa lalu bangsa ini yang belum lengkap. Masih ada Likas-Likas lain di luar sana, masing-masing dengan kisah-kisah kecilnya tentang sejarah—entah sebagai antek rezim, entah sebagai korban dari rezim—yang menunggu agar nafasnya terhembus di permukaan.

  • lf-t010-14-039453-thumb

    Kuliner sebagai Perkara Budaya dan Manusia

    Monday, 29 September 2014, Oleh Totot Indrarto
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Melalui budaya kuliner, film ini sangat terasa hendak menyampaikan nilai-nilai baik kehidupan. Dalam banyak hal nilai-nilai itu bahkan ditunjukkan melalui sikap yang tegas terhadap sejumlah persoalan sosial dan politik. Mulai dari yang praktis seperti peduli pada nasib orang kurang beruntung, sampai perlakuan nondiskriminatif terhadap saudara kita dari Papua atau Indonesia Timur pada umumnya.

  • lf-s016-14-369622-thumb

    Surat Protes Penuh Cinta untuk Jakarta

    Sunday, 22 June 2014, Oleh Makbul Mubarak
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Selamat Pagi Malam adalah serangan cepat dua arah. Serangan satu ditujukan pada mereka para tulalit budaya sehingga dengan tulusnya menyambut tipu-tipu kiwari lewat berbagai produk terkini. Serangan dua ditujukan untuk orang-orang yang gemar menghakimi kaum munafik yang menghina para tulalit budaya tanpa sadar bahwa ia sendiri melakukan apa yang dicelanya.