Daur Ulang yang Mengesankan

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (6/10)

Menonton Belenggu sesungguhnya menghadirkan keasyikan tersendiri. Bagi penonton awam, Belenggu merupakan teka-teki penuh kejutan yang disokong dengan visual yang memukau. Film panjang keenam Upi ini dibuka dengan sebuah adegan mimpi. Di malam yang gelap, di sebuah jalanan yang sepi, Jingga (Imelda Therinne) memberhentikan mobilnya. Naiklah Elang (Abimana Aryasatya), pemuda kumal yang nampaknya sedang lari dari sesuatu yang mencekam. Di kursi belakang, ada mayat bersimbah darah. Di kursi sebelah pengemudi, ada pembunuh berkostum kelinci yang tersenyum pada Elang. Rintik hujan di luar mendadak berubah jadi beribu-ribu tetesan darah.

Mimpi menjadi kata kunci sepanjang Belenggu. Mimpi pula yang memantik cerita Belenggu. Setiap malam, Elang dihantui oleh beragam pembunuhan yang didalangi sosok berkostum kelinci itu. Korbannya selalu Djenar (Laudya Cynthia Bella), tetangga Elang di apartemen reyot yang ia tinggali. Suatu pagi, di kedai kopi langganannya, Elang mendengar kabar akan kemunculan pembunuh berantai dengan ciri-ciri serupa. Ia langsung mencurigai suami Djenar, Guntur (Verdi Solaiman), yang sepanjang film hanya membentak dengan wajah lempeng. Kemunculan Guntur dengan kostum kelinci menjadi gambar dalam Belenggu yang pembuat film gunakan untuk menggelitik rasa penasaran penonton.

Penonton diposisikan sebagai Elang yang kesulitan mencerna realita. Narasi suaranya menemani penonton sepanjang pertengahan pertama film, sementara pembuat film melemparkan rentetan adegan yang begitu acak, begitu sekenanya, sehingga sukar dibedakan mana yang nyata dan mana yang fana. Dalam satu adegan, Elang nampak sedang berada dalam kamarnya. Adegan berikutnya, ia berada dalam mimpi pembunuhan Djenar di tangan si badut kelinci. Adegan berikutnya lagi, dia tahu-tahu sedang duduk di sebuah ruang pertunjukan, menonton Jingga dalam sebuah pentas tari. Tiba-tiba, Jingga berteriak minta tolong ke Elang. Penonton di sebelah Elang kemudian berkata padanya, “Kamu harus menolongnya.” Aura misterius pun tercipta.

Beberapa hal sayangnya luput dari penanganan seksama. Ada sejumlah detail dalam dunia Belenggu yang tidak konsisten, seperti tembang Jawa yang dinyanyikan ibu berbaju kebaya (diperankan oleh Jajang C Noer) atau Taksi Jakarta yang mendadak menghiasi layar. Di mana sebenarnya dunia rekaan pembuat film ini? Di ibukota negeri ini yang dipoles berbagai kosmetik, atau dunia antah berantah di mana detektif mengenakan topi fedora dan orang-orang minum whiskey di bar ala film-film kriminal Hollywood? Film jadinya terasa serba tanggung, terutama bagi penonton Indonesia. Kalau memang di Jakarta, dunia Belenggu nampak terlalu asing. Kalau memang di dunia antah berantah, dunia Belenggu masih menyimpan elemen-elemen lokal.

Bagi penonton yang tidak terlalu awam, menonton Belenggu menjadi kesempatan yang asyik untuk bernostalgia dengan film-film pendahulu Belenggu. Referensi sinematik Upi begitu transparan. Sosok kelinci misterius mengingatkan akan sosok serupa Donnie Darko (2001) karya Richard Kelly, yang penuturannya juga banyak bergantung pada realita subyektif sang protagonis. Adegan pentas tari Jingga mengingatkan akan adegan sejenis dalam Mulholland Drive (2001) karya David Lynch. Dunia yang kita saksikan lewat mata Elang mengingatkan kita akan film-film Joko Anwar macam Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), dan Modus Anomali (2012), di mana dunia yang disajikan begitu antah berantah, begitu tidak Indonesia, sehingga sulit menyimpulkan di mana sebenarnya cerita ini terjadi. Mengikuti inspirasi-inspirasinya, Belenggu turut menyiapkan sebuah kejutan dalam wujud perubahan perspektif. Atau, plot twist yang entah sudah digunakan berapa kali dalam film-film berprotagoniskan orang-orang yang bermasalah mencerna realita (baca: gangguan kejiwaan).

Bagusnya, Upi tidak menjadikan plot twist ini sebagai satu-satunya ambisi bercerita Belenggu. Masih ada misteri tersendiri di balik plot twist ini, bahkan hingga membentuk dunia sendiri yang bersanding manis dengan dunia rekaan Elang. Buruknya, pembuat film seperti tak berani untuk tetap liar layaknya caranya membuka film. Penempatan gambar yang begitu acak, yang mengajak penonton untuk terus-menerus mencurigai kejadian di pertengahan awal film, mendadak digantikan dengan penceritaan yang sangat mendikte penonton di pertengahan akhir film. Melalui penjelasan bertele-tele dari dua detektif yang menginvestigasi kehidupan Elang, penonton dipaksa mengikuti plot film dari titik A ke titik B lalu ke titik C. Seakan-akan pembuat film takut penontonnya akan tersesat dalam dunia labirin yang mereka ciptakan. Alhasil, Belenggu seperti punya kepribadian ganda: bemula sebagai film yang asyik bermain dengan perspektif penonton, berakhir sebagai panduan untuk membunuh orang dengan skema yang tidak jelas kenapa harus serumit itu.

Parade klise dan imitasi dalam Belenggu menunjukkan kalau Upi belumlah menjadi sineas dengan sentuhan yang otentik. Ia barulah teknisi cerita yang telaten dalam mendaurulang gambar dan cara bercerita. Mengesankan, tapi baru sebatas kemasan.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.