Jimat Sakti Bernama Nasionalisme

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Sang saka punya kekuatan magis yang tak terkira dalam film-film kita. Naikkan bendera, rapikan barisan, beri hormat, lalu hilang semua masalah. Contoh paling segar adalah 5 cm yang merajai box-office tahun lalu. Setelah adegan tersohor itu, adegan upacara bendera di puncak Mahameru, semua konflik dalam cerita mendadak ketemu ujung pangkalnya. Yang hidup sendiri ketemu jodoh, yang seret rejeki menumpuk sukses, yang pecah telinga mendadak tak punya gangguan fisik, dan sebagainya. Setelah agama dan pesugihan, film Indonesia punya jimat yang sama saktinya bernama nasionalisme.

Hasduk Berpola, film terbaru Harris Nizam setelah Surat Kecil untuk Tuhan, bekerja dengan prinsip serupa. Judulnya boleh saja merujuk pada kain segitiga yang dikenakan di leher anggota pramuka, tapi obat mujarabnya tetaplah bendera. Adalah Budi (Bangkit Prasetyo), bocah Bojonegoro, yang menerima berkah sentimen kebangsaan ini. Masalah Budi sederhana. Ia tak punya cukup uang untuk membeli hasduk untuk ikut kegiatan pramuka di sekolahnya. Keluarganya terlampau melarat untuk membantunya. Bapaknya sudah tidak ada, ibunya bekerja di warung rawon dengan upah seadanya, dan kakeknya bekerja sebagai tukang tambal ban dengan upah yang tak lebih baik.

Perkara uang ini terus ditekankan pembuat film sampai pada tingkat mengada-ada. Awalnya, keluarga Budi ditampilkan kesulitan pangan. Setiap harinya mereka mengandalkan rawon sisa (yang seringkali hanya tinggal kuah) dari tempat kerja ibu Budi. Lalu muncul kabar bahwa kakek Budi tak bisa memperoleh uang pensiunan dari TNI, tempat ia mengabdi sewaktu perang kemerdekaan, akibat suatu masalah administrasi yang tak terjelaskan. Ketika Budi berhasil mengumpulkan uang yang  cukup, dengan bekerja sebagai kuli panggul di pasar, harga hasduk tiba-tiba dinaikkan penjualnya dari 15.000 ke 18.000 tanpa alasan yang jelas.

Selang satu jam, masalah-masalah ini tak lagi penting. Fokus cerita mendadak berganti pada penyesalan masa lampau kakek Budi. Usut punya usut, sewaktu masih jadi tentara dulu, kakek Budi mendapat tugas untuk mengibarkan bendera di atas Hotel Majapahit, Surabaya. Melihat rekan-rekannya tewas diberondong peluru penjajah, kakek Budi sembunyi ketakutan. Bendera itu tak pernah dikibarkan di tempat semestinya. Budi menjadikan pengibaran bendera ini sebagai misi besarnya, yang ia sukses capai dengan bantuan kawan-kawan pramukanya, termasuk Kemal. Hasduk Berpola pun berakhir dengan kemenangan simbolik ini serta satu kutipan panjang tentang kecintaan pada negara. Masalah-masalah lain yang lebih konkrit dan mendesak, macam kemiskinan dan uang pensiun kakek Budi, tak lagi jadi soal.

 

Moralitas Janggal

Sebagai sebuah cerita, Hasduk Berpola jelas cacat dalam segi kesinambungan. Banyak elemen di awal film yang kemudian diabaikan dan ditimpa oleh elemen lain di akhir film. Sebagai film anak-anak, atau film yang mayoritas diperankan oleh anak-anak dan sepertinya ditujukan untuk kalangan yang sama, ada moralitas janggal yang lahir dari ketidaksinambungan naskah ini.

Budi bermula sebagai tokoh yang tidak mengundang simpati. Ia bengal dan gemar berkelahi. Ini tercermin dari motivasi Budi masuk pramuka. Dia tertantang untuk mengalahkan Kemal (Azriel Nurvito Nusantara), teman sekolahnya, yang sebelumnya mengalahkannya dalam adu renang di sungai. Ia juga egois. Pada satu kesempatan, ibu Budi pulang membawa rawon sisa yang tidak hanya kuah saja. Ada potongan daging di dalamnya dan banyak jumlahnya. Budi mengambil semua potongan daging itu, menguburnya di dalam nasi supaya tak terlihat oleh kakeknya yang kebetulan lewat. Ketika adiknya pulang dan menyambangi meja makan, Budi dengan sigap bersilat lidah, “Sama kaya kemarin-kemarin. Tinggal kuah saja.”

Apabila Hasduk Berpola diniatkan sebagai rangkaian pelajaran hidup terkait dengan pertumbuhan kedewasaan Budi, tidak jelas apa yang memantik perubahan dalam diri protagonis kita. Keluarga bisa jadi, mengingat adik Budi berkorban menggunting sprei Barbie kesayangannya untuk membuat hasduk bagi kakaknya. Ada pula kakek Budi yang secara haru-biru bercerita tentang ketakutannya saat perang. Namun pengaruh keluarga jadi terasa kabur karena hampir tidak adanya tatap muka yang berarti antara Budi dengan anggota keluarganya. Ia lebih banyak menghabiskan durasi film dengan teman-teman satu gengnya. Kegiatan pramuka juga diragukan, mengingat isinya tidak jauh-jauh dari adegan baris-berbaris, belajar mengikat simpul, serta perseteruan antara Budi dan Kemal.

Pengorbanan yang Budi lakukan juga terasa kosong. Ia merelakan uang hasil kerjanya pada seorang anak jalanan yang tertabrak motor, untuk biaya puskesmas, saat dia masih egois-egoisnya. Tak jelas kenapa ia mendadak bisa sebaik hati itu. Ia juga ragu mengembalikan dompet yang ia temukan di jalan, sampai akhirnya temannya turun tangan dan mengembalikan barang tersebut. Tidak jelas di titik mana Budi belajar bertanggungjawab.

Janggal jadinya ketika tiba-tiba muncul semangat nasionalistik yang menggebu-gebu dalam diri Budi untuk melanjutkan perjuangan kakeknya. Semakin janggal melihat orang-orang turut berdiri dan menghormati bendera, setelah melihat aksi Budi lewat siaran langsung di televisi. Kesannya, tidak apa-apa jadi anak bandel, yang penting cinta dengan negeri sendiri. Kecintaan pada negeri pun dimaknai lewat pengibaran dan penghormatan bendera belaka, tanpa ada kontribusi yang konkrit terhadap lingkungan sekitar.

