Rumah Tangga dan Gelak Tawa

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Keluarga yang demokratis adalah sebuah pemikiran yang utopis. Dalam setiap keluarga, terdapat silang sengkarut kepentingan yang perlu dinegosiasikan. Ada yang harus diutamakan, ada yang harus dikesampingkan. Ketika negosiasi tersebut berhasil, terciptalah apa yang disebut sebagai kestabilan keluarga. Pertanyaannya kemudian: kestabilan menurut siapa? Bahkan dalam perwujudannya yang paling sederhana, yakni sepasang suami-istri, institusi keluarga tak mungkin mengakomodir kebutuhan seluruh anggotanya. Akan selalu ada tarik-ulur kepentingan, yang lebih didasari keputusan individu ketimbang bersama. Itu baru keluarga yang isinya suami dan istri saja. Bagaimana kalau ada anak-anak? Bagaimana juga kalau keluarga besar ikut terlibat?

Pemikiran di atas yang dilakonkan dalam Get Married 3. Melanjutkan cerita dari dua film sebelumnya, Get Married 3 berkisah tentang usaha Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Fedi Nuril) mengurus tiga bayi kembar mereka. Awalnya, mereka cukup percaya diri untuk berteriak lantang bahwa mereka tidak butuh bantuan siapa-siapa, termasuk kerabat dan teman dekat. Namun, Mae kelimpungan dan ujung-ujungnya depresi. Ia tak paham dan tak biasa dengan rutinitas merawat anak. Rendy pun diam-diam meminta pertolongan tiga teman dekat Mae: Guntoro (Deddy Mahendra Desta), Beni (Ringgo Agus Rahman), dan Eman (Amink). Beban Mae sedikit demi sedikit mulai tertasi.

Tiba-tiba masalah baru muncul. Karena satu dan lain sebab, ibu (Meriam Bellina) dan bapak Mae (Jaja Mihardja) tahu kalau ketiga cucunya sering diasuh Guntoro, Beni, dan Eman. Mereka protes. Mereka juga mau main dengan cucu mereka. Merasa tak enak, Mae pun mengizinkan kedua orangtuanya masuk ke rumah. Mertua Mae (Ira Wibowo) pun ikut-ikutan protes. Mae mengiyakannya. Gantian Rendy yang frustasi. Sebagai seorang kepala keluarga, dia merasa kehilangan tempat di rumahnya sendiri. Anak-anaknya lebih sering bersama orang lain ketimbang dirinya.

Rendy pun mencari cara untuk mengusir orang-orang dari rumah, sehingga ia bisa bersama istri dan anak-anaknya saja. Dikontaklah Nyai (Ratna Riantiarno), mertua sekaligus musuh bebuyutan bapak Mae. Rendy mengharapkan kehadiran Nyai akan menyulut adu mulut dengan bapak Mae, yang bakal membuat orang-orang tidak nyaman dan pergi meninggalkan rumahnya.

 

Menertawai Keluarga

Selama 95 menit, Get Married 3 mengajak penonton untuk merenungkan kembali konsep keluarga. Dalam film, ikatan keluarga dilihat bukan sebagai sesuatu yang sakral, tapi sebagai tabrakan kepentingan beberapa individu. Pola yang dipakai universal: seorang berusaha mewujudkan kepentingannya, tapi tanpa sepengetahuannya dia menjadi halangan bagi kepentingan orang lain. Tabrakan kepentingan itulah yang kemudian dipelintir oleh pembuat film sebagai materi untuk gelak tawa. Pemantiknya adalah kebingungan Mae sebagai debutan untuk urusan rumah tangga. Saking bingungnya, dia sampai salah menaruh jemuran. Alih-alih menjemur boneka yang baru saja dimuntahi anaknya, Mae malah menjemur anaknya sendiri. Si anak untungnya baik-baik saja. Orang tua mereka yang kelabakan. Mereka lari-lari keliling rumah, menghadirkan sejumlah momen komedi slapstick, untuk memastikan keselamatan si buah hati.

Tabrakan kepentingan yang diselesaikan via komedi slapstick: cara bertutur tersebut yang diterapkan pembuat film di sekujur cerita. Sampai dua-per-tiga film, cara bertutur tersebut mulai terasa monoton. Bagusnya, pembuat film memvariasikan tema yang mereka sasar. Berkat manuver tersebut, Get Married 3 tidak sampai jatuh jadi komedi slapstick murahan. Ada kedalaman serta kekayaan konten tersendiri yang bisa diapresiasi. Bagusnya lagi, Get Married 3 tidak menertawai ikatan keluarga dengan sudut pandang hitam-putih. Pembuat film tidak memisahkan karakter dalam kategori baik dan buruk semata. Masing-masing karakter punya cacatnya sendiri, yang menjadikan mereka semua terlihat sebagai sekelompok orang yang bingung dengan kehidupan berkeluarga.

