Nostalgia yang Gagal Bercerita

Resensi › Adrian Jonathan Pasaribu

Penilaian penulis:  
 (4/10)

Finding Srimulat berada di persimpangan jalan. Di tingkat niatan, film ini mengemban misi untuk mengangkat kembali Srimulat setelah sekian lama hilang dari radar masyarakat. Didirikan Teguh Slamet Rahardjo di Solo tahun 1950, Srimulat merupakan grup lawak terbesar di Indonesia. Entah sudah berapa generasi yang mengalami guyonan mereka. Awalnya, mereka banyak keliling, dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya, dari satu gedung ke gedung pertunjukan lainnya, dari satu teater ke teater rakyat lainnya. Memasuki millenium baru, eksistensi Srimulat sempat terjaga lewat sejumlah penampilan di layar televisi. Beberapa anggotanya menjadi selebriti, main di sinetron-sinetron dan tampil di acara-acara lawak lainnya, namun perlahan-lahan Srimulat sebagai sebuah kelompok mulai terlupakan.

Di tingkat perwujudan, Finding Srimulat susah payah menjaga keseimbangan. Film arahan Charles Gozali ini seperti ingin bernostalgia dan bercerita sekaligus. Hanya satu yang berhasil, itu pun dengan sejumlah pertanyaan. Penonton dari kalangan mana yang sebenarnya ingin disasar? Mereka yang pernah mengalami kejayaan Srimulat? Atau mereka yang terlalu muda untuk mengenal Srimulat?

Premis Finding Srimulat sederhana: Adika ingin menaikkan kembali grup lawak favoritnya itu ke atas panggung. Bukan untuk eksploitasi ekonomi, tapi murni untuk menghormati masa lalu. Adika adalah penonton dan penggemar Srimulat sejak kecil. Dia sering menyaksikan mereka pentas di Surabaya dulu bersama orangtuanya. Foto keluarga di depan papan Srimulat terselip manis di dompet protagonis kita. Begitu tersetirnya oleh nostalgia, Adika sampai tak mengabari istrinya kalau ia pergi ke Solo untuk mengumpulkan kembali anggota-anggota Srimulat yang masih tersisa. Ia juga tidak memberi tahu kalau di kantornya sedang bermasalah dan berada di ambang kebangkrutan, karena proyek mereka baru saja disabot Jolim (Fauzi Baadila), rekan kerja Adika. Istri Adika sendiri sedang hamil muda dan pasutri muda ini belum cukup stabil keuangannya.

Posisi Adika ini sesungguhnya potensial. Ia diperankan oleh Reza Rahadian, seorang aktor muda yang kita ketahui memiliki banyak penggemar yang tak kalah mudanya. Begitu juga istrinya, Astrid, yang diperankan oleh Rianti Cartwright. Pemilihan pasangan aktor-aktris ini menunjukkan pemahaman pihak pembuat film, kalau status kebintangan pemainnya bisa menjadi pengantar yang baik bagi penonton sekarang untuk mengenal Srimulat. Ingat, banyak dari penonton sekarang yang tidak mengerti kenapa Srimulat pernah begitu jaya dulu.

 

Naskah

Masalahnya ada di naskah. Pembuat film tak memberi cukup kesempatan bagi Adika untuk mengakrabkan diri dengan Srimulat. Sepanjang film, setidaknya dua-per-tiga film, Adika dan Srimulat terlihat canggung dan kurang intim; keduanya seperti berada di dua dunia yang berbeda. Logikanya begini: kalau Adika memang penggemar dan penonton Srimulat, pastilah ia hafal dengan tingkah laku Srimulat. Bukankah akan sangat asyik menyatukan keduanya dalam panggung yang sama, melawak dalam latar dan gaya khas Srimulat? Bagi penonton yang sudah kenal Srimulat, mereka tentu akan mendapat nostalgianya. Bagi penonton yang belum terlalu kenal Srimulat, dampaknya ganda. Mereka bisa paham kenapa Adika begitu tergila-gila dengan grup lawak tersebut, sampai ia rela membohongi istrinya yang sedang hamil. Ini jelas penting untuk kepentingan cerita. Untuk kepentingan pengenalan kembali Srimulat, para penonton baru ini bisa mengidentifikasi diri lewat sosok Adika untuk memahami apa yang membuat grup lawak itu tersohor.

Pembuat film bukannya luput dengan strategi penggabungan tua-muda dulu-sekarang ini. Sejumlah momen dalam film mencerminkan niatan tersebut. Paling kentara di awal film, ketika Adika papasan dengan Kadir, momen yang memantik nostalgia protagonis kita sampai ia bertekad menjalani misinya tersebut. Adika mencoba membujuk mantan anggota Srimulat itu lagi dengan melawak di hadapan pengunjung restoran soto Kadir. Kadir awalnya hanya melihat anak muda yang belum ia terlalu kenal ini menirukan dirinya. Ia pun tergelitik. Kadir beranjak dari kursinya dan dengan spontan membalas lawakan apapun yang Adika lontarkan dengan gaya khasnya. Sayangnya, baru juga adegan ini mulai, tiba-tiba film ganti gambar ke depan warung, suara keduanya terdengar samar-samar, kemudian dissolve ke adegan lain. Satu potensi besar tersia-siakan.

Strategi ini terwujud dengan baik di momen klimaks film. Para anggota Srimulat mendorong Adika untuk tampil bersama mereka di atas panggung. Kebingungan, Adika dengan spontan merespons apapun yang dilontarkan para idolanya itu, mulai dari Tessy, Gogon, Ibu Djudjuk, hingga Cak Tohir yang berjubahkan kostum drakula. Momen ini dengan baik mengkonkritkan hal-hal yang menjadikan Srimulat begitu dikenang. Mereka improvisasi, tapi dengan pola-pola yang sudah tercerap dalam diri masing-masing tokoh. Apapun lawakannya, Tessy selalu berpakaian seperti perempuan, Gogon selalu menunjukkan lipatan tangannya yang terkenal itu, Ibu Djudjuk selalu memegang peran majikan atau perlente.

