Penyakit Lupus Sebagai Metafor

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (2/10)

“Sebenarnya kami ingin memberi judul Lupus,” ujar Damien Dematra saat konferensi pers di The Only One Club, fX Plaza, 27 September 2011. “Masalahnya, setiap dengar kata lupus, orang ingatnya novel tentang anak muda yang gemar makan permen karet itu,” tambahnya, merujuk pada serangkaian novel karangan Hilman Hariwijaya. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman, Dematra menjuduli filmnya L4 Lupus (dibaca “L for Lupus”). Dari sini terjelaskan tujuan Dematra. Ia ingin mengangkat penyakit lupus ke ranah publik. Ia ingin filmnya menjadi semacam penyuluhan populer bagi masyarakat. Ada yang namanya penyakit lupus, dan penyakit itu berbahaya kalau tidak segera ditangani.

Dalam kasus ini, kata kuncinya adalah populer. Dengan mengangkat lupus ke medium film, Dematra harus memperhitungkan dua hal: teks dan resepsi audiens. Di satu sisi, keahlian Dematra sebagai pembuat film diuji. Sebagai sebuah teks, film disusun melalui sejumlah pilihan, mulai dari pilihan jenis cerita sampai dengan pilihan teknik penuturan. Di sisi lain, pilihan-pilihan Dematra haruslah disesuaikan dengan konteks penonton Indonesia. Jenis cerita apa yang paling mungkin memenuhi bangku penonton? Teknik penuturan macam apa yang paling mudah dipahami berbagai macam kalangan? Ingat, tujuan Dematra adalah penyuluhan. Jumlah penonton dan aksesibilitas merupakan faktor yang esensial.

Pilihan Dematra jatuh pada melodrama. Karakteristik utama melodrama adalah penekanan yang eksplisit pada sejumlah elemen cerita. Dalam L4 Lupus, penekanan tersebut terwujud dalam musik pengiring yang bombastis dan narasi suara protagonis. Keduanya silih berganti menarik perhatian penonton. Musik pengiring menggambarkan suasana, narasi suara menjelaskan isi kepala dan lingkungan sekitar protagonis. Alhasil, tidak ada adegan yang sunyi dalam film. Segalanya terjelaskan oleh suara.

Jenis cerita yang dipilih adalah kisah perjuangan seorang perempuan. Namanya Atikah (Virda Anggraini). Kedua orang tuanya meninggal waktu dia kecil. Atikah hidup mandiri dengan adik perempuannya, Mutiara (Natasha Dematra), yang buta-bisu-tuli sejak lahir. Sehari-hari Atikah bekerja di unit gawat darurat Rumah Sakit Kramat 182, yang dipimpin oleh Dr. Cakrawati (Ayu Azhari). Di sanalah Atikah pertama kali berkenalan dengan lupus. Ada beberapa pasien masuk. Semuanya perempuan dan masih muda. Gejalanya serupa: kurang darah, rambut rontok, dan kulit penuh ruam. Semuanya positif lupus.

Menjelang pertengahan film, lupus pun memasuki lingkaran personal Atikah. Mutiara yang kena. Satu hal yang mengusik Atikah adalah perubahan sikap Mutiara. Menurut Atikah, adiknya bertingkah seperti “gadis liar yang tak terkontrol.” Ia menolak semua orang yang mendekati untuk merawatnya. Ketika ia terkena lupus juga, Atikah mengalami transformasi serupa. Ia menolak orang-orang yang mendekatinya, termasuk Dr. Cakrawati yang selama ini menjadi teman baiknya. Hal tersebut bagusnya tidak menghentikan niat Adam (Lucky Moniaga), seorang rekan kerja, untuk mendekati Atikah. Romansa terjadi di antara keduanya, sementara Atikah menghitung sisa hidupnya.

 

Metafor Penyakit-Sebagai-Tragedi

Mari mundur sedikit ke sinema nasional tiga dan empat dekade silam. Pada tahun 1970-an dan 1980-an, kanker merupakan penyakit yang paling laris dipakai sebagai elemen cerita. Tidak jauh di belakangnya ada leukemia dan sakit jantung.

Menariknya, dalam film Indonesia, keberadaan penyakit fatal kerap dituturkan dengan pola yang serupa. Informasi perihal penyakitnya seringnya tidak dibeberkan. Penonton hanya mendapat nama penyakitnya saja, entah itu kanker, sakit jantung, maupun leukemia. Kalaupun ada informasi berlebih, biasanya tentang keterlambatan pasien memeriksakan penyakitnya ke dokter. Biasanya ada satu atau dua adegan ketika dokter masuk ke dalam cerita dan berkata, “Bapak dan Ibu tidak usah khawatir. Kami akan berusaha semampu kami.” Kata-kata tersebut hanyalah bentuk lain dari ucapan belasungkawa. Dalam sinema Indonesia, ketika penyakit fatal sudah terlibat dalam cerita, kematian menjadi satu dari sedikit opsi yang tersisa. Sisanya adalah beragam adegan banjir air mata.

