• lf-c015-13-342539-thumb

    Cinta dari Wamena, Simpati dari Jakarta

    Wednesday, 19 June 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Sekilas, Cinta dari Wamena mengingatkan akan Jangan Menangis Sinar. Prinsip yang dibawa serupa: ceritanya nun jauh di pelosok negeri sana, tapi pengakuannya dari Jakarta. Seakan-akan suatu cerita belum sah sebagai sebuah cerita kalau tidak disangkutpautkan dengan ibukota.

  • lf-c016-13-232095-thumb

    Kardus dan Hal-hal Mengganjal Lainnya

    Tuesday, 18 June 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Cinta dalam Kardus menjadi angin segar tersendiri di tengah film-film komedi lokal belakangan ini yang kebanyakan berprinsip apapun-yang-penting-nyeleneh (salah satunya Cinta Brontosaurus, yang juga dibintangi Raditya Dika). 

  • lf-c019-13-857928-thumb

    Moralitas Cap Coboy Junior

    Sunday, 16 June 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Film ini tidak main-main memberi janji hiburan. Lihat saja poster filmnya. Keempat personil grup vokal Coboy Junior menari-nari dengan gelimangan cahaya warna-warni. Glamor, dan memang filmnya hanya seputar itu, plus perkara moral yang diada-adakan.

  • lf-s008-13-020007-thumb

    Benang Merah KH Hasyim Asy’ari

    Monday, 10 June 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Andai saja Rako Prijanto dan kawan-kawan tidak kebelet ingin memukau penonton dengan adegan-adegan perang yang membahana, benang merah KH Hasyim Asy’ari akan terjaga utuh hingga akhir film. Pembangunan sosok beliau bisa lebih tepat pada konteks zamannya, tidak seperti impuls pribadi semata.

  • lf-c017-13-747086-thumb

    Cinta Bisa Kadaluarsa, Film Juga

    Monday, 13 May 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (4/10)

    Cinta Brontosaurus mengingatkan akan klise-klise dalam film komedi-roman Indonesia. Lelaki bisa berbuat salah, tapi perempuan seakan-akan tak punya reaksi lain selain mengambek, mata melotot, bentak-bentak. Ternyata bukan cinta saja yang bisa kadaluarsa. Film juga.

  • lf-y043-13-878884-thumb

    Hati Perempuan dalam Realita yang Subtil

    Monday, 06 May 2013, Oleh Totot Indrarto
    Penilaian penulis: 
     (8/10)

    Mouly Surya dalam film keduanya ini malah memilih menempuh jalan pedang sebagai ronin (samurai tak bertuan) yang jauh penuh risiko. Itulah jalan para petarung sejati yang, dalam idealisasi budaya populer, digambarkan tidak sudi menghabiskan umur sebagai mediocre, untuk menemukan jatidiri dan takdirnya sendiri.

  • lf-y043-13-878884-thumb

    Tantangan Memandang, Mendengar dan Bernalar

    Sunday, 05 May 2013, Oleh Lisabona Rahman
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    Jarang sekali ada film Indonesia yang mengutak-atik persoalan dasar ‘film’ dan mempertanyakan kesatuan pandangan-pendengaran. Pada Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta elemen pandang-dengar ini bukan saja diceraikan, tapi lebih jauh lagi, dijadikan bahan percobaan. Film seperti ini, barangkali hanya dibuat (jangankan diputar) di Indonesia seabad sekali.

  • lf-k011-13-586944-thumb

    Antara Propaganda dan Keindahan

    Saturday, 04 May 2013, Oleh JB Kristanto
    Penilaian penulis: 
     (6/10)

    Ada rasa amarah menggelegak di hati para pembuat film Kisah 3 Titik yang diproduseri oleh Lola Amaria. Membandingkan film ini dengan film yang ia sutradarai sebelumnya, Minggu Pagi di Victoria Park, kesan paling menonjol adalah bahwa Kisah 3 Titik lebih merupakan film produser, sementara anggota lain bertindak lebih sebagai penyalur gagasan, yang bekerja dengan baik bahkan sangat baik.

  • lf-9017-13-019837-thumb

    Terikat Masa Lalu, Terikat Keluarga, Terikat Tradisi

    Thursday, 02 May 2013, Oleh JB Kristanto
    Penilaian penulis: 
     (7/10)

    9 Summers 10 Autumns adaah sebuah film yang bisa memantik diskusi, meski mungkin di luar apa yang dimaui pembuatnya. Artinya, 9 Summers 10 Autumns bukan film sembarangan.

  • lf-9017-13-019837-thumb

    Iwan Masih Ingat Rumah

    Wednesday, 01 May 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu
    Penilaian penulis: 
     (5/10)

    Ifa Isfansyah dan kawan-kawan menjadikan New York, atau masa sekarang, murni sebagai pemantik. Apinya ada di Batu, di mana Iwan Setyawan menambatkan rindu walau kenangan di sana begitu getir. Cerita bolak-balik di antaranya.