 

Apa Adanya

Kita perlu berkaca pada diri kita sendiri. Sudah lebih dari enam puluh tahun kita merdeka, kenapa kecintaan negeri sendiri masih juga diekspresikan lewat hal-hal simbolik? Apakah kita begitu kecanduan dengan ilusi-ilusi nasionalistik? Atau kita selama ini terlalu dangkal dalam memahami nasionalisme?

Layaknya ibadah, nasionalisme tidak selalu dan tak harus terjadi dalam kegiatan-kegiatan yang ritualistik. Masih banyak kontribusi lain yang lebih konkret ketimbang menghormati bendera semata. Ini penting, mengingat dua tahun belakangan ini tema nasionalisme lebih banyak berkembang di film anak-anak. Kalau memang ingin menginspirasi tunas bangsa, marilah berhenti menengadah ke angkasa di mana sang saka berkibar, dan mulai melihat lingkungan sekitar dengan apa adanya. Orde Baru sudah lewat. Sudah bukan zamannya bermain propaganda.

Komentar 26

ilhamka
5 tahun yang lalu

Selamat malam adrian jonathan pasaribu,,,

Terimakasih telah hadir di press conference film hasduk berpola…

cukup kaget melihat cara anda mereview film hasduk berpola, saya menghimbau sebaiknya kalau anda me-review agar tidak spoiler.

menjadi seorang jurnalis di web film indonesia harusnya hal seperti ini tidak perlu di ajarkan.

perlu di ketahui juga press conference adalah saat dimana media (wartawan)bisa bertanya kepada film maker secara langsung

Dan sangat di sayangkan anda tidak menyampaikan ini semua saat di forum..

"APA ADANYA" yang ada tuliskan itu bener-bener tidak ada korelasinya, mungkin ada sendiri adalah orang yang tidak ada nilai nasionalisme pada diri anda, kalau perlu kita bertemu dan berdebat secara terbuka, boleh mengkritik tapi yang objektif, jangan melibatkan perasaan anda pribadi,  anda adalah jurnalis harusnya berjuang untuk kemajuan film indonesia, bukan dengan menilai suatu karya secara subyektif.

best regards
Muhammad Ilhamka Nizam
087888152281

sirjohnkotelawala
5 tahun yang lalu

Bung Nizam jang terhormat,

Saia jang nasionalis tulen dan sama-sama tonton ini film, kok tiada merasa terganggu dengan itu sinjo Adrian punja kritik, jang bagi saia pribadi sudah ditulis dengan baek adanja dan jauh pula dari asbun-asbun himbisil ala media-media bermentalitet kelontong itu. Bung musti hargai dia orang punya fikiran en tafsir.

Pun di luar itu, saia bingung dengan "spoiler" jang jij kuatirken. Toch, kalaw filmnjah maimang djempolan dari awal sampek achir, tak usahlah bung takut dengan penulis jang bikin botjor tjarita ke kuping chalajak rame. Anggep sadja itu promotie gratis buat bung punja film—toh, mahsjur-tida'nja sebuah karja tak tergantung dari seberapa banjak jang bisa disembujiken dari penonton toch? Tugas si djuruwarta ini maimang menulis kritik, en tida melulu mesti mewawantjarai bung. Data bisa didapatken dari manapun, en tida' mesti dari bung punja pengakuan2. Justru dengan diaorang tulis filmnjah (bukan tulis ulang kata2 bung!), dia hargai itu bung punja karja. Kalaw Hasduk Berpola dinilai demikian, itulah resiko karja jang dipertontonken ke chalajak. Mesti ada kritik jang perih2 gurih. Lebih bagus kalaw itu film djadi polemik, apalagi djika jang suka en jang bentji sama2 banjak en alesannja sama2 kuwat.

Perkara nasionalisma dalem film2 Indonesia belakangan ini saia kira sudah amat gamblang mesti dikritik. Mosok sudah djaman segini tjuma ngomong nasionalisma dari bendera, bambu runtjing, en hal-echwal tempo doeloe belaka? Kok ndak ada jang brani angkat nasionalisma jang dikontrasken dengan itu serdadu-serdadu TNI keblinger jang bedilin orang Tim2 sakpenaknjah, jang perkosa rakjat Atjeh sakpenak manukke dewe', jang maen sepak kepala orang Papua; tukangpukul2 sok arab sewaan politie plinplan jang maen hantemkromo ganjang Ahmadijjah, jang demen gebuk wong "kominis", jang suka2 bikin kaum homosek en lesbiola mangkin mendrita?

Maimang rasanjah heroik betul djika jang diangkat veteran djaman '45. Tapi tjuba bung liat itu veteran2 Oprasi Serodja. Sudah prangnja keblinger, pulang dengan tangan-kaki buntung pula mereka—plus, persis jang anda gambarken, dana pensioennjah tak pernah lantjar sampek skarang! Mreka2 mungkin tetep angkat bendera tiap Agustusan, tapi ja tjumak djadi klangenan getir. Ndak bisa bikin dapur ngepul!

En jangan lupa koweorang kalaw bekas tukangpukul2 Harto jang mereka punja tangan masih berdarah (en tiada manfaatnjah buat ini bangsa—biar masup neraka mereka!) itu pakek mantra2 nasionalisma buat tipu rakjat sementara kongkalingkong dengan bisnis2 londo sembari bedilin studen2 jang protes 15 taon lampau. Toch mereka masih berkeliaran en kongkalingkong dengan itu orang2 istana (tjontohnja djendral berbidji satu jang pimpin Oprasi Serodja itu!).

Dzolim betul djika nasionalisma sekadar basa-basi bendera tapi tak peduli dengan massa rakjat jang saban hari diperkosa klas2 ambnetaar2, teknokrat2 maling, tjukong2 bedjat, klas menengah bermentalitet belantik, en prijaji2 tak tahu diuntung! Maimang ada potret warga klas kere jang menjajat di bung punja tjrita, tapi apa hormat bendera bisa selesaiken problim2 orang2 jang slalu dianggep klas kambing itu bung? Achirnjah, orang tidak bakal bisa brenang kalaw dia tjumak bayangken dirinya bisa berenang! Jach, kok angkat2 bendera ini mirip2 rasanjah dengan FPI jang bilang "Chilafah solusinja!" ja?

Kalaw sekadar angkat2 bendera, film2 Lamting djaman tempo doeloe pun angkat2 bendera, umbul2, mlindjo, sampek djanda—apapun jang enak dikerek buat laga2an. Kalaw orang2 kere itu tjumak di-exploitatie buat pawai bendera, itu namanja "nasionalisma rentenir" , "nasionalisma tipu2", bung Nizam.

Nah, ini objectif tida'?

