• lf-f020-15-538176-thumb

    Ringan, tetapi Nikmat Diminum

    Thursday, 16 April 2015, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Filosofi Kopi bukan film yang penuh filosofi. Cerita-cerita tentang obsesi, persahabatan, penemuan jati diri, serta rekonsiliasi hubungan anak dan orang tua juga tidak menawarkan hal yang baru. Maka, jika diibaratkan kopi, ia bukan kopi tubruk, apalagi kopi tubruk yang dibuat dari biji Kopi Tiwus. Film ini adalah secangkir cappuccino: ringan, tetapi nikmat diminum.

  • lf-g023-15-271420-thumb

    Hijrah Tjokro dari Masa Lalu ke Masa Sekarang

    Sunday, 12 April 2015, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Menuturkan secara lengkap kehidupan seorang tokoh pahlawan tentu sebuah usaha yang mulia, apalagi untuk mendidik generasi sekarang yang sering abai terhadap sejarah. Namun, Tjokro membuktikan bahwa durasi 2,5 jam saja tidak cukup.

  • lf-d009-15-794901-thumb

    Terseraknya Keluarga di Balik Peristiwa 1998

    Sunday, 18 January 2015, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Sebagai sutradara, Lukman juga berani mengambil sikap: bahwa reformasi gagal dan kita harus melanjutkan kehidupan dengan realistis. Realistis bukan berarti tidak peduli sama sekali dengan cita-cita reformasi. Melalui Diana, ia menyampaikan bahwa reformasi masih bisa dihidupi dengan melakukan hal-hal kecil yang membawa perbaikan.

  • lf-3011-14-334389-thumb

    Kisah-kisah Kecil Sejarah

    Tuesday, 04 November 2014, Oleh Andreas Rossi Dewantara
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Tak perlu nama besar untuk bisa menyumbangkan khazanah bagi pengetahuan kita tentang masa lalu bangsa ini yang belum lengkap. Masih ada Likas-Likas lain di luar sana, masing-masing dengan kisah-kisah kecilnya tentang sejarah—entah sebagai antek rezim, entah sebagai korban dari rezim—yang menunggu agar nafasnya terhembus di permukaan.

  • lf-t010-14-039453-thumb

    Kuliner sebagai Perkara Budaya dan Manusia

    Monday, 29 September 2014, Oleh Totot Indrarto
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Melalui budaya kuliner, film ini sangat terasa hendak menyampaikan nilai-nilai baik kehidupan. Dalam banyak hal nilai-nilai itu bahkan ditunjukkan melalui sikap yang tegas terhadap sejumlah persoalan sosial dan politik. Mulai dari yang praktis seperti peduli pada nasib orang kurang beruntung, sampai perlakuan nondiskriminatif terhadap saudara kita dari Papua atau Indonesia Timur pada umumnya.

  • lf-s016-14-369622-thumb

    Surat Protes Penuh Cinta untuk Jakarta

    Sunday, 22 June 2014, Oleh Makbul Mubarak
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Selamat Pagi Malam adalah serangan cepat dua arah. Serangan satu ditujukan pada mereka para tulalit budaya sehingga dengan tulusnya menyambut tipu-tipu kiwari lewat berbagai produk terkini. Serangan dua ditujukan untuk orang-orang yang gemar menghakimi kaum munafik yang menghina para tulalit budaya tanpa sadar bahwa ia sendiri melakukan apa yang dicelanya. 

  • lf-m016-14-536493-thumb

    Humor Hiperbolik, Pertaruhan Daya Tarik

    Monday, 19 May 2014, Oleh Makbul Mubarak
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Pertaruhan terbesar Dika adalah dalam ranah bentuk guyonan yang bisa jadi memang sudah menjadi zona nyamannya dalam bercanda, dan itu bahaya. Kalau betul begini kejadiannya, daya tarik karya-karya Dika yang akan menjadi korban.

  • lf-t016-14-157156-thumb

    Kekerasan dalam Bingkai Keterampilan

    Sunday, 06 April 2014, Oleh Makbul Mubarak
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Berandal dibuat tidak untuk menjawab apapun di Indonesia, tidak pula untuk merepresentasikan apapun di Indonesia. Segala yang ada dalam Berandal adalah tarian modal global, the dance of the global capital, yang digabung dengan terampilnya orang-orang yang menukangi film ini.

  • lf-t011-14-441149-thumb

    Nekat Berbahasa Inggris, Budaya Sendiri Kena Linggis

    Friday, 28 February 2014, Oleh Makbul Mubarak
    Penilaian penulis: 
     (4/10)

    Masalahnya, keberjarakan dalam The Right One menjadi tidak beralasan sebab kedua tokohnya adalah penduduk lokal setempat. Diceritakan bahwa keduanya kuliah di universitas yang sama di Bali dan telah bertemu satu sama lain tanpa sadar bahkan sejak kecil. Ganjalannya: jikalau mereka benar adalah orang asli Bali, apakah masih masuk akal bagi mereka untuk melihat Bali sebagai tempat yang berjarak?

  • lf-1031-14-168198-thumb

    Kebetulan untuk Selamanya

    Friday, 21 February 2014, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Perkara marching band tidak diromantisir menjadi tujuan hidup paling paripurna dalam dunia cerita film. Pembuat film menempatkannya sesuai porsinya terhubung dengan keragaman konflik pribadi beberapa pegiat Marching Band Bontang. Sayangnya, proses yang terjadi dalam konflik-konflik pribadi itu tak tertuturkan secara mumpuni.