Ketika Inspirasi Hanya Sebatas Air Mata

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Surat Kecil untuk Tuhan dibuka oleh pertanyaan protagonis cerita, Keke, tentang bagaimana dia akan dikenang. Melalui sejumlah sekuens adegan rutinitas di sekolah, Keke bercerita tentang kesukaannya terhadap sejarah. Dengan belajar sejarah, ia dapat mengenal sejumlah figur yang ia anggap inspiratif. Sebut saja Aristoteles, Albert Einstein, serta duo pendiri Google: Sergey Brin dan Larry Page. Menurut Keke, setelah Nabi Muhammad, mereka pantas menjadi panutan dalam hidup. Mereka telah melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, dan oleh karenanya layak tercatat dalam tinta emas sejarah. Keke ingin seperti mereka. Keinginan Keke tersebut yang kemudian digambarkan sepanjang 100 menit durasi film Surat Kecil untuk Tuhan.

Keke aslinya adalah nama panggilan untuk Gita Sesa Wanda Cantika, yang kisah hidupnya difilmkan lewat Surat Kecil untuk Tuhan. Dia adalah seorang gadis yang berjuang menghadapi kanker jaringan lunak di umur tiga belas tahun. Awalnya, dokter memvonis kalau harapan hidup Keke tinggal lima hari. Namun, ia tak mau menyerah begitu saja. Sambil didampingi sang ayah, Keke mampu bertahan selama tiga tahun berkat sejumlah pengobatan. Adalah Agnes Davonar yang pertama kali menemukan kisah Keke, dan menceritakannya kembali di blog pribadi. Setelah dibaca oleh sekitar 350.000 pembaca online, kisah hidup Keke dirilis ulang dalam bentuk novel pada tahun 2008. Pada tahun 2011, kisah Keke diangkat ke layar lebar oleh sutradara Harris Nazim dan rumah produksi Skylar Pictures.

Reka-Percaya

Melihat materi ceritanya, Surat Kecil untuk Tuhan jelas ditujukan untuk menularkan inspirasi dari kisah Keke ke penontonnya. Supaya inspirasi dapat tersampaikan, film tersebut perlu menciptakan efek reka-percaya yang meyakinkan ke penontonnya. Meski didasari oleh kisah nyata, Surat Kecil untuk Tuhan tetaplah terikat oleh batasan medium film. Apa yang tampil di layar merupakan replika dari realita, yang diproduksi lewat lensa kamera dan meja editing. Supaya dapat terlibat secara emosional dalam apa yang terjadi dalam film, penonton haruslah menghentikan logikanya barang sebentar. Penonton perlu diyakinkan bahwa mereka tidak sedang menonton film, tapi realita itu sendiri. Efek reka-percaya itulah yang mendasari setiap film, tidak terkecuali Surat Kecil untuk Tuhan.

Ada dua langkah yang diambil pembuat film Surat Kecil untuk Tuhan untuk menciptakan efek reka-percaya. Pertama, dengan memberitahukan penonton kalau cerita Keke itu benar-benar terjadi. Di awal film, ada beberapa baris teks, yang menjelaskan asal muasal inspirasi film. Isi tulisannya: “Kisah ini diinspirasi oleh Gita Sesa Wanda Cantika, yang menjalani hidupnya dengan ketegaran hatinya." Di credit title, ada rangkaian foto Keke dan orang-orang yang terlibat sepanjang perjuangannya melawan kanker. Foto-foto tersebut disandingkan dengan foto pemeran dalam film, dan dilengkapi oleh beberapa baris teks yang menjelaskan keberadaan mereka sekarang. Melalui dua pemberitahuan tersebut, status cerita Keke sebagai kisah nyata ditegaskan di benak penonton.

Langkah berikutnya adalah menampilkan pengaruh kanker pada fisik protagonis. Dalam beberapa adegan di sepertiga awal film, wajah Keke mendadak berubah bentuk: bagian kiri wajahnya terlihat seperti meleleh. Departemen tata rias Surat Kecil untuk Tuhan pantas diacungi jempol. Mereka mampu merias wajah protagonis sedemikian rupa, sehingga bisa menyerupai wujud penderita kanker jaringan lunak, yang sering mengalami gejala di jaringan penghubung tubuh di daerah kepala dan leher. Melalui penggambaran tersebut, Surat Kecil untuk Tuhan sukses menjelaskan dampak dari penyakit yang protagonis hadapi. Bahkan sebelum adegan dokter menjelaskan penyakit Keke secara mendetail, penonton sudah tahu betapa ganasnya penyakit tersebut, karena ada bukti visualnya.

