Ketika Simpati dan Selebriti Berebut Arti

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Sejak tahun 2004, Delon Tio sudah punya ketertarikan dengan kehidupan anak berkebutuhan khusus. Menurut pengakuannya ke media, ketertarikan tersebut terpantik ketika ia membaca sebuah artikel koran tentang anak-anak berkebutuhan khusus di Beijing. Dalam artikel tersebut, terlampir foto seorang konduktor cilik pengidap down syndrome dengan ekspresi wajah yang bahagia. Artikel dan foto tersebut begitu menyentuh Delon, sehingga ia bertekad untuk mengangkat kehidupan anak yang memiliki kebutuhan khusus melalui medium film. Tekad tersebut yang akhirnya terwujud lewat film yang ia produseri, Simfoni Luar Biasa.

Kalau disederhanakan menjadi tiga hal, Simfoni Luar Biasa sejatinya bercerita tentang sekelompok murid sekolah luar biasa, kompetisi menyanyi, dan Jayden Valarao. Hal terakhir adalah karakter yang diperankan Christian Bautista, bintang pop Filipina yang cukup tenar di Indonesia. Dalam Simfoni Luar Biasa, dia adalah penyanyi yang sedang berusaha menembus industri musik. Dalam sekuens pembuka film, kita melihat dia bernyanyi di sebuah kedai, di hadapan penonton yang kebanyakan mabuk anggur. Bukan karier seperti ini yang dibayangkan oleh Jayden. Tanpa uang, tanpa tempat tinggal, Jayden menumpang di tempat tantenya, Penelope (Maribeth Pascua).

Secarik tiket pesawat ke Jakarta mendadak disodorkan ke hadapan Jayden. Tiket tersebut dikirim atas nama Marlina Anasazar (Ira Wibowo), ibu Jayden yang selama ini tinggal di Jakarta. Sejak bercerai dari bapak Jayden, Marlina menetap dan menikah lagi di negeri seberang. Tiket pesawat tersebut merupakan tawaran Marlina kepada anaknya untuk tinggal bersamanya di Indonesia. Tidak punya apa-apa lagi di Filipina, ditambah rekaman albumnya yang tak kunjung dilirik oleh distributor, Jayden pun menyanggupi tawaran ibunya. Sesampai di Jakarta, Jayden menghadapi keluarga baru, pekerjaan baru, dan tentu saja tantangan baru.

Keluarga baru Jayden terdiri dari seorang bapak bernama Hans (Willem Beaver) dan seorang adik perempuan bernama Carissa (Valerie Thomas). Pekerjaan baru Jayden adalah sebagai guru musik di SLB Cahaya Mulya, di mana ibunya merupakan salah satu dewan pengurusnya. Melihat bakat terpendam di murid-muridnya, Jayden berambisi membawa mereka ke sebuah kompetisi menyanyi tingkat regional. Niat Jayden didukung oleh Ibu Rinjani (Ira Maya Sopha), kepala sekolah. Sesama pengajar, seperti Laras (Gista Putri) dan Bimo (Stanley Saklil), juga senantiasa mendukungnya. Meski begitu, kualifikasi Jayden sebagai pengajar diragukan oleh Pak Dimas (Verdi Solaiman), seorang pengajar senior. Maklum, Jayden bisa mengajar di SLB Cahya Mulya berkat statusnya sebagai anak dari Marlina. Sepanjang film, Pak Dimas mencoba meyakinkan orang-orang di sekitarnya tentang ketidaklayakan Jayden sebagai pengajar.

 

Simpati

Film seperti Simfoni Luar Biasa jelas ditujukan untuk memantik simpati dalam diri penontonnya. Lihat saja bagaimana pembuat film mendesain penuturan ceritanya. Sejak kompetisi menyanyi mulai disebut-sebut dalam cerita, narasi film mulai mengerucut pada acara tersebut. Fokus cerita difokuskan pada hubungan beberapa murid sekolah luar biasa dengan orang-orang di sekitarnya, baik dengan orangtua mereka, pengajar mereka, sesama murid, maupun anak-anak di luar sekolah. Beberapa menerima, beberapa menolak, beberapa bersikap acuh tak acuh. Ketika akhirnya murid-murid tersebut tampil di atas panggung kompetisi, menang atau kalah tak lagi jadi soal. Pertanyaan yang lebih esensial adalah apakah mereka akan diterima oleh khalayak luas, mengingat dalam kompetisi tersebut mereka turut bersaing dengan sekolah biasa. Melalui pergumulan tentang penerimaan itulah, Simfoni Luar Biasa berusaha menarik simpati penonton.

Pujian patut dialamatkan pada keputusan pembuat film untuk tidak menjual air mata dalam ceritanya. Bukan artinya tak ada tangis-menangis dalam Simfoni Luar Biasa, namun film tersebut setidaknya tidak meratapi kondisi subjeknya. Film malah dikemas dengan nuansa ringan nan kocak. Adalah Jayden yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Statusnya dalam cerita adalah orang asing, di sebuah negeri asing, di kalangan orang-orang yang juga asing. Pertemuannya dengan murid-murid sekolah luar biasa menjadi sebuah eksperimen tersendiri. Jayden harus mengajari mereka menyanyi, walau tak bisa bicara bahasa Indonesia sedikit pun. Rekan-rekan pengajar juga berusaha memahami keinginan Jayden melalui gestur tubuhnya, mengingat tak semua dari mereka fasih berbahasa Inggris. Tabrakan antarbudaya inilah yang menjadi sumber humor.

