Era Baru, Generasi Baru, Kemasan Lama

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (7/10)

Dua minggu sebelum tanggal rilisnya di bioskop, yakni 1 Juli 2011, Catatan Harian Si Boy sudah menjadi perbincangan tersendiri di jagat internet. Di Twitter, ada akun @catatan_si_boy yang berinteraksi dengan yang belum maupun yang sudah menonton filmnya di sejumlah pemutaran khusus. Sebagai sebuah metode promosi, akun Twitter tersebut tidak saja sukses mempromosikan film yang disutradarai Putrama Tuta tersebut, tapi juga menjembatani jeda dua puluh tahun antara Catatan Si Boy V dan Catatan Harian Si Boy. Melalui akun Twitter tersebut, Catatan Harian Si Boy menghadirkan sebuah pengalaman berinteraksi langsung dengan Boy, tokoh idola generasi 80-an silam. Kesannya, Boy seperti kembali lagi di antara generasi sekarang.

Catatan Harian Si Boy bukanlah sekuel dari kelima film Boy sebelumnya. Film tersebut merupakan sebuah regenerasi, sebuah update, dari cerita-cerita Boy terdahulu. Oleh karena itu, membahas Catatan Harian Si Boy tidak bisa tidak melibatkan pembahasan soal rentang generasi. Pasalnya, Boy pernah besar pada zamannya dulu. Dari kelima film Boy yang semuanya disutradarai Nasri Cheppy tersebut, muncul sejumlah ikon yang masih diingat sampai sekarang oleh banyak penonton Indonesia. Sebut saja asosiasi Onky Alexander dengan figur Boy, yang ia perankan dalam kelima film Catatan Si Boy. Ada juga mobil BMW dengan sajadah di bagian belakang jok, yang seringkali muncul dalam kisah si Boy. Muatan sejarah itulah yang mau tak mau akan selalu mengiringi Catatan Harian Si Boy. Oleh karenanya, membahas Catatan Harian Si Boy perlu menengok bolak-balik antara dua masa yang berbeda. Dari situ, dapat dipetakan perbedaan konteks antara Boy di zaman dulu dan sekarang.

Boy Dulu

Boy adalah fokus utama cerita kelima film Catatan Si Boy, dari tahun 1987 sampai tahun 1991. Dia menjalani hidup jetset, ketemu perempuan cantik sana-sini, shalat tepat waktu, dan rajin menulis catatan harian. Di sekitar Boy, ada sejumlah karakter lainnya, seperti Emon (Didi Petet) dan Kendi (Dede Yusuf). Selain itu, tentu saja ada sejumlah karakter perempuan cantik, seperti Nuke (Ayu Azhari), Vera (Meriam Bellina), Priska (Venna Melinda), dan Cindy (Paramitha Rusady). Namun, Boy tetaplah yang paling mencuat, karena ia memegang kendali tunggal atas cerita. Karakter-karakter lain tidak terlalu terhubung dengan masalah yang Boy hadapi, sehingga kesannya mereka hanya menjadi catatan kaki bagi kisah petualangan Boy. Dalam beberapa kesempatan, karakter Emon malah diadakan hanya untuk melucu. Permasalahan serta penyelesaiannya secara umum Boy yang memegang kontrol.

Dalam kelima film Boy, konflik ceritanya tidak pernah jauh-jauh dari perempuan. Di film pertama, Boy berhadapan dengan cinta yang terhalang larangan orang tua. Di film-film selanjutnya, Boy berurusan dengan cinta tak berbalas, dilema antara dua perempuan, dan rasa cemburu salah satu penggemar perempuannya. Melihat hasil penjualan tiket bioskop kelima film Boy, penonton Indonesia waktu itu sepertinya tersihir dengan petualangan cinta Boy. Menurut data Perfin, Catatan Si Boy (1987) merupakan film terlaris ketiga di Jakarta, dengan 313.516 penonton. Prestasi tersebut dilampaui oleh Catatan Si Boy II (1988) dengan 475.201 penonton. Sementara itu, Catatan Si Boy IV (1990) dan V (1991) masuk lima besar film terlaris di ibukota, masing-masing dengan 335.125 dan 254.009 penonton. 

