
Daur Ulang yang Mengesankan
Monday, 11 March 2013, Oleh Adrian Jonathan PasaribuParade klise dan imitasi dalam Belenggu menunjukkan kalau Upi belumlah menjadi sineas dengan sentuhan yang otentik. Ia barulah teknisi cerita yang telaten dalam mendaurulang gambar dan cara bercerita. Mengesankan, tapi baru sebatas kemasan.

Cerita Pendek Butuh Pemikiran Panjang
Thursday, 31 January 2013, Oleh Adrian Jonathan PasaribuSatu hal yang sama dari setiap omnibus adalah durasi pendek yang punya tuntutan penceritaannya sendiri. Sebuah aksioma yang beredar di kalangan sineas film pendek: “Orang boleh jalan kaki dalam film panjang. Dalam film pendek, ia harus lari.”

Salah Saham, Salah Paham
Wednesday, 23 January 2013, Oleh Adrian Jonathan PasaribuSang Pialang sesungguhnya memuat potensi yang besar. Tema ini belum pernah dijelajahi dalam film-film Indonesia dan profesi pialang sendiri belum banyak diketahui oleh khalayak. Ada nilai kebaruan tersendiri di dalamnya. Sayangnya, seperti tokoh-tokoh ceritanya, pembuat film menanam saham di tempat yang salah.

Kematian Tidak Selamanya Menyedihkan
Friday, 18 January 2013, Oleh Adrian Jonathan PasaribuKisah yang dihadirkan Mika tak beda jauh dengan film-film Indonesia bertema sejenis. Bagusnya, film ini respek terhadap subyeknya. Pembuat film sadar ada alternatif lain ketimbang bermuram durja akan suatu hal sealamiah kematian, dan ia menempuh jalan itu dengan baik.

Kolosal Baru Sebatas Kuantitas
Monday, 14 January 2013, Oleh Adrian Jonathan PasaribuHanung Bramantyo menjadikan bumi Sumsel sebagai latar untuk alegori tentang kebangsaan, tentang akar-akar buruk yang mendasari sejarah pembentukan bangsa kita. Apa yang penonton lihat boleh jadi klasik, namun apa yang penonton rasakan terasa modern, terasa dekat dengan realita sekarang.

Demi Ucok dan Elemen Otobiografis
Tuesday, 08 January 2013, Oleh Adrian Jonathan PasaribuEksplorasi tentang etnis Batak dalam film terasa dekat dan tidak dibuat-buat. Namun, ambisi Demi Ucok adalah bercerita, dan ambisi tersebut mewajibkan adanya kepatuhan pada asas-asas penuturan cerita, salah satunya koherensi. Demi Ucok gagal memenuhi itu.

Menyentuh Batin dan Intelektualitas
Sunday, 30 December 2012, Oleh JB KristantoMengangkat masalah “tabu" tidaklah mudah. Menangkap keseharian dalam “kehidupan” wajar tokoh-tokohnya hingga tampil di layar secara meyakinkan, menambah kesulitan. Dan yang paling sulit: menampilkan sikap jelas terhadap persoalan yang rumit itu. Cinta tapi Beda boleh dibilang berhasil mengatasi tiga kesulitan pokok itu.

De mortuis nil nisi bonum
Thursday, 20 December 2012, Oleh JB KristantoDe mortuis nil nisi bonum. Artinya: tentang yang meninggal, hanya ada yang baik-baik saja. Inilah yang jadi sikap dasar penulis skenario dan sutradara Habibie & Ainun.

5 cm yang Terlampau Jauh
Tuesday, 18 December 2012, Oleh Adrian Jonathan PasaribuAdaptasi novel laris Donny Dhirgantoro ini terasa terpotong-potong, tanpa ada bangunan cerita yang berkesinambungan. Alhasil, 5 cm baru sebatas baik sebagai tontonan, sebagai kumpulan gambar yang indah dan mengharukan.

Drama Cinta yang Jauh dari Romantis
Tuesday, 04 December 2012, Oleh Totot IndrartoSebagai drama cinta, film ini memang jauh dari romantis, tapi menarik dan sebetulnya bisa menggetarkan, karena tidak banyak film Indonesia mutakhir menggambarkan percintaan yang dewasa alias tidak menye-menye.
