Bicara Sepak Bola, Bicara Apa Adanya

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Tendangan Dari Langit ingin mengajak penontonnya untuk melihat sepak bola nasional dari sudut pandang yang selama ini jarang diangkat media. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo tersebut mengusung perspektif seorang pemain sepak bola tarkam, alias antarkampung. Sepak bola tarkam adalah kegiatan persepakbolaan amatir yang terjadi di luar kompetisi liga nasional. Skalanya lokal, dan taruhannya seringkali adalah gengsi antardesa. Tak jarang sebuah tim merekrut pemain dari luar desanya sendiri, hanya untuk bisa mengalahkan tim saingan dari desa lain. Pada intrik itulah, Tendangan Dari Langit memulai ceritanya.

Alkisah, di tengah hamparan lereng Gunung Bromo, ada seorang anak SMA bernama Wahyu (Yosie Kristanto). Usai main bola bersama teman-temannya pada suatu pagi, Wahyu didatangi Hasan (Agus Kuncoro), pelatih tim sepak bola kampung Karang Sari. Terpikat oleh bakat Wahyu, Hasan mengajaknya main untuk Karang Sari melawan tim dari desa sebelah. Ketika dijanjikan segepok uang tunai, Wahyu setuju. Dia bermain bagus dan ditawari untuk bermain lagi. Kali ini, Wahyu bimbang.

Wahyu sebenarnya dilarang keras bermain bola oleh bapaknya, Sudarto (Sujiwo Tejo). Saking kerasnya larangan tersebut, Sudarto sampai membakar sepatu bola Wahyu. Ia marah melihat anaknya asik bermain bola, sementara dirinya berjualan kopi di kaki gunung Bromo untuk menafkahi keluarga. Sudarto sendiri mantan pemain bola profesional. Dulu dia sempat bermain untuk Persema Malang. Sayangnya, karena satu dan lain sebab, Sudarto terpaksa pensiun dini. Hal tersebut membuat Sudarto kecewa, dan ujung-ujungnya pesimis dengan prospek pemain sepak bola di Indonesia. Ia tak ingin anaknya mengalami kekecewaan yang sama.

Namanya juga anak muda, Wahyu tak mau menyerah begitu saja. Di luar sepengetahuan ayahnya, ia tetap bermain bola untuk Karang Sari. Lagi-lagi namanya juga anak muda, Wahyu jatuh cinta dengan teman sekelasnya, Indah (Maudy Ayunda). Orang tua dan cinta remaja mewarnai perjalanan Wahyu meretas mimpi menjadi pemain sepak bola profesional, suatu mimpi yang kian dekat jadi kenyataan ketika bakat Wahyu terpantau oleh staf Persema Malang.

 

Apa Adanya

Sekilas, Tendangan Dari Langit mengingatkan pada Garuda Di Dadaku. Kedua film bicara sepak bola dengan elemen-elemen cerita yang serupa. Tujuan protagonis dalam kedua film tersebut adalah kancah sepak bola nasional. Di antara protagonis dan tujuannya, ada cerita tentang pemain sepak bola profesional yang pensiun dini, dan figur orang tua yang berusaha menghalangi mimpi protagonis.

Bedanya, Tendangan Dari Langit menggabungkan elemen pertama dan kedua dalam satu karakter, Sudarto. Garuda Di Dadaku memisahkannya kedua karakter. Elemen kedua ditubuhkan menjadi kakek protagonis, sementara elemen pertama dilekatkan pada ayah protagonis, yang diceritakan sudah meninggal di awal film.

Bedanya lagi, Tendangan Dari Langit tidak seoptimis Garuda Di Dadaku dalam melihat sepak bola di Indonesia. Dalam Garuda Di Dadaku, sepak bola dilekatkan dengan wacana nasionalisme dan pengabdian negara. Terlihat bagaimana cerita film tersebut berpuncak pada seleksi untuk tim nasional U-13. Ada kebanggaan tersendiri berada di lapangan hijau, disaksikan oleh jutaan penonton. Ada kebanggaan yang lebih lagi dengan mengenakan lambang Garuda dan bendera merah putih di dada. Sepak bola dilihat sebagai sesuatu yang positif, sesuatu yang memberikan timbal balik. Melalui timbal balik berupa perasaan patriotik tersebut, Garuda Di Dadaku memberi inspirasi bahwa sepak bola di Indonesia masih pantas ditekuni.

Tendangan Dari Langit sebaliknya. Wacana yang sampai ke penonton adalah carut-marutnya persepakbolaan nasional. Hal ini bisa dilihat dari cara bagaimana film membongkar sepak bola Indonesia dari atas sampai bawah. Di awal film, penonton dihadapkan dengan fakta kekalahan Indonesia dari Malaysia di final Piala Tiger. Sudarto, sebagai mantan pemain sepak bola profesional, menuding kelemahan mental sebagai penyebabnya. Di pertengahan film, ada satu adegan wawancara pelatih Persema Malang, yang menjelaskan tentang pecahnya liga nasional: satu liga resmi bentukan PSSI, satu lagi liga bentukan sejumlah klub. Dalam film, tidak ada kejelasan bagi para klub peserta liga bentukan, apakah pemain mereka bisa terlibat di tim nasional atau tidak.