Larisnya film-film Si Boy bisa menjadi petunjuk perihal konteks sosial-politik pada zamannya. Menurut pemikiran David Bordwell dalam Poetics of Cinema, penjualan tiket bioskop dapat mencerminkan ideologi massa. Suatu jenis hiburan bisa laris, dalam kasus ini film pop, karena kontennya cocok dengan imajinasi yang ada dalam benak para penonton. Dalam kasus Indonesia, ideologi massa tersebut bisa dipahami sebagai ideologi yang dirumuskan oleh pemerintah. Kelima film Si Boy dirilis saat Orde Baru, suatu masa di mana pencitraan masyarakat begitu penting dan dijaga oleh pemerintah. Proses pencitraan tersebut sering berujung pada kontrol pemerintah atas film, lagu, dan buku yang beredar di masyarakat. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, terutama saat Orde Baru, kalau sinema Indonesia tidak pernah jauh-jauh dari gunting sensor?

Catatan Krishna Sen dalam Indonesian Cinema: di zaman Orde Baru, penggunaan istilah kontradiksi kelas cenderung dihindari. Istilah tersebut banyak beredar dalam diskusi-diskusi politik pra-1965, tapi selama Orde Baru diganti dengan istilah yang lebih netral: perbedaan sosial. Absensi pembahasan keberagaman kelas tersebut yang turut menjalar ke dalam sinema Indonesia tahun 70-an dan 80-an. Sedikit sekali film Indonesia di zaman itu yang ceritanya melibatkan keberagaman kelas dalam masyarakat. Menurut Sen, satu dari sedikit film Indonesia yang sadar kelas adalah Yang Muda Yang Bercinta. Film karya Sjuman Djaya tahun 1977 tersebut secara eksplisit membandingkan kaum papa, yang dilakoni oleh protagonis, dengan kaum berpunya, yang diwakili oleh lingkaran pertemanannya protagonis. Film itu saja baru bisa dirilis setelah digunting badan sensor. Bagian yang dihapus adalah salah satu dialog protagonis, “Aku sedang menyerang sebuah gejala. Aku sedang menyerang sebuah kelas!”

Film-film Catatan Si Boy berada di kelompok arus utama, yang berseberangan dari kelompok Yang Muda Yang Bercinta. Film-film kelompok arus utama tersebut cenderung mengerucutkan masyarakat dalam satu kelas saja: kelas menengah. Konsekuensinya, tindak-tanduk karakter dalam cerita didefinisikan oleh kegiatan konsumsinya. Kekhawatiran duniawi lainnya, seperti mencari nafkah untuk bertahan hidup, cenderung dinafikan. Sederhananya, mereka sudah khatam soal isi perut. Mereka pun bebas melakukan apa yang mereka lakukan sesuai dengan keinginan hati mereka. Oleh karena itu, bisa dikatakan kalau konflik yang dihadapi Boy sejatinya adalah konflik moral. Semua film Catatan Si Boy disetir oleh konflik Boy dengan para perempuan dalam hidupnya, mulai dari penolakan, hubungan yang dilarang orang tua, hingga selingkuh. Kemasannya saja yang mahal, mulai dari mobil mewah, perempuan cantik, hingga gaya hidup Boy yang jetset. Belum lagi, simbol-simbol budaya pop zaman itu yang turut menghiasi filmnya. Salah satunya adalah Gombloh yang membawakan tembang populernya.

Kemasan Catatan Si Boy tersebut yang kemudian menjadi sensasi saat filmnya dirilis. Dalam pembacaan yang lebih luas, kemasan film tersebut sejalan dengan imajinasi populer masyarakat Indonesia waktu itu. Indonesia bukanlah negara yang mapan, sampai sekarang juga belum, sehingga apa yang biasa muncul di layar bioskop seringnya tidak sesuai dengan yang ada di kenyataan. Catatan Si Boy mengimajinasikan suatu kondisi, di mana segala perbedaan kelas sudah tak lagi menjadi masalah. Tak ada lagi masalah-masalah sosial, yang skalanya besar di level masyarakat, seperti kemiskinan dan konflik ideologi. Masalah yang tersisa adalah masalah-masalah personal, seperti mencari pasangan dan cinta tak berbalas. Sebagai sebuah figur, Boy menyimbolkan suatu kehidupan yang lebih sederhana, suatu kehidupan yang tak lagi dipusingkan oleh urusan bertahan hidup. Ia adalah sebuah mimpi, yang menubuhkan segala yang ideal pada zamannya. Atas dasar tersebut, Boy bisa menjadi ikon untuk zamannya.

