Menari Sembari Menumpang Kereta Sejarah

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (8/10)

Narasi tentang kejadian tahun 1965 kerap terjebak dalam formula yang sama: glorifikasi korban. Satu film yang masih segar dalam ingatan adalah Lentera Merah karya Hanung Bramantyo. Film tersebut dengan mudahnyasa memasukkan nama PKI ke dalam narasi, hanya untuk membingkai salah satu karakternya sebagai korban sejarah. Sebagai sebuah produk budaya, Lentera Merah tidak punya keterlibatan sosial-politik yang kuat, karena hanya berakhir pada simpati belaka. Ia tak bisa dilibatkan dalam diskursus lebih jauh, karena tak melihat permasalahan dalam bingkai yang luas. Pasalnya, kejadian 65 menjadi signifikan bukan hanya karena jumlah korbannya saja, tapi juga pertanyaan-pertanyaan perihal bagaimana bisa tercipta kondisi yang memakan korban tersebut. Pendekatan yang jarang sekali dicoba adalah pemetaan mekanisme kuasa yang memungkinkan terjadinya tragedi 1965. Berdasarkan latar belakang tersebut, Sang Penari menjadi unik.

Sang Penari adalah film besutan sutradara muda asal Jogja, Ifa Isfansyah. Bersama Salman Aristo dan Shanty Hermayn, ia membedah trilogi novel Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala) dan menyusunnya kembali menjadi sebuah naskah untuk film berdurasi 109 menit. Dengan bijak, para pembuat film menaruh peringatan di awal film, bahwa Sang Penari sekadar “terinspirasi” oleh novel karya Ahmad Tohari. Dengan begitu, ada batasan yang jelas. Sang Penari bukanlah replika sinematik dari apa yang sudah Tohari tuliskan di atas kertas. Film tersebut sebatas interpretasi para pembuat film. Lantas, apa yang mereka tafsirkan dari trilogi Tohari?

 

Potret  Zaman

Tafsir Ifa dan kawan-kawan mengedepankan pemikiran bahwa sesungguhnya semua orang adalah penumpang sebuah kereta bernama sejarah. Dalam Sang Penari, Rasus (Oka Antara) dan Srintil (Prisia Nasution) boleh jadi satu hati, namun perkara ideologi menjadikan kisah kasih mereka terpaksa berhenti. Apa yang harus mereka lakukan adalah menerima peranan mereka, sesuai yang ditugaskan oleh Sang Takdir pada mereka: Srintil terseret menjadi korban, sementara Rasus bagian dari aparat kekuasaan. Hubungan Rasus-Srintil itulah yang menjadi landasan bagi para pembuat film untuk memetakan mekanisme kuasa di balik kejadian 65. Pencapaian tertinggi pembuat film Sang Penari adalah menumpuk lapis demi lapis, dari ranah personal hingga lanskap sosial, sehingga tercipta potret besar suatu zaman.

Perspektif penonton diposisikan pada Dukuh Paruk, sebuah desa miskin (walau terlihat hijau dalam film) yang tidak punya sarana penghidupan lain. Ronggeng menjadi penting karena memungkinkan Paruk memiliki daya hidup kembali. Dalam ronggeng, ada tradisi yang harus diikuti: salah satunya adalah “buka kelambu”, alias pemberian keperawanan pada penawar yang paling tinggi. Srintil berniat menjadi ronggeng, dan tak mau keputusannya diganggu gugat, bahkan oleh kekasihnya sendiri. Keinginan Srintil sebagian terdorong oleh rasa bersalah, karena waktu kecil orang tuanya tanpa sengaja meracuni orang sekampung dengan tempe bongkrek. Rasus hanya bisa pasrah dengan keputusan kekasihnya.

Di tengah kegamangan, Rasus tanpa sengaja bertemu dengan Sersan Binsar Harahap (Tio Pakusadewo) suatu hari di Pasar Dawuan. Di sinilah rezim kuasa mulai menampakkan diri dalam film. Rasus melamar kerja di markas tentara. Ia mulai dari bawah, menjadi tukang bantu-bantu, sampai akhirnya ia bisa merakit senjata sendiri. Rasus resmi menjadi anggota tentara, yang berarti juga ia harus mematuhi segala batasan dunia militer. Ia harus mengikuti apapun yang diperintahkan oleh atasannya, termasuk mengecek kampung halamannya sendiri untuk aktivitas-aktivitas yang kontra dengan pemerintah pusat (baca: PKI).

Dukuh Paruk sendiri sudah mulai memerah. Desa tersebut disambangi oleh Bakar (Lukman Sardi), seorang perwakilan partai komunis. Perlahan tapi pasti, Bakar meyakinkan warga bahwa ada yang salah dengan negara. Rezim telah merampas hak-hak dari milik rakyat, oleh karenanya perlu ada perubahan. Terbakar oleh retorika Bakar, ditambah lagi ketidakmampuan mereka baca-tulis, warga Paruk pun mulai bergerak. Mereka mengikuti saja apa yang Bakar sarankan. Pengaruh Bakar pun sampai pada ronggeng. Bakar sukses meyakinkan Kartareja (Slamet Rahardjo, dukun ronggeng, untuk memodifikasi ronggeng dengan tambahan orasi politik. Tentangan Sakarya (Landung Simatupang), kakek Srintil, tak digubris. Apa yang menjadi daya hidup dukuh kini menjadi komoditas partai komunis.

