Sindiran dan Ejekan yang Terlalu Telanjang

Resensi › Totot Indrarto

Penilaian penulis:  
 (7/10)

(Ditulis untuk Bicara Film)

Perfilman Indonesia—apa boleh buat—masih selalu membutuhkan Deddy Mizwar buat mendekatkan film dengan kenyataan sehari-hari. Dan itu berarti: dengan penontonnya.

Setidaknya, Deddy-lah yang selama ini paling konsisten menjadikan film-filmnya sebagai refleksi berbagai persoalan faktual masyarakat. Sesuatu yang belakangan semakin hilang atau dilupakan hingga semakin menjauhkan film Indonesia dari penontonnya.

Setelah mempertanyakan nasionalisme generasi muda bangsa di Nagabonar Jadi 2, kini dalam Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Deddy menyoal banyak hal yang menurutnya “gak bener” — hingga kelihatan “lucu” — di negeri ini.

Begitu banyak “kelucuan” yang mau diledek Pak Haji, begitu Deddy Mizwar kerap disapa, sampai membuat film ini bagi sebagian penonton terasa verbal dan sesak. Kendati, sebetulnya, di dalam bangunan cerita cuma terdapat dua narasi pokok. Pertama, mempertanyakan kualitas dan moralitas sistem pendidikan di Indonesia. Kedua, menggugat ketidakpedulian negara terhadap nasib anak-anak miskin dan terlantar.

Untuk membungkus dua narasi besar besar tersebut Pak Haji tetap setia pada premis favoritnya: sejatinya semua persoalan kehidupan, termasuk kebingungan yang tercipta darinya, bisa diselesaikan dengan berpegang pada moralitas agama.

Kali ini premis itu dikemas secara elegan dalam bentuk pengharaman terhadap uang hasil mencopet. Dan karena di dalam cerita ia menganalogikan koruptor sebagai “pencopet berpendidikan”, maka pesan moralnya terang-benderang: hidup dari uang korupsi itu dosa!

Pipit (Ratu Tika Bravani), Samsul (Asrul Dahlan), dan Muluk (Reza Rahadian) adalah potret dari banyak — kalau bukan kebanyakan — produk sistem pendidikan kita. Kualitas pendidikan macam apa sebenarnya yang diberikan kepada generasi muda bangsa ini apabila bahkan lulusan perguruan tingginya seperti tidak memperoleh nilai tambah apapun buat memperbaiki kehidupannya? Malah sebaliknya, cuma melahirkan generasi putus asa.

Sistem pendidikan yang sama juga melahirkan oportunis norak seperti calon anggota DPR Jupri (Edwin). Dan agak jauh dari kehidupan warga sekampung Muluk, ada banyak orang berpendidikan di Gedung DPR/MPR, Senayan, yang moralnya tidak lebih baik dari para pencopet buta huruf.

Pipit, anak Haji Rachmat (Slamet Rahardjo), memilih jalan pintas untuk kaya dengan mengikuti segala macam undian dan kuis berhadiah. Samsul, sarjana pendidikan, menghabiskan waktu bermain gaple di pos ronda. Sedangkan Muluk, sarjana manajemen, sia-sia setiap hari berkeliling mencari lowongan pekerjaan tanpa punya koneksi.

Tak mengherankan jika di atas realita semacam itu orang-orang yang menyimpan idealisasi pentingnya pendidikan seperti Pak Makbul (Deddy Mizwar), ayah Muluk, jadi tampak lebih bodoh dan “gila” dibanding kaum pragmatis serupa calon besannya, Haji Sarbini (Jaja Miharja). Lucunya lagi, di tengah pragmatisme semacam itu masyarakat masih memiliki gengsi tinggi dan merendahkan pekerjaan peternak cacing yang semula mau dilakoni Muluk.

Maka, sebagaimana umumnya kita, Muluk memilih pekerjaan yang lebih terhormat: “proyek sumber daya manusia” bersama Pipit dan Samsul. Padahal yang dilakukan “cuma” mengelola uang kelompok pencopet cilik sekaligus mengajari mereka sejumlah pelajaran dasar sebagai bekal buat jadi pengasong. Pekerjaan yang dalam standar ganda masyarakat rasanya juga bakal dibilang “enggak banget deh”.