Boy Sekarang

Ketika kisahnya dilanjutkan di tahun 2011 lewat Catatan Harian Si Boy, Boy tak lagi menjadi fokus utama cerita. Boy muncul kembali hanya sebagai pemantik konflik cerita. Itu juga secara tidak langsung. Di awal film, ada Natasha (Carissa Puteri) yang baru saja kembali ke Jakarta dari London. Di tangannya ada buku catatan harian milik Boy, yang ia peroleh dari Nuke, ibunya yang sedang sakit keras. Dalam bahasa Indonesia campur Inggris, Natasha menjelaskan ke pacarnya, Nico (Paul Foster), kalau ia ingin mempertemukan pemiik buku harian tersebut dengan ibunya.  Sayangnya, langkah pertama Natasha berujung tidak enak. Ketika dalam perjalanan dari bandara ke rumah, mobil Nico direbut paksa oleh sejumlah preman, yang aslinya merupakan suruhan seorang taipan. Usut punya usut, Nico berhutang dalam jumlah besar kepada taipan tersebut.

Kejadian tersebut mempertemukan Natasha, dan penonton, kepada sekelompok karakter utama Catatan Harian Si Boy. Mereka adalah sekelompok anak muda, yang hidup sehari-harinya ditunjang oleh reparasi mobil-mobil mewah di bengkel, dan balapan liar di jalan pada malam hari. Pemilik bengkel adalah Nina (Poppy Sovia), dan krunya adalah Satrio (Ario Bayu), Herry (Albert Halim), dan Andi (Abimana). Lewat sejumlah cara, Satrio sukses meyakinkan Natasha untuk mengantarkannya pulang. Dari sini, cerita pun berkembang menjadi pencarian Boy yang dilakoni oleh Satrio dan Natasha. Di sisi lain, teman-teman Satrio di bengkel kelimpungan menanggung akibat dari perbuatan Satrio. Bengkel tempat kerjanya diporak-porandakan oleh preman-preman suruhan Nico, yang cemburu melihat Satrio dekat dengan Natasha.

Bagusnya, Putrama Tuta dan tim produksinya tidak berusaha mereplika karakter Boy dalam Catatan Harian Si Boy. Boy dibiarkan pada posisinya sebagai sebuah mitos, sementara film mengikuti lika-liku protagonis ceritanya, Satrio. Walau karakter-karakter di sekitarnya menyiratkan hal tersebut, Satrio tidak bisa semata-mata diihat sebagai Boy versi zaman sekarang. Herry sekilas terlihat seperti Emon, terutama dari lagak anak manjanya, yang menjadi komedi tersendiri dalam film. Sementara Andi mirip dengan Kendi, yang sama-sama menjadi kompatriot protagonis dalam segala masalah. Namun, tidak seperti Boy, Satrio tidak memegang kendali tunggal atas cerita. Karisma Satrio boleh saja sama dengan Boy, mengingat dia bisa dengan mudah meyakinkan Natasha untuk pulang bersamanya, padahal baru bertemu dan kenalan. Bedanya dengan Boy, Satrio terikat oleh kelompok teman-teman bengkelnya. Penyelesaian masalah pun tidak bergantung pada Satrio seorang, tapi pada kelompoknya.

Dari pola penyelesaian masalahnya yang berkelompok, Catatan Harian Si Boy secara efektif mengangkat konteks zamannya. Inilah generasi baru yang dihadapi Boy sekarang: generasi muda yang terus-menerus terhubung satu sama lain lewat teknologi digital. Ada satu shot di pertengahan awal film yang secara eksplisit menggambarkan hal tersebut. Seolah-olah berada dalam monitor komputer, kamera menyorot Herry yang sedang mengetik kata kunci untuk mencari informasi, lengkap dengan tulisan Google terbalik yang menghiasi layar. Inilah generasi yang bergantung pada teknologi digital untuk berhubungan dengan lingkungannya, yang termasuk juga lingkaran pertemanannya. Ikatan pada teknologi tersebut kentara ketika sekuens adegan bengkel diserang. Herry berusaha menelpon teman-temannya untuk meminta bantuan. Ujungnya sia-sia, karena tidak ada yang menjawab panggilan Herry.

