Romansa Stagnan di Zaman Serba Instan

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Seperti ada koneksi tersendiri antara Titien Wattimena dengan nama Milli dan Nathan. Ia sudah dua kali menggunakan kedua nama tersebut dalam naskah filmnya. Pertama kalinya dalam Planet Gajah, segmen keempat dalam film omnibus Belkibolang. Dalam film pendek yang disutradarai oleh Rico Marpaung tersebut, Milli dan Nathan merupakan sepasang kekasih muda-mudi modis nan borjuis. Sepanjang cerita—mereka lari ke sana ke mari tanpa menghiraukan lingkungan sekitar—hanya untuk menghabiskan malam terakhir di Jakarta. Konstruksi karakter serupa kembali Titien angkat dalam Milli & Nathan, sebuah film panjang yang disutradarai oleh Hanny Saputra. Bedanya, Milli dan Nathan kali ini tidak menghiraukan lingkungan sekitarnya saja, tapi juga kedewasaan mereka. Akibatnya, tidak seperti di film pendek yang hanya menghabiskan satu malam bersama, mereka menghabiskan 89 menit durasi film hanya untuk main tarik-ulur hubungan.

Romansa Milli dan Nathan bermula di sebuah SMA di Bandung. Milli sering mencontek pekerjaan rumah Nathan, dan memintanya untuk belajar bersama di rumahnya. Di suatu sesi belajar bersama, mereka jadian. Ketika akhirnya lulus, mereka pisah jalan. Milli menetap di Bandung, karena ia tidak ingin kuliah dan berniat merintis karir sebagai penulis. Keinginan Milli tersebut, walau dengan berat hati, diamini oleh keluarganya. Sebaliknya, Nathan sangat ingin kuliah, suatu keinginan yang terwujud ketika ia diterima masuk suatu universitas di Jakarta. Saking seriusnya Nathan dengan studinya, ia memutuskan hubungan dengan Milli, supaya dapat konsentrasi belajar dan lulus cepat. Hubungan keduanya berlangsung sampai mereka dewasa, sampai mereka sukses di bidangnya masing-masing. Milli merilis dua novel laris, sementara Nathan lulus dalam waktu yang ia inginkan. Menjadi lulusan terbaik pula. Selama menempuh jalan untuk mewujudkan mimpinya masing-masing, keduanya beberapa kali reuni. Dalam beberapa kesempatan tersebut, Milli mengajak Nathan balikan, tapi Nathan terus menolak. Alasannya sama: ingin konsentrasi kuliah.

Lokasi

Milli & Nathan adalah jenis film yang tidak terikat dengan lokasi. Memang ceritanya berlokasi di Bandung dan Jakarta, yang terjelaskan dalam dialog sejumlah karakter. Saking dekatnya sutradara membingkai kedua protagonis sepanjang film, penonton tidak akan sadar mereka sebenarnya sedang berada di mana. Mayoritas film didominasi oleh close-up wajah Milli, Nathan, dan wajah keduanya saat bersama. Sisanya adalah medium shot kedua protagonis dengan teman-teman sejawatnya, serta beberapa crane shot yang menampilkan lanskap tempat Milli dan Nathan menghabiskan waktu bersama. Beberapa tempat tersebut adalah sekolah mereka dan sebuah gereja, yang keduanya tak bernama dan tak punya papan nama. Singkat kata, Bandung dan Jakarta menjadi tempelan belaka, yang hampir tidak berpengaruh ke cerita. Kedua kota tersebut hanya menjadi alasan bagi bahasa pergaulan yang dipakai seluruh karakter dalam film. Kedua kota tersebut juga hanya menjadi alasan verbal, yang menjelaskan kalau Milli dan Nathan menjalani hubungan jarak jauh tanpa status pacaran.

Prioritas pembuat film Milli & Nathan jelas bukan mengangkat kedua lokasi ceritanya. Film tersebut lebih berniat mengekspos keintiman kedua protagonis, suatu niatan yang sekiranya tercapai, melihat dominasi close-up wajah Milli dan Nathan dalam film. Masalahnya, keabaian film terhadap konteks ruang menjadi titik berangkat keabaian film terhadap logika internal ceritanya. Apabila memang cerita Milli & Nathan terjadi di Bandung dan Jakarta, dua kota besar di Indonesia yang persaingan hidupnya ketat, Milli tidak akan semudah itu menjadi penulis tingkat nasional dalam waktu singkat.