Bermula dari kebingungan seorang ibu, Get Married 3 menyorot ego para lelaki sebagai kepala keluarga. Rendy mengkritik keras keabaian Mae sebagai seorang ibu. Hal tersebut yang membuatnya meminta pertolongan ketiga teman Mae secara diam-diam. Lucunya, pose tegar Rendy tersebut runtuh seketika saat dia berhadapan dengan seorang preman, yang menyerobot antriannya di sebuah tempat wisata. Rendy memilih untuk diam, sementara Mae mendesaknya untuk bertindak. Ketika akhirnya bapak Mae turun tangan dengan mengajak si preman duel, Rendy hanya bisa diam, mengutuk ketidakmampuannya. Kegamangan serupa kembali muncul ketika bapak Mae ciut menghadapi Nyai di hadapan istrinya.

Selanjutnya, film ganti menertawai peran keluarga besar. Sasarannya tentu saja adalah bapak, ibu, dan mertua Mae. Mereka terus-menerus ikut campur dalam urusan keluarga Mae, namun masalah dalam keluarga mereka sendiri saja belum terselesaikan. Bapak dan ibu Mae bermasalah dengan Nyai. Bapak tidak terima terus-menerus dikritik oleh Nyai, namun istrinya tak bisa berbuat apa-apa, karena tak enak kalau tak membela orangtuanya sendiri. Sementara itu, mertua Mae dikritik Nyai, karena dianggap tidak becus mendidik anak perempuannya. Si anak keluar malam dengan pakaian minim, pakaian yang dianggap Nyai tidak pantas untuk seorang perempuan. Mertua Mae awalnya tidak terima dikatai tak becus. Namun, ia hanya bisa menelan kenyataan pahit dan mengakui kebenaran perkataan Nyai, ketika ia menyaksikan langsung anak perempuannya pacaran.

 

Nyai

Satu hal yang mengganjal dari Get Married 3 adalah karakter Nyai itu sendiri. Bisa dipahami kenapa karakter Nyai diadakan dalam cerita. Pembuat film meniatkan Nyai sebagai faktor pemicu bagi karakter-karakter lain untuk merefleksikan tingkah laku mereka. Keberadaannya pun beralasan. Nyai didatangkan Rendy untuk membantu mengusir orang-orang di rumahnya. Masalahnya, dalam durasi film yang hanya 95 menit, karakter Nyai tidak punya kesempatan untuk dibangun dimensi eksistensinya secara mendalam.

Pembuat film bukannya tak berusaha. Di awal kemunculan Nyai, ada narasi suara yang menjelaskan siapa Nyai dan pekerjaan-pekerjaannya di masa silam. Di sepertiga akhir film, ada satu adegan kilas balik yang menyorot kisah cinta Nyai di masa muda. Sayangnya, kedua elemen tersebut terlalu singkat untuk menyatukan Nyai ke dalam jalinan karakter dalam Get Married 3. Tidak jelas apa sebenarnya motivasi pribadi Nyai terhadap keluarga Mae dan Rendy, yang sejatinya merupakan poros utama konflik cerita. Konsekuensinya, Nyai terasa terpisah dari badan utama cerita. Sementara keberadaan karakter-karakter lain punya dimensi eksistensi yang jelas, karakter Nyai kesannya diadakan hanya untuk menambah kekacauan saja.

Konsekuensi keberadaan Nyai bagi penuturan film pun terasa. Semenjak kemunculan Nyai dalam cerita, penuturan film jadi tak tertata. Adegan-adegan slapstick Nyai menjadi begitu dominan, sehingga karakter-karakter lain tenggelam dan terasa tak signifikan. Konflik cerita yang tadinya sudah silang sengkarut jadi semakin silang sengkarut. Ada masalah Mae dengan Rendy, yang menjadi badan utama cerita. Ada sentimen antara bapak Mae dengan mertuanya, yang menjadi cerita sampingan. Namun, karakter Nyai turut mempengaruhi teman-teman dan mertua Mae. Hal tersebut turut menjadi konflik tersendiri. Alhasil, tidak jelas konflik mana yang harus diikuti penonton.

Dalam durasi film yang lebih panjang, karakter Nyai mungkin akan terjelaskan dengan lebih baik. Dimensi karakternya bisa lebih diperdalam, dan dilekatkan dengan badan utama cerita. Sebagai sebuah narasi cerita, Get Married 3 akan terasa lebih menyatu, dan tentunya akan bertutur lebih optimal. Meski begitu, apa yang sudah dicapai pembuat film dalam Get Married 3 sudah bagus. Butuh keterampilan tersendiri untuk membuat sebuah film sekuel terasa seperti film yang bisa berdiri sendiri. Itulah prestasi yang sukses dicapai pembuat film. Berkat eksplorasinya yang universal dan mendalam tentang keluarga, Get Married 3 bisa dinikmati penonton tanpa perlu menonton dua film sebelumnya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.