Berdiri pada dirinya sendiri, masing-masing karakter utama dalam Catatan Harian Si Boy tidaklah komplet. Mereka butuh satu sama lain. Konsekuensinya, semua karakter jadi punya porsinya sendiri-sendiri dalam penyelesaian masalah. Atas dasar ini, Catatan Harian Si Boy sejatinya merupakan cerita tentang ikatan persahabatan. Hal ini jelas berbeda dengan lima film Catatan Si Boy, yang konflik ceritanya tidak jauh-jauh dari Boy dan para perempuan di sekelilingnya. Apabila konflik dipahami sebagai ketidakseimbangan yang dilalui protagonis, maka perwujudannya dalam film adalah terbelahnya ikatan Satrio antara Natasha dan teman-teman bengkelnya. Ikatan kelompok tersebut yang coba kembali dieratkan sepanjang cerita film. Dalam kasus ini, Boy praktis hanyalah sebuah distraksi, sekaligus warisan dari generasi sebelumnya, yang sialnya memantik masalah bagi Satrio dan teman-temannya.

Masalah besar tersebut tidak saja dimaknai sebagai rusaknya ikatan Satrio dan teman-temannya. Dalam satu kesempatan, Catatan Harian Si Boy mengembangkan masalah tersebut menjadi suatu kritik tersendiri bagi generasi terdahulu. Ketika Satrio dan Nina berbincang tentang orang tua mereka, Satrio bercerita kalau bapaknya seorang koruptor. Korupsi tersebut yang membuat Satrio keluar dari rumah, dan akhirnya memilih membangun hidupnya sendiri. Dari sini Catatan Harian Si Boy mengambil posisi yang jelas terhadap generasi pendahulunya. Ada suatu keterputusan antargenerasi, yang membuat generasi sekarang hanya mempercayai sesamanya saja dalam menyelesaikan masalahnya, termasuk masalah turunan dari generasi sebelumnya. Hal tersebut kian kentara apabila melihat kembali Catatan Harian Si Boy secara keseluruhan. Tidak ada figur orangtua yang mempengaruhi pengambian keputusan karakter-karakter dalam cerita. Bahkan ketika akhirnya Satrio bertemu lagi dengan bapaknya, mereka hanya berpelukan untuk berdamai. Inisiatif penyelesaian masalah tetap ada di tangan Satrio dan teman-temannya.

Sayangnya, kritik yang dilontarkan Catatan Harian Si Boy tidak berdasar. Film tersebut tetap memakai kemasan yang sebelumnya dipakai oleh film-film pendahulunya. Dunia yang ada dalam Catatan Harian Si Boy sesungguhnya sangat steril dari kontradiksi kelas. Sepanjang film, apa yang penonton lihat adalah sekelompok anak muda kelas menengah, yang sudah selesai dengan urusan perut mereka masing-masing. Mereka berada di posisi di mana mereka bebas melakukan apa yang mereka mau. Bahkan ketika bengkel mereka porak-poranda oleh preman bayaran Nico, Satrio dan kawan-kawan dapat membangunnya kembali, dalam jeda beberapa adegan saja. Sepanjang 99 menit durasi Catatan Harian Si Boy, tidak ada rujukan perihal kelas sosial lainnya dalam dunia cerita film. Saking bersihnya dunia cerita Catatan Harian Si Boy dari masalah sosial, seperti kemiskinan dan konflik ideologi, sehingga karakter-karakternya hanya dipusingkan oleh masalah personalnya saja. Persis seperti kelima film si Boy sebelumnya.

Pada akhirnya, sama seperti film-film pendahulunya, Catatan Harian Si Boy turut menjual mimpi. Bedanya, mimpi tersebut bukan lagi milik seorang seideal Boy saja, tapi sebuah mimpi yang bisa diusahakan bersama. Apa yang Putrama Tuta dan segenap tim produksinya capai sekiranya pantas diacungi jempol. Bukanlah perkara mudah melanjutkan kembali sebuah kisah, yang melibatkan karakter seikonik Boy. Apalagi Catatan Harian Si Boy adalah pertama kalinya Putrama Tuta duduk di kursi sutradara. Dalam debutnya tersebut, dia sukses menghadirkan suatu karya yang tepat pada zamannya, tepat juga dengan generasi yang menontonnya. Lebih penting lagi, Tuta sukses menghasilkan suatu karya yang orisinil, yang kualitasnya bisa bersaing dengan kelima film pendahulunya. Catatan Harian Si Boy sekiranya adalah kontribusi yang positif bagi legacy Boy.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.