Serbuan Brutal ke Jantung Lawan

Resensi › Totot Indrarto

Penilaian penulis:  
 (7/10)

Tiga scene pembuka benar-benar lugas, dahsyat, dan informatif.

Film dibuka dengan cut-to-cut Rama (Iko Uwais) shalat, berlatih dengan sansak, dan pamit pada istrinya yang sedang hamil. Diselingi Jaka (Joe Taslim) memberikan briefing kepada pasukan kecilnya di dalam mobil van yang melaju ke sasaran. Lalu pengenalan pada Tama (Ray Sahetapy), yang, setelah mengunyah mie instan, dengan dingin menembak kepala beberapa orang. Pada sasaran terakhir pelurunya habis. "Sabar ya," katanya, lantas membuka laci berisi martil dan beberapa butir peluru. Ia mengambil pemukul dari besi itu dan menghantamkannya ke kepala orang terakhir yang tersisa.

Di dalam kepala penonton langsung terbayang: malaikat dan setan bakal berhadap-hadapan dalam sebuah pertempuran yang kasar tapi keren.

Sutradara Gareth Evans kemudian memang menenuhi janjinya. Sampai sekitar satu jam pertama kita disuguhi serangkaian adegan saling bunuh dengan senjata otomatis yang benar-benar brutal. Bahkan anak kecil, yang bisa saja sekadar sedang berada di tempat yang salah karena kecenderungannya menjelajah ke mana-mana, tidak dikecualikan. Tetap harus dibungkam dengan tembakan yang menembus punggung dan dadanya.

Sekadar membunuh lawan seakan bukan tujuan, karena target terus diberondong puluhan tembakan tanpa ampun. Semuanya digambarkan secara telanjang tanpa manipulasi kamera atau penyuntingan, dan lolos dari gunting sensor LSF. Peluru-peluru melesat ke bagian depan tubuh atau kepala sampai menembus keluar di bagian belakang bersama puncratan darah segar.

Dengan itu penonton diyakinkan bahwa ini adalah cerita tentang kemarahan, bukan sekadar cerita aksi. Kemarahan pada orang-orang yang kebal hukum sehingga merasa bisa bersikap seenaknya. Kemarahan karena kenyamanan hidupnya selama bertahun-tahun diganggu. Juga kemarahan karena pengganggu kenyamanan itu adalah orang-orang—setidaknya instansinya—yang selama ini menerima uang tutup mulut dalam jumlah besar.

Paruh terakhir film, diselingi beberapa scene drama yang agak menye-menye, dilanjutkan adu jotos dengan tangan kosong dan senjata tajam, yang tidak kalah keras dan sadis. Motif dan polanya sama: kemarahan yang melahirkan kebrutalan. Maka, kepala lawan harus di-jedut-kan berulang-ulang ke tembok, pisau komando mesti ditancapkan berkali-kali ke dada, dan leher musuh perlu digorok, supaya kemarahan itu lunas terbayar.

Sayangnya, justru pada adegan-adegan seni bela diri (martial arts) tersebut fokus gambar kurang tajam. Tampaknya sutradara terpaksa memanipulasi kecepatan lensa kamera untuk mempercepat gerakan.

Laga pencak silat yang porsinya memang relatif sedikit itu dipuncaki dengan pertarungan hidup mati Rama dan kakaknya, Andi (Donny Alamsyah), melawan Mad Dog (Yayan Ruhian), tangan kanan Tama. Sang penjahat bengis sampai harus dilumpuhkan oleh dua jagoan sebagai sublimasi "pesan moral" bahwa dalam kehidupan hal-hal buruk selalu lebih sulit dihentikan dibandingkan hal-hal baik.

 

Batas

Bagusnya, semua kekerasan yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah film Indonesia itu masih terasa berada dalam batas logika cerita. Ini adalah serbuan rahasia (dengan jumlah pasukan terbatas dan tanpa dukungan dari kesatuan) penuh kemarahan langsung ke jantung pertahanan gerombolan setan yang juga sedang marah. Bersikap brutal adalah satu-satunya cara menghentikan kebrutalan.

Ini sungguh film aksi yang brutal dan keren. Shot demi shot, scene demi scene, terasa direncanakan secara mendetail dengan sangat baik. Artinya, ini bukanlah film yang dibuat di atas meja editing. Semua aspek teknis, di luar pengucapan dialog yang buruk oleh para pemain (kecuali Ray Sahetapy), juga tergarap baik dalam kualitas kelas satu. "Dosa" harus dibebankan kepada penerjemah naskah ke dalam bahasa Indonesia, yang sekadar melakukan alih bahasa, bukannya langsung mengolah menjadi bahasa tutur. Tidak semua aktor sekelas Ray Sahetapy, yang sanggup mengolahnya sendiri.

Apa lagi? Cerita pada akhirnya jadi tidak penting, kecuali sebagai sekadar penjelasan logika dan motif para tokoh. Jadi saya bisa memaafkan ending-nya yang jauh dari kedahsyatan opening-nya.

Satu-satunya pertanyaan, mengingat setting yang begitu kumuh dan jadul, penyerbuan tersebut berlangsung tahun berapa?

Pertanyaan kritis mengapa LSF dan penonton film kita memberikan toleransi tinggi, alias lebih permisif terhadap kekerasan, dibanding konten-konten berbau seks dan politik, berada di luar teks film ini. Meskipun hal itu sebetulnya sekadar mengonfirmasi sejumlah fakta sehari-hari yang memperlihatkan bahwa Indonesia sejatinya bangsa dengan budaya kekerasan yang tinggi. Barangkali karena kekerasan tidak pernah dianggap bagian buruk dari akhlak, moral, dan peradaban.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.