Tenggelamnya Perahu Kertas di Lautan Suara

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Acungan jempol patut dialamatkan pada keberanian tim produksi Perahu Kertas. Risiko yang mereka ambil cukup besar dengan membagi novel Dewi “Dee” Lestari ke dua film. Niatan yang terbaca di sini: pembuat film ingin menerjemahkan sebanyak mungkin materi cerita dalam buku ke layar lebar. Tantangannya: perlu ada klimaks penengah (intermediate climax) yang cukup menggelitik keingintahuan penonton untuk menjembatani kedua film. Hasilnya: Perahu Kertas sukses menjadi film yang bertutur secara fungsional, walau tak terlalu spesial.

Kuncinya ada di narasi suara Kugy (Maudy Ayunda), gadis muda berperilaku nyeleneh dan hobi menulis dongeng, yang mengatrol penuturan Perahu Kertas sepanjang film. Narasi suara ini menjadi penanda proses tumbuh-kembang Kugy, bukan saja karena isinya, tapi karena pola kemunculannya dalam film. Suara Kugy terdengar setiap kali ia berurusan dengan Keenan (Adipati Dolken), yakni di pertengahan awal film dan tepat di akhir film. Di antaranya, kita menyaksikan kiprah Kugy pasca lulus kuliah di dunia kerja, bekerja dari level terbawah suatu biro iklan sampai akhirnya punya reputasi tersendiri. Hanya Keenan yang bisa membuat kapal Kugy oleng. Setiap kali oleng, ia bicara pada dirinya sendiri, satu modus komunikasi yang hanya bisa didengar oleh Tuhan, Kugy, dan penonton.

 

Dunia tak hanya milik berdua

Walau terdengar klise, teknik penuturan berbasis narasi suara ini bukannya buruk. Cukup tepat guna sebenarnya dalam kasus Perahu Kertas. Bagaimana pun juga, dalam setiap hubungan, ada satu garis sejarah sendiri yang berisikan perasaan-perasaan yang tak terungkapkan. Hal ini yang mendasari perkembangan konflik dalam novel Perahu Kertas. Hal yang sama coba diangkat duet Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari selaku sutradara dan penulis naskah dalam adaptasi filmnya. Meski diisi banyak tokoh, Perahu Kertas tetaplah tentang Kugy dan Keenan. Keduanya adalah poros cerita, terlihat dari bagaimana pembuat film secara konsisten meletakkan simbol KK, inisial nama Kugy dan Keenan, di titik-titik strategis film.

Di awal film, ketika romansa Kugy dan Keenan mulai panas, simbol KK terwujud dalam gantungan tas keduanya. Selang beberapa adegan, ketika Keenan mengasingkan diri di Bali untuk mengejar cita-citanya menjadi pelukis, ia mengukir simbol KK di sepotong kayu berbentuk hati. Hati kayu inilah yang kemudian Keenan serahkan pada Luhde (Elyzia Mulachela), ketika ia sudah jauh dari tambatan hatinya dulu. Kugy setali tiga uang. Ia terhenyak ketika menemukan guratan cat bertuliskan KK di pojok lukisan besar yang menggantung di kantornya. Di titik itu, Kugy sedang pacaran dengan atasan di tempat kerjanya, Remi (Reza Rahadian). Jalan Kugy dan Keenan boleh jadi sudah berbeda, namun mereka masih merasa melalui hal yang sama. Pembuat film cukup apik memperhatikan kesinambungan detail-detail kecil ini.

Satu pencapaian apik lainnya: pembuat film tak sampai melarutkan tokoh-tokoh di sekitar Kugy dan Keenan ke latar belakang film. Mereka tidak sekadar ada dalam cerita, tapi punya porsi dan pengaruh yang cukup signifikan. Alhasil, Perahu Kertas tak sampai mengulang prinsip “Dunia serasa milik berdua, lainnya offscreen” yang banyak dilestarikan film-film drama romantis Indonesia. Dunia seakan-akan hanya berpusat pada pergulatan rasa para protagonis, sehingga film membekukan logika kehidupan nyata dan berputar-putar tanpa alasan di melankoli para protagonis.

Dalam Perahu Kertas, kita melihat bagaimana teman-teman Kugy dan Keenan juga punya kehidupan sendiri. Ada Eko (Fauzan Smith) dan Noni (Sylvia Fully R) yang berpacaran, berniat menjodohkan Keenan dengan Wanda (Kimberly Ryder), dan berencana menikah. Serentetan pekembangan ini berpengaruh pada tindakan-tindakan Kugy. Ada juga Adri (August Melasz), ayah Keenan yang melarang anaknya belajar melukis, dan Lena (Ira Wibowo), ibu Keegan yang menurut kosa gambar film sepertinya pernah punya hubungan dengan guru lukis anaknya. Hal-hal ini terkait dengan keputusan-keputusan yang diambil Keenan. Relasi Kugy dan Keenan tak saja berakar pada perkembangan perasaan keduanya, tapi juga orang-orang sekitarnya.

 

Ketergantungan pada Suara

Kekayaan perspektif inilah yang mendasari jalan berputar-putar cerita Perahu Kertas. Dalam novel, kekayaan perspektif inilah yang menjadi perwujudan bagaimana ada perasaan-perasaan tak terbahasakan di antara tokoh. Dalam film, hal yang sama menjadi potensi yang terendam oleh narasi suara Kugy. Film seakan-akan beroperasi dari perspektif Kugy saja, padahal perspektif Keenan dan tokoh lainnya juga cukup banyak dieksplor. Kesan yang muncul: pembuat film seperti kurang percaya diri kalau kosa gambar film tak bisa bicara dengan sendirinya, seperti takut akan ada runtutan informasi yang hilang tak tersampaikan pada penonton, seperti terjebak pada anggapan bahwa film yang diadaptasi dari medium verbal haruslah verbal pula.

Sepanjang Perahu Kertas, suara menjadi jalur yang terus-menerus dieksploitasi pembuat film. Bukan saja narasi suara Kugy, tapi juga soundtrack film. Banyak sekuens gambar yang diuntai dengan lagu, terutama untuk menekankan emosi-emosi yang sebenarnya sudah cukup terproyeksikan lewat visual film. Bukankah shot wajah perempuan menangis sudah cukup menjelaskan kalau ia sedih, tanpa harus ditambah lagu pengiring yang sendu?

Ketergantungan pada suara adalah perkara yang terus berulang dalam pola konsumsi media di Indonesia. Di sinema nasional, suara kerapkali dimanfaatkan sebagai apa yang kerap kita istilahkan sebagai “pesan moral”. Di sinetron televisi, suara menjadi jalan pintas untuk menyampaikan isi kepala tanpa harus repot-repot berkreasi dengan visual.

Di Perahu Kertas, yang terjadi dua-duanya. Konsekuensinya, banyak bagian film yang terasa dipanjang-panjangkan, diusahakan sedramatis mungkin, namun malah jadi terlalu cerewet dan memangkas kesempatan penonton untuk mendalami kompleksitas relasi tokoh dalam Perahu Kertas. Hampir tak ada momen “sepi” dalam Perahu Kertas. Informasi cerita memang takkan ada yang terlewatkan karena penuturan filmnya yang fungsional, namun filmnya sendiri jadi tak terlalu spesial. Tak jauh beda dari yang sudah-sudah.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.