Turuti Ke Mana Hatimu Berlabuh

Resensi › Totot Indrarto

Penilaian penulis:  
 (7/10)

Film ini bukanlah sekuel dalam pengertian yang lazim, di mana masing-masing bagian mempunyai gagasan dan kesatuan cerita sendiri. Ini sebuah cerita panjang yang dibelah menjadi dua bagian dengan pertimbangan masa tayang dan tentu saja kalkulasi komersial.

Artinya, film bagian kedua ini sekadar kelanjutan bagian sebelumnya, sehingga sulit dinikmati dan dinilai terpisah. Banyak informasi kunci dan penanda-penanda lain yang merupakan logika cerita telah terpapar di bagian pertama. Tanpa bekal itu kejadian-kejadian penting, bahkan pivot point cerita, akan terlihat mengada-ada. Jadi anggaplah skor untuk keseluruhan film ini adalah skor rata-rata Perahu Kertas dan Perahu Kertas 2.

Setelah tiga tahun relatif berhasil membangun karier serta menemukan pasangan yang tampaknya ideal, Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken) bertemu kembali dalam pesta pernikahan sahabat mereka. Seperti dalam pertemuan awal, dengan cepat kesamaan jiwa dan frekuensi mempertautkan kembali keduanya. Tapi CLBK (bukan “cinta lama bersemi kembali”, melainkan “cinta lama belum kesampaian”) itu bisa disetop sebelum menimbulkan komplikasi. Mereka pun memperbarui komitmen dengan pacar masing-masing, Remi (Reza Rahadian) dan Luhde (Elyzia Mulachela).

Kendati lebih dramatis, plot film ini, yang (selain keunikan karakter) merupakan nyawa sebuah dongeng, lebih longgar dibanding bagian pertama. Di banyak bagian cerita juga “melantur” ke penggambaran pelbagai informasi kunci tambahan dan penegasan atas penanda-penanda dalam bagian sebelumnya guna memperkuat logika cerita. Sutradara Hanung Bramantyo berusaha keras menyiasati kelemahan tersebut dengan memperlambat ritme serta menambah atau memperpanjang durasi beberapa adegan.

Namun hal itu bisa tertutupi karena pada bagian kedua inilah gagasan pembuat film, yang tersembunyi di balik romansa CLBK dua agen Neptunus di muka bumi, mulai terbaca dan bisa dimaknai oleh penonton.

Kiasan

Penggunaan judul dan pengantar cerita dengan simbolisasi perahu kertas mudah terlihat sebagai isyarat kuat bahwa film berlatar awal sampai pertengahan tahun 2000-an ini adalah dongeng penuh kiasan.

Penggambaran Kugy dan Keenan sebagai agen Neptunus, misalnya, merupakan perlambang kesamaan jiwa yang tidak ada pada relasi mereka dengan orang lain. Keduanya seolah ditakdirkan berada dalam planet tersendiri. Oleh karena itu tidak diperlukan banyak kecerewetan lain buat menjelas-jelaskan lagi mengapa gelombang perasaan dua sejoli itu cepat nyambung, lebih mudah larut dalam kegembiraan yang sama, dan mampu bertahan lama.

Pada film bagian kedua ini kiasan-kiasan seperti itu semakin banyak terlihat, atau mungkin baru mulai kita sadari dan rasakan kekuatannya. Dengan itu pula pembuat film menggambarkan deskalasi melemahnya hubungan Kugy dan Keenan dengan kekasih mereka.

Siska (Sharena) sejak awal digambarkan memendam kecemburuan pada Kugy. Remi mulanya hanya merasa jengkel ketika teman lamanya itu berulang kali melaporkan keterlambatan Kugy memenuhi tenggat sambil selalu mempersoalkan percintaan Sang Bos dengan bawahannya. “Kamu buta!” Siska melempar isyarat kepada Remi.

Sampai saatnya Remi mulai mencurigai Siska mempunyai persoalan lain di samping kinerja buruk Kugy. “Pasti ada alasan lain,” desak Remi. “Jadi selama ini kamu anggap saya tolol,” jawab Siska sambil pergi berurai air mata.

Maka, ketika kemudian Remi akhirnya menyadari Kugy lebih memiliki pertautan jiwa dengan Keenan, ia meminta maaf kepada Siska. “Saya memang buta,” katanya. Sewaktu ia naik ke ruangannya untuk berpikir, Siska memberi isyarat lebih terbuka, “Saya selalu ada di sini.”

Adegan-adegan tersebut dengan lugas melukiskan di tengah menurunnya kepercayaan terhadap cinta Kugy, Remi mulai merasakan kecemburuan Siska dan menyadari ada orang di depan mata yang diam-diam lebih mencintainya. Apalagi Siska menegaskan cintanya selalu tersedia untuk Remi. Isyarat yang cukup bagi Remi buat mencoba membuka hati.

Spiritualisme

Dengan kiasan yang tidak semenarik itu, Luhde juga mengakhiri hubungan timpangnya dengan Keenan. Perempuan sederhana itu terlalu sensitif untuk tidak merasakan dirinya telah tiada di hati pria yang dicintai. Tapi ia baru memperoleh alasan logis untuk memutuskan setelah memahami penderitaan pamannya, Wayan (Tio Pakusadewo), akibat kegagalan hubungannya dengan ibu Keenan, Lena (Ira Wibowo).

Sebelum sampai di titik itu, baik Kugy maupun Keenan sudah mencoba dengan berbagai cara untuk terus mencintai pasangan masing-masing. Namun ada banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan sebuah hubungan. Bisa saja ditelusuri satu per satu penyebabnya, tapi tidak akan pernah ditemukan polanya.

Di balik bangunan kisah yang sangat chicklit, film ini terasa hendak membagi pandangan mengenai spiritualisme asmara. Semacam kepercayaan bahwa cinta berada dalam dimensi spiritual yang hanya bisa dimengerti oleh hati, bukan dipahami akal.

Kita tidak pernah bisa merencanakan atau mengatur di mana cinta mesti disandarkan. Turuti saja ke mana perahu kertas berlayar membawa hati kita mengikuti gelombang samudra dan embusan angin. Hanya ia sendiri yang tahu persis tempat terbaik untuk berlabuh. Selalu ada isyarat yang jelas, tapi akal kita sering mengingkarinya dengan berbagai sebab.

Jadi tidak ada gunanya membohongi kata hati. Melabuhkan hati ke tempat yang tidak semestinya, sekuat apapun membangun rasionalisasi dan sekeras apapun usaha kita mempercayainya, cuma berakibat menyakiti diri sendiri dan orang yang tidak benar-benar kita cintai.

Melalui setumpuk kiasan bermakna luas dan dalam, film ini tidak perlu lagi menjelas-jelaskan ke mana hati Kugy dan Keenan pada akhirnya berlabuh. Setelah sejoli itu mau lebih mempercayai kata hatinya, pelayaran hati mereka niscaya berlabuh di dermaga yang membahagiakan.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.