Apa yang sebenarnya terjadi adalah pembentukan metafor, yang mengibaratkan kanker/sakit jantung/leukemia sebagai tragedi. Asosiasi tersebut logis, namun sayangnya terlalu simplisistis. Pada kenyataannya, penyakit-penyakit tersebut memang sangat sulit ditanggulangi. Hanya segelintir orang yang mampu bertahan, itu juga dengan sejumlah catatan. Mengatakan penyakit-penyakit tersebut tidak berujung pada kematian sama saja mengaburkan realita. Namun, salah juga kalau menjadikan mereka hanya sebagai jualan air mata. Di antara pasien dan kematian, masih banyak kemungkinan lain yang dapat dijelajahi, kemungkinan-kemungkinan yang tidak melulu berujung pada tangis-tangisan semata. Inilah salah satu dosa besar yang kerap dilakukan sinema Indonesia: menyederhanakan penderita kanker/sakit jantung/leukemia sebagai komoditas belaka.

Metafor penyakit-sebagai-tragedi sering ditemui dalam film-film drama, yang acap kali menjurus ke melodrama. Contoh yang cukup anyar bisa dilihat dalam Pupus dan Surat Kecil Untuk Tuhan. Dalam kedua film tersebut, kanker diposisikan sedemikian rupa sehingga memegang peranan penting dalam cerita. Dalam kapasitas yang sama, kanker menjadi faktor yang dijual untuk menarik empati penonton. Teknik penuturan serupa diterapkan Dematra dalam L4 Lupus. Bedanya tentu saja di penyakit yang diceritakan.

 

Plus dan Minus

Mari kita melihat kembali tujuan Dematra membuat L4 Lupus. Agenda yang dikedepankan adalah penyuluhan populer, alias sosialisasi penyakit lupus di kalangan publik. Ada plus dan minus yang bisa kita takar dari keputusan Dematra mengadopsi format melodrama. Dengan format tersebut, Dematra sejatinya sudah punya massa tersendiri untuk filmnya. Sekali lagi, dalam kasus ini, jumlah penonton dan aksesibilitas merupakan faktor yang esensial. Penonton Indonesia sudah sangat terbiasa dengan melodrama. Dari dulu sampai sekarang, melodrama terus membanjiri industri hiburan nasional. Sesuatu yang terus-menerus dipakai adalah sesuatu yang sudah terbukti kemanjurannya, bukan?

Format melodrama juga memungkinkan eksposur yang intens ke penonton. Ada penekanan yang eksplisit pada sejumlah elemen cerita, sehingga penonton tak mungkin melewatkan informasi yang disampaikan pembuat film. Dalam L4 Lupus, Dematra menekankan pada sejumlah karakteristik yang umum ditemukan dalam odapus (istilah untuk pasien lupus): perempuan, kurang darah, rambut rontok, dan kulit penuh ruam. Penonton tidak mungkin melewatkan informasi tersebut, karena seperti itulah semua karakter odapus dideskripsikan dalam film. Dengan bantuan Google dan Wikipedia, kita dapat menemukan bahwa gejala yang sama turut dialami odapus pada umumnya.

Dematra turut menekankan perubahan psikologis yang dialami odapus. Karakter Mutiara dan Atikah begitu meratapi kondisinya, sehingga mereka menolak didekati oleh orang-orang di sekitar mereka. Khusus Mutiara, perubahan sikapnya dideskripsikan seperti “gadis liar yang tak terkontrol.” Sangat sulit memverifikasi informasi tersebut, mengingat psikologi individu adalah kasus yang sangat spesifik. Sayangnya, informasi tersebut jadi masalah tersendiri dalam L4 Lupus. Tatanan cerita film tersebut mensugestikan bahwa seperti itulah odapus pada kenyataannya. Pasalnya, Mutiara dan Atikah adalah odapus yang terus-menerus disorot oleh film.

Dengan menekankan perubahan psikologis para odapus, Dematra jadi punya alasan untuk menyematkan cerita cinta ke dalam L4 Lupus. Perubahan psikologis Mutiara menjadi pertanyaan yang dipertanyakan Atikah. Perubahan psikologis Atikah menjadi jawaban atas pertanyaannya sebelumnya, dan menjadi tantangan yang harus dijawab oleh Adam. Sepanjang proses tersebut bertebaran banyak adegan banjir air mata, yang tidak memberikan informasi apa-apa, kecuali ratapan Atikah yang tak berujung. Sulit membedakan apakah L4 Lupus memang dibuat untuk penyuluhan tentang lupus, atau sekadar mengenakan jubah usang untuk sebuah penyakit baru. Bisa jadi, apa yang Dematra sebenarnya lakukan adalah mengulangi salah satu dosa besar perfilman Indonesia: menyederhanakan penderita penyakit fatal sebagai komoditas belaka.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.