Salam anget,

John Kotelawala

@dosa_asal

mariorossen
5 tahun yang lalu

Adrian Jonathan Pasaribu yg cerdas baik hati dan tidak sombong.., saya menambahkan saja tanggapan atas tulisan anda. sebab uraian diatas sdh mewakili pendapat saya jg. namun pada semua kata dalam kalimat anda ada yg terkesan memaksa untuk di"ketik'kan, kata "Janggal" sebagai inti semua kalimat anda. saya yakin anda lebih cerdas dari saya.., dalam sebuah film ada durasi, ada jg bahasa gambar sebagai sajian interpertasi untuk dinalarkan penontonnya.dg tingkat kepribadian yg berbeda bisa saja penonton menafsirkan yg berbeda satu dg yg lainnya.membawa penonton dalam interaktif rasa,perasaan dan emosi adalah sudah menjadi hal wajar dalam seni pertunjukan.disinilah tingkat penalaran yg proposional dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah Kalimat "Kesan" diakhir cerita… dan penalaran yg tak terbatas saat dibutuhkan sebagai imajinasi pribadi untuk menghasilkan sebuah karya. jika obyektifitas tanpa penalaran obyektif saat menonton…. maka semua hal akan "janggal" dimata anda.salam sinema…maju terus perfileman Indonesia…. Merdeka…!!!

kenatipulu
5 tahun yang lalu

Salam Bung Adrian,

Kebetulan saya juga sudah nonton film-nya, malah sebelum pemutaran untuk media di Jakarta kemarin.

Jujur saya kurang setuju dengan banyak pendapat Bung Adrian.

Ketika Budi berhasil mengumpulkan uang yang cukup, dengan bekerja sebagai kuli panggul di pasar, harga hasduk tiba-tiba dinaikkan penjualnya dari 15.000 ke 18.000 tanpa alasan yang jelas.

Proses Budi mengumpulkan uang yang saya cerna adalah berhari-hari. Bukan hari ini tahu harganya (saat pertama kali beli) lalu kerja lalu balik lagi di hari yang sama. Jadi menurut saya, masih cukup masuk akal(apapun alasannya) bila harga berubah.

Hasduk Berpola pun berakhir dengan kemenangan simbolik ini serta satu kutipan panjang tentang kecintaan pada negara. Masalah-masalah lain yang lebih konkrit dan mendesak, macam kemiskinan dan uang pensiun kakek Budi, tak lagi jadi soal.

Bukannya memang topik utama film ini adalah tentang Budi yang berusaha mati-matian agar bisa punya Hasduk? Kalau memang menurut Bung Adrian topik utama film ini adalah uang pensiun, mungkin kita bisa minta ke sutradaranya untuk mengganti judulnya menjadi "Uang Pensiun Berpola"?

Moralitas Janggal? Anda serius Bung?

Apabila Hasduk Berpola diniatkan sebagai rangkaian pelajaran hidup terkait dengan pertumbuhan kedewasaan Budi, tidak jelas apa yang memantik perubahan dalam diri protagonis kita…

Serius anda sudah nonton? Menurut saya, selain pengorbanan bening, masih ada dialog Ibu dan Budi yang merubah pandangan Budi tentang hasduknya ditambah lagi, ketika mengetahui kebenaran tentang sang kakek, saya rasa itu sudah sangat cukup untuk merubah kepribadian orang, setidaknya untuk orang seperti saya. Entah kalau menurut Bung Adrian

Pengorbanan yang Budi lakukan juga terasa kosong. Ia merelakan uang hasil kerjanya pada seorang anak jalanan yang tertabrak motor, untuk biaya puskesmas, saat dia masih egois-egoisnya. Tak jelas kenapa ia mendadak bisa sebaik hati itu.

Serius Bung, saya pernah merelakan uang saya yang cuma segitu-segitunya untuk orang lain yang saya juga tidak kenal hanya karena iba, padahal bukan hanya saya masih di usia yang labil dan cenderung egois, tapi saya sendiri saat itu menggelandang, gara-gara kamar kos saya dikuras pencuri habis-habisan. Belum pernah mengalami tidak sama dengan tidak pernah terjadi.

Kita perlu berkaca pada diri kita sendiri. Sudah lebih dari enam puluh tahun kita merdeka, kenapa kecintaan negeri sendiri masih juga diekspresikan lewat hal-hal simbolik? Apakah kita begitu kecanduan dengan ilusi-ilusi nasionalistik? Atau kita selama ini terlalu dangkal dalam memahami nasionalisme?

Bung Adrian, bahkan negara sebesar Amerika saja, amat sangat menghargai simbol-simbol nasionalisme mereka, dari monumen sampai bendera. Tidak percaya? Silahkan tonton film-film Hollywood, dan hitung berapa film yang tidak ada penampakan bendera atau simbol-simbol kenegaraaan mereka.

Layaknya ibadah, nasionalisme tidak selalu dan tak harus terjadi dalam kegiatan-kegiatan yang ritualistik.

Maksud anda, kita tidak perlu lagi hormat kepada bendera? Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tidak perlu dihafal dan dinyanyikan lagi? Tidak perlu ada upacara bendera lagi? Atau bagaimana? Karena menurut saya, beberapa ritual memang tetap perlu dipertahankan termasuk juga seperti ibadah. Kalau memang ibadah tidak perlu ritual, seperti pendapat anda, maka buat apa Masjid, Gereja, Vihara, Pura, Klenteng, dan lainnya Bung?

Yang pasti saya suka film ini, beberapa scene film ini menyentuh hati saya. Meskipun mungkin akan terasa agak sedikit idealis bagi beberapa penonton, namun "rasa" nasionalisme yang ditawarkan film ini menurut saya cukup "enak".

Untuk sirjohnkotelawala:

Serius Bung? Anda nasionalis? Bahasa anda lebih mirip "Kumpeni" Hehehehe

Pun di luar itu, saia bingung dengan "spoiler" jang jij kuatirken. Toch, kalaw filmnjah maimang djempolan dari awal sampek achir, tak usahlah bung takut dengan penulis jang bikin botjor tjarita ke kuping chalajak rame.

Saya tahu, memang ada "aliran" kritikus yang benci Ke-anti-spoiler-an seperti Bung Adrian, yang pernah menterjemahkan artikel Jonathan Rosenbaum, In Defense of Spoiler 2011 lalu. Tapi buat saya, mana enak nonton tanpa ada elemen kejutannya? Kalau semua orang tau cerita dari awal sampai akhirnya, buat apa nonton? Bahkan novel terlaris di dunia pun, ketika dibuat film, pasti ada elemen kejutan yang tidak ada di novel asli-nya.

Maimang ada potret warga klas kere jang menjajat di bung punja tjrita, tapi apa hormat bendera bisa selesaiken problim2 orang2 jang slalu dianggep klas kambing itu bung?

Perasaan film ini tidak pernah menceritakan bagaimana hormat bendera secara ajaib langsung menyelesaikan semua permasalahan keluarga Budi. Entah kalau film lain yang Anda bahas hehehehe.

