Reportase Alam Rengga Surawidjaja

Resensi › JB Kristanto

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Seorang perawan bernama Laura (Farida Sjuman). Karena sakit hati dengan perlakuan kaum gerilyawan republik terhadap ibunya, hingga yang disebut terakhir ini meninggal dunia, Laura memihak Belanda. Ia menjadi mata-mata yang diselundupkan ke dalam pasukan Kapten Wira (Kusno Sudjarwadi) di Sektor Selatan, suatu daerah pedalaman yang terpencil. Pada diri tokoh inilah berpusat cerita film karya Alam Rengga Surawidjaja, Perawan di Sektor Selatan.

Dari sekian banyak tokoh yang dikisahkan, hanya Laura inilah yang jelas latarbelakang kehidupannya. Untuk mengisahkan latarbelakang tokoh utamanya ini, Alam Surawidjaja menggunakan teknik flashback yang paralel dengan kejadian yang dialami tokohnya. Ketika Laura melihat bagaimana Kobar (Lahardo) menyiksa seorang wanita setengah baya dan anak buah Kobar menyeret wanita-wanita yang dituduh bekerjasama dengan Belanda, masuklah sederet penggalan flashback adegan ibu Laura diseret-seret para gerilyawan republik.

Adegan flashback yang seluruhnya dituangkan dalam warna coklat tua muram tidak disuguhkan sekaligus, tapi sepenggal-sepenggal dan makin lama makin panjang sesuai dengan proporsi cerita. Baru pada akhir film seluruh kejadian yang sebenarnya dibeberkan. Teknik editing ini terasa menambah kokoh alur cerita.

Rekaman Situasi
Mungkin kisah ini akan disebut kisah kemanusiaan. Tapi saya rasa film ini, yang penyutradaraan dan penulisan skenarionya dikerjakan sendiri oleh Alam, belum sampai ke taraf itu. Saya lebih condong berkesimpulan bahwa kisah ini merupakan rekaman situasi atau reportase. Alam dengan jujur menyuguhkan apa yang terjadi tapi belum membongkar apa yang ada di balik kulit pori. Ia tidak menghukum secara kejam pengkhianatan Laura, tapi ia juga tidak mati-matian membela gerilyawan. Malah terhadap tingkah laku gerilyawan yang menyeleweng ia pun tidak segan-segan membeberkannya. Dengan demikian kemanusiaan di sini bukanlah menjadi tema tapi hanya sebagai bumbu.

Orang boleh curiga pada kisah-kisah revolusi, karena kisah itu mudah menjadi kisah kepahlawanan yang sudah klise atau kisah pengutukan tanpa ampun terhadap kolonialisme dan pengkhianatan. Tapi Alam bisa lepas dari kedua kutub ekstrem ini dengan jalan menyuguhkannya seperti apa adanya. Bak reporter yang baik, ia berdiri netral dan dengan cermat mengamati situasi. Kecermatan pengamatan inilah kelebihan Alam Surawidjaja sebagai sutradara. Dengan kameranya ia berhasil membangun ataupun melukiskan situasi kejadian dengan hidup.

Konflik
Karena film ini seperti suatu reportase, maka bangunan konfliknya lemah. Dalam shot-shot awal yang cukup panjang kita belum menemukan masalah-masalah ataupun pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengikat perhatian, dan kemudian, sebagaimana biasa, diuraikan hingga ke akhir cerita. Baru setelah beberapa adegan diketahui bahwa pasukan Wira dan Laskar Rakyat Kobar amat merepotkan pasukan Belanda. Untuk mematahkan perlawanan ini Belanda mendatangkan seorang ahli perang urat syaraf yang berhasil menimbulkan ketegangan di antara tentara republik. Kepala perang urat syaraf ini berhasil diculik oleh anak buah Wira.

Sementara itu, Laura yang menyamar sebagai Fatimah, kakak Amir yang tertawan Belanda, berhasil menyelundup ke dalam pasukan Wira. Tono, Hasan, dan Rengga terlibat dalam perebutan atau diperebutkan Laura. Kecuali itu antara Wira dan Kobar yang kehidupannya diisi dengan bertempur, membabat musuh, main perempuan, dan berjudi, terjadi ketegangan pula. Wira tidak senang dengan cara dan sikap hidup Kobar ini.

Ketegangan memuncak ketika Kobar mengetahui bahwa Wira belum membunuh kepala perang urat syaraf Belanda dan menemukan surat (kemudian diketahui palsu) dari komandan pasukan Belanda kepada Wira. Kobar tak bisa lagi menahan diri. Dikepungnya markas Wira. Pertempuran tak bisa dihindarkan. Menghadapi situasi yang sudah ditunggu-tunggunya ini, Laura juga sudah siap bertindak. Lewat penghubungnya, A Tjong, pemilik warung di sektor tersebut, ia mengundang pesawat-pesawat Belanda menyerbu. Di tengah serbuan dan kepanikan penduduk, Laura berhasil membebaskan kepala perang urat syaraf Belanda.

Hilangnya tawanan Wira ini menimbulkan kecurigaan terhadap diri Laura, yang lalu melarikan diri karena merasa peranannya terbongkar. Film ini disudahi dengan kematian Laura di pelukan Rengga yang sebenarnya dicintainya.

Editing yang Cermat
Kisah tersebut memang memungkinkan untuk menjadi satu bangunan konflik atau bangunan dramaturgi yang baik. Namun Alam sebagai penulis skenario tidak menjurus ke arah ini. Ia lebih cenderung hendak bercerita saja lewat filmnya atau mungkin bisa dikatakan hendak melaporkan kejadian. Bangunan dramaturgi yang lemah ini berhasil diimbangi dengan ketangkasan dan kecermatan teknik editing hingga hasil akhirnya berupa suatu reportase yang cukup memikat. Sebagaimana reportase, dia tidak banyak berurusan dengan masalah-masalah batin atau perwatakan tokoh-tokohnya, tetapi lebih banyak berurusan dengan kejadian-kejadian atau gejala-gejala. Karenanya, film ini tidaklah terlalu menyentuh batin. Dia tidak melibatkan totalitas diri kita sewaktu menonton. Dia juga tidak terlampau mengharukan. Ia hanya dengan simpatik mengulurkan tangan agar kita memaklumi masalahnya.

Karena reporter biasanya selalu diburu-buru waktu, maka sebuah reportase bisa saja mengandung kekurangan-kekurangan. Demikian pula film ini. Gambar yang di sana-sini buram, permainan aktor-aktris yang sedang-sedang saja (mungkin disebabkan juga oleh skenarionya), musik yang tidak memberikan tekanan apa-apa, ini semua mungkin bisa disebutkan kekurangan. Tapi kekurangan-kekurangan ini akan mudah termaafkan atau terlupakan bila kita cukup terbuai oleh jalannya reportase.

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)
Terbit pertama kali di Kompas, 30 Maret 1972.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.