Komedi Horor Rasa Televisi

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (2/10)

Kepergok Pocong, yang disutradarai oleh Nayato, sejatinya adalah sebuah etalase untuk Aziz Gagap. Nama Aziz awalnya naik daun di panggung lenong. Sejak tahun 2008, ia kondang sebagai salah satu pelawak di Opera Van Java, acara komedi di stasiun televisi nasional. Acara tersebut ditujukan untuk memindahkan wayang ke latar modern. Aktor diberi aba-aba untuk berimprovisasi, tanpa menghafal naskah sebelumnya, dengan panduan seorang dalang. Kemampuan improvisasi Aziz tersebut yang dijual dalam Kepergok Pocong. Sepanjang film, adegan Aziz melawak begitu mendominasi. Lawakan Aziz sendiri bervariasi antara parodi verbal dan humor slapstick, yang melibatkan manusia maupun dedemit.

Cerita Kepergok Pocong sendiri baru terwujud sebagai premis, alias suatu konsep yang penonton bisa simpulkan dari kejadian-kejadian dalam film. Masalahnya, pembuat film tidak mengembangkan premis tersebut menjadi sebuah garis cerita yang utuh. Alhasil, film begitu dipenuhi oleh adegan lawak Aziz, sehingga benang merah cerita hampir tak terasa sepanjang film. Dalam adegan pembuka film, terlihat Aziz menggendong pocong, sembari mengomentarinya macam-macam. Di adegan berikutnya, terlihat Aziz menyemburkan kopi ke teman serumahnya, lalu mereka saling bertukar guyonan. Baru sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian, konfik cerita terbahasakan di hadapan penonton. Teman-teman Aziz sedang butuh uang. Mereka berencana memanfaatkan pekerjaan Aziz sebagai penggali kubur untuk memotret wajah mayat. Mereka percaya cara tersebut dapat mendatangkan uang dengan cepat.

Konsekuensi dari tindakan teman-teman Aziz adalah kehadiran pocong yang tak terkontrol dalam film. Dalam kasus ini, tak terkontrol berarti juga penggunaan efek kejut hampir dalam setiap adegan. Setiap jeda dalam dialog diikuti oleh suara kencang, yang mungkin diharapkan dapat mengagetkan penonton. Hampir setiap cut menghadirkan pocong, maupun dedemit lainnya, dalam adegan. Kejutan-kejutan tersebut yang menyambung film sampai selesai. Tidak ada perkembangan cerita yang berarti. Premis cerita praktis hanya menjadi latar bagi kejutan maupun adegan-adegan lawak Aziz, yang konstan hadir hingga adegan terakhir film. Cerita tentang mencari uang terabaikan begitu saja, sementara narasi film mencari-cari logika yang absen sejak adegan pertama.

Dilihat dengan perspektif yang lebih luas, Kepergok Pocong sebenarnya tak banyak berbeda dengan film-film horor-komedi beberapa tahun belakangan ini. Apa yang ditawarkan tidak jauh-jauh dari penampakan dedemit secara berlebihan, yang dikombinasikan dengan rentetan guyonan verbal dan humor slapstick. Para pemeran film biasanya adalah nama-nama anyar, yang baru memulai karier dalam perfilman, dan nama-nama yang sudah punya reputasi terlebih dahulu di luar film. Khusus untuk kelompok terakhir, mereka sejatinya tidak memerankan sebuah karakter dalam film, melainkan pesona selebritis mereka sendiri. Karakter mereka dalam film praktis hanya sebatas nama. Contohnya adalah film-film horor Julia Perez, mulai dari Beranak dalam Kubur (2007) sampai dengan Kuntilanak Kesurupan (2011). Dalam film-film tersebut, karakter Julia Perez konstan didefinisikan oleh goyangan tubuhnya, yang merupakan bagian dari pencitraannya selama ini sebagai seorang selebritis.

Koya Pagayo

Dalam kasus Kepergok Pocong, Aziz Gagap sejatinya tidak sedang memerankan Aina, nama karakternya dalam film. Ia hanya mengulang apa yang ia biasa lakukan dalam profesinya sebagai pelawak di acara televisi. Singkat kata, ia hanya pindah melawak dari layar kaca televisi ke layar lebar sinema. Konsekuensinya: karakter-karakter lain dalam film dikonstruksi sedemikian rupa untuk mengakomodir keberadaan Aziz. Fungsi mereka adalah sebagai lawan main Aziz sebagai pelawak, bukan sebagai karakter dalam cerita film. Tidak heran kalau tidak ada perkembangan karakter yang berarti sepanjang film. Tidah heran juga kalau lawakan menjadi satu-satunya hal yang dijual dalam Kepergok Pocong. Tanpa adanya lawakan-lawakan tersebut, Kepergok Pocong tak punya hal lain yang bisa ditawarkan ke penonton: tidak ada jalinan cerita yang utuh, tidak ada juga karakter yang bisa diikuti penonton, kecuali tentu saja Aziz Gagap.

Ada satu kejadian menarik di tengah film Kepergok Pocong. Dua teman Aziz Gagap bertemu dengan sebuah karakter bernama Koya Pagayo. Ia adalah seorang sutradara, yang sedang mencari talenta muda untuk film terbarunya. Dalam film, digambarkan bagaimana Koya Pagayo langsung merekrut dua teman Aziz, hanya dengan mempertimbangkan kualitas fisik mereka saja. Tentu saja ada kegiatan bertukar guyonan dalam adegan tersebut. Saat akan syuting, kedua teman Aziz hanya mendapatkan penjelasan singkat dari sutradara, kalau mereka harus memerankan dua waria yang sedang kisruh memperebutkan laki-laki. Tidak ada naskah, tidak ada juga deskripsi yang mendalam tentang karakter yang akan diperankan. Mereka pun melakukan sekenanya. Komentar Koya Pagayo setelahnya: “Perfect!” Kejadian tadi muncul setelah teman-teman Aziz memotret wajah mayat di kuburan, yang mereka percayai bisa cepat mendatangkan uang.

Kalau boleh iseng sedikit, kejadian yang dijabarkan di atas bisa dibaca sebagai pernyataan sutradara Kepergok Pocong. Pasalnya, kejadian tersebut secara eksplisit membingkai produksi film sebagai cara cepat mencari uang. Di dunia nyata, Koya Pagayo ditenggarai merupakan salah satu nama samaran Nayato Fio Nuala. Sejauh ini, nama Koya Pagayo digunakan eksklusif untuk film-film horor yang Nayato sutradarai, mulai dari Ada Hantu di Sekolah (2004) sampai dengan Pelet Kuntilanak (2011). Pertanyaannya: dengan memasukkan nama Koya Pagayo dan adegan syuting film dalam Kepergok Pocong, apakah Nayato sebenarnya mengakui bahwa film-filmnya hanya untuk tujuan komersial? Apakah cara karakter Koya Pagayo syuting film dalam Kepergok Pocong mencerminkan cara Nayato memproduksi film-filmnya selama ini? Melihat hasil akhir Kepergok Pocong, bisa jadi memang begitu keadaannya.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.