Kok ndak ada jang brani angkat nasionalisma jang dikontrasken dengan itu serdadu-serdadu TNI keblinger jang bedilin orang Tim2 sakpenaknjah, jang perkosa rakjat Atjeh sakpenak manukke dewe', jang maen sepak kepala orang Papua; tukangpukul2 sok arab sewaan politie plinplan jang maen hantemkromo ganjang Ahmadijjah, jang demen gebuk wong "kominis", jang suka2 bikin kaum homosek en lesbiola mangkin mendrita?

Bagaimana kalau Anda yang bikin filmnya? Nanti kita kritisi bersama-sama di sini?

Mohon maaf kalau ada salah kata, salah ketik dan salah paham. Kaca mata orang berbeda-beda. Yang pasti salah adalah yang tidak benar :P

bagasdwibawono
5 tahun yang lalu

Ada beberapa point pendapat saya,

sebagai pengamat film:
Sah-sah saja perilaku seseorang yang menjadi tokoh dalam sebuah film berubah-ubah, bahkan secara drastis sekalipun. Tidaklah harus,karakterisasi tokoh selalu dipolarisasi menjadi antagonis dan protagonis [seperti sinetron-sinetron yang memenuhi televisi Republik Indonesia tercinta ini]

sebagai bangsa Indonesia:
Saya sangat menghargai konsep kebangsaan dengan segala atributnya, termasuk bendera, lagu kebangsaan beserta turunan-turunannya, termasuk hasduk.
Paling tidak, hingga saat ini saya pribadi masih saja bisa meneteskan airmata saat menyaksikan bendera merahputih dikerek diiringi lagu Indonesia Raya saat upacara kenegaraan 17 Agustusan di televisi. Dan menurut saya, itu bukan berlebihan, apalagi janggal.
Saya masih saja percaya, bahwa orang-orang yang mencintai negerinya dengan sungguh, tak akan tega merugikan bangsanya, apalagi korupsi.

sebagai manusia:
Adalah sebuah kewajaran yang positif, bila seorang manusia, apalagi anak-anak, mempunyai perubahan sikap yang mengarah positif.
Dari kenakalan-kenakalan dan keisengan-keisengan yang cenderung negatif, berangsur membaik dan menjadi positif. [Bukankah itu yang selalu kita harapkan sebagai orang tua, bahwa anak-anak kita akan mengalami perkembangan yang lebih baik, dari waktu ke waktu].
Seorang manusia, taklah ia selalu sempurna, sebab didalam diri mereka bersemayam jiwa. Jiwa ini selalu mencari. Tergantung konsep apa yang ia percayai dan menjadi ambisi. Jika jiwa seseorang mencari nilai-nilai positif, maka selayaknyalah ia selalu mencari dan melihat segala hal dari sisi positif, sebab ia memang sedang menuju kesana. Begitu juga sebaliknya.
Contoh lainnya, jika seseorang mempunyai konsep materialis kapitalis, maka jiwanya akan menggerakkannya ke arah itu.
Dalam film ini, konsep positif nasionalis dan cinta kasih melatarbelakangi plot cerita.
Bukanlah sebuah kejanggalan jika seorang cucu yang dekat dan mencintai kakeknya, akan melakukan segala hal untuk membantu sang kakek. Di sisi ini, Budi, sang tokoh utama film ini, tak pernah ia berpikir bahwa ia akan menjadi [sok] pahlawan dan menjadi [sok] nasionalis sejati dengan mengibarkan bendera itu, namun kecintaannya kepada sang kakeknyalah yang mendorong ia melakukannya.
Di lain sisi, justru kejadian sederhana dan pragmatis ala seorang bocah bernama Budi ini, yang membuat kita [penonton] terperanjat, dan terhenyak.
Peristiwa ending inilah yang diharapkan akan menyadarkan kita [dari sisi penonton] akan eksistensi keberbangsaan kita. Berapa besar derajat kecintaan kita dan kebanggaan akan negeri yang masih mengendap di dada kita. Seberapa besar penghargaan kita terhadap bendera dan lagu kebangsaan yang merupakan atribut nyata bangsa ini. Seberapa rela kita untuk berdiri dan menghormati atribut kebangsaan kita.
Semua kembali pada perenungan diri.

sebagai penulis cerita asli dan skenario film Hasduk Berpola :
Saya berterimakasih atas segala apresiasi dan perhatian kepada film ini, saya sangat percaya bahwa penggugahan rasa cinta tanah air ini pasti ada manfaatnya, jika bukan kini, pasti kelak, ketika kita semua telah tiada.
Tabik.

Rebecca
5 tahun yang lalu

Waaaah, jadi ramai.. Jadi penasaran pengen menonton nih.. Saya nggak tahu sih, tapi bisa jadi kontroversi ini jadi trik pemasaran yang berhasil, hehehe,,

Buat penulis cerita dan skenarionya(Mas Bagas), kalo anda sampai menjelaskan kembali secara lebih gamblang dan analitikal mengenai cerita dalam film anda, berarti naskah anda gagal berbicara.

Tabik genti ;)

KRITIKSINEMA
5 tahun yang lalu

Salute Untuk Adrian Jonathan & Komunitas Film Indonesia.Org

Anda tentu sudah mendengar paparan lugas dari tinjauan film sebagai ornamen peradaban modern yang saya apresiasi untuk Film Hasduk Berpola beberapa waktu lalu.

Terus terang saya belum menulis apa-apa karena memang KECEWA dari kreativitas dan kesempatan seorang Harris Nizam yang tidak tereksplor lebih di film tersebut. Itu adalah istilah saya naik kelas atau tinggal kelas, ibarat Effort Rating saja dan upaya saya mengapresiasi sebuah karya.

Hasduk Berpola telah meninggalkan tiga hal dan ini fatal dalam sebuah produksi FILM;
1. Supervisi atau kurasi sinematografi yang harus melibatkan tim skenario atau unsur independent untuk menonton film tersebut. Apabila persoalan dompet hitam kecil berubah menjadi dompet coklat besar, ataupun kesimpulan cepat reporter TV yang menyatakan anak-anak yang menerobos masuk ke dalam hotel mau bunuh diri. Semua itu ternyata setelah mengkonfirmasi ke tim skenario ada di script dan memang sengaja ditinggalkan oleh Harris sebagai sineas. Dari sini mana pencatat adegan atau supervisi editing ?
2. Logic Value, hal ini seringkali penting untuk film-film yang menginspirasi dan berbobot karena ditonton oleh para intelektual yang memang mengedepankan LOGIKA BERFIKIR.
3. Akreditas & Artistik POSTER, tidak hanya di luar negeri, Indonesia pun masih memberikan ruang imajinasi dan eksploasi foto terbesar pada poster film yang seringkali tidak ada kaitan sama sekali dengan adegan dalam film karena itu semata-mata untuk men-drive keinginantahuan para calon penonton.

