Diri yang Anomali dan Teka-Teki Joko Anwar

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (6/10)

1

Suatu siang di sebuah hutan. Kamera bergerak ke sana ke mari menampilkan pemandangan hutan, lengkap dengan satwa-satwa kecil yang menghuninya. Segalanya terasa sejuk dan nyaman sampai tiba-tiba muncul sebuah tangan dari tanah. Perkenalkan, ini John Evans (Rio Dewanto). Ia baru saja dikubur hidup-hidup, tanpa tahu siapa pelakunya, tak tahu juga kenapa ia ditimpa malapetaka tersebut. Telepon genggamnya, konon teman setia setiap manusia modern, juga tak banyak membantu. Daftar kontaknya sudah dihapus, dan ia lupa namanya sendiri ketika ditanya oleh operator emergency call.

Sebuah skenario survival pun tersajikan. Dalam sebuah pondok yang John temukan (setelah berlari tak tentu arah), ada sebuah rekaman video dan mayat bersimbah darah. Dari sini John mengetahui bahwa istrinya telah mati ditikam seseorang berkostum dokter bedah. Melalui foto keluarga di dompetnya, John paham kalau kedua anaknya (beserta si pembunuh) masih berkeliaran di hutan.

Di sinilah kecakapan Joko Anwar sebagai peramu cerita ditantang. Ada satu plot pelik yang dihadapi John, ketika segala yang penting baginya dipertaruhkan. Namun, penonton sendiri tak tahu siapa John ini dan hampir tak ada alasan bagi penonton untuk bersimpati padanya. Betul, kita tahu istrinya baru saja dibunuh dan kedua anaknya masih berkeliaran di hutan, tapi dengan John amnesia, apakah kita bisa percaya begitu saja kalau mereka benar-benar keluarganya? Apa ia memang benar-benar meratap untuk keluarganya? Atau jangan-jangan ia hanya sekadar takut mati di tangan pembunuh keji ini? Apa juga yang si pembunuh cari dari John yang hampir penonton tak ketahui informasinya ini?

Atas misteri-misteri ini, suatu hal yang lumrah bagi film thriller macam Modus Anomali, pujian patut dialamatkan pada departemen kamera yang digawangi oleh Gunnar Nimpuno. Permainan kamera yang mereka terapkan membuat penonton mampu melupakan pertanyaan-pertanyaan seputar motivasi protagonis tadi, dan ikut tenggelam dalam ketegangan petualangan John. Kamera handheld diposisikan begitu dekat mengikuti protagonis, benar-benar lengket pada gestur John, meminimkan ruang pandang di sekitarnya. Dengan begini penonton diposisikan sama dengan John: sama-sama tidak tahu lingkungan sekitarnya. Dalam latar malam nyaris tak berlampu yang mendominasi film, yang praktis memendekkan jarak pandang, John (dan penonton) hanya bisa menerka-nerka dari suara sekitar. Suatu atmosfer paranoid pun terbangun. Siapa yang sedang berbicara di balik tembok itu? Dari arah mana si pembunuh akan datang menerkam?

Pembangunan atmosfer yang baik ini diimbangi dengan perkembangan karakter yang terstruktur pula. Seperti yang kita ketahui, manusia tak semerta-merta menerima kehilangan. Ada satu proses pembelajaran tersendiri, semacam formulasi perasaan, dari penyangkalan, amarah, penyesalan, hingga berakhir di penerimaan. Proses ini yang dilalui John Evans dalam Modus Anomali, mulai dari dia yang meratap saat melihat foto keluarga di dompetnya, dia yang kembali lagi ke pondok setelah lari menghindari si pembunuh untuk menyelimuti mayat istrinya, hingga dia yang marah ketika si pembunuh menyerangnya dan menantangnya secara terbuka. Ada dimensi emosional yang kemudian menyeruak dalam pertarungan John versus si pembunuh. Ini bukan pertarungan biasa, bukan parade visual belaka. Ini penebusan John atas kegagalannya sebagai kepala keluarga.

 

2

Satu hal yang mencolok dalam Modus Anomali adalah penggunaan bahasa Inggris. Ini berkaitan dengan penggunaan dunia antah-berantah sebagai latar cerita film-film Joko Anwar, keputusan artistik yang konstan ia terapkan pasca Janji Joni. Kala bertutur dengan kosmetik film noir Amerika, mulai dari jas dan mantel yang dikenakan hingga sigaret dan senapan yang dibawa para tokoh. Lokasi ceritanya sendiri menyerupai ibu kota zaman dahulu, walau tak ada elemen dalam film yang secara gamblang menyebutkan bahwa cerita terjadi di Indonesia. Pintu Terlarang hadir dengan imaji khas bangsawan Eropa, di mana pameran, jamuan makan malam, dan gedung-gedung berpilar menjadi pemandangan lumrah. Bahasa yang dipakai tetaplah bahasa Indonesia, namun tak menjadi jaminan bahwa cerita film terjadi di nusantara.

