Besar Isu Daripada Cerita

Resensi › Makbul Mubarak

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Di sebuah kampung di Jawa Barat, tersebutlah Asep, putra tunggal kiai terpandang, yang baru saja batal menikah. Di tengah iring-iringan pawai pernikahan, Asep tiba-tiba menolak menikahi Enok, gadis pilihan ibunya. Dalih Asep tegas, “Jodoh datangnya dari Allah, bukan dari Emak.” Usut punya usut, ternyata dalih itu bukan satu-satunya alasan. Alasan lain adalah karena Asep telah kesengsem pada Farah, artis ibukota yang tengah datang ke kampungnya untuk sebuah sesi pemotretan. Farah adalah gadis ramping langsing yang membuat segala pembuluh Asep berdesir.

Takdir yang bicara. Malam itu Farah dan kawan-kawan menginap di rumah Asep sehingga mereka bisa berkenalan. Persuaan malam itu menyirami tunas-tunas cinta dalam hati Asep, “Farah adalah jodoh dari Allah,” tegas Asep dalam hati.

Meskti tak direstui sang Ibu, Asep kabur ke Jakarta demi menemui Farah. Pertemuan Asep dengan Farah dan Jakarta menjadi titik tolak kisah Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap, komedi tipikal orang latah yang datang ke kota. Di jalan Asep menari bersama ondel-ondel. Ia terhenyak melihat mesjid yang pagarnya tergerendel, ia menyikapi keasingan itu dengan caranya sendiri. Lewat karakterisasi macam ini, maka Asep tak ubahnya Mr. Bean berkopiah dan bisa bicara.

Membahas perjumpaan kota dan desa dalam Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap sangatlah membosankan. Kita sudah melihat kisah semacam ini di puluhan film lain, mulai zaman Tarsan Kota hingga jauh ke belakang ke era komedian Jacques Tati di Prancis sana. Lebih menarik untuk melihat bagaimana agama (dalam hal ini Islam) diperlakukan dalam film ini. Penulis naskah Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap adalah Benni Setiawan, penulis dan sutradara 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta yang menang FFI di tahun yang lewat. Dalam 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta, Benni bermain dengan isu akulturasi Islam ke dalam budaya nusantara masa kini lewat modus penceritaan komedi. Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap juga masih mengangkat isu yang sama dengan cara yang sama. Hanya saja, di film kedua ini, Benni lebih memberatkan porsi pada komedi ketimbang drama.

Alkisah, Asep sampai di Jakarta dan menumpang di rumah Farah yang ternyata adalah artis terkenal. Di mata Asep, popularitas Farah tidaklah sempurna sebab ia gemar mengumbar auratnya. Asep tercengang ketika Farah ternyata tak tahu arah kiblat di rumahnya sendiri, yang berarti ia tak pernah sholat. Asep beberapa kali berhalusinasi melihat Farah mengenakan jilbab. Asep tak pernah mau bersentuhan dengan Farah sebab mereka bukanlah muhrim. Alih-alih menggali kesenjangan relasi kota-desa, Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap memilih untuk menjajarkontraskan islam kolot dan isu-isu urban kontemporer. Pilihan ini berisiko, sebab film ini sepenuhnya dikuasai oleh Asep yang beragama Islam. Pembuat film harus berusaha keras agar komedinya tidak jatuh pada dogma-dogma kosong belaka.

Selain menggambarkan kesenjangan, Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap juga datang dengan pengandaian yang cukup cerdik. Bagaimana seandainya Islam yang menjadi minoritas di negeri ini? Pertanyaan itulah yang terus-menerus digali lewat karakter Asep yang seolah tanpa prei bertemu dengan ujian-ujian iman seorang diri. Asep datang ke diskotek dengan kostum sehari-harinya yakni gamis dan kopiah sehingga ia terpilih sebagai pengunjung terunik. Diberi kesempatan beramah-tamah, Asep malah berpidato di hadapan hadirin. Ia memanjatkan doa prihatin yang bikin gusar pengunjung lain.

Sutradara Indrayanto Kurniawan kurang piawai menerjemahkan isu menarik ini ke dalam penceritaan yang baik. Guliran cerita tampak tidak terurus. Barusan sedih sekali, tiba-tiba jadi senang sekali tanpa preseden yang sepadan. Barusan girang senang, tiba-tiba tersedu sedan dengan sangat tiba-tiba. Menonton film ini rasanya seperti naik becak di jalan bergelombang. Sekali terantuk, lain waktu tersandung. Belum lagi logika cerita yang kurang diperhatikan. Asep digambarkan sebagai orang kampung yang buta dunia luar, tapi pada sebuah adegan, Asep berseru kencang “Saya Islam, bukan teroris!” Bagaimana pula isu global itu bisa sampai ke telinganya?

Kejanggalan tersendiri juga akan hinggap bagi penonton yang bermukim di daerah Jakarta. Ada sebuah establishing shot yang mengambil gambar apartemen Farah, apartemen itu bernama MTH Square, yang tentu saja terletak di Jalan MT Haryono di Jakarta Timur. Suatu hari, ketika Asep dianggap berbuat onar, ia digiring ke kantor polisi setempat yang berlokasi di Jl. Margasatwa di Pondok Labu, (terlihat di papan nama kantor) yang terletak nun di Jakarta Selatan. Nah, bagaimana mungkin kantor polisi terdekat dari Jakarta Timur ada di Jakarta Selatan?

Pada akhirnya, Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap adalah film yang cukup untuk membuat penonton terpingkal di masa pakansi lebaran, tapi percayalah, isu yang diusung film ini lebih kuat sepuluh kali lipat dibanding ceritanya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.