Hal yang lain mas Adrian dan semoga ini juga dibaca oleh sahabat saya Ilhamka yang setahu saya humble dan selalu senyum tapi membaca tanggapannya di atas tentang Jonathan agak sedikit 'marah' yah ? WHY ?
Ada jurnalis yang cenderung tidak suka untuk menggunakan forum pendapat secara verbal karena itu menyangkut banyak persoalan karena terpenting dari jurnalis itu adalah TULISAN bukan 'statement' lisan saja bung Ilham, jadi Anda harus berterima kasih dengan Jonathan dan saya telah membedah film adik Anda, Harris secara sinematografis filmcritic yang tidak semua orang bisa untuk itu, bukan ?

Menarik 2 hari sebelum menjemput penonton, pas hari FILM NASIONAL, Kamis Keramat, lusa 21 Maret, Hasduk Berpola punya Teaser part 2 atau teaser yang tersebar di YouTube dengan penonjolan sosok Masnun yang sangat inspiratif dan punya benang merah dan TDAK SPOILER.

Apa sih itu Spoiler ? Yuk diskusi tentang hal itu…........

Saya suka dengan Teaser part.2 dan lebih bagus dari filmnya. Harris dalam film ini walau tinggal kelas belum tentu tinggal kelas terus, bukan ? Semoga saja seperti paparan lugasnya untuk mau mendengarkan banyak orang pasti akan 'mendengarkan' tim skenario, media dan kritikfilm untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Bravo Jonathan, Arul mendukungmu dan Komunitas KritiKSinema Indonesia….............!

Kita tunggu saja perolehan penonton Hasduk Berpola yang BUKAN Film Pramuka tapi FILM tentang NASIONALISME…..........!

DimasJayasrana
5 tahun yang lalu

Oentoek bung sirjohnkotelawala!

Katakan pada saia, dimana bung punja papan ketik itoe beli?! Saia soedah mentjari-tjari sedjak tahoen 1972 ketika EYD (Ejaan Djang Dijawakan) diberlakoekan menggantikan Soewandi punya sistim. Soenggoeh soelit menoelis dgn baik menggoenakan papan ketik a la barat ini, dan terang ini tdk nasionalis!

Omong2, apakah bung tau siapa penemu pramoeka? bilakah bung berpikir Lord Robert Baden Powell of Gilwell, itoe terang salah. Gabrielo Fallopia adlh penemoe konsep kondom. Jadi pramuka tdk ditemoekan, tetapi didirikan!

Djang saia curigai dari bung Adrian adlh; diaorang bilang 'nonton film dari kecil sampai sekarang'! bajangkan bung, dari ketjil sampeh sekarang! Saia waktoe ketjil itu nonton maling ajam dipoekoel-poekel sampeh mati dan waktoe soedah besar saia nonton la liga. Djelas soelit mengharapkan penoelis kita ini oentoek bisa nasionalis.

Soengoeh terang….

someonelovemovies
5 tahun yang lalu

saya ingin komentar soal review ini:
1. review ini SPOILER 100%. menyedihkan ketika membaca review film tapi lebih seperti menonton filmnya dlm tulisan. belajar dulu yg bener cara nulis mas adrian. buka referensi cara menulis yang baik dari luar. jgn skeptis. bisa dicari di google kok.

2. inget 1 hal. film itu hiburan utk masyarakat. mostly: FICTIVE. jangan mengaitkan sesuatu hal yang kecil dalam film dengan asal-usulnya (bagaimana bisa terjadi, kapan itu datang dll). karena, durasinya akan panjanngggggggg sekali kalo setiap detil dimasukkan ke film dan kita akan STRES begitu keluar bioskop krn mikirin yang ga penting. inget juga, kadang lembaga sensor kita suka motong adegan film seenaknya.

3. terakhir, tulisan ini GA MUTU at all. penulisnya juga kurang memiliki kredibilitas bagus di kalangan sineas lokal.

buat produser film ini (dan produser lain), next time harus 'lebih pinter' undang orang buat gala premier film.

sirjohnkotelawala
5 tahun yang lalu

Ik pengen kassie commentaar tuk hal-echwal terachir jang diomongken "someonelovemovies"

1. kok lama2 "buruk film, kritik ditjertja?" en kok lagi2 spoiler jang diperkaraken? Baeklah, kalow spoiler sudah djahadi sematjem "sapi sutji" tjuba tulung bung2 jang "wahabi anti-spoiler" inih kassie tjonto2 tjespleng tindjawan "dari luar" jang mana koetika kitaorang batja tida' seperti "menonton filmnya dlm tulisan", jang tida' "skeptis". (adjaken "jangan skpetis" ini koq makin absurd ja?) Bisa ditjari liwat kandjeng Google toch?

2. "film itu hiburan utk masyarakat", "mostly FICTIVE", "durasinya akan panjanngggggggg sekali kalo setiap detil dimasukkan ke film dan kita akan STRES begitu keluar bioskop krn mikirin yang ga penting", en Lembaga Sensor bakal maen kebiri sakpenake.

Ik tanja: betul ini poin2 jang jij dapet dari itu "kritik2 bagus" jang jij bilang tanpa tjantumken rudjukannjah? Tjuba you tundjukken siapa kritikus jang pernah ngomong bahuwasanjah pelem tjumak untuk plessiran en salon2an semata!

Ik kassie tjatetan: ini commentaar koq rasa2njah kalut ja? Bahasanjah lebih mirip cineaste jang panik en pengen mendikte si kritikus. Kalaw maimang bener, bukannjah cineaste2 jang hebring itu bikin jang rumit2, jang panjang2, en hal-echwal laen jang besar2 en serba bikin orang blingsatan djahadi lebih bisa dipahami penonton tanpa mesti menjederhanaken persoalan en melemahken pesan? Ini kan perkara seniman punja creativiteit. Tida' ada creativitet = tida' selamet! 

3. Apa tida' sepakat dengan satu tulisan bikin pembatja mesti maen ganjang si penulis? Dalem sakdjumlah perkara, saia orang beberapa kali tida sepakat dengan tulisan2 laen si penulis, kadang2 malah pakek confrontatie gaja lekra-manikebu segala. Tapi tida' begini tjaranjah (batja: tida' bawa nama "sineas lokal dari tumaritis" alias entah-siapa-tjumak-gustialloh-jang-tau). Ini maap bener ja, tapi pentjantuman "kredibilitas di kalangan sineas lokal" tjumak bikin si penulis commentaar nampak minderwaadig sahadja; kerna diaorang punja argumentatie tida' kuwat, mangkanjah dibawalah itu sineas2 antahberantah. Hwarakadah! 