Absensi kode kultural yang spesifik memungkinkan Joko Anwar melakukan apa pun sesuai kebutuhan ceritanya. Berarti penggunaan bahasa Inggris dalam Modus Anomali sah-sah saja. Hutan yang kita saksikan terlalu generik (kecuali kita mau repot-repot mengidentifikasi jenis flora dan fauna di hutan itu). Cerita Modus Anomali bisa terjadi di hutan mana pun, tanpa ada ikatan geografis maupun sosial-kultural, yang berarti juga penggunaan bahasa Inggris sebenarnya sama sahnya dengan penggunaan bahasa mana pun, termasuk bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa Inggris dalam Modus Anomali oleh karenanya terasa seperti gimmick belaka. Tidak ada tuntutan ke arah sana dan masih banyak pilihan lain yang tersedia. Apalagi pembuat film mengkhianati semesta rekaannya sendiri, ketika di pertengahan film John menyalakan radio mobil dan terdengar lagu Bogor Biru karya Sore yang notabene berbahasa Indonesia. Ada inkonsistensi di sini. Bagaimana jadinya apabila Modus Anomali dieksekusi sepenuhnya dalam bahasa Indonesia?

Satu hal yang pasti Rio Dewanto akan terlihat lebih natural memerankan John Evans. Sepanjang film, kata-kata yang jelas terdengar dari mulutnya hanyalah sumpah serapah (yang semuanya berawalan dengan huruf F). Sungguh tidak variatif dan membatasi pendalaman tokoh Rio Dewanto. Begitu juga dengan pemeran-pemeran lainnya, terutama kedua anak John (yang mendapat porsi yang lumayan besar dalam film). Semuanya terlihat seperti berusaha melafalkan dialognya dengan rapi, ketimbang masuk ke tokoh-tokoh yang harus mereka perankan.

 

3

Fragmen tulisan ini akan menjelajahi wilayah-wilayah cerita yang konon seharusnya dirahasiakan, sebuah tindakan yang disebut banyak orang sebagai spoiler. Bagi yang belum menonton, mohon berhenti membaca dan tonton filmnya terlebih dahulu. Bagi yang sudah, mari berpetualang lebih jauh menilik Modus Anomali.

Sebagai sebuah film thriller, kekuatan Modus Anomali terletak pada struktur naratifnya yang rancak nan simetris. Segalanya terhitung. Distribusi informasi yang diterapkan Joko Anwar begitu irit di pertengahan awal film, baru kemudian dibuka satu per satu menjelang akhir film. Pemantiknya terletak pada twist di pertengahan film. Melalui sejumlah trik naratif, terbongkarlah fakta bahwa sebenarnya John Evans sendiri yang berada di balik semua ini. John mengincar keluarga yang berlibur di hutan, membunuh orang tua dari keluarga tersebut, dan menantang anak-anaknya untuk mengejar dirinya. John kemudian mengubur dirinya sendiri, menyuntik dirinya dengan cairan medis, yang membuatnya pingsan dan terbangun amnesia. Dengan begini, dia berpikir seakan-akan dia sedang bertarung dengan seseorang yang membunuh keluarganya.

Ada perubahan visual yang menarik ketika twist ini terjadi. Kamera yang tadinya begitu aktif bergerak (dan sangat dekat dengan protagonis) di pertengahan film mendadak bergerak jauh lebih mulus (dan lebih berjarak dengan protagonis). Ini sama dengan muka datar John Evans ketika ia mengeksekusi keluarga incarannya. Pergerakan kamera sama tenangnya dengan cara John mempersiapkan diri untuk menjalani permainannya, sama kalemnya dengan suara John menelepon istrinya yang sebenarnya di luar hutan sana, memberitahukan kalau ia tidak bisa pulang segera karena masih ada "urusan".

Kalau kita mau terima struktur cerita Modus Anomali begitu saja dan sedikit bermain-main dalam tafsir, kita akan mendapati dua kemungkinan yang menarik. Pertama, Modus Anomali bisa jadi sedang bicara soal kemanusiaan yang sudah begitu mati rasa, sehingga tindakan membunuh bisa menjadi begitu berjarak bagi John Evans. Pergerakan kamera yang mendadak tenang dan muka John yang begitu datar menjadi pertanda kalau dia sudah terbiasa melakukan permainan sadis ini. Cerita film yang berpindah dari satu keluarga ke keluarga menyiratkan kalau tindakan ini siklikal dan akan berulang terus. Membunuh orang tanpa merasa apa pun bisa jadi modus anomali yang dimaksud oleh judul film ini.

