Batas: Silang Sengkarut di Beranda Negara

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Banyak tafsir yang bisa kita lontarkan dari judul film terbarunya Rudi Soedjarwo, Batas. Ia bisa dilihat sebagai penjelas lokasi kejadian. Cerita film Batas terjadi di Entikong, sebuah desa di Kalimantan Barat, yang hanya berjarak delapan kilometer saja dari Malaysia. Kata ‘batas’ juga bisa dilihat sebagai batas waktu yang harus dihadapi protagonis cerita, Jaleshwari (Marcella Zalianty). Premis film Batas berkisar seputar riset Jaleshwari ke pedalaman Kalimantan, untuk mencari tahu kenapa program sosial perusahaannya di sana terputus tanpa kejelasan. Dari semua guru yang dikirim ke Entikong, tak ada satupun yang bertahan lama. Jaleshwari punya waktu dua minggu untuk mencari tahu kenapa, sebelum perusahaannya menghentikan pendanaan untuk program sosial tersebut.

Menilik promosi Batas di media-media, film tersebut memang ditujukan untuk mengeksplorasi kata ‘batas’. Situs resminya mendeskripsikan Batas sebagai film yang “memperlihatkan bahwa batas tak hanya bermakna geografis, namun juga psikologis.” Secara sinematik, klaim tersebut terwujud via galeri karakter yang Jaleshwari hadapi seiring berkembangnya cerita. Ada Adeus (Marcell Domits), seorang guru yang frustasi melihat sekolah di Entikong kosong terus. Ada juga seorang tetua desa yang akrab dengan panggilan Panglima Adayak (Piet Pagau). Istrinya adalah Nawara (Jajang C. Noer), dan cucu mereka berdua adalah Borneo (Alifyandra). Ada juga Otik (Otiq Pakis), seorang pemilik warung; Arif (Arifin Putra), seorang penjaga pos perbatasan; dan Ubuh (Ardina Rasti), seorang TKI selundupan yang jadi korban pemerkosaan di area perbatasan.

Para karakter tersebut menjadi titik masuk Jaleshwari ke dalam silang sengkarut di beranda negara Indonesia. Pasalnya, mereka semua terkait dengan isu-isu daerah perbatasan yang dibahas sepanjang film. Konsekuensinya, mereka memegang peranan penting dalam riset Jaleshwari di pedalaman Kalimantan. Pada perkembangannya, riset Jaleshwari memantik satu motif utama dalam film, yakni tabrakan perspektif antara pendatang dari kota dan warga daerah perbatasan. Dalam suatu dialog di film, tabrakan perspektif tersebut dibahasakan sebagai kontradiksi “antara keinginan dan kenyataan”. Jaleshwari ingin menjalankan program pendidikan bagi anak-anak di Entikong. Masalahnya, menurut warga setempat, anak yang berguna adalah anak yang bekerja di ladang. Dengan begitu, keluarga jadi punya bahan makanan, dan hasil panen untuk dijual ke negeri tetangga. Dibandingkan dengan sekolah, ladang jelas adalah investasi yang lebih aman. Dampaknya lebih cepat terasa. Pendidikan masihlah suatu kemewahan tersendiri, yang belum kompatibel dengan kebutuhan sehari-hari warga Entikong.

Tabrakan perspektif di sepanjang film perlahan-lahan membentuk suatu gambaran besar tentang Entikong. Inilah salah satu daerah perbatasan di Indonesia, di mana rumput (negara) tetangga terlihat jauh lebih hijau. Saking hijaunya, seorang guru sampai bilang ke Jaleshwari kalau negara di seberang sana adalah “surga”. Semua orang di Entikong ingin ke sana. Imajinasi populer tersebut yang dieksploitasi oleh Otik. Dengan iming-iming kesejahteraan dalam tempo singkat, Otik dan kroni-kroninya menyelundupkan tenaga kerja perempuan ke negeri jiran. Praktik ilegal Otik kian dipermudah oleh batas negara yang tak tergarap dengan baik. Dalam satu adegan, terlihat kalau Indonesia dan Malaysia hanya terpisah oleh sejumlah pasak berkode angka, tanpa adanya tembok pembatas maupun penjagaan militer.

