Ternyata Jakarta Masih Punya Hati

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (7/10)

Konon mencintai sama halnya dengan membaca, sama-sama butuh waktu khusus. Lewat Jakarta Hati, Salman Aristo mengajak kita untuk membaca Jakarta, bukan dari rutinitasnya, tapi dari momen-momen kecil yang mungkin terlewatkan warga kota metropolitan ini. Dalam momen-momen kecil ini, dipertanyakan nurani warga ibukota. Film ini merupakan lanjutan dari usaha serupa yang Salman Aristo rintis dua tahun silam lewat Jakarta Maghrib.

Format penuturan yang dipakai masih sama: sekumpulan cerita pendek yang terikat oleh satu tema. Keputusan kreatif ini bisa dipahami dan sesungguhnya tepat guna. Jakarta sekarang tak banyak berbeda dengan Jakarta dua tahun lalu. Ia tetaplah sebuah kota yang terlalu besar dan terlalu warna-warni untuk dimuat dalam satu garis cerita dan satu sudut pandang. Keragaman menjadi kebutuhan yang rasional dalam bertutur. Bagusnya, walau mengulang kerangka film pendahulunya, Jakarta Hati lebih berbobot dalam menggambarkan subyeknya.

 

Ruang

Satu dimensi yang menonjol dalam Jakarta Hati adalah pemanfaatan ruang. Hal inilah yang tak dimiliki pendahulunya.

Dalam Jakarta Maghrib, kita hanya mendengar dan merasakan Jakarta, tapi tak pernah sungguh-sungguh melihatnya. Ibukota lebih disuguhkan sebagai mitos yang mengawang-awang dalam benak penonton, sebagai sekumpulan ide yang tidak terbahasakan langsung dalam visual film. Kita bisa paham Jakarta merupakan kota yang tak ramah bagi warga ekonomi rendah, karena kita mendengar keluhan seorang suami yang kerja terlalu keras sehingga tak punya waktu mesra-mesraan dengan istrinya. Kita bisa mereka-reka bahwa warga Jakarta cenderung individualis, karena kita menyaksikan sejumlah tetangga baru berkenalan ketika sama-sama menunggu tukang nasi goreng pada suatu senja. Ini problematika khas ibukota, tapi tak ada bukti visual dalam Jakarta Maghrib yang mejangkarkan masalah-masalah tadi dalam ruang khas Jakarta. Sepanjang Jakarta Maghrib, cerita dilakonkan dalam rumah dan gang-gang perumahan, dua latar geografis yang sungguh generik dan dapat ditemukan di kota manapun di Indonesia.

Jakarta Hati tak diniatkan untuk serta merta menyalin pendahulunya, suatu niatan yang jelas terlihat dalam segmen pembuka film, Orang Lain. Ada sepasang laki-laki (Surya Saputra) dan perempuan (Asmirandah) yang sama-sama dikhianati oleh pasangannya masing-masing. Istri si laki-laki ternyata berselingkuh dengan pacar si perempuan. Pada suatu malam, kedua orang asing ini bertemu dan berjalan bersama mengilingi ibukota, mengunjungi tempat-tempat yang punya nilai nostalgia bagi mereka. Pilihan tempatnya memang tidak terlalu ikonik untuk konteks Jakarta (tempat cukur rambut, tempat cuci mobil, warung seafood di Pasar Santa, dan jembatan penyeberangan menuju terminal busway), bukan simbol yang mencolok layaknya Monas atau Bundaran HI. Namun, patut diingat bahwa Jakarta yang hadir bagi mereka bukanlah Jakarta yang turistik, tapi Jakarta yang personal dan sentimental terkait pengalaman masing-masing. Konsekuensinya, tercipta identitas tokoh-tokoh yang terkait erat dengan ruang sekitarnya, dan ini patut diapresiasi.

Satu kecenderungan film Indonesia belakangan ini, setidaknya dalam dua tahun belakangan, adalah ketercerabutan tokoh dari wilayah yang ia tempati. Klise begitu mendominasi dan bersamaan dengannya terjadi pemanfaatan latar geografis yang berulang-ulang. Kisah romantis terjadi di kafe, kisah horor di hutan atau rumah terpencil, dan kisah laga di bangunan-bangunan terbengkalai. Lokasi-lokasi ini lebih terkait pada tuntutan jenis cerita film ketimbang eksplorasi tokoh sebagai manusia dengan lingkungannya. Ini sangat disayangkan. Untuk negara dengan keragaman geografis macam Indonesia, identitas kita terlihat begitu sederhana ketika terpampang di layar lebar.

