Benturan Rasa Senang yang Menyenangkan

Resensi › Makbul Mubarak

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Ungu adalah band yang menyajikan musik menawan di dua album pertamanya, namun tak begitu diperhatikan orang. Di album ketiga, Ungu banting stir bikin lagu picisan yang anehnya justru meledak. Sejak itu Ungu menjadi pelopor musik membosankan baik lirik maupun nada, diikuti ratusan band lainnya. Popularitas musik band ini tentu saja menarik produser film untuk menawari mereka mencoba peruntungan di layar perak.

Guntur Soeharjanto - ditopang oleh Monty Tiwa - mengarahkan lima personil Ungu mewujudkan komedi romantis yang digemari fans mereka yang bertaburan dari Sabang sampai Merauke.

Purple Love dibuka oleh lagu hit Ungu dari album keduanya, Karena Dia Kamu, mengiringi Pasha yang dicampakkan oleh kekasihnya, Lisa, dengan alasan klasik “Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik”. Teman kerja sekaligus sahabat karib Pasha, yakni Enda, Rowman, Makki dan Oncy kalang-kabut mencarikan cara agar Pasha bisa segera pulih dari patah hatinya dan kembali bekerja di agensi iklan yang mereka jalankan. Makki mengendus kabar bahwa ada sebuah biro yang mumpuni dalam menawar patah hati. Empat sekawan ini menemui Talita (Nirina Zubir), pemilik biro itu. Talita bersedia, rencana dijalankan.

Dalam Purple Love, sensasi lucu pada adegan komedi muncul dari pelebih-lebihan dialog dan gestur yang dimainkan dengan sepadan. Tugas melebih-lebihkan ini terutama ada di pundak Enda dan Rowman, yang tampaknya memang diplot untuk menghadirkan aura kocak: Enda dengan logat Manado, Rowman dengan kepandiran bernuansa Betawi. Pelebih-lebihan disini tidak berarti bahwa akting yang dibawakan melebihi porsi karakter yang hendak diperankan, sebab karakter yang ingin ditampilkan sejatinya memang adalah karakter yang berlebihan.

Adegan sedu-sedan terutama datang dari tensi hubungan Pasha dan Talita. Tensi yang naik turun ini terjadi sebab Talita ingin menjaga hubungannya dengan Pasha agar tetap berada pada lajur profesional, sementara Pasha yang baru saja pulih dari rundungan patah hati, mendadak mulai menyukai Talita. Pada adegan sedu-sedan, Purple Love dengan halus memelintir kegetiran menjadi banyolan. Adalah Makki yang bertugas menetralkan suasana sedih sebelum Enda dan Rowman kembali memilinnya dengan seloroh. Adegan sedu-sedan yang diubah menjadi tawa adalah gaya yang juga digunakan Monty Tiwa dalam Maaf, Saya Menghamili Istri Anda. Ia kembali menggunakannya dalam Purple Love.

Saya pribadi juga menyenangi dua model hubungan asmara dalam Purple Love. Model hubungan beraroma galau antara Pasha dan Talita, serta model hubungan bergaya ceria antara Oncy dan Shelly (Kirana Larasati). Kesejukannya terletak pada cara pembuat film untuk memperlakukan kedua hubungan ini secara adil. Pasha dan Talita, Oncy dan Shelly, meskipun berpacaran dengan dua gaya berbeda, akan tetapi dua-duanya melibatkan perasaan yang dijelaskan secara gamblang lewat gestur. Lagi-lagi, model komedi yang digunakan pada hubungan Oncy dan Shelly menggunakan metode pelebih-lebihan yang dimainkan dengan sepadan, cocok dengan figur yang mereka perankan.   
Itu yang terjadi pada paruh awal film, bagaimana selanjutnya?