Melalui tabrakan perspektif, yang terus berkembang seiring berjalannya cerita, Batas mengasumsikan dua pihak yang tidak saling kenal. Pendatang dari kota hanya tahu kalau daerah perbatasan tertinggal secara pembangunan, dan oleh karenanya perlu dibantu. Sebaliknya, warga daerah perbatasan pahamnya kalau pendatang dari kota pasti datang untuk membantu dan membangun. Itulah kenapa Jaleshwari bingung ketika melihat banyak anak di Entikong yang tidak masuk sekolah. Sebaliknya, Jaleshwari langsung dicap warga sekitar sebagai “guru yang akan mengajar di Entikong”, padahal dirinya belum menjelaskan kalau dia datang hanya untuk meneliti. Apa yang terjadi dalam Batas sejatinya adalah jabat tangan antara dua pihak, yang masing-masing terkungkung dalam stereotipnya sendiri, dan mengalami pergulatan batin setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Pada titik ini, dapat dikatakan pencapaian tertinggi Batas adalah pemetaan masalah di daerah perbatasan Indonesia. Semua karakter dalam cerita memperkenalkan penonton terhadap tiga isu besar yang sampai sekarang merudung daerah perbatasan. Melalui karakter warga daerah perbatasan, yakni Adeus, Borneo, dan Nawara, penonton dapat memahami adanya permasalahan kesejahteraan. Mereka adalah orang-orang yang terpinggirkan dalam kerangka besar pembangunan negara. Melalui relasi segitiga antara Otik, Arif, dan Ubuh, penonton dapat melihat adanya permasalahan keamanan negara. Mereka adalah pihak-pihak yang terkait dengan abainya pemerintah mengurusi batas negara. Melalui interaksi Jaleshwari dan Pangeran Adayak, penonton dapat mempelajari isu komunikasi, yang selama ini menghadang program sosial di daerah perbatasan. Pembangunan daerah perbatasan ternyata tak bisa dilepaskan dari pemahaman akan budaya masyarakat setempat, satu hal yang absen dari program-program sosial sebelumnya. Sejauh apa seseorang ingin mengetahui dan mempelajari kenyataan asli daerah perbatasan: itulah yang Panglima Adayak coba sampaikan, dan yang akhirnya Jaleshwari sadari.

Teknik penuturan film Batas juga patut diacungi jempol. Elemen audio dan visual secara taktis dikombinasikan untuk menyampaikan informasi ke penonton. Ada progresi yang jelas dari awal sampai akhir film. Ketika baru mendarat di Kalimantan, Jaleshwari hanya tahu kondisi lokasi risetnya dari laporan perusahaannya dan informasi verbal. Di bagian awal film, ada adegan seorang supir menjelaskan adat masyarakat setempat ke protagonis, kemudian kamera menyorot hutan Kalimantan yang banyak ditebangi. Gambar dan suara tak saling menjelaskan, tapi menunjukkan pemahaman Jaleshwari tentang lokasi sekitarnya. Ia baru sekedar mengetahui, tapi belum melihat langsung.

Semakin cerita berkembang, barulah informasi disampaikan secara visual, dan spesifik di konteks budaya masyarakat Entikong. Satu adegan yang cukup mencolok di awal film adalah adegan Jaleshwari sampai di desa via jalur sungai. Ketika dia turun dari perahu, di saat yang bersamaan seorang tukang pos apung turun dari perahu, dan mengumumkan paket-paket untuk para warga desa. Adegan tersebut terjadi dalam suatu montase, yang berpindah dari wajah protagonis, ke aktivitas tukang pos apung, kembali ke protagonis. Karakter-konteks-karakter: begitulah pola kerja kamera sepanjang Batas. Melalui pola visual tersebut, isu-isu yang dihadapi protagonis, yakni komunikasi dan pembelajaran suatu komunitas, secara efektif terekspresikan.

Permasalahan Batas adalah perkembangan plotnya. Sesungguhnya, dengan galeri karakternya yang beragam dan mewakili tujuan yang jelas, Batas sudah setengah berhasil dalam menyampaikan pesannya. Relasi karakter yang silang sengkarut secara efektif memotret kondisi hidup yang carut marut di kawasan beranda negara. Masalahnya, untuk film berdurasi 115 menit, peta masalah yang Batas sajikan terlalu luas. Ada tiga isu besar yang ingin dialamatkan, tanpa ada kejelasan mana yang ingin ditekankan. Selain itu, perkembangan plot film di paruh kedua film seperti kehilangan orientasi. Permasalahan yang tadinya sosiologis, yang terdefinisikan dalam konteks perkembangan suatu masyarakat di suatu tempat tertentu, mendadak menyempit ke diri protagonis. Film pun bergeser dari masalah suatu komunitas ke isi hati protagonis. Momen-momen sentimentil pun menghiasi cerita, mengabaikan potret sosial yang dibangun dari awal film. Paling terasa ketika film berlama-lama di adegan perpisahan Jaleshwari dan Arif.

Perkembangan plot Batas yang tak fokus dan tak konsisten sungguh disayangkan. Batas jadi tidak jelas ingin mengambil sikap apa: menjadi potret suatu lokasi, pernyataan tentang suatu kondisi, atau pergulatan batin seorang aktivis yang heroik? Padahal film tersebut berpotensi jadi suatu kemasan yang populis untuk membahas isu daerah perbatasan, suatu isu berbelit yang selama ini lazimnya diakses di acara berita dan jurnal-jurnal kemanusiaan. Seperti yang sudah disampaikan di awal tulisan ini, banyak tafsir yang bisa kita lontarkan dari judul film Batas. Dalam sejumlah kasus, multitafsir adalah tanda dari suatu kedalaman. Dalam kasus Batas, multitafsir adalah konsekuensi dari ketidakfokusan.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.