• lf-b008-13-894822-thumb

    Daur Ulang yang Mengesankan

    Monday, 11 March 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Parade klise dan imitasi dalam Belenggu menunjukkan kalau Upi belumlah menjadi sineas dengan sentuhan yang otentik. Ia barulah teknisi cerita yang telaten dalam mendaurulang gambar dan cara bercerita. Mengesankan, tapi baru sebatas kemasan.

  • lf-3004-13-742502-thumb

    Cerita Pendek Butuh Pemikiran Panjang

    Thursday, 31 January 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (4/10)

    Satu hal yang sama dari setiap omnibus adalah durasi pendek yang punya tuntutan penceritaannya sendiri. Sebuah aksioma yang beredar di kalangan sineas film pendek: “Orang boleh jalan kaki dalam film panjang. Dalam film pendek, ia harus lari.”

  • lf-s011-13-030010-thumb

    Salah Saham, Salah Paham

    Wednesday, 23 January 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (4/10)

    Sang Pialang sesungguhnya memuat potensi yang besar. Tema ini belum pernah dijelajahi dalam film-film Indonesia dan profesi pialang sendiri belum banyak diketahui oleh khalayak. Ada nilai kebaruan tersendiri di dalamnya. Sayangnya, seperti tokoh-tokoh ceritanya, pembuat film menanam saham di tempat yang salah.

  • lf-m004-13-991608-thumb

    Kematian Tidak Selamanya Menyedihkan

    Friday, 18 January 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Kisah yang dihadirkan Mika tak beda jauh dengan film-film Indonesia bertema sejenis. Bagusnya, film ini respek terhadap subyeknya. Pembuat film sadar ada alternatif lain ketimbang bermuram durja akan suatu hal sealamiah kematian, dan ia menempuh jalan itu dengan baik.

  • lf-g016-13-949954-thumb

    Kolosal Baru Sebatas Kuantitas

    Monday, 14 January 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (4/10)

    Hanung Bramantyo menjadikan bumi Sumsel sebagai latar untuk alegori tentang kebangsaan, tentang akar-akar buruk yang mendasari sejarah pembentukan bangsa kita. Apa yang penonton lihat boleh jadi klasik, namun apa yang penonton rasakan terasa modern, terasa dekat dengan realita sekarang.

  • lf-d008-13-883765-thumb

    Demi Ucok dan Elemen Otobiografis

    Tuesday, 08 January 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Eksplorasi tentang etnis Batak dalam film terasa dekat dan tidak dibuat-buat. Namun, ambisi Demi Ucok adalah bercerita, dan ambisi tersebut mewajibkan adanya kepatuhan pada asas-asas penuturan cerita, salah satunya koherensi. Demi Ucok gagal memenuhi itu.

  • lf-c013-12-331562-thumb

    Menyentuh Batin dan Intelektualitas

    Sunday, 30 December 2012, Oleh JB Kristanto
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Mengangkat masalah “tabu" tidaklah mudah. Menangkap keseharian dalam “kehidupan” wajar tokoh-tokohnya hingga tampil di layar secara meyakinkan, menambah kesulitan. Dan yang paling sulit: menampilkan sikap jelas terhadap persoalan yang rumit itu. Cinta tapi Beda boleh dibilang berhasil mengatasi tiga kesulitan pokok itu.

  • lf-h012-12-757306-thumb

    De mortuis nil nisi bonum

    Thursday, 20 December 2012, Oleh JB Kristanto
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    De mortuis nil nisi bonum. Artinya: tentang yang meninggal, hanya ada yang baik-baik saja. Inilah yang jadi sikap dasar penulis skenario dan sutradara Habibie & Ainun.

  • lf-5003-12-405162-thumb

    5 cm yang Terlampau Jauh

    Tuesday, 18 December 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (4/10)

    Adaptasi novel laris Donny Dhirgantoro ini terasa terpotong-potong, tanpa ada bangunan cerita yang berkesinambungan. Alhasil, 5 cm baru sebatas baik sebagai tontonan, sebagai kumpulan gambar yang indah dan mengharukan.

  • lf-h012-12-404819-thumb

    Drama Cinta yang Jauh dari Romantis

    Tuesday, 04 December 2012, Oleh Totot Indrarto
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Sebagai drama cinta, film ini memang jauh dari romantis, tapi menarik dan sebetulnya bisa menggetarkan, karena tidak banyak film Indonesia mutakhir menggambarkan percintaan yang dewasa alias tidak menye-menye.