Rumah Sempurna yang Terlampau Sederhana

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Ingat film The Others? Film yang dibintangi Nicole Kidman tersebut terjadi dalam sebuah rumah, dengan tujuan mengisolasi penghuni rumah dari dunia luar. Isolasi yang dimaksud diterapkan hingga level yang paling ekstrem. Tidak boleh ada yang keluar rumah. Cahaya matahari bahkan tidak boleh masuk ke dalam rumah barang setitik pun. Alhasil, tercipta suatu ketegangan tersendiri. Ada apakah di luar sana yang begitu mengancam eksistensi orang-orang di dalam rumah? Sejumlah pengalihan perhatian pun diterapkan. Kecurigaan penonton dimainkan oleh pembuat film, dari satu karakter ke karakter lainnya, dari satu insiden ke insiden lainnya. Laiknya film-film thriller, sebuah plot twist mengungkap segalanya menjelang akhir cerita.

The Perfect House bekerja dengan formula serupa, walau eksekusinya berbeda. Dalam film yang disutradarai Affandi Abdul Rachman tersebut, penonton dituntun mengikuti teka-teki dalam suatu rumah misterius. Ketidaktahuan penonton diwakili oleh Julie (Cathy Sharon), seorang guru privat untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pada suatu hari, Julie diminta Madame Rita (Bella Esperance) untuk memberi les privat pada cucunya, Januar (Endy Arfian). Guru Januar yang sebelumnya lenyap entah ke mana. Syarat dari pekerjaan ini: Julie harus menginap di rumah mereka, karena jauhnya rumah mereka dari perkotaan. Tidak mungkin bagi Julie untuk bolak-balik setiap harinya. Walau sejatinya ingin berlibur, Julie mengiyakan permintaan Madame Rita.

Di rumah tempat Julie bekerja, ada suatu tatanan kuasa yang meregulasi kegiatan sehari-hari dalam rumah. Madame Rita bertindak layaknya diktator yang merumuskan batas-batas yang tak boleh dilanggar. Salah satunya adalah larangan keluar rumah. Januar harus patuh, dan Julie mau tak mau mengikut. Kalau tidak, ada Yadi (Mike Lucock) yang senantiasa mengawasi. Ia berbadan besar dan bermata nanar. Tindak-tanduknya hampir mekanis, mengikuti apapun yang Madame Rita perintahkan. Akibat penampilan fisiknya yang eksplisit, ia menjadi perwujudan dari segala kemungkinan buruk yang ada dalam rumah tempat Julie bekerja.

Yadi pula yang menjadikan The Perfect House mudah ditebak alur ceritanya. Pasalnya, keberadaan Yadi menyingkap formula di balik narasi film secara terang-terangan. Yadi menjadi pion kuasa dalam pertarungan antara Madame Rita sebagai yang menyiksa (tormentor) dan Januar-Julie sebagai yang disiksa (tormented). Narasi film tersimplifikasi menjadi baik-lawan-buruk semata. Misteri tentang apa yang ada di dalam dan luar rumah menjadi tak signifikan, karena yang penting adalah hasil akhir dari pertarungan Januar-Julie versus Rita-Yadi.

Mari kembali sejenak ke The Others. Film tersebut bisa berhasil karena misteri tentang apa yang ada di luar dan dalam rumah dipertahankan terus hingga akhir cerita. Sementara itu, relasi karakter yang ada di dalam rumah terjadi dalam relasi berbasis kebutuhan, yang tidak melulu berurusan dengan baik dan buruk. Konflik dalam rumah menjadi intro dari misteri yang lebih besar di luar rumah. Berdasarkan bingkai pemikiran tersebut, The Perfect House bisa dikatakan terlampau sederhana dalam membangun plotnya. Segalanya terlalu hitam-putih dan mudah terbaca. Konsekuensinya, plot twist yang disiapkan di akhir cerita tak terlalu mengejutkan lagi.

Sangat disayangkan memang, karena kejutan merupakan jualan utama film thriller macam The Perfect House. Semakin disayangkan karena film tersebut hampir tak bermasalah secara teknis. Visual film tidak sekadar indah, tapi efektif dalam menyokong tujuan cerita. Kontras gelap-terang yang diterapkan sepanjang film sesuai dengan kondisi keterjebakan yang Julie dan Januar alami. Mereka berada dalam sebuah rumah yang suram, dan berjuang untuk keluar menuju cahaya yang masuk lewat jendela. Namun, teknis barulah setengah pencapaian. Setengah lainnya adalah konten cerita, yang sayangnya tak tergarap dengan baik dalam The Perfect House.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.