Mencemooh yang Kolot, Menyindir yang Radikal

Resensi › Makbul Mubarak

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Sudah terasa dari judulnya, film ini hendak terbahak pada sesuatu. Judul bengal nan mencolok dipasangkan dengan tagline “Di Negeri Ini Kebenaran dan Kebetulan Tipis Bedanya”. Ternyata, sesuatu yang hendak ditertawai adalah Negeri Indonesia, sama persis dengan yang ditertawai duo pembuat film Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa dalam dua film terdahulu mereka, Identitas dan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Alkisah, Kabupaten Kuncup Mekar sedang menjelang Pemilukada. Spanduk-pamflet-baliho berbau janji bertebaran di segala sudut. Pun dengan calon legislatif yang akan bertarung, Jasmera dan Patiwa. Mereka sudah siap dengan bongkahan mimpi yang ditebar secara massal ke haribaan pendukungnya. Suatu hari, Patiwa tertembak dadanya oleh orang tak dikenal. Patiwa dioperasi dan bisa diselamatkan. Masalah lain mencuat, Patiwa tidak bisa kentut. Sementara menurut dokter, kesehatan Patiwa akan terancam bila ia tidak bisa kentut. Kentut Patiwa menjadi bandul politis yang begitu menentukan peta Pemilukada.

Kentut dibuka dengan bualan makro tentang objek yang tak kalah makro. Belum apa-apa, penonton sudah digasak oleh ceramah panjang, lebar dan membosankan tentang kondisi bangsa Indonesia dan pemimpinnya. Ceramah tersebut menyembur dari congor Jasmera, calon bupati yang sedang getol berkampanye. Jasmera digambarkan sebagai politisi yang anti-kemunafikan. Ia mewakili pandangan radikalisme yang menentang kekolotan dan menganggap masyarakat perlu membongkar moral yang sudah mapan untuk bisa maju bersama.

Rival Jasmera adalah Patiwa, perempuan terdidik yang menyucikan nilai-nilai kesopanan. Patiwa ialah cerminan masyarakat yang terbiasa menanggapi apapun dengan kepala dingin beserta sekulum senyum. Patiwa berencana memaksimalkan sumber daya manusia dan infrastruktur yang sudah ada. Dalam kampanye, Patiwa mengunjungi kandang sapi perah lalu menjelaskan panjang lebar pada wartawan tentang betapa sumber daya bisa begitu menguntungkan bila dioptimalkan.

Di mata Jasmera, Patiwa adalah politisi yang munafik. Di mata Patiwa, Jasmera adalah pengkhayal ulung yang tak pantas digubris.

Dalam menabrakkan dua bualan makro tadi, Kentut berusaha untuk tidak berpihak. Bagian awal film yang didominasi oleh Jasmera tiba-tiba berpindah fokus ke Patiwa. Ketika penonton asyik mencerap (dan menertawai) gelagat politik Patiwa, tiba-tiba Jasmera datang ke depan kamera. Alih-alih sibuk mengambil posisi, penonton hanya akan tertawa-tawa santai saja.

Nuansa teater sangat terasa dalam Kentut terutama dalam penataan latar dan segi pelafalan dialog. Aria Kusumadewa membuat kerumunan luar-ruang menjadi seperti panggung teater yang besar dengan koreografi yang saling berkelindan. Kentut banyak memeragakan kerumunan orang ramai dengan gaya kasar yang terkelola. Suara bertumpuk-tumpuk, orang semrawut dengan celotehan acak, lalu kamera akan berlarian naik-turun di antara kerumunan kacau tersebut.

Dalam segi dialog, bualan panjang lebar Patiwa dan Jasmera persis seperti naskah teater yang dilafalkan. Bualan tersebut panjang, penuh khotbah, dan mengambil sudut pandang pengamat alias orang ketiga. Tak ada kiasan tersirat, semua dialog yang keluar dari dua karakter utama ini mengandung makna denotatif nan blak-blakan.

Jasmera dan Patiwa yang figur publik dibuat kontras dengan dialog mereka yang kontras. Taktik ini berfungsi mengajak penonton untuk menertawai kondisi faktual dari lakon figur publik yang diperankan yakni para calon legislatif. Lewat kontras Jasmera dan Patiwa dengan dialog mereka, kita bisa menertawai para caleg dengan bualan-bualan mereka. Kentut menjadi jenaka sebab dua karakter utama tampak berlomba-lomba mencemooh diri sendiri.

Kentut juga terang-terangan menyinggung engsel persendian antara kelompok agama dan poros politik negara. Sebagai calon legislatif yang cinta damai, Patiwa menjadi idola kaum agamawan. Berbagai macam umat datang mendoakan Patiwa di pelataran rumah sakit agar supaya beliau bisa segera kentut.


***

Sejatinya, Kentut mengandung muatan ideologis dan pencapaian teknik yang kaya. Film ini mengambil posisi yang jelas yakni sebagai pihak yang tak lagi punya pilihan selain menertawai negerinya. Persis sama dengan pernyataan dalam Identitas dan Alangkah Lucunya Negeri Ini. Ketiga film sama-sama mencibir pada pelaksanaan politik di negara kita. Perbedaan mungkin hanya terdapat pada fokus objek cibiran. Identitas, mencibir tata birokrasi, Alangkah Lucunya Negeri Ini mencebik mental politik masyarakat, dan Kentut mengolok-olok kebiasaan para (calon) pemimpin.  

Pada tataran teknis, Kentut memeragakan penggunaan kamera yang gesit nan genit meskipun tak diimbangi dengan tata artistik yang sepadan. Pada adegan debat televisi, kondisi ruangan tampak amburadul jauh dari kondisi studio televisi sebagaimana lumrahnya. Alih-alih bak ruangan calon bupati, ruang kerja Jasmera tampak lebih menyerupai Rumah sederhana tipe 36 yang belum rampung pengecatannya.

Demikian pula cerita yang tidak fokus dan melompat-lompat membuat film ini tak terlalu berkesan. Semua karakternya jago ceramah tak peduli ia juru kampanye, kepala rumah sakit, satpam, tukang reparasi, atau penjaja asongan. Ketika semua karakter sibuk ceramah, penonton jadi tak termotivasi untuk menunggu cerita selanjutnya. Semuanya sudah bisa ditebak, setelah ceramah satu oleh Jasmera, akan ada ceramah dua oleh juru kampanye, setelah itu akan ada ceramah tiga oleh satpam, dan seterusnya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.