Kedua, Modus Anomali mungkin bercerita tentang proses rehabilitasi seorang kepala keluarga yang gagal. Tafsir ini membingkai John sebagai seorang bapak yang kehilangan keluarganya (karena hal-hal yang tak terjelaskan, tentunya). Tindakannya menghancurkan keluarga-keluarga lain menjadi via dolorosa yang ia harus tempuh berkali-kali sebagai bentuk penyesalan. Ia harus terus-menerus menghadapi fakta akan kegagalannya, semacam proses penyembuhan diri untuk melawan trauma. Tafsir ini terbersit karena kontak John dengan istri aslinya terjadi lewat suara percakapan di telepon, dan satu-satunya bukti visual akan keberadaan keluarganya adalah sebuah foto di mobil. Siapa yang bisa menjamin kalau percakapan itu memang-memang benar terjadi? Ada kemungkinan juga bukan kalau percakapan di telepon itu hanyalah rekaman, yang John selalu mainkan setelah beraksi?

Kalau kita mau mempertanyakan lebih lanjut, Modus Anomali hanya akan terlihat sebagai deskripsi suatu kebiasaan menyimpang yang dikerjakan rapi secara teknis, namun tidak dalam penyusunan elemen cerita. Siapa yang bisa menjamin John akan selalu menemukan pondok tempat korbannya dibantai setelah ia bangkit dari kubur? Ia amnesia, tak tahu apa-apa, dan berlari tak tentu arah. Jam-jam weker yang diletakkan di sejumlah titik di hutan, yang diniatkan sebagai petunjuk, terlihat baru berbunyi malam dan pagi sekali. Ada jeda waktu yang signifikan bagi John untuk tersesat ke pojok hutan lain, jauh dari lokasi permainannya, dan hilang selamanya. Permainan dalam Modus Anomali sungguh tidak matematis, kalau tidak mau disebut terlalu mengandalkan kebetulan, untuk benar-benar dilaksanakan. Dua tafsir di atas praktis hanyalah pembacaan yang berlebihan saja.

Selain itu, ada apa sebenarnya di balik permainan pelik yang dilakukan John Evans? Kelainan psikis kah? Sekadar hobi saja kah? Tidak ada yang tahu, dan narasi film memang tidak berusaha untuk mengajukan pernyataan lebih soal itu. Ia hanya berusaha mendeskripsikan. Ketiadaan kode kultural yang spesifik (bahkan tak konsisten dalam penggunaan bahasa) menjadikan cerita Modus Anomali tidak merujuk ke mana-mana, kecuali pada dirinya sendiri.

Singkat kata, Modus Anomali adalah sebuah cerita yang disajikan dalam wadah tertutup, yang sangat unggul dalam pengerjaan teknis dan eksplorasi gaya sinematiknya. Tidak lebih, tidak kurang.

Komentar 4

Tata_Surya
7 tahun yang lalu

2.2/4

suka deh tulisan Adrian!

ankysocial
7 tahun yang lalu

menurut saya fokus dari film thriller memang membombardir penonton dengan perasaan tegang dan penasaran. beberapa detail cerita justru akan lebih seru untuk tidak diungkap.

cara ini membuat saya, mungkin penonton lain juga - terutama penggemar thriller-, merangkai sendiri cerita-cerita yang tidak diberikan di sepanjang durasi film, dengan petunjuk-petunjuk yang sudah diberikan di film ini juga.

menurut saya sih film modus anomali ini masih tergolong rapih dari segi cerita dan logika bertutur. tapi emang sih, gak semua penontonnya penggemar thriller yang kerajinan nyusun-nyusun cerita sendiri :)

NayoCendol
7 tahun yang lalu

tambahan buat yang diatas. thriller itu khan teknis banget. kata hitchcock teknis yg bagus kalo dari awal penonton udah empathy ke protagonistnya. dari awal sampe akhir motif protagonist itu ga jelas di film ini. diakhir yg justru dijelaskan malah rangkaian caranya bukan motif dr kenapa john evan bisa menjadi pembunuh sadis. jujur saya ga merasakan ada apa2 di film ini. mana bisa saya empathy sama john evan? saya justru mau dia dihukum. dia kan penjahat. dia membunuh keluarga yang ga bersalah dgn alasan permainan pembangkit adrenaline. saya berharap suntikan dia sebelum dia memulai game, salah trus dia jadi kaku dan si anak yang mau balas dendam berhasil membunuh dia di endingnya.

2kasutjadi1
7 tahun yang lalu

Saya setuju dengan nayocendol, tentang karakter utama yang seharusnya membuat penonton simpatik. Paling tidak, meskipun si John ini memang pembunuh yang suka-suka aja (suka-suka dia mau bunuh keluarga siapa), ada sisi menarik yang di tampilkan. Misalnya yang sederhana seperti hanibal, kita selalu penasaran dengan caranya menangkap korban atau mungkin pembawaan hanibal yang cukup nyentrik. Dari John tidak ada yang menarik/ nyentrik. Gaya bicaranya pun sama dengan gaya bicara karakter lain di dalam modus anomali. Nada bicara yang di gunakan oleh pemain-pemain seperti kompak/Yess!. Pembuat film ini ingin penonton masuk ke dalam dunia yang ingin di ciptakannya sendiri tapi lupa dengan keseimbangan.

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.