Rindu Purnama: Antara Idealis dan Realistis

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (7/10)

Setelah tiga puluh tahun mapan di depan kamera, Mathias Muchus memulai fase baru dalam kariernya sebagai orang di belakang kamera. Film panjang pertamanya sebagai sutradara adalah Rindu Purnama, sebuah drama multi-karakter tentang kehidupan di suatu kota besar. Dalam mewujudkan karyanya tersebut, Muchus mengandalkan naskah yang ditulis Ifa Isfansyah, yang sempat bicara soal ibukota melalui partisipasinya di film omnibus Belkibolang tahun lalu. Perihal produksi, Muchus disokong oleh Mizan Production, yang film-film produksinya mempunyai kedekatan tersendiri dengan konflik kelas sosial. Lihat saja Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda Di Dadaku, Emak Ingin Naik Haji, dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Film-film tersebut menarasikan intrusi antara kelas-kelas sosial, yang berfokus pada usaha seorang atau beberapa protagonis menegosiasikan jarak antarkelas yang memisahkan dirinya dengan tujuannya.

Rindu Purnama juga bercerita tentang konflik kelas. Lebih spesifiknya: dua intrusi yang terjadi antara komunitas anak jalanan dan korporat real estate. Intrusi pertama melibatkan Rindu (Salma Paramitha), salah satu anak jalanan yang di awal film mengamen di lampu merah. Waktu berusaha lari dari kejaran Satpol PP, Rindu tertabrak mobilnya Surya (Tengku Firmansyah), seorang manajer yang telah sukses dengan beberapa proyek pembangunan. Rindu tak sadarkan diri dan mengalami amensia ringan. Dia lupa nama dan tempat asalnya. Merasa iba, Pak Pur (Landung Simatupang), supir pribadi Surya, memutuskan bersama istrinya untuk merawat Rindu di rumah majikannya. Surya marah besar dengan tindakan Pak Pur, dan memberi ultimatum agar Rindu segera dikembalikan ke tempat asalnya. Masalahnya Rindu tak kunjung ingat asal muasalnya, dan usaha pencarian teman-temannya Rindu menemukan jalan buntu.

Keberadaan Rindu di rumah Surya berkaitan erat dengan intrusi lainnya, yakni rencana pembangunan gedung di daerah komunitas anak jalanan tinggal. Intrusi ini melibatkan Sarah (Ririn Ekawati), pengasuh rumah singgah anak jalanan. Dia khawatir dan tidak setuju dengan rencana pembangunan tersebut, yang dipimpin oleh Monik (Titi Sjuman), anak pemilik perusahaan tempat Surya bekerja. Proyek Monik tidak saja akan menggusur rumah singgah anak jalanan, tapi juga rumah-rumah warga di sekitarnya, yang penghuninya sudah akrab dan dekat dengan Sarah. Monik sendiri tidak peduli dengan kekhawatiran Sarah, dan siap melakukan cara apapun untuk mewujudkan proyeknya. Apabila proyeknya sukses, berarti Monik juga sukses membuktikan kelayakan dirinya di hadapan bapaknya dan Surya. Di hadapan bapaknya, Monik ingin membuktikan bahwa dirinya pantas memegang perusahaan. Di hadapan Surya, Monik berharap dirinya terlihat pantas untuk pernikahan.

Dalam salah satu pernyataannya ke pers, Mathias Muchus berkata bahwa Rindu Purnama “bukanlah film idealis, melainkan film realistis.” Apabila melihat dua-per-tiga awal filmnya saja, pernyataan tersebut akurat. Dalam periode tersebut, Rindu Purnama secara efektif memetakan relasi manusia dalam sebuah kota besar yang masih terus berkembang. Melalui dua intrusi kelas yang membentuk badan ceritanya, Rindu Purnama menakar relasi karakter-karakternya berdasarkan signifikansinya untuk kelangsungan hidup (survival). Dalam konteks tersebut, perkembangan plot di dua-per-tiga awal film memperoleh momentumnya. Plot berkembang berdasarkan tindakan karakternya, yang menurut mereka tepat untuk bertahan dalam silang sengkarut kehidupan kota besar. Hal tersebut terlihat dari adegan Surya yang mengultimatum Pak Pur untuk mengembalikan Rindu, Pak Pur yang bimbang saat berusaha mengembalikan Rindu, hingga Monik yang siap melakukan apapun untuk mewujudkan proyeknya.