4. "Buat produser film ini (dan produser lain), next time harus 'lebih pinter' undang orang buat gala premier film."

Jang "lebih pinter" maksudnjah undang ambtenaar2 dengan utek amblas matjem Djero Watjik itu?

Untuk Bung DimasDjayasrana,

Ini ik punja papan ketik sudah ik dedhel-dhuwel lantaran sebel dengan itu Edjaan Jang Didjawaken jang sok2an murni tanpa oplosen en tiada semlohe itu. Laen dari itu, perlu rasanjah kitaorang bareng2 diriken sematjem maatschappij voor taalkundige zuiverheid, alias, prokemnjah, Front Wahabi Suwandi! 

Salam anget,
John Kotelawala
@dosa_asal

yukitanonton
5 tahun yang lalu

Mas/mbak SomeoneLovesBadMovies

Eike rasa mas Adrian paham kok cara nulis. Yakaleee dese nulis garis besar ceritanye aje trus sama pake simbol 4 thumbs down doang. Lu pikir die nulis buat cover DVD. Setidaknya, dia bilang jelek dan ngasih alesan jelas bagian mana yg dese ga sukriya. Kalo yey ga mau tau cerita atau kritiknya mas Adrian, ya jangan dibaca, liat aje noh bintangnye. Ada alesan knapa tu bintang ditaro di bagian paling atas sebelom tulisan.

Film emang harus menghibur. Cuma konsep terhibur yey sama mas adrian siapa tau berbeze kalo kata Siti Nurhaliza. Ya kalo yey terhibur walau liat ada inkonsistensi, kebodohan dan ga ngerasa tergenggeus sama itu, silakan aja. Dan ga cuma Fiksi yaaa yg bisa menghibur, dokumenter juga bisa. Nonton film lebih banyak lagi gih, jangan nonton yg beginian muluk, cyiiin. Dan sensor harusnya ga jadi masalah ya untuk filmmaker yg pinter dan kreatif. Tonton deh film2 Iran atau film-film Hollywood jaman Hays Code (tahun 30an - 50an).

Terakhir, bener juga tu ngingetin produser dan pembuat film untuk "lebih pinter". Semoga di kemudian hari juga mereka "lebih pinter" lagi bikin filmnya.

Sekian dan terima cucian.

Farrasy
5 tahun yang lalu

Kritik mas Adrian tentu saja beralasan. Ada banyak alasan dukungan yang juga sudah disampaikan di atas. Selebihnya mereka yang kontra gagal paham terhadap kritik ini.

Soal "Spoiler." Hallloooo, lantas apa gunanya sebuah kritik? Kritik yang lengkap sebisa mungkin membahas film secara detail. Adalah menjadi konsekuensi saat kritik mengungkap beberapa bagian dalam film, sesuai kepentingan arah kritiknya (penilaian si penulis).

Kalo pemahaman soal "Spoiler" ini diteruskan, jangan berharap kita bisa mendapatkan sebuah kritik film. Saat kritik saja dianggap salah, ditanggapi dengan reaktif, bagaimana kita bisa berharap kemajuan film Indonesia—- seperti diteriakan lantang di atas: maju terus perfileman Indonesia…. Merdeka…!!!

Dengan anti-kritik, kalianlah yang gak ingin film Indonesia maju.

Film merupakan pernyataan para pembuatnya. Tak heran film ini juga membawa pesan nasionalisme, paham usang yang akrab dengan fasisme. Sebab ternyata para pembuatnya juga reaktif, anti-kritik dan bawa gaya-gaya diktator, apalagi ini kalo bukan ciri-ciri Fasis. Sungguh, hanya mereka yang berpikir dangkal bersikap anti-kritik.

Akan lebih elok, jika para pendukung Handuk Berpola—ekh Hasduk—membuat tulisan tandingan yang memuja-muji film ini, sembari mengkritik balik saudara Adrian. Tapi sudahlah para fasis, memang tidak dibesarkan dengan iklim berdebat yang sehat. Mereka lebih suka tantang menantang.

Ketakutan saya yang terbesar: Film Indonesia dilanda kemiskinan tema (lagi). Kemunculan tema-tema Nasionalisme ini makin marak belakangan. Sekilas terasa cihuy (dibanding tren horor & komedi). Tapi sepertinya jauh dari itu, umumnya mereka hanya mengumbar kecintaan terhadap negara, tanpa mampu menjahit keutuhan cerita. (Sudah disinggung mas Adrian di atas), pun saya merasa sama. Di "5cm" misalnya, saat perihal nasionalisme disampaikan dengan naik gunung, gak punya ide lain apa.

Tapi memang nasionalisme ini jualan ampuh sich. Ingat saja kaus Damn!I Love Indonesia atau I Love NKRI dll, laku keras. Saya kira sama, nasionalisme jadi "jimat sakti" meminjam mas Adrian) untuk mengundang penonton. Setingkat lebih (sok maju) dibanding tren komedi dan horor—tapi setali tiga uang tujuannya jualan.

Tabik.
Farrasy Tadulako

aerorun
5 tahun yang lalu

ngasih input kok malah dituduh ga nasionalis….aneh

ane sih belum nonton, tapi lihat cara pembuatnya menjawab kritik ini kok sepertinya sudah tau filmnya gmna….ga elegan deh jawab kritik sambil marah2. lebih elegan kalo sekalian ajak duel aja di ring tinju semacam Uwe Boll lebih keren tuh.

buat yg ber ID someonelovemovies1. review ini SPOILER 100%. menyedihkan ketika membaca review film tapi lebih seperti menonton filmnya dlm tulisan. belajar dulu yg bener cara nulis mas adrian. buka referensi cara menulis yang baik dari luar. jgn skeptis. bisa dicari di google kok.

ga perlu googling nih sy kasih link tentang spoiler dalam sebuah review, yg kebetulan diterjemahkan penulis kritik ini. http://cinemapoetica.com/terjemahan/jonathan-rosenbaum-membela-spoiler/ jadi menurut saya penulis jauh lebih paham cara menulis daripada mbak/mas someonelovemovies

2. inget 1 hal. film itu hiburan utk masyarakat. mostly: FICTIVE. jangan mengaitkan sesuatu hal yang kecil dalam film dengan asal-usulnya (bagaimana bisa terjadi, kapan itu datang dll). karena, durasinya akan panjanngggggggg sekali kalo setiap detil dimasukkan ke film dan kita akan STRES begitu keluar bioskop krn mikirin yang ga penting. inget juga, kadang lembaga sensor kita suka motong adegan film seenaknya.