Sekitar separuh durasi film dihabiskan buat menceritakan lika-liku proyek idealis Tiga Sekawan itu. Tentu tidak mudah meyakinkan dan mengajak anak-anak yang sesungguhnya tidak — atau tepatnya belum — memiliki problem itu untuk menjadi lebih baik.

Apa ukuran “lebih baik”? Selama ini mereka baik-baik saja: kerja gampang, banyak uang, hidup senang. Itu kan kehidupan yang sudah lebih baik dibanding Muluk dan dua temannya, yang cuma mendapat bayaran dari kutipan 10% penghasilan mereka. Lagi pula, buat apa belajar untuk jadi lebih baik jika orang-orang yang sudah bersekolah tinggi seperti anggota DPR pun pekerjaannya tidak lebih baik dari mereka: mencopet juga.

Apalagi kemudian terbukti, di bagian akhir, anak-anak yang beralih profesi menjadi pengasong nyatanya tidak naik derajat menjadi lebih baik di mata negara, yang direpresentasikan oleh Satpol PP.

Begitu banyak pertentangan pikiran dan dilema moral yang tersembul, dan seharusnya bisa dieksplorasi jadi sangat menarik, dari cerita sederhana tersebut. Tapi justru bagian ini menjadi titik lemah Alangkah Lucunya (Negeri Ini).

Deddy Mizwar dan penulis skenario Musfar Yasin sebetulnya menggunakan resep yang sama dengan Nagabonar Jadi 2. Bedanya, kali ini tidak sesukses di film sebelumnya.

Jika di Nagabonar karakter nasionalis Jenderal Naga (warisan Asrul Sani) dipertentangkan dengan cara pandang neonasionalisme anak-anak muda zaman sekarang, dalam Alangkah Lucunya pikiran-pikiran intelek kaum terpelajar dibenturkan dengan kepolosan dan kebodohan anak-anak jalanan.

Dalam konstruksi drama satir, pertentangan dua keyakian, pikiran, dan cara pandang yang bertolak belakang itulah yang dipermainkan sedemikian rupa buat memercikkan kelucuan-kelucuan yang menyindir atau mengejek, alias satire. Pada Nagabonar berhasil, tapi di Alangkah Lucunya lebih sering gagal.

Kali ini Deddy dan Musfar tidak sukses mungkin karena pertarungan gagasan di dalam film ini tidak berlangsung seimbang atau sama kuat sebagaimana di Nagabonar. Skenario sejak awal terasa tidak netral, terlalu berpihak pada intelektualitas dan standar moral Pak Makbul yang disuarakan Tiga Sekawan. Perspektif para pencopet cilik terabaikan.

Jarot (Tio Pakusadewo), bos para pencopet cilik, yang mestinya mewakili “ideologi hitam”, digambarkan pasif dan malah membela Muluk, karena ternyata diam-diam mau bertobat. Saya tadinya mengira Jarot bakal sering hadir membela anak-anak buahnya, sehingga konflik “ideologi hitam” vs. “ideologi putih” itu berlangsung seimbang, dan banyak sindiran atau ejekan lucu bisa muncul dari sana.

Pada Alangkah Lucunya (Negeri Ini) sindiran dan ejekan itu, meski juga banyak yang lucu, tampil terlalu telanjang. Bukan hasil “kolaborasi” dua kutub pemikiran yang berseberangan seperti di Nagabonar Jadi 2 dan banyak film drama satir bagus lainnya.

Dalam film yang diniatkan buat meledek seperti ini, ketelanjangan, ternyata, tidak asyik. Barangkali juga tidak efektif, pada akhirnya, karena cara penyampaian langsung begitu terlalu biasa, atau sudah sering dilakukan orang lain. Terutama oleh orang-orang sinis dan pemarah, yang kita tahu sekarang makin banyak jumlahnya.

Atau barangkali dari dulu juga sudah banyak, tapi karena belum mempunyai media (sosial) pribadi seperti sekarang, jadi tidak terdengar suaranya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.