Jakarta Hati sesungguhnya memuat sebuah niatan langka untuk membangun kesadaran ruang dalam penuturan ceritanya. Kesadaran ini kian kentara dalam segmen Masih Ada. Ceritanya tentang Marzuni (Slamet Rahardjo), anggota Badan Anggaran DPR, yang akan berangkat kerja menuju sebuah tempat pertemuan. Mobil pribadinya tak bisa dipakai (dengan alasan yang tak diceritakan dalam film). Jadilah ia melakukan segala cara untuk sampai ke tempat pertemuannya, mulai dari naik taksi, jalan kaki, hingga menyewa ojek.

Dalam perjalanan ini, Marzuni mendapati sekumpulan tukang ojek mengkritik pemerintah atas kerja mereka yang terlalu memikirkan dirinya sendiri. Dalam perjalanan yang sama, penonton mendapati adanya kontradiksi antara jenis ruang yang dihidupi masyarakat dengan Marzuni dan sejawatnya di birokrasi pemerintah. Kita melihat para tukang ojek menunggu pelanggannya di pinggir jalan, bising, dan penuh lalu lalang orang. Sementara, Marzuni dan rekan sejawatnya terlindung di lapangan baseball kompleks olahraga Senayan, jauh dari masyarakat, di mana mereka mengadakan transaksi rahasia yang melibatkan penyalahgunaan uang masyarakat.

Pemanfaatan ruang serupa juga dapat ditemui dalam Hadiah, di mana pembuat film mengajak penonton untuk mengikuti protagonis cerita jalan-jalan dari sebuah rumah sempit, ke pertokoan kelas bawah, menuju sebuah perumahan kelas atas. Sepanjang perjalanan tersebut, terjadi perubahan sikap yang dialami si protagonis dari lingkungannya. Sementara di Darling Fatimah, kita mendapati sepasang laki-laki dan perempuan beda etnis, satu Cina satu Arab, berdebat tentang hubungan mereka. Bahasa prokem yang kedua protagonis gunakan serta lalu-lalang orang yang menginterupsi percakapan mereka terasa sesuai dengan lingkungan Pasar Senen. Ikatan antara tokoh dan ruang sekitarnya tetap terjaga.

 

Antargenerasi

Dimensi lain yang mencolok dalam Jakarta Hati adalah ruas antargenerasi yang terasa di hampir semua segmen cerita. Berbeda dengan Jakarta Maghrib yang konfliknya cenderung terjadi dalam satu kelompok umur, Jakarta Hati menghadirkan lebih banyak tabrakan antara dua generasi. Alhasil, Jakarta Hati memuat sebuah kesan yang tak ditemui di Jakarta Maghrib, yakni Jakarta sebagai kota yang terus berkembang, di mana yang tua akan diganti oleh yang muda, dan keduanya perlu belajar dari satu sama lain. Keragaman Jakarta jadi lebih terwakili.

Dalam Orang Lain kita mendapati sepasang orang asing yang saling bertukar pendapat tentang komitmen dari perspektif umur masing-masing, di mana si laki-laki jauh lebih tua dari si perempuan. Dalam Masih Ada, kita mendapati seorang pegawai senior pemerintah yang dikritik oleh orang-orang yang lebih muda, dan harus tampil sebagai wakil rakyat seperti layaknya yang diharapkan masyarakat. Dalam Kabar Baik, dialektika antargenerasi semakin kentara. Ada Bana (Andhika Pratama), seorang polisi muda, yang harus mewawancarai bapaknya yang sedang terjerat kasus penipuan lewat arisan ibu-ibu. Terjadi dinamika perlawanan nilai antara kedua individu: satu dalam tuntutan profesional, satu lagi dalam sejarah personal. Bagusnya, konflik ini dilakoni sesuai kebutuhan keadaan, bukan moralitas benar-salah semata. Sama seperti saat Jakarta Maghrib, pembuat film tak ingin menghakimi tokoh-tokohnya.

Penekanan pada kebutuhan keadaan ini terasa rasional ketika Jakarta Hati mulai merambah dialog antargenerasi dalam lingkungan ekonomi bawah. Betul, ada mimpi-mimpi pribadi yang ingin dicapai, tapi ketika kebutuhan bicara lebih keras daripada keinginan, mana yang sebaiknya didahulukan?

