Drama Cinta yang Jauh dari Romantis

Resensi › Totot Indrarto

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Abimanyu (Rio Dewanto), ABK alias anak buah kapal berbendera Singapura, terkena serangan jantung dan diturunkan di Busan, Korea Selatan. Indah (Atiqah Hasiholan), staf konsulat jenderal RI di Busan, ditugaskan mengurusnya sampai sembuh dan dipulangkan ke Indonesia. Sialnya, meskipun sama-sama sedang merasa sangat bosan, mereka jenis manusia yang berbeda, bahkan bertolak belakang.

Penulis-sutradara Titien Wattimena menggambarkan Abi sebagai tipikal pengelana. Sebaliknya, Indah menjalani hidup dengan penuh perencanaan. Dan Korea disimbolisasikan sebagai pelabuhan tempat keduanya pada suatu masa terdampar dan mesti memutuskan perjalanan atau tujuan selanjutnya.

Film ini sejatinya berkisah mengenai takdir. Bukan takdir yang romantis sebagai semacam Skenario Tuhan yang menyatukan dua manusia yang berbeda. Tetapi lebih menyerupai kutukan, seperti dua makhluk berlainan terdampar di sebuah pulau kosong. Mereka tidak bisa lari dan hanya mempunyai dua pilihan: saling membunuh atau saling berbagi dan mendukung.

Sebagai drama cinta, film ini memang jauh dari romantis, tapi menarik dan sebetulnya bisa menggetarkan, karena tidak banyak film Indonesia mutakhir menggambarkan percintaan yang dewasa alias tidak menye-menye. Apalagi Titien berupaya memanfaatkan Korea tidak semata sebagai tempat, melainkan juga ruang. Drama dibangun melalui dialog dan penggambaran suasana keseharian orang-orang asing di tempat asing yang terasa monoton. Tempo film, akting pemain, pergerakan kamera, ilustrasi musik, dan lain sebagainya juga mengikuti gaya film-film drama 1990-an Negeri Ginseng yang belakangan justru mendunia dengan budaya pop yang sangat Barat.

Sayangnya, plot cerita terlalu longgar hingga ritme yang lamban jadi terasa bertele-tele. Di atas segalanya, situasi yang memaksa Abi dan Indah “saling membunuh” hingga kemudian “saling belajar dan mendukung” tidak terlampau meyakinkan.

Sekeras apapun Abi menyembunyikan identitas keluarga dan sudah menganggap kapal sebagai rumah (“Hidup saya dimulai begitu ibu melambaikan tangan melepas saya dari rumah”), dari perusahaan tempatnya bekerja bisa mudah diperoleh informasi mengenai keluarga atau ahli warisnya. Sedangkan Indah, seberapa pun tertutupnya, tetap memiliki ruang buat menghindar dari perlakuan kasar Abi. Misalnya dengan melapor kepada atasan dan meminta teman kerjanya, yang juga digambarkan lebih sering tidak mempunyai pekerjaan, untuk menggantikan atau menemani bertugas.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.