Menariknya, Rindu Purnama tidak berhenti di pemetaan intrusi antara komunitas anak jalanan dan korporasi saja, tapi berlanjut hingga relasi individu dalam masing-masing entitas. Berkat perkembangan plot tersebut, narasi film memperoleh kedalamannya sendiri, dan tidak terjebak dalam romantisme dangkal. Karakter berakhlak baik seperti Sarah tidak teridealisasikan begitu saja. Dia turut mencicipi kerasnya kehidupan urban, menjadi korban, dan mengalami momen-momen khilafnya sendiri. Hal tersebut terlihat ketika warga mencurigai Sarah sebagai mata-mata perusahaan Monik dan Surya. Di sisi lain, Surya, karakter yang sejak awal terlihat anti dengan Rindu dan anak-anak jalanan lainnya, mengalami perubahan sikap. Perlahan dia mulai memahami dan bersimpati, terutama yang akhirnya berpuncak pada penentangannya pada proyek Monik. Aslinya penentangan tersebut lahir dari simpati, namun alasan formalnya adalah urusan legal, yang Surya rasa akan mencemarkan nama perusahaan. Perkembangan cerita tersebut realistis, manusiawi, dan tetap logis dalam konteks kehidupan urban yang diusung sejak awal film.

Kelabilan Rindu Purnama mulai terdeteksi pasca dua-per-tiga film, ketika cinta segitiga antara Surya, Monik, dan Sarah mendominasi plot. Cinta memang perkembangan yang logis bagi ketiganya, terutama Monik yang sejak awal film punya keterarikan afektif dengan Surya. Masalahnya, treatment yang diterapkan Mathias Muchus meruntuhkan narasi filmnya sendiri. Cinta segitiga tersebut dikaitkan dengan proyek pembangunan Monik yang masih belum jelas pangkalnya, tapi sudah membuat geger warga yang akan direnggut tanahnya. Melalui proyek pembangunan tersebut, konflik kelas dan logika survival yang dibangun sejak awal film mengalami puncak perwujudannya. Masalahnya, menjelang puncak tersebut, Surya dan Monik seakan-akan tidak punya motivasi lain selain perasaan mereka sendiri. Padahal, keduanya adalah karakter yang punya pengaruh atas proyek pembangunan perusahaannya. Semua adegan dalam film pun diarahkan pada cinta segitiga mereka, mulai dari celotehan bos Surya tentang proyek Monik, hingga adegan Surya bimbang di hadapan Sarah. Mosaik kehidupan urban yang telah dipetakan dari awal film sekonyong-konyong menjadi catatan kaki dari sebuah konflik sentimental. Pertanyaannya: apakah hajat hidup orang banyak hanya ditentukan oleh jodoh para pemegang mesin produksi? Rasanya tidak.

Klise memang kedengarannya, tapi cinta mengaburkan segalanya. Dalam kasus Rindu Purnama, cinta mengaburkan momentum yang membawa narasi film tersebut. Cinta juga yang menegasikan klaim Mathias Muchus perihal karya pertamanya. Rindu Purnama hanya realistis di dua-per-tiga awal film, saat film berkembang sesuai dengan esensi lanskap geografis yang menopang ceritanya. Sisanya, epik romantis. Apa pun yang romantis adalah idealis, karena sama-sama mengutamakan pandangan ideal tentang kenyataan, sama seperti cinta segitiga yang menyederhanakan relasi kehidupan urban dalam Rindu Purnama. Namun, bukan berarti Mathias Muchus tidak punya bakat dalam penyutradaraan. Dua-per-tiga Rindu Purnama, yang kompleks dan tetap rapi sebagai sebuah narasi, menunjukkan bahwa Muchus punya pengalaman dan pemahaman perihal medium film. Ia berani mengambil resiko dengan menerapkan penceritaan multi-karakter di film pertamanya. Sayangnya ia selesaikan dengan cara yang terlalu sederhana.

Komentar 1

rahayurestika
4 tahun yang lalu

saat menonton kemarin , baru di sepertiga film,  udah ketebak duluan endingnya. hahaha

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.