Niat Baik Saja Tidak Cukup

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (1/10)

Semua film dibuat dengan niat baik. Pembuat film pastilah berharap menghasilkan produk terbaik, dari segala sumber daya yang dimilikinya. Ini berlaku untuk film manapun, baik film sebagai produk artistik maupun komersial. Namun, menurut salah satu pelopor gerakan New Wave Prancis Francois Truffaut, menilai film tidak berhenti di identifikasi niat saja, tapi juga menilik proses yang terjadi antara niat pembuat dan produk sinematik yang tersaji di hadapan penonton. Niat baik saja tidak cukup. Berdasarkan pemahaman ini, penilaian film Xia Aimei jatuh sejatuh-jatuhnya.

Ada dua isu yang ingin diangkat dalam Xia Aimei: realita perihal jaringan penyelundupan manusia (human trafficking), serta usaha seorang perempuan mempertahankan harga dirinya di tengah kondisi yang menyesakkan. Perempuan yang dimaksud adalah Xia (Franda), seorang gadis remaja asal Yangshuo, sebuah desa kecil di daratan Cina. Ketika ayahnya meninggal, ia diharapkan ibunya sebagai tumpuan penghidupan keluarga. Atas keterjepitan ekonomi inilah, Xia menyetujui tawaran kerja dari pamannya. Ia pun dibawa ke Jakarta, ke sebuah klub eksklusif bernama Le Mansion.

Di sana, Xia bertemu dua orang yang akan menjadi antagonis sepanjang cerita: Jack (Ferry Salim) dan Nancy (Olga Lydia). Keduanya adalah pengelola Le Mansion, yang juga terlibat dalam jaringan penyelundupan perempuan di Asia. Xia adalah satu dari sekian banyak gadis muda yang dibawa dari Cina dan Uzbekiztan, untuk dijadikan perempuan penghibur bagi para klien-klien perlente Le Mansion. Xia baru mengetahui semua ini beberapa hari setelah ia bekerja, setelah ia dijelaskan oleh rekan kerjanya dalam bahasa setengah-Mandarin-setengah-Inggris. Terkejut akan kondisi yang menimpanya, Xia pun berusaha untuk kabur.

 

Logika Ruang

Sayangnya, eksekusi film sudah kabur sejak menit pertama. Permasalahannya terletak pada luluh-lantaknya logika ruang dalam film. Penonton tidak pernah mendapat gambaran besar perihal Le Mansion, yang notabene merupakan lokasi paling esensial bagi cerita Xia Aimei. Seperti yang kita ketahui, penyelundupan manusia adalah kegiatan yang terjadi dalam ruang-ruang yang spesifik. Kegiatan tersebut memerlukan lokasi-lokasi yang strategis secara geografis, sehingga memungkinkan para pelaku beroperasi di luar pengawasan aparat. Dengan konstruksi logika ruang yang ajeg dan menyeluruh, Le Mansion berpotensi menjadi petunjuk yang berguna bagi penonton, semacam cetak biru dari lokasi-lokasi serupa di seluruh dunia. Dengan begitu, realita perihal penyelundupan manusia bisa tergambarkan lebih kuat lagi dalam film.

Nyatanya, sepanjang film, penonton dibuat bingung dengan keberadaan Le Mansion. Kosa gambar film sungguh tak komunikatif. Satu-satunya petunjuk ke penonton adalah montase dari shot suasana dalam klub ke shot gambar Monas dan jalanan ibukota, ketika AJ Park (Samuel Rizal) dan Timun (Gilang Dirgahari) menyetir dari Le Mansion ke rumah mereka. AJ dan Timun adalah dua anggota Discovery Underworld International, sebuah organisasi dokumentasi kehidupan bawah laut, yang nantinya akan terlibat dalam usaha penyelamatan Xia. Berarti (mungkin) Le Mansion terletak di bilangan Jakarta, tapi di Jakarta sebelah mana? Baru di adegan klimaks, yang berarti menjelang akhir film, penonton mengetahui kalau Le Mansion berada dekat laut. Informasi tersebut juga disampaikan secara verbal, tanpa ada eksplorasi lebih lanjut secara visual.