Dalam tatanan yang lebih besar, Dukuh Paruk resmi menjadi target aparat negara. Gambaran zaman yang disusun dari awal Sang Penari kian komplit. Tentara mulai masuk ke Dukuh Paruk, menyergapi mereka-mereka yang (diduga) berpihak ke kiri. Panutannya: secarik kertas berisikan nama-nama warga, yang ditulis Bakar saat warga Paruk mengantri makan. Paruk pun menjadi perwakilan dari desa-desa serupa, yang mengalami hal serupa pada tahun 65. Melihat semua ini, Rasus langsung meminta cuti, untuk mencari keberadaan Srintil. Drama pun berlanjut.

 

Konteks dan Karakter

Bisa disimpulkan bahwa modus bercerita Sang Penari terletak pada tautan antara konteks dan karakter. Apa yang terjadi di latar sosial menjadi alasan bertindak masing-masing karakter. Oleh karena itu, keberhasilan penuturan Sang Penari sangat tergantung pada penjelasan konteks sosio-historis yang melingkupi karakter. Para pembuat film sudah berhasil memetakan hierarki ideologis, dengan sangat baik bahkan, sehingga penonton tidak saja bisa melihat penderitaan para korban rezim, tapi juga bagaimana Orde Baru bisa terbentuk dan memakan korban.

Permasalahannya adalah penanda ruang. Tidak jelas seberapa jauh jarak antara Dukuh Paruk, Pasar Dawuan, dan markas tentara. Montase film seakan-akan menunjukkan kalau mereka bisa berpindah sesuka hati. Terlihat Rasus bisa ada di Paruk dalam satu adegan dan berikutnya di Dawuan, atau dari Paruk ke markas tentara, atau sebaliknya. Jarak menjadi masalah, karena jarak menjelaskan pengaruh masing-masing lokasi dengan sesamanya, baik secara kultural maupun sosial. Apakah Pasar Dawuan menjadi pasar bagi hasil produk Dukuh Paruk, sehingga normal bagi Rasus (atau pemuda Paruk lainnya) berada di sana? Apakah markas tentara sangat dekat dengan Dukup Paruk, sehingga normal bagi Rasus (atau, lagi-lagi pemuda Paruk lainnya) punya keinginan mencari kerja di sana? Apabila hanya melihat susunan gambar Sang Penari, pertanyaan-pertanyaan tersebut takkan bisa terjawab.

Permasalahan lain adalah sejumlah momen-momen kecil menjelang akhir film. Salah satunya adalah adegan pembantaian warga-warga Paruk yang diduga kiri oleh tentara. Adegan tersebut dieksekusi dalam kondisi cahaya rendah (low-light), saking rendahnya sehingga penonton hampir tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ada kesan bahwa pembuat film ingin menutupi adegan sadis tersebut. Pertanyaannya: kenapa harus sampai sebegitunya? Adegan tersebut sungguh berlawanan dengan keberjarakan yang diterapkan sepanjang film. Seakan-akan pembuat film masih belum yakin penonton Indonesia bisa menghadapi fakta tragis tersebut secara telanjang.

Adegan lainnya adalah pertemuan terakhir Rasus dan Srintil di Pasar Dawuan. Pertemuan terjadi begitu saja, padahal sebelumnya terjadi pencarian berlika-liku menyusuri birokrasi militer. Tembok antara Rasus dan Srintil yang sudah dibangun sedemikian begitu rupa mendadak runtuh begitu saja. Secara dramatik, hal tersebut sangat mengganggu.

Terlepas dari kekurangan-kekurangannya, Sang Penari tetaplah film yang unik, boleh jadi film terbaik Indonesia tahun ini, setidaknya sampai periode Oktober-November. Eksekusi teknisnya matang. Kamera yang ditangani Yadi Sugandi (95% handheld) melayang-layang sepanjang film, secara efektif menyorot detail-detail esensial yang menjelaskan lingkup sosio-historis yang melingkupi para karakter. Satu momen yang berkesan adalah saat kamera menyorot pembuatan tempe bongkrek dari dekat, sementara dialog para warga terdengar offscreen. Langsung terjelaskan bahwa membuat tempe bongkrek adalah rutinitas warga Paruk, dan bagaimana kekacauan yang terjadi pasca rutinitas tersebut begitu memukul Srintil. Sederhana, tapi efektif.

Di atas itu semua, pujian terbesar patut dialamatkan pada sikap dasar para pembuat film. Mereka tidak mengambil jalan pintas dalam menarasikan kejadian 1965, tidak terjebak dalam glorifikasi korban dan simpati semata. Mereka mengambil langkah yang lebih terjal dan sukses. Salut.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.