Sebagai sebuah potret sepak bola di Indonesia, Tendangan Dari Langit tidaklah muluk-muluk. Film tersebut sebenarnya merangkum apa yang selama ini diberitakan media perihal sepak bola di Indonesia. Ada usaha dari pembuat film untuk mendekatkan potret sepak bola dalam film dengan kenyataan yang ada. Sepak bola digambarkan apa adanya, tanpa ada pretensi kalau pemain sepak bola sudah menjadi profesi yang layak di Indonesia. Mengutip salah satu selentingan yang terucap dalam film, hanya pemain setampan Irfan Bachdim saja yang dielu-elukan oleh media. Pemain-pemain lainnya masih sepaket dengan carut-marut persepakbolaan nasional. Pernyataan tersebut sungguh berani, mengingat Bachdim adalah ikon yang dijual Tendangan Dari Langit untuk menggaet penonton. Lihat saja bagaimana wajah Bachdim mendominasi poster film.

 

Mengandalkan Kebetulan

Sebagai sebuah cerita, Tendangan Dari Langit sayangnya terlalu mengandalkan kebetulan. Naskah yang ditulis oleh Fajar Nugros berusaha terlalu keras mempercepat langkah Wahyu menuju kancah sepak bola nasional. Alhasil, muncul sejumlah perkembangan cerita yang sulit dinalar. Satu contoh yang mencolok adalah saat Timo Scheunemann (memerankan dirinya sendiri sebagai pelatih Persema Malang) menawarkan Wahyu kesempatan untuk ikut seleksi. Kejadian tersebut didahului oleh sebuah sekuens, di mana Timo mendaki Gunung Bromo dan melihat Wahyu bermain bola dari kejauhan. Ia berdecak kagum. Sebuah tawaran uji coba pun langsung dilayangkan pada Wahyu. Pertanyaannya: apakah secepat dan sespontan itu sebuah klub profesional dalam merekrut pemainnya? Bukankah ada prosedur tertentu yang harus dijalani dan kriteria tersendiri yang harus dipertimbangkan?

Ketika film mendekati klimaksnya, semakin banyak saja pertanyaan yang muncul. Terlihat Wahyu berada di bangku cadangan Persema Malang, di pertandingan perdana klub tersebut di Liga Primer Indonesia. Ketika Persema Malang tertinggal, pelatih memasukkan Wahyu ke lapangan hijau. Pertanyaannya: bagaimana bisa seorang pemain baru, yang tak punya pengalaman profesional, langsung dipercaya untuk bermain di sebuah pertandingan resmi, untuk mengejar ketertinggalan pula? Menurut gambar-gambar dalam film, terlihat kalau Persema Malang punya banyak pemain senior. Kenapa bukan salah satu dari mereka yang diturunkan, yang jelas punya lebih banyak pengalaman? Kenapa harus Wahyu?

Bisa dipahami kalau Wahyu memang dibingkai sedemikian rupa untuk terlihat heroik. Wahyu dihadapkan dengan tantangan yang sedemikian besar, sehingga usahanya mengatasi tantangan tersebut diharapkan menjadi inspirasi tersendiri bagi penonton. Pendekatan serupa kerap diterapkan dalam film-film olah raga, seperti Rocky (1976) atau The Karate Kid (1984), ketika protagonis mengalami transformasi nasib dari zero menjadi hero.

Masalahnya, perjalanan Wahyu yang serupa dongeng tidak pas dengan potret sepak bola yang diusung Tendangan Dari Langit. Di satu sisi, ada penggambaran yang apa adanya tentang sepak bola di Indonesia. Di sisi lain, ada sebuah dongeng tentang sukses seorang pemain bola tarkam masuk liga nasional. Di satu sisi film mengusung perspektif yang realistis, di sisi lain film mengusung sebuah untaian cerita yang berupaya dramatis. Alih-alih inspiratif, Wahyu malah terlihat seperti sebuah impian siang bolong di tengah carut-marutnya persepakbolaan nasional.

 

Optimal

Sangat disayangkan cerita Tendangan Dari Langit agak kendur dalam penyusunannya. Pasalnya, elemen-elemen visual dalam film bekerja optimal. Sebagai seorang sutradara, Hanung Bramantyo sudah cukup matang memanfaatkan medium film untuk berekspresi. Apalagi, dalam kesempatan kali ini, ia didampingi Faozan Rizal di balik kamera. Sinematografer ini sudah cukup berpengalaman dengan lanskap Gunung Bromo, mengingat ia pernah mengeksplor lanskap yang sama dalam Yasujiro Journey. Alhasil, gambar-gambar dalam Tendangan Dari Langit tidak saja indah, tapi juga mendukung cerita.

Lihat bagaimana film dibuka dengan rangkaian gambar Wahyu yang akan berangkat sekolah, berlari-lari di antara pepohonan dan bebatuan lereng Gunung Bromo. Rangkaian gambar tersebut tak saja secara efektif menunjukkan kekayaan alam Bromo, tapi juga menjelaskan bagaimana kehidupan sebagai anak gunung memupuk bakat Wahyu mengolah bola. Secara umum, kematangan bertutur seperti itulah yang penonton dapat nikmati sepanjang Tendangan Dari Langit.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.