Man Jadda Wajada untuk Kehidupan Bersama

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Semenjak Laskar Pelangi, baik buku maupun filmnya, luar negeri terasa tujuh kali lipat lebih seksi. Jangan salah sangka. Trend cerita tentang orang-orang daerah terpencil yang sukses melanglang buana ini bukannya buruk. Bagaimanapun juga semangat untuk melampaui batasan diri adalah alasan kenapa spesies kita bisa bertahan di muka bumi sampai sekarang. Semangat ini positif dan harus ditularkan ke khalayak ramai.

Trend ini mulai menjadi masalah ketika standar sukses disederhanakan ke level karikatural. Seakan-akan sekolah atau berkarier di luar negeri sama dengan sukses, dan negeri sendiri menjadi batu loncatan belaka. Menjadi semakin bermasalah ketika cerita-cerita motivasional tersebut menyodorkan imajinasi tentang seorang individu super: kerja keras tanpa batas, dan sukses akan datang dengan sendirinya. Tidak ada yang namanya cacat dalam diri, tidak ada juga yang namanya gotong royong. Semuanya bisa diusahakan sendiri, atau (dalam beberapa kasus) kebetulan-kebetulan dalam cerita memungkinkan seorang individu bisa berjuang sendirian. Simplifikasi macam ini yang ditemukan dalam narasi from-zero-to-hero macam Semesta Mendukung dan sejumlah drama religius belakangan ini.

Bagusnya, Negeri 5 Menara tidak terjebak pada pakem serupa. Film yang disutradarai Affandi Abdul Rachman ini bicara dalam kerangka kolektif, bukan individual. Pegangannya adalah mantra man jadda wajada ("Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil") yang diutarakan sepanjang film. Pelakunya adalah enam sekawan murid Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Jawa Timur. Tidak satu pun dari enam sekawan itu yang bisa berdikari. Semuanya jauh dari kampung dan keluarga masing-masing. Tidak ada cara lain bagi mereka untuk bisa mengatasi batasan diri, kecuali dengan membangun ikatan sesama.

 

Impian ke Luar Negeri

Bagi yang belum membaca bukunya, Negeri 5 Menara berujung dengan para tokohnya ke luar negeri. Di pertengahan awal film, hal tersebut diwacanakan melalui kekaguman Alif (Gazza Zubizareta) dan kelima kawannya pada sebuah menara tinggi di pesantren mereka. Tercetuskanlah ide untuk mengumpulkan foto lima menara di berbagai penjuru dunia ketika mereka besar nanti. Terjelaskan juga arti dari judul Negeri 5 Menara.

Menariknya, pembuat film menjadikan impian ke luar negeri ini sebagai versi lain dari man jadda wajada. Ia bukanlah standar kesuksesan, yang berarti juga bukan benang merah cerita. Ia hanyalah semacam komitmen bersama setelah mereka sukses nanti. Sukses tetap berada pada pembelajaran diri yang diusahakan bersama.

Efeknya bercabang. Di satu sisi, Negeri 5 Menara seperti tidak fokus: tidak ada permasalahan utama yang mengikat cerita. Faktanya, baru di pertengahan akhir film, ada satu konflik besar (yakni persiapan sebuah pementasan seni akbar) yang mengaitkan semua tokoh dalam sebuah iringan bersama. Sebelumnya, beragam kejadian sehari-hari yang skalanya cenderung individual menghiasi perjalanan cerita. Ada lomba pidato bahasa Inggris yang diikuti Baso (Billy Sandy), ada usaha reparasi genset pesantren yang dipimpin oleh Atang (Rizki Ramdani), ada juga inisiasi Alif ke dalam pers pesantren dan cinta monyetnya dengan anak ketua Pondok Madani.

Di sisi lain, penuturan kejadian sehari-hari ini menguatkan semangat kolektivitas yang ditekankan pembuat film. Sebelum akhirnya sampai pada sebuah kelompok yang erat, cacat dalam diri masing-masing tokoh dijelaskan dan menjadi tantangan tersendiri bagi enam sekawan. Ada Alif yang sejak awal film digambarkan tidak terlalu niat bersekolah di Pondok Madani. Ini nantinya membuahkan reaksi keras dari teman-temannya. Ada juga penyingkapan fakta di pertengahan film bahwa Baso ternyata yatim piatu, dan neneknya sedang sakit-sakitan di kampung halamannya. Ia dihadapkan dengan pilihan tak enak: melanjutkan sekolahnya atau pergi meninggalkan teman-temannya untuk mengurus neneknya.

Eksplorasi tentang cacat dalam diri ini menambah muatan tersendiri bagi keenam sekawan. Persatuan mereka bukanlah berkah dari langit, namun hasil dari sebuah perjuangan penuh keringat dalam menekan ego masing-masing. Inilah pelajaran hidup yang diwartakan Negeri 5 Menara: man jadda wajada tak saja berlaku untuk impian pribadi, tapi juga untuk kehidupan bersama.

 

Gotong Royong

Singkat kata, Negeri 5 Menara merupakan tafsir romantik akan kata "gotong royong". Romantik karena pembuat film tak ambil pusing dengan dunia besar di luar sana, tak juga ambil pusing dengan sukses macam apa yang akan mereka raih nantinya. Cukup berfokus dengan masalah sehari-hari, pencapaian-pencapaian kecil, dan mengapresiasinya dalam kerangka kolektif.

Satu hal lagi yang patut diperhatikan: masing-masing dari enam sekawan Negeri 5 Menara berasal dari daerah yang berbeda-beda. Alif dari Padang, Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura. Ini metafor yang menarik. Melalui sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Negeri 5 Menara sejatinya menabuhkan harapan akan sebuah bangsa yang bisa berkembang bersama.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.