Serdadu Gigih dan Tuhan Dalam Seragam

Resensi › Makbul Mubarak

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Nun di Pulau Sumbawa, ada sebuah desa yang terhampar di leher bukit. Desa Mantar namanya. Di desa ini, sinyal telepon genggam hanya ada di pucuk-pucuk pepohonan, gambar di televisi hanya muncul bila antenanya di digerak-gerakkan. Di desa inilah Amek dan ibunya tinggal. Sehari-hari, Amek bersekolah bersama dua kawan karibnya, Acan dan Umbe.

Nasib Amek kurang beruntung, ia terlahir dengan celah bibir sehingga jadi ragu bercita-cita. Ayahnya pergi bekerja ke negeri jiran dan tak pernah mengirimkan barang satu dua ringgit. Amek tumbuh dengan penderitaan ganda oleh karena kemiskinan kolektif yang dirasakannya bersama penduduk sekampung, dan derita personal yang bergelantung di pelepah bibirnya setiap waktu. Mantar dan Amek adalah bahan baku dalam film Serdadu Kumbang, karya kelima dari Alenia Pictures besutan suami istri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen.

Amek adalah siswa sekolah dasar yang tahun lalu tak lulus ujian. Banyak kemungkinan yang bisa jadi penyebabnya. Bisa karena fasilitas pendidikan yang kurang, bisa karena gaya didik Pak Alim yang terkenal galak, bisa juga karena faktor psikologis Amek yang selalu rindu pada ayahnya.  Yang jelas, target utama Amek saat ini adalah: Jangan sampai ia tak lulus lagi tahun depan.

Sutradara Ari Sihasale memulai potret Mantar dan Amek lewat harmoni yang mendayu-dayu. Kamera memasuki desa ketika matahari sudah mengerjap di ujung senja. Lewat nyanyian syahdu, penonton lalu disambut dengan dongeng tentang Gunung Tambora oleh Papin, seorang sesepuh desa. Selanjutnya, Serdadu Kumbang berfokus pada Amek, Acan dan Umbe serta interaksi mereka dengan tokoh-tokoh di dalam cerita.

Pertama sekali, Serdadu Kumbang mengangkat wajah dekil pendidikan di negeri ini. Sekolah mendidik dengan kekerasan yang berujung pada banyaknya murid yang tidak lulus. Fasilitas pendidikan yang balau bercampur aduk dengan keadaan ekonomi masyarakat yang semrawut. Serdadu Kumbang terbilang sangat fokus dalam pembukaannya, ia tak menoleh pada hal lain selain kumuhnya pendidikan.

Plot berkembang seiring datangnya Zakaria, ayah Amek yang baru pulang dari Malaysia. Di sini Serdadu Kumbang menambahkan perisa satir ke dalam adonan ceritanya. Dengan penampilan mentereng,  Zakaria memasuki kampung sebagai pahlawan pulang kandang, masyarakat menatapnya penuh kekaguman. Lalu secara mendadak, Serdadu Kumbang memiting Zakaria hingga serentak menjadi pesakitan. Penampilan menterengnya ternyata hanya sesumbar belaka.

Di tengah mara bencana yang menimpa Amek sekeluarga, datanglah Pak Ketut, seorang pegawai PT. Newmont Nusa Tenggara (yang tentu saja adalah sponsor tunggal Serdadu Kumbang). Dengan seragam perusahaannya, Pak Ketut datang memberi harapan. Dengan kendaraan dinasnya, Pak Ketut mengantar Amek menghirup bau dunia. Dengan kamera terbarunya, Pak Ketut mengabadikan memori Desa Mantar. Kelak, Pak Ketut juga akan menyembuhkan celah bibir Amek. Pokoknya, Pak Ketut adalah sosok tuhan dalam seragam.

Dari segi plot, Serdadu Kumbang memiliki kadar kemiripan yang tinggi dengan Laskar Pelangi. Hal ini terlihat pada tripartit tokoh utama Amek-Acan-Umbe yang menyerupai Ikal-Lintang-Mahar, karakter Guru Imbok yang tindak-tanduknya menyerupai Ibu Muslimah, Pak Ketut yang perilakunya begitu mengingatkan pada Pak Mahmud, Papin yang mengemban tugas sama persis dengan Pak Harfan, serta tentu saja dukun sakti dalam Serdadu Kumbang yang diparodikan dengan cara yang hampir sama dengan tokoh Tuk Bayantula dalam Laskar Pelangi.

Namun Serdadu Kumbang berbeda 180 derajat dalam hal pernyataan ideologis. Bila Laskar Pelangi menawarkan penyederhanaan mimpi dengan premis “Bermimpilah, maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita”, maka Serdadu Kumbang cenderung hati-hati dalam menanggapi mimpi kanak-kanak. “Berusaha saja belum tentu dapat, apalagi hanya dengan bermimpi”, begitu kira-kira ujar film ini.

Itulah kenapa Serdadu Kumbang tampak lebih bermain dengan harapan penonton ketimbang bermain dengan emosi. Setiap naik turun tensi cerita akan menyebabkan timbul tenggelamnya harapan penonton. Kita dibuat berharap, lalu kemudian putus asa seiring Amek yang berkecil hati. Kita dibuat patah arang, lalu kemudian punya harapan seiring Amek menemukan titik terang. Satu-satunya faktor yang mendesak emosi penonton adalah fenomena kecil yang bergelantung di bibir Amek. Lain tidak.

Serdadu Kumbang menggiring karakternya sampai pada titik dimana segala harapan menjadi musykil. Semua pengorbanan ternyata tak bisa membayar apa-apa,  perkembangan kecil tak sebanding dengan kehilangan yang menimpa. Pada titik ini, kecermatan Serdadu Kumbang menjadi aktual dan sempurna sebab ia menyediakan matematika cita-cita yang masuk akal, film ini menjelma menjadi film edukasi yang kritis dan aktual baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Sayang sungguh disayang, kecermatan bulat sempurna itu dihancurkan dengan mendatangkan kembali si Tuhan Berseragam. Sang Tuhan datang dengan kapak, merubuhkan tembok-tembok realitas dalam kehidupan Amek dan menggendongnya naik ke alam penyederhanaan cita-cita yang bahkan lebih sembrono dibanding Laskar Pelangi. Semua keluhan Amek disembuhkan secara ajaib lewat Pak Ketut. Perhitungan visi yang semula tangkas tiba-tiba rubuh dalam sekejap oleh kepahlawanan semu sang Tuhan Berseragam.

Serdadu Kumbang akhirnya bunuh diri akibat membiarkan sponsornya masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan karakter.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.