Demi Ucok dan Elemen Otobiografis

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (5/10)

Pelik menjadi pembuat film di Indonesia. Setidaknya begitu menurut hemat Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi). Film pertamanya menang penghargaan, namun film keduanya tak kunjung dibuat. Glo tak ingin film keduanya bermodalkan terimakasih seperti karya debutannya. Ia mau profesional, bisa membayar kru dan pemain selayak-layaknya.

Masalahnya satu: Glo belum menemukan sumber modal yang memadai. Seorang produser mengkritik naskah Glo yang dianggap tak cocok dengan selera penonton lokal. “Film Indonesia yang bagus itu hantunya muncul tiap dua menit sekali,” tutur si produser. Seorang calon investor menyodorkan cek kosong, tapi Glo menolaknya. Glo yakin sekali ia seorang koruptor, dan ia ogah membuat film dengan uang panas. Harapan Glo tersisa pada Mak Gondut (Lina Marpaung). Sang ibu rela mengucurkan dana satu miliar, dengan syarat Glo menikah dengan lelaki Batak pilihan Mak Gondut. Syarat ini sayangnya berat bagi Glo untuk ia sanggupi.

 

Potensi-potensi

Tarik ulur antara Glo dan Mak Gondut pun mewarnai Demi Ucok, film panjang kedua Sammaria Simanjuntak. Mak Gondut mati-matian mencarikan jodoh untuk anaknya, Glo mati-matian mencari jalan untuk mengakalinya. Relasi ibu-anak ini menarik, karena memuat dua benang merah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan pembuat film untuk menyusun karyanya: kebersamaan dalam suku Batak dan posisi perempuan di dalamnya.

Bukaan Demi Ucok sendiri sebenarnya sudah mengarah ke dua hal tersebut. Sammaria membuka filmnya dengan acara pernikahan Batak yang penuh tarian, prasmanan sajian serba babi, dan ulos-ulos yang membalut tubuh para hadirin, salah satunya Mak Gondut. Melalui narasi suara Glo yang agak sinis, terjelaskan sifat interaksi orang Batak yang sangat sangat kolektif. Semua diusahakan dan dirayakan bersama. Alhasil, ketika dua orang Batak menikah, sesungguhnya yang menikah adalah keluarga masing-masing insan.

Penyajiannya terasa lucu karena kecanggungan Glo menghadapi ini semua, terasa tepat guna karena memperkuat syarat yang Mak Gondut ajukan pada anaknya, dan kenapa ia “baru bisa mati bahagia kalau sudah melihat anaknya kawin”. Dari sini terjelaskan apa yang Mak Gondut maksud dengan kesuksesan perempuan Batak “diukur dari keberhasilannya berumah tangga”. Terjelaskan juga perbandingan lintas generasi antara jalan hidup para perempuan dalam Demi Ucok.

Di satu ujung, ada Mak Gondut yang mewakili para ibu rumah tangga, gaya hidup yang Glo anggap konvensional. Ia menikah, mengurus keluarga, dan membesarkan anak. Ketika anaknya sudah besar, ia mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan sosial di gereja dan partai politik. Yang Mak Gondut temui di ruang-ruang itu juga perempuan-perempuan sejawatnya, sesama ibu rumah tangga. Pembicaraan mereka pun tak jauh-jauh dari kehidupan domestik, termasuk jodoh-menjodohkan anak.

Di ujung yang lain, ada Glo dan teman baiknya, Nikki (Saira Jihan). Keduanya adalah anak muda yang ingin mandiri menjalani hidupnya. Tujuan Glo jelas sejak awal film: ia mau bikin film. Lebih baik ia mengejar mimpinya itu ketimbang terkungkung dalam kewajiban rumah tangga dan “live boringly ever after”. Glo tak ingin menjadi imitasi ibunya. Tujuan Nikki lebih umum: ia ingin hidup nyaman. Pembawaannya pun sangat oportunis, memanfaatkan laki-laki di sekitarnya untuk kepentingan pribadinya. “Cukup lepas kacamata dan kibas rambut, gue bisa dapetin apa yang gue mau,” tuturnya pada Glo.

