Belajar Dewasa Bersama Garuda Muda

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Apabila sinema adalah cerminan kehidupan, maka Garuda Di Dadaku 2 adalah perwujudan dari apa yang sepak bola nasional tidak (atau belum) mampu capai dalam kehidupan nyata. Film ini mencerminkan (atau dibuat mirip) kondisi persepakbolaan nasional sekarang, dan memutarbalikkannya sedemikian rupa menjadi sebuah harapan atau angan-angan. Tergantung bagaimana penonton melihatnya. Satu hal yang pasti: para pembuat film Garuda Di Dadaku 2 ingin penonton turut tumbuh bersama Bayu (Emir Mahira), yang sepak terjangnya diangkat ke layar lebar oleh Ifa Isfansyah dua tahun silam. Di film sekuel ini, penyusun kisah hidup Bayu masih Salman Aristo. Bedanya, kali ini Rudi Soedjarwo yang ada di balik kamera, mengarahkan langkah Bayu menempuh jalan pendewasaannya.

Di Garuda Di Dadaku 2, kehidupan Bayu serba naik kelas. Ia sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Seragam sepak bola yang ia kenakan bukan lagi milik timnas U-13, tapi U-15. Keluarga Bayu juga tak lagi terlalu dililit kesulitan ekonomi, tidak seperti yang terlukis di film pertama. Karier ibu Bayu, Wahyuni (Maudy Koesnaedi), kian menanjak. Pelan tapi pasti ia sukses menyambung hidup keluarganya.

Pada titik ini, rasanya tidak pas mengkotakkan Garuda Di Dadaku 2 dalam formula zero-to-hero. Bayu sudah menjadi hero pasca kesuksesannya masuk timnas di Garuda Di Dadaku. Terlebih lagi, Salman Aristo sudah tidak mengusung potret kehidupan bak dongeng layaknya film pertama. Sejak awal Garuda Di Dadaku 2, status Bayu secara instan diturunkan dari hero ke zero. Pada titik nol tersebut, Bayu harus menata ulang asa dan usahanya. Tujuannya adalah menjadi dewasa, ketika ia tak seorang diri menjadi pahlawan, tapi melebur bersama rekan-rekannya untuk mewujudkan kemenangan.

Ada kebijaksanaan tersendiri dalam keputusan pembuat film menitikberatkan cerita pada usaha kolektif. Bayu bukanlah seorang pahlawan super, yang bisa memenangkan setiap pertandingan sendirian. Tidak (atau belum) ada pesepakbola macam itu di negeri ini. Kalau timnas mau sukses, kuncinya ada di kerja keras dan kebersamaan. Proses inilah yang ditekankan sepanjang cerita Garuda Di Dadaku 2. Pemantiknya adalah kekalahan timnas U-15 di laga uji coba menjelang sebuah kompetisi tingkat ASEAN. Kekalahan tersebut menyebabkan pelatih timnas dipecat secara sepihak. Masuklah Wisnu (Rio Dewanto), pelatih muda nan ambisius pilihan institusi sepak bola nasional (anggap saja PSSI, meski tak disebutkan secara eksplisit dalam film). Di bawah tempaan Wisnu, Bayu dan kawan-kawan menjalani rezim latihan anyar, yang secara intens menguji ketahanan mental dan fisik. Satu per satu pemain dicoret karena dianggap tak layak. Para Garuda muda kewalahan. Bayu harus mati-matian berjuang agar dirinya tak dicoret dari timnas. Keringat dan darah bercucuran menutupi senyum dan tawa masa kecil.

Abai

Di tengah masa adaptasi dan seleksi, Wisnu memasukkan seorang pemain baru ke dalam tim: Yusuf (Muhammad Ali). Garis mukanya halus, bulu matanya lentik (untuk ukuran pria), dan gocekan bolanya semaut senyumannya. Semacam rujukan halus ke Irfan Bachdim, yang untuk beberapa saat mengangkat timnas ke tataran selebriti infotainment? Boleh jadi, mengingat Yusuf mendadak menjadi wajah publik timnas U-15, yang sebelumnya identik dengan Bayu. Pers rajin menyoroti gerak-geriknya. Banyak penonton timnas jatuh hati pada Yusuf. Salah satunya adalah Heri (Aldo Tansani), sobat karib Bayu yang setia menemani sejak film pertama. Heri pun abai pada Bayu, mengalihkan waktu dan perhatiannya pada Yusuf.

Untungnya, pembuat film tidak ikut-ikutan abai dalam menjaga waktu dan perhatian penonton dalam menikmati Garuda Di Dadaku 2. Rata-rata durasi shot Garuda Di Dadaku adalah tiga sampai lima detik. Di Garuda Di Dadaku 2, rata-rata durasi shot adalah lima sampai tujuh detik. Di atas kertas, perbedaannya boleh jadi tidak signifikan. Saat menonton, durasi shot yang lebih panjang memungkinkan penonton untuk fokus, mengendapkan kejadian-kejadian yang terjadi dalam cerita. Hal ini penting mengingat banyaknya cerita yang diselipkan pembuat film di antara sepak terjang Bayu di timnas.