Secara umum, ruang diperlakukan begitu naif dalam Xia Aimei. Seakan-akan tidak pernah ada jarak maupun halangan di antara ruang, sehingga bisa terjadi perpindahan dari ruang ke ruang secara instan. Seorang tokoh dalam satu adegan bisa berada di satu tempat, lalu di adegan berikutnya sudah berada di tempat lain. Tidak pernah dijelaskan apa yang terjadi selama perpindahan ruang.

Konsekuensinya, tidak terjelaskan juga usaha yang harus dikerahkan para tokoh, yang pada perkembangannya turut mempengaruhi perkembangan dramatik maupun logika cerita film. Paling terasa di momen-momen krusial dalam cerita. Xia bisa kabur begitu saja dari Le Mansion lewat sebuah jendela. Kemudian, di adegan berikutnya, ia sudah berada dalam mobil jip AJ dan Timun. Sebaliknya, ketika berusaha menyelamatkan Xia, AJ bisa masuk ke dalam ruang para pengurus Le Mansion begitu saja, tanpa ada tantangan maupun halangan. Lantas, apa gunanya ada begitu banyak penjaga di Le Mansion? Bukankah seharusnya klub tersebut punya pengamanan kelas atas, mengingat statusnya sebagai titik aktivitas ilegal?

 

Perspektif

Permasalahan signifikan lainnya adalah perspektif film. Di hadapan logika ruang yang acak, pendirian penonton Xia Aimei diombang-ambingkan dalam logika visual yang tak kalah acaknya. Mata kamera diarahkan secara tidak konsisten, sehingga tidak jelas perspektif apa yang sebenarnya ingin dipakai pembuat film. Apakah pembuat film ingin memposisikan penonton sebagai pelaku, sehingga timbul ketidaknyamanan tersendiri melihat perlakuan yang terjadi pada Xia? Kosa gambar di pertengahan awal film menyiratkan perspektif tersebut. Dalam satu adegan, ketika Xia harus berhadapan dengan klien pertamanya, mata kamera mengambil sudut pandang seorang laki-laki perlente. Melalui matanya, kita melihat wajah ketakutan Xia, meronta-ronta agar tidak diperlakukan yang tidak-tidak. Di pertengahan akhir film, perspektif film berubah. Penonton ditempatkan dalam sudut pandang Xia, sudut pandang korban. Dalam satu adegan, kamera menengadah ke wajah Jack yang sedang menyeringai, menempatkan penonton di posisi Xia yang sedang tersungkur di lantai. Tidak konsistennya perspektif ini menyiratkan satu hal: pendirian pembuat film yang belum jelas. Niatan untuk mengangkat realita perihal human trafficking itu baik. Namun, tanpa adanya sikap yang jelas, niat sebaik apapun bisa kehilangan arah ketika dieksekusi.

Alhasil, sebagai sebuah film, Xia Aimei terombang-ambing antara film drama serius dan komedi aksidental. Serius karena temanya, komedi karena detail-detail yang menyusunnya. Di satu sisi, penonton dihadapkan dengan kondisi Xia yang menyesakkan. Di sisi lain, penonton disuguhkan dunia di sekeliling Xia yang dibangun dengan sungguh tidak meyakinkan, termasuk Timun dan AJ Park: dua orang yang ceritanya berperan besar dalam penyelamatan Xia. Timun benar-benar didesain sebagai comedy relief, di mana ia konstan melontarkan lawakan, bahkan ketika kondisi genting sekalipun. Sangat sulit membayangkan tokoh ini punya setitik kualitas heroik dalam dirinya. AJ Park juga tidak lebih baik. Sebagai karyawan untuk suatu organisasi internasional, ia bicara dengan bahasa Inggris yang terlalu patah-patah.

Nama organisasi tempat Timun dan AJ Park bekerja juga patut disorot. Kata underworld dalam Discovery Underworld International sejatinya berkonotasi dengan dunia kriminal. Padahal, dalam sejumlah adegan, terlihat kalau organisasi tersebut bergerak di bidang dokumentasi kehidupan bawah laut. Nama profesi AJ Park sendiri (terlihat sekilas dari kartu namanya) adalah underwater cameraman. Lantas kenapa nama organisasinya underworld? Sepele memang, namun kalau detail sepele tersebut saja tidak tergarap dengan baik, bagaimana bisa penonton mempercayai hal-hal lebih besar yang ditawarkan dalam Xia Aimei?

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.