Sayangnya,  momen klimaks ini lebih banyak ditampilkan dengan rangkaian gambar tanpa kata. Kita tak banyak mendapat kesempatan melihat Adika beradu peran dengan Srimulat, tak banyak mendengar lontaran-lontaran spontannya. Padahal inilah kesempatan terbaik Finding Srimulat untuk mengintimkan Adika dengan grup lawak favoritnya. Montase ini baru bersuara (dan menjadi seru lagi) ketika istri Adika tiba-tiba naik ke panggung, mengagetkan para anggota Srimulat dan memaksa mereka untuk berimprovisasi lagi. Spontanitas yang menjadi jiwa Srimulat terwujudkan dan tersampaikan dengan baik.

 

Tambal Sulam

Sayangnya lagi, selain adegan Srimulat melawak dan menari-nari di stasiun Solo Balapan, momen-momen sejenis tak banyak muncul dalam Finding Srimulat. Pembuat film lebih banyak memanfaatkan sarana verbal, lebih banyak tell ketimbang show, untuk menggariskan reputasi Srimulat. Beberapa kali lewat selentingan para anggota Srimulat. Tessy, misalnya, menyinggung soal teguran yang sempat ia terima karena sering tampil sebagai perempuan. Atau Gogon yang dengan lantang menegaskan dirinya adalah pelawak, walau penghidupan yang ia dapat ternyata jauh di bawah pengemis di dekat rumahnya. Ada pula beberapa tokoh yang dengan gamblang menyebut Srimulat sebagai warisan budaya bangsa, salah satu yang paling menonjol adalah cameo Joko Widodo.

Belum lagi penyusunan cerita yang tambal sulam. Jolim, tokoh yang terbilang penting dalam cerita, baru dimunculkan menjelang klimaks film. Penonton awalnya hanya tahu kalau dia menyabot proyek Adika, tapi tak pernah melihat batang hidungnya. Apalagi saat kemunculannya, ia membeberkan kalau ia banyak ikut campur dalam usaha Adika untuk mengumpulkan kembali Srimulat. Kalau Jolim memang diniatkan sebagai antagonis yang berperan banyak dalam cerita, kenapa mukanya tidak ditunjukkan dari awal? Ini perkara kesinambungan cerita yang tak tergarap dengan seksama. Kalau kata Anton Chekov, “Kalau di awal cerita ada pistol, maka pistol itu haruslah meletus di akhir cerita.” Dalam Finding Srimulat, penonton tiba-tiba mendengar suara tembakan, tanpa tahu kalau ada pistol yang mengancam protagonis kita.

Finding Srimulat juga terlalu banyak mengandalkan kebetulan untuk menggerakkan cerita. Pertemuan Adika dengan Kadir di awal film barulah satu contoh. Kebetulan saja mobil Adika mogok depan restoran Kadir, bagaimana kalau tidak? Contoh lainnya adalah kematian mendadak calon penyumbang dana Srimulat. Adika jadinya harus memutar otak lagi untuk membiayai pentas reuni Srimulat. Bukannya ingin menafikan tabiat malaikat penjemput nyawa yang sering datang tanpa diundang, tapi masih banyak opsi lain untuk menghadirkan tantangan bagi protagonis kita. Cara ini terlalu klise.

Penggemar Srimulat mungkin takkan banyak komplain dengan cacat-cacat dalam bangunan film Finding Srimulat. Melihat idola mereka tampil di layar perak setelah lama absen di mana-mana mungkin sudah cukup. Namun, bagaimanapun juga Finding Srimulat diniatkan tidak sebagai nostalgia semata, tapi juga sebagai cerita. Artinya, ada aturan yang harus dipatuhi dan tantangan yang harus dipenuhi, hal-hal yang gagal direspons oleh pembuat film Finding Srimulat.

Komentar 1

Damar
6 tahun yang lalu

Hanya ingin menambahkan latar belakang sejarah kemunculan Srimulat.  Srimulat erat berkaitan dengan kesenian-kesenian tradisional yang lebih dulu hadir di Jawa yakni kesenian wayang orang, ludruk dan ketoprak. Kesenian-kesenian inilah yang menjadi induk bagi lahirnya kesenian baru yang dinamakan dagelan. Lawak/dagelan yang kita kenal baru muncul di awal abad ke-20, tepatnya tercetus tahun 1925 oleh Ki Jayeng Gedung alias Ki Gunopradonggo. Saat pergantian set/babak wayang orang atau ketoprak yang memakan waktu, tercetus usul membuat suatu pementasan yang pendek dan bertujuan melulu menghibur penonton agar tidak bete melihat kegiatan pergantian set itu. Maka lahirlah kemudian yang disebut Dagelan Mataram. Dagelan Mataram sebagai sebuah genre komedi muncul sekitar tahun 1930-an. Dagelan Mataram inilah yang kemudian ditiru dan dikembangkan oleh Srimulat pada 1969 dan para penerusnya. Selengkapnya sejarah Srimulat bisa dibaca di buku "Indonesia Tertawa: Srimulat Sebagai Sebuah Subkultur" karya Anwari.

Srimulat sudah ada selama 3 generasi: generasi dimana Srimulat lahir, generasi penerus, dan generasi sekarang. Kalau dilihat dari cara film diceritakan, posisi Adika berada di tengah: sebagai generasi penerus yang diharapkan bisa jadi jembatan antara yang lampau dengan yang sekarang. Itu menurut saya.

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.