Masalahnya, di samping dua langkah tadi, pembuat film Surat Kecil untuk Tuhan abai dengan aspek-aspek sinematik yang lebih mendasar. Kekurangan yang paling kentara adalah pengadeganan. Ruang dalam film terlihat begitu kosong, baik secara audio maupun visual, yang menyebabkan penceritaan film jadi tak logis. Efek reka-percaya yang dihasilkan film pun jadi kurang meyakinkan. Salah satu contohnya adalah sekuens adegan pacar Keke menyusul protagonis ke stasiun televisi, di mana teman-teman Keke sedang pentas tari secara live. Rangkaian adegan tersebut dimulai dari dalam studio, di mana tidak terlihat ada penonton, kecuali Keke dan kedua kakaknya. Suara yang terdengar hanyalah suara tepuk tangan Keke, tanpa ada petunjuk audio maupun visual tentang keberadaan penonton lain. Tidak ada juga kru stasiun televisi yang lalu lalang, kecuali pembawa acara yang ada di panggung pentas.

Setelah itu, film menampilkan pacar Keke yang bingung keluar masuk pintu. Pasalnya, sepanjang kamera memandang, tidak ada orang dalam studio yang bisa ditanyai. Pembuat film boleh jadi meniatkan kebingungan pacar Keke sebagai momen dramatis tersendiri. Namun, sebelum sampai menjadi suatu momen dramatis, adegan tersebut dihadang oleh satu pertanyaan: apakah mungkin sebuah stasiun televisi bisa sesepi itu saat siaran langsung?

Kekosongan serupa turut hadir dalam adegan di sekolah, yang banyak berulang dalam film. Dalam adegan-adegan tersebut, kamera hanya menyorot Keke, pacarnya, dan teman-teman sekelasnya. Tidak nampak ada pelajar lain. Tidak terdengar juga ada riuh rendah aktivitas sekolah di sekitar mereka. Sepanjang film, kesan yang muncul adalah sekolah Keke hanya terdiri dari satu kelas, yakni kelas Keke dan teman-temannya saja. Mungkin, saking kecilnya dunia cerita Surat Kecil untuk Tuhan, penghuninya hanya Keke dan orang-orang di lingkaran terdekatnya saja.

Plot

Masalah lainnya adalah perkembangan plot. Surat Kecil untuk Tuhan terlalu bergantung pada penceritaan tentang perkembangan penyakit protagonis. Secara umum, kejadian-kejadian dalam cerita dapat disederhanakan menjadi tiga fase: perkembangan penyakit Keke, orang-orang di sekitar Keke mengetahuinya, kemudian mereka semua menangis. Siklus tangis tersebut berulang hingga akhir film, dan beberapa kali diiringi oleh narasi suara protagonis. Dengan menampilkan banyak derai air mata, Surat Kecil untuk Tuhan seakan-akan ingin mengingatkan penonton, bahwa derita yang dialami protagonis sungguhlah berat.

Perkembangan plot yang diterapkan dalam Surat Kecil untuk Tuhan sesungguhnya menghambat penyajian cerita. Karakter-karakter dalam cerita, termasuk protagonis, sama sekali tidak berkembang. Mereka hanya meratap sepanjang film, tanpa ada perkembangan lebih lanjut. Pada perkembangannya, Surat Kecil untuk Tuhan jadi kehilangan esensi cerita yang mendasarinya. Kisah Keke sejatinya cerita yang inspiratif. Bertahan menghadapi kanker, terutama setelah divonis dokter hanya akan bertahan lima hari, jelas bukanlah hal yang mudah. Sayangnya, perjuangan Keke tersebut digambarkan dalam film sebagai banjir air mata belaka. Alhasil, yang ditekankan dalam film bukan ketegaran hati protagonis, melainkan duka yang menyelimuti keseluruhan cerita.

Komentar 1

Adam
8 tahun yang lalu

Kurang

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.