Humor tersebut yang kemudian disalurkan pembuat film melalui rangkaian visual yang rapi. Secara umum, narasi film disokong oleh sejumlah sekuens gambar yang menyajikan sejumlah petunjuk visual, yang ujung pangkalnya terjelaskan dalam suatu adegan puncak. Satu momen yang cukup berkesan adalah saat seorang murid laki-laki tak mau menyanyi. Setiap diminta menyanyi di kelas, ia hanya mengeluarkan suara-suara tak jelas macam beatbox. Dalam satu adegan, Bimo memergoki murid tersebut di kamar mandi sekolah. Dalam adegan berikutnya, anak tersebut kembali tak mau bernyanyi di ruang kelas. Kamera menyorot wajah Jayden, Lars, dan Bimo yang kebingungan. Kemudian film berganti adegan. Dalam kelas, si murid duduk di kakus, memegangi gulungan tisu, sembari menyanyi dengan suara merdu. Jayden, Lars, dan Bimo tersenyum lega.

Momen di atas mewakili apa yang ditawarkan Simfoni Luar Biasa secara umum. Momen tersebut jadi berkesan karena kemampuannya mengemas simpati, tanpa harus memojokkan subjek sebagai korban. Teknik pengemasannya pun efektif dalam segi sinematik. Dalam momen tersebut, apa yang penonton tidak lihat adalah Jayden memindahkan kakus dari kamar mandi ke ruang kelas. Apa yang penonton tidak lihat tersebut merupakan jarak yang harus ditempuh Jayden untuk bisa memahami kebutuhan murid-murid sekolah luar biasa. Pembuat film bagusnya tak berlarut-larut dalam menjelaskan jarak tersebut. Mereka cukup menyajikan bukti visual dari usaha memahami sesama tersebut. Kalau memang memahami sesama perlu memindahkan kakus dari habitat aslinya, ya sudah lakukan saja, tak perlu banyak bicara.

 

Selebriti

Satu hal yang menghambat perkembangan cerita Simfoni Luar Biasa adalah kehadiran Christian Bautista sebagai pemeran protagonis. Bautista sesungguhnya menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam debutnya sebagai pemeran utama, ia mampu menampilkan kebingungan seorang anak muda, yang terbelah antara mimpi menjadi bintang panggung dan tanggung jawab untuk bertahan hidup. Ia tidak sampai melebihkan gestur tubuhnya maupun volum suaranya dalam adegan-adegan emosional. Penampilannya menjaga Simfoni Luar Biasa tidak sampai jatuh menjadi melodrama belaka, padahal materi ceritanya memungkinkan hal tersebut. Untuk satu hal tersebut, Bautista pantas mendapat kredit tersendiri.

Permasalahannya adalah pembuat film terlalu sadar dengan status Bautista sebagai seorang selebriti. Di satu sisi, dapat dipahami apabila Bautista difungsikan pembuat film sebagai materi komersial Simfoni Luar Biasa. Ia adalah wajah yang populer, dan namanya sudah punya daya tarik sendiri, setidaknya untuk penonton di wilayah Asia Tenggara. Di sisi lain, narasi film berjalan paling optimal justru ketika Bautista tidak diperlakukan sebagai selebriti. Jayden menjelma jadi karakter yang organik dalam narasi film ketika ia diperlakukan sebagai sebuah karakter cerita, bukan sebagai seorang selebriti yang sedang memerankan sebuah karakter cerita. Hal ini yang terlihat dalam dua adegan yang mengeksploitasi status Bautista sebagai selebriti.

Adegan pertama adalah ketika Jayden pertama kali masuk ke dalam kelas musik. Waktu itu belum ada guru musik yang mengajar, sehingga kelas berjalan tanpa arah. Murid-murid jalan ke sana ke mari, tanpa ada yang mengatur. Ketika para pengajar berusaha menenangkan para murid, Jayden mengambil gitar dan mendadak menyanyi. Kamera mendukung tindakan impulsif tersebut melalui sebuah zoom in yang cepat. Film mendadak menjadi etalase dari kemampuan menyanyi Bautista. Dalam konteks cerita film, adegan tersebut berfungsi sebagai kejadian yang meyakinkan Ibu Rinjani untuk mengangkat Jayden sebagai guru musik SLB Cahaya Mulya. Masalahnya, rangkaian visual adegan tersebut berlawanan dengan fokus keseluruhan film, yang sejatinya ada pada jalinan hubungan murid-murid sekolah luar biasa dengan sekitarnya.

Adegan kedua ada di pertengahan film, ketika Jayden dikelilingi oleh ibu-ibu di lobi sekolah. Mereka semua memuji ketampanan Jayden, sementara si protagonis kebingungan mendadak dikerumuni orang. Dalam bingkai yang lebih luas, adegan-adegan tersebut menjadikan Jayden berebut arti dengan simpati yang dibangun struktur cerita terhadap murid-murid sekolah luar biasa. Fokus penonton jadi terbelah. Mana yang sebenarnya luar biasa dalam Simfoni Luar Biasa: Jayden atau perjuangan anak-anak berkebutuhan khusus? Andai adegan-adegan tersebut direvisi, film tidak saja akan menjadi lebih terfokus, tapi juga akan menjadi tribut yang pantas untuk perjuangan murid-murid SLB Cahaya Mulya, pahlawan sebenarnya dalam cerita Simfoni Luar Biasa.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.