Sebuah Klise Tentang Moral

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (3/10)

Tumbal Jailangkung bercerita tentang dua generasi yang bermain jelangkung dan akibatnya berdarah-darah. Generasi pertama diwakili oleh empat anak muda ibukota, yang gagal mengontrol jelangkung di desa Angkerbatu. Akibatnya, tiga dari mereka dibantai secara bengis oleh si roh, sementara satu sisanya diselamatkan oleh seorang dukun. Generasi kedua diwakili oleh Linda, protagonis cerita, yang baru saja putus dengan Richard, pacarnya. Linda baru tahu kalau ia hanya jadi objek taruhan oleh Richard dan kedua temannya. Buktinya adalah rekaman video di ponsel Richard, yang menampilkan Linda dalam keadaan mabuk berat, dan sedang disetubuhi oleh dua teman Richard. Tak kuat menghadapi sakit hati, Linda mengasingkan diri di Puncak bersama kedua temannya. Di sana ia menemukan boneka jelangkung, yang dulu dipakai oleh keempat anak muda di desa Angkerbatu. Jadilah, Linda memanggil roh untuk balas dendam pada Richard dan kedua temannya.

Sebagai sebuah film, Tumbal Jailangkung tidak menawarkan sesuatu yang baru. Film tersebut bertutur melalui kemasan ulang mitos-mitos yang sudah populer di masyarakat, suatu teknik cerita yang banyak digunakan film horor Indonesia lainnya. Ada dua mitos yang dikemas ulang dalam Tumbal Jailangkung. Mitos pertama adalah jelangkung, yang informasinya sudah terdokumentasi di mana-mana, baik dalam film dan literatur yang tersedia di ranah publik, maupun dalam cerita mulut ke mulut yang diwariskan lintas generasi. Mitos kedua adalah desa Angkerbatu, tempat fiktif yang diciptakan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo dalam film Jelangkung (2001), dan kemudian digunakan lagi dalam Tusuk Jelangkung (2002), Angkerbatu (2007), dan Jelangkung 3 (2007). Keempat film tersebut cukup populer pada zamannya. Berkat film-film tersebut, nama Angkerbatu mencuat sebagai lokasi seram di Indonesia, walau tempat itu tidak pernah ada.

Menarik melihat ada nama Angkerbatu dalam Tumbal Jailangkung. Nama desa tersebut sejak awal ditonjolkan ke mata penonton, melalui sebuah batu berukir di adegan-adegan pembuka. Namun, berbeda dengan yang ada di Jelangkung, lokasi Angkerbatu dalam Tumbal Jailangkung tidak dijelaskan di mana letaknya. Kosa gambar film juga tidak menampilkan bagaimana keadaan desa tersebut. Di adegan-adegan pembuka, penonton hanya melihat batu bertuliskan “Desa Angkerbatu” di samping dua karakter yang sedang bercakap-cakap, sampai kemudian film pindah ke sekuens pembantaian tiga anak muda oleh roh jelangkung. Angkerbatu hadir hanya sebagai sebuah nama, yang dipinjam pembuat film untuk memantik ceritanya.

Dengan ditonjolkannya nama Angkerbatu di awal film, tercipta antisipasi akan ada masalah besar dalam film. Ada hal sakral yang akan merasa terganggu oleh keberadaan anak-anak muda dari ibukota tersebut. Dari pembangunan antisipasi tersebut, pembantaian yang dilakukan oleh roh sepanjang film pun jadi terjelaskan. Lagi-lagi ini merupakan teknik penceritaan yang banyak ditemukan dalam film horor, baik di Indonesia maupun di luar negeri sana.

Pelanggaran

Sayangnya lagi, nama Angkerbatu bukan satu-satunya hal yang dipinjam oleh pembuat film Tumbal Jailangkung. Eksplorasi mitos jelangkung yang terjadi dalam film juga merupakan pinjaman, dari banyak film horor yang ada dalam sejarah sinema bangsa ini. Dalam Tumbal Jailangkung, pembantaian yang dilakukan roh jelangkung merupakan konsekuensi dari pelanggaran moral yang dilakukan oleh Richard dan kawan-kawan. Dengan menjadikan Linda sebagai objek taruhan seksual, mereka telah melakukan apa yang dianggap tabu oleh masyarakat. Tentu saja, dalam kasus ini, masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat Indonesia. Karena adanya pelanggaran tersebut, Richard dan kawan-kawan pantas mendapat hukuman. Hukuman tersebut yang kemudian terwujud melalui kematian mereka di tangan roh jelangkung.