Sebelum Milli mengutarakan niatnya menjadi penulis, tidak ada adegan yang menjelaskan kalau dia hobi menulis, atau setidaknya melakukan kegiatan menulis. Tidak ada juga adegan yang menunjukkan kedekatan dia dengan pihak penerbitan. Dari apa yang ditunjukkan dalam film, pengalaman menulis Milli baru sebatas menulis sejumlah sajak pendek, yang dikirim ke Nathan via Blackberry Messenger. Selang beberapa adegan, Milli tiba-tiba mempresentasikan novel pertamanya, yang dirilis dalam sebuah acara mewah yang dihadiri banyak orang. Adegan berikutnya: berita soal Milli dan novel debutnya masuk halaman depan sebuah koran nasional, menjadi tajuk utama pula. Aneh. Zaman sekarang segalanya memang serba instan, namun apa yang Milli capai terlalu instan.

Anehnya lagi, kesuksesan Milli dibarengi dengan absensi keluarganya dalam cerita. Keluarga Milli beranggotakan enam orang: seorang bapak, seorang ibu, seorang kakak perempuan, dua kakak laki-laki, dan Milli sendiri. Semuanya ditampilkan di bagian pembuka film, ketika mereka menjalani rutinitas pagi di rumah. Keputusan Milli untuk tidak kuliah dan menjadi penulis adalah keputusan yang penuh risiko, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam film. Logisnya, kesuksesan Milli akan diapresiasi keluarganya, yang paling banyak berkorban ketika mengamini dan mendukung keputusan Milli. Namun, mulai dari kesuksesan novel pertamanya hingga peluncuran novel keduanya, tidak tampak satu pun dari anggota keluarga Milli dalam film. Mendadak semuanya menghilang tanpa sebab, dan baru muncul lagi di akhir film. Absensi tersebut menjadi tanda tanya tersendiri, baik bagi ikatan keluarga Milli, maupun bagi penggarapan logika dunia cerita Milli & Nathan oleh para pembuat filmnya. Ingat, Milli adalah seorang penulis tanpa gelar sarjana, yang sukses secara instan di sebuah kota besar di Indonesia, di mana persaingan hidup begitu ketat.

Stagnan

Keabaian Milli & Nathan berpuncak pada konflik utama ceritanya, yakni tarik-ulur hubungan antara kedua protagonis. Tidak seperti kesuksesan Milli yang begitu instan, relasi kedua protagonis sepanjang film stagnan. Keduanya berteman dekat sejak SMA hingga dewasa, namun tidak ada perkembangan yang berarti dalam karakter keduanya. Apa yang muncul dalam film adalah sepasang protagonis yang kian dewasa, tapi masih terjebak dalam pola pikir SMA. Apabila nilai suatu karakter didefinisikan dari keputusan yang mereka ambil, maka apa yang mereka lakukan dalam cerita sungguh mencerminkan stagnasi keduanya. Mereka hanya bolak-balik bertemu, mesra-mesraan, dan kemudian terjebak dalam pertanyaan soal status. Begitu terus sepanjang film. Kekhawatiran mereka pun turut diterjemahkan dalam terminologi yang sama: “jadian”. Logisnya, semakin mereka dewasa, semakin berkembang pola interaksi mereka, dan semakin variatif juga bahasa tutur mereka. Sebagai seorang penulis, Milli tidak mencerminkan adanya perkembangan dalam bahasa tuturnya, baik sebelum maupun sesudah ia merilis novel-novelnya.

Apa yang disajikan dalam film Milli & Nathan memang manis. Pemeran kedua protagonisnya, Olivia Lubis Jensen dan Chris Laurent, terhitung punya wajah yang manis, yang beberapa kali menghiasi sinetron di televisi. Cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena juga manis, sebuah kisah sederhana tentang sepasang kekasih yang tak ingin berpisah. Begitu juga dengan sang sutradara, Hanny Saputra, yang tahu bagaimana caranya membingkai kedua protagonis dalam visual yang cantik.

Masalahnya, di balik lapisan gula yang Milli & Nathan tawarkan, ada keteracakan logika yang mengancam kredibilitas cerita. Semuanya serba tempelan, mulai dari konteks tempat yang melingkupi cerita, hingga status protagonis sebagai seorang penulis. Satu-satunya yang konstan dari awal sampai akhir film adalah tarik-ulur hubungan kedua protagonis, yang disajikan semanis mungkin oleh para pembuat Milli & Nathan. Manis pun hanya sedalam permukaan luar saja, tanpa ada kontribusi yang berarti bagi film, kecuali sebagai kosmetik untuk mata.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.