meski fiktif kan tetap harus logis….
dan gmna pinter2nya si penulis dong

3. terakhir, tulisan ini GA MUTU at all. penulisnya juga kurang memiliki kredibilitas bagus di kalangan sineas lokal.

yah kalau yg berusaha jujur menilai malah dianggap ga mutu dan ga punya kredibilty, pantes aja film Indonesia punya kualitas yang menyedihkan. dan juga memiliki kredibilitas bagus disini agak abu2 deh artinya. bagus karena suka menjilat yg ngundang premiere atau bagus karena kritik nya membangun. seperttinya semua sudah tahu bagus yang mbak/mas maksud disini cenderung pada artian yg pertama. untuk bung Andrian, maju terus…..

terima kasih

yohan arie

hagasyi
5 tahun yang lalu

Saya selalau berfikir, kenapa Hasduk ? Mungkin Hasduk adalah hal yang jarang difikirkan orang sebagai bagian dari aksesori para Nasionalis. Dan penulis seperti menemukan item unik, bila memang iya. Kenapa ceritanya malah ga unik ya. Dan cerita yang dibangun, malah terbebani oleh judul itu sendiri.

Layaknya ibadah, nasionalisme tidak selalu dan tak harus terjadi dalam kegiatan-kegiatan yang ritualistik. Masih banyak kontribusi lain yang lebih konkret ketimbang menghormati bendera semata.

Ketika mendengar film bertemakan "NASIONALISME" dalam bayangku adalah itu film bisa bikin merinding dan memantik inspirasi. Cukup merinding, ketika melihat pesawatnya Habibie bisa terbang di saksikan jutaan banyak orang. Dan inspiratif ketika Charil Tanjung, bisa membeli Charefur, dan takjub ketika menyaksikan dahlan iskan memajukan BUMN. Habibi, Tanjung, Dahlan, aku yakin seorang Nasionalis. Kontribusi mereka konkret, tidak sekedar menghomrati bendera.

Capek nonton film Indonesia… yang bagus 1 yang ancur 10. Sineasnya di kritik malah esmosi… Bukannya menunjukan kecerdesan dan pengetahuannya tentang film. Em….. Penonton film Indonesia udah ga bisa dibegoin. Capek. Sinesnya pada pinter mencari pembenaran.

mariorossen
5 tahun yang lalu

nulislah…memang sd pd pinter, tapi yg jawab pada gak jelas ID nya. :-p kembalilah kepada nuranimu sebagai insan bangsa ini,saat ada yg berbuat bagi negerinya spt film ini koq malah dicari salahnya..berkacalah siapa kamu..apa yg kamu perbuat untuk negeri ini..! kita-kita ini hanya bisa ngomong..debat..saling mencari salah.."SENGKUNI" ? mencintai negeri ini sdh hak dan kewajiban kita dg segala ekpresinya..menghargai karya salah satunya…"ayo kita berkaca..!!" tampil dg Identitas jelas saat menulis sdh sesuatu yg akan dihargai..satt mengkritik "berkaca dulu" supaya tdk jadi "SENGKUNI"...BIARKAN ANAK-ANAK BANGSA INI MENCINTAI NEGERI INI DG SEGALA EKSPRESINYA......... salam cinema..!!

DimasJayasrana
5 tahun yang lalu

Salam nasionalisme Bung John Kotelawala!
Kita mustinja melakoekan soempah pemoeda the ultimatum, kita soempahi semoea pemoeda. Ajo kita boeat koalisih bertali kasih. Penoelis kita Bung Adrian tidak hanja poenya masalah nasionalisme, tetapi joega poenja masalah remoek bercinta jang tentoe bung paham itu lebih gawat!
kitaorang ini njampah sekali ja bung…..

sirjohnkotelawala
5 tahun yang lalu

Untuk bung Dimas: Entah kapan kalaw jij ada wektu bolehlah kita angkat gelas!

Untuk bung Mariorossen: brondong preman di bui pakek bedil itu masup "mentjintai negeri dengan segala ekspresinjah" djuga bung?

mariorossen
5 tahun yang lalu

@boengsirjohnkotelawala semoea kontjo-kontjo…
"mentjintai negeri dengan segala ekspresinjah"
...hal ichwal ini kalimat saia menyimpoelkan daripada apa jang saia lihat dikehidoepan kita setjara realitasnya.
tjontoh saja :
1- saia bangga dan terenyoeh mengharoe biroe kalboe ini dikala melihat seorang pemoeloeng dg bajoe koemoeh tp ada pin merah putih dikoeploek koemalnya..
2- pernah saia melintas persawahan dilereng goenoeng semeroe dg rombongan pendakian membawa bendera merah poetih, beberapa petani yg tengah membajak sawah sepontan menghentikan itoe kerja,laloe mereka berdiri dg sikap hormat sempoerna…saia ingat betoel..saia sempat heran terkagoem akan ekspresi mereka seperti itoe.meskipoen lagoe yg mereka nyanyikan berbahasa nipon.(Moengkin Kimigayo,saia tdk faham) ekspresi hebat kaoem sawah..,*daripada itoe semoea saia melihat ekspresi pada pilem "HASDOEK BERPOLA" joega demikian hebat jang mampoe membawa penonton pada rasa bangga dan. haroe jang bertjampoer seperti tjendol ireng poerwakarta. Nasionalisme hak semoea bangsa.. simpoelan sdr.penoelis diatas lemah pd penalaran.jang tjenderoeng "dimandek-mandekno" kata jong java. Koempeni bilang didramatisir.. Itoe comment kontjo-kontjo sejiwa sdh bagoes-bagoes dan tjoekoep jelas menjawab . Saiangnja jang Share memboemboei dg simpoelan jang keliroe (padahal ada jang beloem nonton). Kritik msh boleh dijawabkan ? Kritik boekan fatwa ataoe titah raja. saia soeka semoea kontjo-kontjo kalaoe sdh melihat itoe pilem.. Pilem indonesia majoe teroes ..  Teriring salam sinema indonesia , 4x4=16…..wkwkwkwkwk…..*sambil nglethak goela Java+nyroepoet kopi ireng penanjakan. Matoh…!!

