Galau adalah Nama Lain untuk Klise

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (3/10)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “galau” berarti “ramai” dan “pikiran kacau tak keruan”. Definisi yang sama rasanya bisa dipakai untuk menjelaskan Radio Galau FM. Saking ramainya film itu, pikiran sampai kacau tak keruan dibuatnya.

Radio Galau FM dibuka dengan sebuah anekdot. Di sebuah kawasan perumahan warga kelas bawah, seorang kakek ditinggal pergi istrinya. Si kakek melihat ke kamera, freeze frame, kemudian terdengar narasi suara: “Dia galau”. Berarti “galau” yang dimaksud di sini adalah kesedihan berbasis patah hati karena ditinggal kekasih. Pembuat film pun menghadirkan cerita yang sejalan dengan pemaknaan tersebut: cinta segitiga antara Bara (Dimas Anggara), Velin (Natasha Rizki), dan Diandra (Alisia Rininta). Ketiganya satu SMA dan sama-sama menanggung banyak klise film drama romantis.

Bara adalah jejaka dari keluarga berkecukupan. Ia ke mana-mana naik Vespa dan punya aspirasi menulis buku. Anehnya, yang dia lakukan sepanjang film adalah mengejar perempuan dan bermuram durja karenanya. Seakan-akan tak ada pilihan hidup lain bagi jejaka macam Bara di negeri ini. Velin dan Diandra adalah dara yang terlihat cukup cerdas. Dua-duanya gemar membaca: Velin rajin menyambangi mading (majalah dinding) sekolah, Diandra rajin beli buku. Anehnya, ketika pacaran dengan Bara, mereka berubah total menjadi makhluk egois dan tukang atur. Seakan-akan jenjang perkembangan mental semua perempuan seperti itu, seakan-akan tak ada perempuan di dunia ini yang bisa bersikap dewasa dalam sebuah komitmen.

Radio yang ada di judul film pun sekadar tempelan. Kemunculannya dalam cerita ditandai oleh suara penyiar yang terdengar lantang dari radio di kamar protagonis, yang setiap siaran cuma punya satu pertanyaan bagi pendengarnya: apakah sedang galau dan kalau iya sedang galau, segalau apa. Posisi radio boleh jadi sedang tergeser akibat menjamurnya media digital, tapi tak masuk akal rasanya kalau kreativitas radio negeri ini sudah serendah itu.

Bolehlah kita menyebut kata “galau” sebagai penanda melankoli generasi sekarang. Mungkin sama kasusnya seperti “bete” atau “gundah gulana” untuk generasi sebelumnya. Alih-alih menjadi penanda zaman, Radio Galau FM terlalu klise dan generik untuk sekadar jadi film menghibur. Rasanya, apabila radio diganti ketoprak tobong dan lokasi cerita pindah ke Magelang, kita akan mendapati film yang sama tanpa ada perubahan esensi satu pun.

Satu titik cerah dalam Radio Galau FM adalah Joe P Project. Cara dia memerankan bapak Bara cukup mengundang tawa. Ketika semua lawan mainnya begitu kukuh melakoni semua stereotip kata “galau”, dia satu-satunya orang yang mampu mencandainya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.