Film Religi Berbumbu Melankoli atau Sebaliknya?

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (3/10)

Apa yang terjadi dalam Kehormatan Di Balik Kerudung sungguh tidak mencerminkan judulnya. Entah di mana kehormatan yang dimaksud. Kerudung sendiri banyak seliweran di layar, namun tidak seberapa bobotnya dalam film. Pasalnya, jumlah kerudung dalam film masih kalah banyak dengan volume air mata yang diteteskan para karakter. Lantas, terjadi kebingungan: apakah Kehormatan Di Balik Kerudung film religi berbumbu melankoli, atau sebaliknya?

Kehormatan Di Balik Kerudung bukannya tak punya potensi. Cerita yang diadaptasi dari novel Mamun Affany tersebut mengedepankan suatu pertentangan klasik antara asmara dan agama, yang sejatinya mengarah pada dimensi spiritual masing-masing karakter. Materi semacam ini sudah punya audiens tersendiri di Indonesia, terutama pasca kesuksesan Ayat-Ayat Cinta tahun 2008 silam. Masalahnya ada pada eksekusi para pembuat film, Tya Subiakto di kursi sutradara dan Nayato Fio Nuala di balik kamera, yang malah mengaburkan arah perkembangan cerita.

Alkisah, ada seorang gadis bernama Syahdu (Donita), yang sedang mengunjungi kakeknya di Pekalongan. Di sana, ia berkenalan dan akrab dengan seorang lelaki soleh nan rupawan bernama Ifand (Andhika Pratama). Melihat Ifand fasih dan rajin beribadah, ditambah lagi dengan pembawaannya yang santun, Syahdu bertekad menjadi perempuan Islami sesuai dengan anjuran kitab suci. Salah duanya adalah dengan belajar sholat dan mengenakan kerudung dengan benar.

Dimensi spiritual yang tersingkap di awal cerita kian teruji seiring berjalannya cerita. Warga sekampung mulai mempermasalahkan kedekatan Ifand dan Syahdu. Beberapa dari mereka sampai mendatangi Syahdu, memohonnya untuk menghormati Sofia (Ussy Sulistiawaty), yang sudah lama menunggu kata cinta dari Irfand. Tak tahan menjadi gunjingan, Syahdu kembali ke kampung halamannya. Di sana ia mendapati bahwa ibunya sakit keras. Tak punya banyak uang, Syahdu terpaksa menerima lamaran Nazmi (Iwa Rasya), pria kaya raya yang Syahdu sama sekali tak cintai, benci bahkan. Pernikahan tersebut bisa diduga tak bertahan lama.

 

Segitiga

Kabar pernikahan Syahdu sampai ke telinga Ifand, yang ia tindak lanjuti dengan menikahi Sofia. Di sinilah Kehormatan Di Balik Kerudung mulai tersedak dengan tangisnya sendiri. Relasi segitiga Syahdu-Ifand-Sofia seharusnya bisa menjadi ujian mutlak atas pendirian masing-masing karakter, terutama saat Sofia mengizinkan suaminya untuk berpoligami dengan Syahdu. Ada pengorbanan yang harus dilakukan masing-masing karakter, dan pengorbanan tersebut getir layaknya buah simalakama. Dengan membolehkan suaminya untuk berpoligami, Sofia sejatinya mengundang intervensi ke dalam kehidupan rumah tangganya. Ifand sendiri seperti “dipaksa” oleh istrinya sendiri untuk berpoligami, yang ia harus tempuh demi kebahagian Syahdu. Pertentangan antara asmara dan agama menjadi kian pelik.

Sayangnya¸ eksekusi para pembuat film gagal mengembangkan pertentangan tersebut. Secara teknis, pemahaman visual keduanya sudah matang. Terlihat bagaimana film dengan begitu indah menggambarkan konflik batin masing-masing karakter dengan perjalanan masing-masing karakter di sebuah ladang berbatu, di antara gunung-gunung. Kesannya, di antara silang sengkarut hubungan yang terjadi dalam film, masing-masing karakter sejatinya sendirian menghadapi konflik batinnya masing-masing. Keindahan tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan kedalaman cerita. Konsekuensinya: banyak sekali lobang yang menganga dalam plot Kehormatan Di Balik Kerudung.

Tidak terjelaskan dari mana keimanan masing-masing karakter berasal. Sejak awal kemunculannya dalam film, Ifand dan Sofia sudah soleh dan beriman. Mereka sudah terbentuk seperti itu, tanpa ada rujukan yang jelas perihal latar belakang maupun masa lalu keduanya. Keluarga Ifand, yang muncul beberapa kali dalam film, hadir hanya untuk menuruti apa mau Ifand, tanpa punya pendirian yang jelas dalam cerita. Alhasil, Ifand dan Sofia terlihat belum matang sebagai karakter. Mereka baru sebatas cetak biru orang beriman, yang lebih sering kita temukan dalam kitab suci ketimbang kehidupan nyata. Dengan pengondisian terlebut, Syahdu terlihat seperti gadis labil yang merongrong stabilitas iman keduanya. Sangat sulit bersimpati dengan protagonis semacam itu.

Tidak terjelaskan juga kenapa film harus terjebak dalam rentetan adegan tangis-menangis, yang hingga dua-per-tiga film terasa mekanis. Seakan-akan cerita film tak mungkin bisa berlanjut, kecuali ada salah satu karakter yang meneteskan air mata. Pertanyaan soal keimanan masing-masing karakter pun lenyap begitu saja. Kehormatan dan kerudung praktis hanya menjadi kata penghias di judul, yang hampir sama sekali tak terwujud dalam film. Pada akhirnya, menonton Kehormatan Di Balik Kerudung tak ada bedanya dengan menonton Pupus, film lainnya yang dibintangi oleh Donita. Jumlah tangisnya sama, atributnya saja yang berbeda: satu melodrama cinta remaja, satu lagi melodrama berbalut agama.

Komentar 1

nichfiee
1 dasawarsa yang lalu

bagus tu kayaknya film nya..secara yang main idola gw donita hihihi

Pemberian komentar tidak diakifkan.