Sungguh sayang, perlakuan pembuat film yang sangat menawan pada kedua hubungan asmara raib ketika memasuki paruh kedua. Pada paruh ini, hubungan Pasha dan Talita digenjot habis-habisan dalam durasi yang saya nilai boros. Banyak adegan di mana film sebenarnya sudah bisa diakhiri tapi ternyata belum, sehingga drama selanjutnya terasa tidak memenuhi kepentingan siapa-siapa dalam cerita. Di sini, lelucon Enda dan Rowman, penawar bijak dari Makki, atau asmara slapstick antara Oncy dan Shelly tak mampu lagi menutup kabut kesenduan yang menguar dari pasangan Pasha dan Talita. Kedua karakter ini mendapat fokus yang berlebihan sementara konflik yang mereka jalani tak lagi memiliki tautan yang kuat dengan motif film yang diperkenalkan di awal. Kalau Anda pernah mendengar istilah ‘Film yang ending-nya kelamaan’, Purple Love adalah film semacam itu.

Secara keseluruhan, Purple Love berusaha menunjukkan bahwa film tidak hanya bisa bicara lewat dialog (dalam beberapa kasus bisa berubah menjadi ceramah), melainkan juga lewat gestur, komposisi gambar, atau bahkan adegan yang tak dimunculkan di layar tapi sudah menjadi inferensi tersendiri bagi pemirsa. Dalam Purple Love, ada adegan dimana Makki bertanya pada Oncy, “Cewek jatahnya Pasha cakep kan, Cy?” Sekilas, dialog ini tampak tak berarti, tapi apabila ditempatkan dalam bingkai film secara keseluruhan, sang dialog ternyata mempunyai makna dahsyat yang mengagumkan: ia menggali rasa bersalah Oncy atas percintaan konyolnya dengan Shelly (yang semula akan dijodohkan dengan Pasha). Ia melacak kejadian-kejadian yang tak dibahasakan melalui visualisasi film, tetapi sudah tergambar di benak penonton. Hasilnya, penonton mau tak mau jadi tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Dalam Purple Love, tak ada pendewaan Ungu sebagai band idola anak baru gede, tak ada pengerukan pesona yang begitu sering dilakukan sineas-sineas di Indonesia pada bintang film mereka, tak ada pesan-pesan bijak nan palsu yang menguar dari mulut si figur publik. Semuanya berlangsung sebagai mereka adalah manusia biasa, pekerja agensi iklan, punya banyolan mereka sendiri, jatuh cinta, dicampakkan, lalu kembali jatuh cinta. Purple Love adalah cerita tentang orang yang ingin membuat orang lain senang, sebab membuat orang lain senang akan menjadi kesenangan baginya.

Terlepas dari tumpah-ruahnya product placement mulai dari obat kumur sampai gula-gula, Purple Love adalah film yang sangat menyenangkan.

Komentar 1

bengbeng
4 tahun yang lalu

Sepertinya film ini hanya mengandalkan nama besar grup band "UNGU" sebagai nilai jual atau komoditi. Bukan sebagai esensi nilai cerita yang bisa menarik bagi penonton.

Di luar sana kita bisa melihat bagaimana Hollywood mampu meramu seorang penyanyi ternama seperti Christina Aguilera dengan Cher sehingga membawa film "Moulin Rouge" menjadi lebih hidup.

Kalau di Indonesia banyak band atau musisi yang bersinggungan dengan dunia film lebih memilih untuk menjual soundtrack lagu via pihak ketiga atau menjual ringtone melalui berbagai provider seluler seperti LangitMusik nya Telkomsel, tanpa mementingkan bagus tidaknya kualitas film itu sendiri.

Tapi kalau gitu, penyanyi atau band tersebut hanya merupakan atribut dong? Gak bisa akting dan cuma numpang jualan lagu atau soundtrack lewat film (itu juga kalau filmnya laris). Kasian penonton kan, udah bayar dan niat mendukung film Indonesia eh malah dicekoki cerita yang setengah ok serta pesan "jualan soundtrack terselubung".

Sekali lagi bukannya saya gak mendukung penyanyi atau musisi atau band sekalipun untuk main film, tapi mbok ya dipilih yang memang bisa akting plus skenario ceritanya juga harus bagus.

Saya yakin banyak musisi kita yang juga punya bakat akting berkelas. Go Indonesia!

Pemberian komentar tidak diakifkan.