Megah Tapi Salah

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Seorang reserse muda, mantan pejudi yang khilaf, pengusaha muda yatim piatu, remaja cantik yang kesepian, dan sepasang aktivis muslim. Mereka adalah perwakilan warga ibukota yang dikedepankan oleh empat sutradara Dilema. Film tersebut disusun berdasarkan pandangan bahwa kita sebenarnya dipaksa menjalani moralitas yang sama. Di hadapan semesta yang korup, semulia apapun niat seseorang, ia akan menemukan jalan buntu jua. Para pembuat film membayangkan semesta ini dikontrol dari dalam ruang-ruang tertutup. Lima cerita dalam Dilema dipantik oleh interaksi-interaksi di tempat-tempat yang terlindung dari jangkauan publik. Ada kasino bawah tanah, kediaman seorang pengusaha kaya, rumah seorang pemimpin front agama Islam, dan pantai eksklusif langganan anak muda borjuis.

Ada pepatah yang mengatakan kalau ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Validitas pepatah tersebut masih harus dibuktikan lagi, namun dalam kasus ini pembuat film sungguh-sungguh mewujudkannya. Cerita-cerita di dalamnya berporos pada pilihan untuk mengikuti sistem yang korup atau menjadi minoritas yang mengikuti hati nurani. Melihat petunjuk-petunjuk yang disodorkan para pembuat film, kita bisa memprediksi kalau para minoritas ini akan menemui akhir yang kurang mengenakkan. Untuk menegaskan konsekuensi dari kondisi moral yang dihadapi para protagonis, penuturan film disajikan secara linear: semua sebab di awal film dan akibat di akhir film.

Sekilas, Dilema mirip Kuldesak. Kelima cerita dalam film disajikan sepotong demi sepotong, seolah-olah mereka berjalan bersamaan. Bedanya dengan Kuldesak, cerita-cerita dalam Dilema memang berjalan bersamaan dan terhubung oleh sejumlah karakter. Terciptalah sebuah sulaman besar tentang kesinambungan hidup seluruh penghuni ibu kota. Sayangnya, para pembuat film kurang sungguh-sungguh dalam mewujudkan ruang yang melingkupi para tokohnya. Tidak ada ruang yang komplit dalam Dilema. Ada semacam absensi ambience yang menjelujur di sepanjang film. Dampaknya ironis: mungkinkah di Jakarta, kota yang terkenal ramai itu, tidak terdengar riuh rendah jalanan macet sedikit pun? Mungkinkah di sebuah tempat judi bawah tanah, penuh dengan orang-orang stres yang mempertaruhkan harta duniawi, tidak terlihat asap rokok setitik pun?

Pertanyaan-pertanyaan ini takkan jadi soal kalau Dilema tidak diniatkan sebagai potret ibu kota. Akan semakin tidak menjadi soal kalau Dilema diniatkan hanya sebagai etalase pencapaian teknis sinematografi, bukan sebagai eksplorasi moralitas warga ibu kota. Pasalnya, pernyataan terkuat Dilema adalah gaya penuturan filmnya sendiri, dan itu mengganggu. Setiap adegan dikemas dalam pola warna monokrom yang cemerlang, dan dilakonkan layaknya pentas teater: penuh gestur yang menonjol dan suara yang lantang. Film terasa nyaman di mata dan telinga, namun tidak di dalam kepala. Apapun yang terjadi di dalamnya terasa megah tapi salah.

Korbannya adalah pendalaman karakter. Mari kita lihat sejenak cerita Dian (Pevita Pierce) dan Rima (Wulan Guritno). Ingin lari dari ketidakpedulian orang tuanya, Dian menerima (walau awalnya resisten) narkotika yang disodorkan Rima. Ia pun menenggelamkan dirinya dalam pesta pantai garapan Rima dan teman-temannya, menari sambil mabuk, hingga akhirnya mencium salah satu lelaki di lokasi. Ini masih meyakinkan. Momen tidak meyakinkan datang ketika Rima menghampiri Dian, menagih uang untuk setiap narkotika yang ia pakai. Dian tersadar seketika. Ia melempar sejumlah uang dan berkata, "Asal lo tahu aja, uang bukan masalah buat gue." Mungkinkah orang yang sedang mabuk berat bisa tersadar dalam hitungan detik? Bahkan sampai bisa menciptakan gerak dan kalimat yang teratur? Estetis iya, logis tidak.

Cerita Ibnu (Baim Wong) dan Said (Winky Wiryawan) lebih berlubang lagi. Usai mendemo sekelompok ulama yang dirasa menyimpang dari ajaran Islam, Ibnu menghardik Said dengan argumen bahwa perjuangan agama tidak seharusnya dijalankan dengan kekerasan. Said kembali ke rumahnya dan mendapat kunjungan dari seorang pembunuh bayaran (diperankan oleh Verdi Solaiman) yang selama ini memberinya komando. Pertanyaannya: bagaimana dia bisa terlibat dengan pembunuh bayaran ini? Apakah dia punya kesulitan ekonomi tersendiri atau memang oportunis saja? Tidak terjelaskan. Motivasinya untuk menyetujui misi mengebom sebuah masjid jadi kabur. Tidak terlihat ada adegan yang menampilkan konflik batin yang mendasari pilihannya tersebut. Ia hanya menyetujui begitu saja.

Para pembuat film begitu fokus menyajikan materi audio visual semulus mungkin, sehingga penjelasan perihal motivasi dan pengembangan tokoh seperti terabaikan begitu saja. Ini fatal. Sebagai sebuah narasi tentang moral, Dilema seharusnya memberi porsi yang cukup perihal hal-hal yang melatari tindakan para tokohnya. Dilema juga harus menampilkan tindakan-tindakan tersebut dengan meyakinkan pula, salah duanya dengan penyutradaraan dan seni peran yang tepat guna. Apalah arti dari moralitas kalau tidak dibuktikan melalui tindakan? Moralitas akan selalu mengawang-awang, tindakan manusia yang membumikannya. Dilema belum sampai situ. Baru sekadar gambar indah.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.