Dalam Hadiah, hal tersebut terwujud dalam konflik batin Firman (Dwi Sasono), seorang penulis naskah film, ketika meladeni anaknya yang merengek minta beli hadiah. Si anak akan menghadiri pesta ulang tahun teman sekolahnya, sementara uang di dompet Firman tinggal selembar uang lima puluh ribu. Haruskah ia mengambil keputusan yang ia kurang suka, yakni cari uang cepat dengan menulis film horor kacangan, agar dapat menghidupi keluarganya? Atau malah sebaiknya mengikuti idealismenya dengan lanjut mengerjakan naskah impiannya yang tak kunjung selesai? Bagaimana pula Firman bisa memberitahu anaknya akan dilema yang sedang ia lalui?

Dalam Darling Fatimah, kebutuhan versus keinginan terwujud dalam relasi Ayun (Framly Nainggolan) dan Fatimah (Shanaz Haque). Ayun yang lebih muda ingin mengembangkan usahanya terlebih dahulu, sementara Fatimah adalah seorang janda yang membutuhkan kepastian hubungan dari Ayun. Percakapan keduanya menjadi pertarungan antara keinginan pribadi, tuntutan keluarga, dan kebutuhan bersama.

 

Verbal dan Visual

Ambisi Jakarta Hati untuk melampaui pendahulunya bisa dibilang terbayar lunas. Ibukota terasa lebih kaya, lebih komplet dan lebih berlapis dalam penggambarannya. Keragaman individu yang menempati ibukota dengan apik terwakili dari segi kedudukan sosial, usia, ekonomi, hingga etnis. Berbeda dengan Jakarta Maghrib yang bisa kita sederhanakan menjadi potret kelas bawah dan atas, Jakarta Hati mengusung kompleksitas tersendiri dengan penuturan yang baik dan beralasan.

Meski begitu, Jakarta Hati bukannya tanpa cacat. Secara khusus, segmen Masih Ada terasa salah kaprah. Berbeda dengan segmen-segmen lainnya, Masih Ada didesain begitu karikatural dan hitam-putih, sementara garis ceritanya dibiarkan berakhir secara terbuka. Penonton dibiarkan begitu saja: apakah Marzuni akan menyimpan uang haram yang ia terima atau menghibahkannya ke anak kecil yang ia temui di jalan. Perlu ada keberpihakan dalam kasus ini. Pasalnya, Masih Ada begitu berat pada komentar sosial yang diutarakan lewat dialog-dialog tokohnya dan perbandingan ruang yang dihuni tokoh-tokohnya. Komentar sosial dalam segmen ini akan terasa lebih berati apabila ada keputusan final yang diambil oleh Marzuni.

Secara umum, Jakarta Hati masih terlalu bergantung pada penuturan verbal. Sama seperti Jakarta Maghrib, dialog masih menjadi faktor utama dalam penggerak cerita, sementara visual film baru sekadar menjadi pelengkap.

Salman Aristo bukannya tak mencoba berkreasi secara visual. Dalam segmen Dalam Gelap, kita mendapati sepasang suami-istri yang berdialog di kamar saat mati lampu. Kamera statis sepanjang segmen menandakan hubungan mereka yang stagnan, sementara gelapnya ruangan berfungsi ganda: satu sebagai kritik sosial akan mati lampu bergilir yang sering terjadi di Jakarta, satu lagi sebagai ironi bahwa pasangan ini baru bisa berkomunikasi saat keduanya tak bisa melihat satu sama lain. Ketidakmampuan kita melihat wajah mereka mengingatkan kita bahwa fenomena ini bisa terjadi pada pasangan manapun di ibukota, pasangan yang sudah begitu terendam pada rutinitas sehari-hari sehingga lupa akan satu sama lain. Sayangnya, tak berbeda dengan segmen-segmen lainnya, kata-kata merupakan motor penggerak cerita di sini.

Tantangan ke depan bagi penjelajahan Salman Aristo berikutnya adalah merepresentasikan Jakarta secara visual. Ia sudah memiliki modal baik dengan memanfaatkan ruang kota dalam cerita-cerita Jakarta Hati. Menarik rasanya apabila petualangan yang lebih banyak terjadi di telinga ini kemudian diimbangi dengan petualangan di mata.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.