ratnadewi
5 tahun yang lalu

menanggapi kritik terhadap film Hasduk Berpola, luar biasa sekali.
sebuah kritikan yg tulus akan membawa pada kemajuan
perfileman indonesia.
namun, apabila kritikan didasari sakit hati dan iri hati.
maka apa yg dikritikkan tidak lg bernilai sehat
untuk kemajuan.
sebuah kritikan dengan ujung cerita menginginkan berbuat
atau melakukan hal yg sama seperti yg dilakukan
atau yg dikerjakan hal dikritik adalah "Dengki"
sangat janggal dan mengada-ada sekali kritikan terhadap jalan cerita ini
terlebih ada tulisan dr sdr.adrian jonathan pasaribu yg sangat lucu saya baca.
tak lebih hanya menunjukan "sempitnya" cara berfikir ataupun pengalaman penulis kritik
dg latar belakang nama Blog/web tsb mestinya para kritikus film indonesia lebih pintar,
bukan malah menunjukan hal "ketidaktahuan" dari segala sesuatu menyangkut apa yg dituliskan.
lebih pintarlah dg pengetahuan sesuai latar belakang pendidikan dan pengalaman…
lalu saya baca lg ada yg tulis "kritikan bukan fatwa " saya setuju sebab tidak semua kritikan itu Benar.
kritikan disini seperti usulan yg terlambat bahkan sampai ada yg nulis spt itu,memang benar.
dan menurut saya dari semua peristiwa kritikan terhadap film ini tak ubahnya
"suara pecundang yg terlambat dan ingin didengar".
semoga lebih pintar lagi para pengritik…
dan tidak terjadi lagi :edit/ppenghapusan terhadap komment spt yg terjadi di blog sebelah .detik.com. kan tidak sportif itu namanya.
semakin maju perfilman kita….

sirjohnkotelawala
5 tahun yang lalu

Zus Ratnadewi jang berdarah muda en berapi2,

Ini dia commentaar jang kitaorang samoewah tunggu!

Darimana jij tahu si penulis kritik dengki en tida ada rasa tulus2njah sama ini film? Ini kitaorang berhadepan dengan filmnjah, dengan teks! Koq pakek dipsikologisasiken segala? Kritikusnjah sudah maen fair lho: tjuba liat, apa sinjo Adriaan mengkritik si pembuwat film berdasarken latar belakang kepribadian atawa sifat2 tertjela (bung Nizam itu saia denger orang baek kok, sia2 ditjari jang buruk2 dari diaorang)? Tentunjah tida', kerna itu bakalan djahadi pertimbangan jang bakal luwar biasa guoblok en keblinger ampun2an. Lagipula, siapa jang tahu orang punja isi hati? Jach, kalaw sampejan bisa tahu, ik bakal sungkem en sembah2 jij kerna sudah sepantaran dengan gustialloh.

Soal pengen didengar itu lumrah Zus Ratnadwipa. Jang membedaken tentunjah: mana jang lajak didenger atawa jang tidak.

Satu lagi jang ik saksiken dari sa'djumblah commentaar jang menjerang si kritikus: biasanjah mereka maen ketjam intelligensi kritikus. Bukan maen! Tapi bukannjah kritikus jang baek itu pasti beladjar tentang pembuwatan film jach, en sering djuga tonton pelem lebih banjak? Ach, tapi itu mungkin perkara laen. Kalaw maimang si kritikus saking bodohnja bisa nulis artikel seperti ini, mestinjah kan si pengkritik kritikusnjah bisa keluwar dengan tulisan balesan jang lebih zakelijk, jang lebih baek pula—bukan demikian, zus Ratnadwipa? Eh ija, omong2 soal goblok, gobloknjah artikel ini dimana ja? Dari kemaren jang nuntut2 si kritikus biar pinter kok ndak pernah tundjukken mana poin jang dibilang goblok? Jang ik temuken tjumak tuduhan "tida' nasionalis" en "tida' mendukung perfilman indonenong?" Saia kuatir ini ukuran baru di Indonenong untuk menilai inteledjensi seseorang. Apa bener begitu Zus Ratnadwipa? Djika demikian adanjah, ada banja' sekali orang jang gobloknjah keterlaluwan kerna tida' suka Hasduk (film nasionalis tulen!) atawa tida' sempet nonton atawa maimang tida' tertarik belaka. En samuwah orang itu bisa ditjap tida' nasionalis. Eh, tapi tida' nasionalis itu djuga pertanda kedunguan ja? Berarti orang di Atjeh en Papua sono—konon tida' nasionalis kerna pernah dan sekarang lagi berontak terhadap "NKRI harga mati"—adalah rakjat jang paling bego? Begitu jij punja kesimpulan jang lekker itu?

Usulan jang tlaat itu jang bagaimana ja? Aha, ik baru tangkep: artinja ada usulan jang tepat wektu, begitu? Kalaw usulan jang tepat waktu diartiken sebagai usulan ke pembuwat pelem sebelon dia punja film diproduktie, maap2 sahadja, kritikus itu tida' punja tanggungdjawab ke si pembuwat film. Tanggungjawabnjah ialah ke penonton kok. Dalam perkara itu, tida' ada usulan jang tlaat!

Jang ik takutken: pembuwat2 film di Indonenong ini lama2 mirip presidennjah jang luar biasa gembeng itu: kritik dibilang kudeta, dibilang keblinger, dibilang tida' nasionalis. Jach, tapi demikian: respon seperti itu tjumak dateng dari orang jang gembeng belaka. Mudah2an ik salah sangka.

Salam anget, en suksesken Klompentjapir!

John Kotelawala

@dosa_asal

album_minggu
5 tahun yang lalu

Teruntuk kawan tercinta ratnadewi dan rekan-rekan pembaca lain yang sewot akibat ulasan tajam di atas yang bikin muntah darah para pembuat film buruk.

Kritik tulus itu seperti apa? Buat saya, cara menilai seseorang tulus atau tidak gampang sih. Ketika seseorang tidak dibayar melakukan sesuatu, ya berarti dia tulus, sesederhana itu. Sutradara film Hasduk Berpola tiada bayar Bung Adrian menulis kritik ini kan?

Jadi lucu sekali, karena cara pikir Jeng Ratna secara otomatis membuat tulisan bernas Bung Adrian masuk kriteria "membawa pada kemajuan perfileman indonesia". Kan dia tulus menulis kritiknya.

Kecuali Jeng Ratna berhasil membuktikan bahwa Bung Adrian memang terlanda iri dan dengki, sehingga berniat menulis ulasan tersebut sebagai langkah seorang pecundang yang ingin didengar. Wah, nista sekali para penulis situs ini ya bila benar seperti itu.

Mau sewa dukun mana Jeng Ratna? Barangkali anda inilah jenis warga yang bakal mendukung pasal santet masuk KUHP.

Salam'mlekum!!!

retuka_sony
2 tahun yang lalu

aku ngga bisa berkomentar karna aku belum nonton filmnya. padahal aku sangat pingin menontonnya namun apadaya kami di kota sorong papua barat sulit untuk mendapatkan kaset dvdnya hasduk berpola… malahan tidak ada sama sekali… mungkin saudara2 ada yang tahu atau yang punya dvdnya bisa aku membelinya… atau dimana aku bisa mendapatkan dvdnya… kalau ada bisa konta saya di nmr 085244172225

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.