Sesungguhnya, dalam kekhasannya masing-masing, ketiga perempuan ini menjadi cerminan satu sama lain. Mereka sama-sama berjuang sendirian. Mak Gondut sudah ditinggal mati suaminya, sementara Glo dan Nikki memilih untuk tidak berpasangan. Mak Gondut berjuang menggalang lingkaran sosialnya untuk mencari jodoh untuk anaknya, Glo berusaha mati-matian mengumpulkan dana untuk karyanya, sementara Nikki tebar pesona untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

 

Serba Dipaksakan

Sayangnya, pembuat film seperti kehilangan arah. Benang-benang merah yang terpapar dalam Demi Ucok malah jadi ruwet sendiri, potensi-potensi yang jelas terlihat tapi tak tergarap. Semua omongan soal suku Batak dan pertentangan keluarga-atau-karier di awal film mendadak lenyap begitu saja. Gantinya adalah masalah-masalah pribadi yang tak jelas hulu hilirnya. Alhasil, perkembangan cerita Demi Ucok terasa serba dipaksakan.

Masalah-masalah lama yang tadinya begitu genting mendadak jadi banal. Contohnya ketika Mak Gondut masuk-keluar rumah sakit. Di awal film, Mak Gondut banyak menyebut kata “mati”, yang menyiratkan ia mengidap penyakit yang tak bisa ditolong. Namun, setelah masuk rumah sakit, Mak Gondut terlihat baik-baik saja. Adegan tersebut diulang beberapa kali, sehingga konflik yang dibangun di awal film sama sekali tak lagi terasa mendesak. Malah muncul masalah baru: Mak Gondut tak punya uang untuk bayar rumah sakit, sampai ia sembunyi di lemari ruang perawatannya. Padahal di awal film ia menjanjikan satu miliar untuk produksi film anaknya.

Sang protagonis juga tidak jelas sebenarnya mau apa. Penonton tak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mengenalnya. Niatan Glo membuat film terus-menerus disuarakan sepanjang film, namun tak jelas sebenarnya film apa yang Glo mau buat. Setiap ditanya, ia selalu menjawab secara abstrak, entah itu film yang “personal”. Bagaimana ia bisa mencari investor, dan menentukan seberapa besar dana yang dibutuhkan, kalau ia sendiri tak tahu apa yang ia mau buat? Dari sini malah muncul konflik baru. Nikki menantang Glo untuk naik angkot, karena selama ini ia naik mobil, untuk mengenal lingkungannya dan dirinya sebenarnya.

Patut ditilik juga relevansi tokoh-tokoh di sekitar Glo. Nikki bolehlah. Ia punya tautan tematik yang kuat dengan Glo. Ia juga menjalankan perannya sebagai teman dekat Glo, di mana perbedaan pendapat antara keduanya saling membangun satu sama lain. Beda halnya dengan A Cun (Sunny Soon), sobat Glo yang turut main di film pertamanya. Ia muncul dari awal hingga akhir film, beberapa kali mengeluh tentang pekerjaannya, beberapa kali terlibat sejumlah adegan lucu, tapi tak menyumbang apa-apa bagi tumbuh kembang Glo maupun perkembangan cerita. A Cun baru sekadar pemanis, karena sama sekali tak nampak perannya sebagai teman baik Glo. Ada lagi Qazrina Umi (Nora Samosir), sutradara internasional sekaligus idola Glo, yang tiba-tiba muncul di lapak DVD milik Nikki. Tidak jelas kenapa ia bisa ada di sana. Layaknya banyak hal dalam Demi Ucok, keberadaan Qazrina Umi dalam cerita sungguh dipaksakan.

Secara keseluruhan, Demi Ucok terasa seperti film yang berpijak pada sekumpulan renungan pribadi ketimbang sebuah garis cerita yang bertautan. Hal ini sangat terasa ketika Glo mencari dana untuk filmnya lewat situs crowdfunding (yang juga tiba-tiba muncul dalam cerita). Demi Ucok sendiri dibuat dengan cara serupa. Pembuat film mengumpulkan sumbangan dari 10.000 penyumbang. Demi Ucok juga merupakan film kedua Sammaria Simanjuntak, setelah film pertamanya, Cin(T)a, menang penghargaan di Festival Film Indonesia 2009. Jadi, bisa dibilang Demi Ucok adalah film otobiografis, atau setidaknya mengandung elemen-elemen otobiografis. Pembuat film bahkan meng-casting ibunya sendiri sebagai Mak Gondut.

Tidak ada yang salah dengan pemanfaatan aspek personal dalam film. Hal serupa sudah banyak dilakukan sepanjang sejarah sinema dunia. Dalam kasus Demi Ucok, elemen personal ini malah sangat menguntungkan. Eksplorasi tentang etnis Batak dalam film terasa dekat dan tidak dibuat-buat. Namun, ambisi Demi Ucok adalah bercerita, dan ambisi tersebut mewajibkan adanya kepatuhan pada asas-asas penuturan cerita, salah satunya koherensi. Demi Ucok gagal memenuhi itu.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.