Asosiasi ancaman dunia gaib dengan moralitas dunia nyata dapat ditemukan dalam film-film horor klasik Indonesia. Contoh populernya adalah film-film Suzanna, salah satunya Nyi Blorong (1982). Dalam film tersebut, ada karakter perempuan cantik dan adegan seks. Layaknya yang terjadi dalam film-film horor Indonesia, seks sebagai kegiatan rekreasi merupakan suatu anomali moral, mengingat ketatnya peraturan soal seks dalam sensor film Indonesia. Oleh karenanya, akan ada adegan-adegan yang menampilkan bagaimana para pelakunya menghadapi konsekuensi dari pelanggaran moral tersebut. Dalam Nyi Blorong, konsekuensi tersebut terwujud sebagai kematian para pelaku pasca berhubungan badan. Dalam Tumbal Jailangkung, konsekuensinya berupa pembantaian Richard dan kawan-kawan oleh roh jelangkung, yang dikendalikan oleh Linda, protagonis cerita.

Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa Tumbal Jailangkung sejatinya merupakan cerita tentang moral. Ada suatu ketegangan yang tercipta akibat pelanggaran beberapa karakter, yang kemudian diganjar oleh hukuman dari dunia gaib. Dalam film-film horor Indonesia, biasanya akan muncul karakter kiai menjelang akhir film, sebagai penegas posisi film sebagai cerita moral. Karakter kiai tersebut yang kemudian akan mengaitkan pelanggaran moral karakter dengan pesan-pesan moral, yang dalam beberapa kasus diambil dari dari kitab suci. Tidak jarang juga karakter kiai tersebut yang menjadi solusi bagi segala masalah gaib yang terjadi dalam film. Menurut Witches, Spells, and Politics: The Horror Films of Indonesia, sebuah esai karya Stephen Gladwin, pemunculan karakter kiai tersebut dipopulerkan oleh film Pengabdi Setan (1980). Hal yang sama kemudian diulang dalam banyak sekali film horor di Indonesia.

Tidak ada karakter kiai dalam Tumbal Jailangkung. Hanya ada karakter dukun, yang bisa menjinakkan roh jelangkung dan pindah tempat sesuka hati. Dukun tersebut yang memperingatkan karakter-karakter dalam Tumbal Jailangkung akan bahayanya berurusan dengan dunia arwah. Karakter dukun tersebut yang menjadi satu dari dua hal yang menegaskan posisi film sebagai cerita moral. Penegas lainnya adalah ayat kitab suci yang ditampilkan di akhir film. Ayat tersebut diambil dari Al-Quran surat Yunus ayat 52, yang isinya adalah, “Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim itu: “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.””

Kompensasi dari segala klise dalam Tumbal Jailangkung adalah eksekusi teknisnya yang rapi. Pembuat film tahu bagaimana memainkan cahaya untuk menimbulkan ketegangan. Kontras gelap dan terang diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga film tidak terjebak dalam klise bahwa seram adalah pencahayaan suram terus-menerus. Memang, dalam beberapa adegan, permainan cahaya yang diterapkan terasa berlebihan dan tidak logis. Contohnya adalah sekuens di asrama putri, tempat Linda tinggal. Dari depan, asrama terlihat mencekam, dengan papan nama rusak dan kontras gelap dan terang yang ekstrem. Masuk ke dalam asrama, ruangan terlihat rapi, mewah, dan terang-benderang. Meski begitu, secara umum, penggarapan teknis film Tumbal Jailangkung terhitung rapi. Sayang saja, penggarapan teknis yang rapi tersebut tidak diimbangi oleh penggarapan konten yang orisinil.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.