Ada cerita tentang keluarga Bayu. Di sini Bayu berusaha merekatkan kembali dirinya dengan ibunya. Kegiatan Wahyuni merintis bisnis baru membuatnya kadang harus absen menonton langsung Bayu berlaga di lapangan. Ditambah lagi dengan kehadiran Rudi (Rendi Krisna), rekan kerja sekaligus kekasih Wahyuni. Semakin berkuranglah waktu Wahyuni untuk anaknya. Ada juga cerita tentang sekolah Bayu. Di sini Bayu berusaha menuntaskan tanggung jawabnya sebagai pelajar, di tengah jadwal pengabdiannya untuk timnas. Di waktu yang sama, ia berusaha mendekati Anya (Monica Sayangbati), teman sekelasnya. Jangan lupakan juga cerita-cerita kecil perihal relasi Heri dengan Yusuf, serta trivia tentang Wisnu dan salah satu rekan setim Bayu yang menggemari Benyamin Sueb.

Penataan durasi shot Garuda Di Dadaku 2 menjadikan adegan-adegan film mampu mengkomunikasikan banyak kejadian dalam cerita dengan baik. Benang merah dan hubungan antar kejadian terurai jelas, dengan tata dramatik yang baik dan terjaga pula. Permasalahannya adalah, setelah semua kejadian terekspresikan dengan apik, ada semacam kebingungan yang tampak dalam pengembangan tokoh-tokoh cerita. Bayu yang mana yang sebenarnya ingin dikedepankan pembuat film? Bayu pemain sepak bola kah? Bayu anak seorang single parent kah? Atau Bayu seorang pelajar SMP? Ia dikembangkan ke banyak arah, sehingga penonton sulit mengidentifikasi Bayu yang mana sebaiknya penonton ikuti.

 

Disorientasi

Disorientasi karakter turut menghinggap Heri. Sudah dua tahun berselang, dia tetap tidak mengalami perubahan sikap. Dia tetaplah Heri cetakan Garuda Di Dadaku terdahulu: orang yang memilih teman berdasarkan kemampuan (atau pemahaman) sepak bolanya. Bertambahnya umur menjadikan Bayu sebagai pribadi yang lebih dewasa, lengkap dengan segala perubahan sikapnya. Kenapa Heri tidak? Konflik segitiga Heri-Bayu-Yusuf hanyalah perluasan dari konflik serupa antara Heri dan Bayu di Garuda Di Dadaku. Skalanya berbeda, intinya sama saja.

Dalam penerawangan lebih luas, Garuda Di Dadaku 2 sesungguhnya memiliki terlalu banyak karakter krusial yang harus diperkenalkan. Krusial dalam kasus ini tentunya dipahami berdasarkan kaitannya dengan Bayu. Ada Wisnu, Yusuf, Rudi, dan Anya. Empat karakter baru dalam fase kehidupan baru. Di samping itu, Bayu juga punya kewajiban menjaga ikatan dengan orang-orang terdekatnya terdahulu: ibunya, Heri, dan Bang Dulloh (Ramzi). Durasi 99 menit jelas tak cukup untuk menajamkan kedalaman para tokoh dalam cerita, yang turut berdampak pada kurang matangnya penggambaran interaksi para tokoh dalam cerita. Tidak jelas tokoh mana yang mempengaruhi dan mana yang dipengaruhi oleh Bayu. Belum lagi, durasi film turut dialokasikan untuk menampilkan serangkaian pertandingan, yang memang menjadi inti dari profesi Bayu sebagai pesepakbola.

Hasilnya: para tokoh dalam film jadi serba setengah-setengah. Para tokoh baru diperkenalkan sebatas permukaan, sebatas sifat-sifat yang paling terkait dengan profesi mereka, namun belum pada kepribadian mereka sebagai manusia. Sementara itu, orang-orang lama di sekitar Bayu saling berebut porsi dalam cerita. Satu indikasi dari terlalu banyaknya tokoh dalam Garuda Di Dadaku 2: dinamika antara Bayu-Heri-Bang Dulloh, yang membuat film pertama begitu renyah, banyak terpangkas di film kedua.

Sangat disayangkan penggambaran interaksi karakter di Garuda Di Dadaku 2 kurang tergarap dengan baik. Pasalnya, seperti yang terjadi di film pertama, interaksi tersebut yang menjadi titik masuk penonton untuk memahami perkembangan Bayu. Penekanan akan interaksi itu juga yang sejalan dengan karakteristik sepak bola sebagai olah raga kolektif. Dengan adanya interaksi karakter yang lebih tertata, muatan drama yang disajikan Garuda di Dadaku 2 akan lebih lengkap lagi, mengingat eksekusi teknis film dan performa para lakonnya sudah baik. Dengan adanya bobot karakter yang lebih mendalam, Garuda Di Dadaku 2 bisa menjadi seruan harapan yang lebih lantang untuk sepak bola nasional, atau angan-angan yang lebih membumi lagi bagi masyarakat Indonesia. Tergantung bagaimana penonton melihatnya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.